Harta yang Paling Berharga,… Bukanlah Keluarga

VCTkhCcR6Giv5ugSYwvA_2Oleh Reza A.A Wattimena

Pernahkah anda mendengar lagu tersebut? Harta yang paling berharga.. adalah keluarga. Belakangan ini, saya sering tergiang lagu itu. Lagu itu, pada hemat saya, berbahaya.

Orang lalu memuja keluarga. Seolah, keluarga tak pernah salah. Orang jadi buta di hadapan keluarga. Akal sehat tertutup kabut emosi yang disebarkan oleh iklan televisi dan industri musik dangkal.

Bahaya Keluarga

Keluarga bisa sangat berbahaya. Sumber masalah utama bagi kesehatan mental adalah keluarga. Suami atau istri berselingkuh. Keluarga pecah, karena rebutan harta, krisis biaya, atau sekedar salah paham.

Keluarga bisa membunuhmu. Keluarga bisa membuatmu sakit. Seorang teman berkata, kita bisa sangat sakit, karena keluarga yang menyakiti kita. Ada harapan tinggi terhadap keluarga yang kerap berakhir dengan nestapa raksasa.

Keluarga bukanlah harta yang paling berharga. Keluarga justru kerap menjadi masalah yang paling raksasa. Kita membutuhkan kejernihan dalam hal ini. Jangan larut dalam emosi yang diciptakan oleh pasar dan tradisi buta.

Jangan terlalu romantis melihat keluarga. Romantisme hanya memberikan pandangan salah tentang keluarga. Akal sehat dan sikap kritis tetaplah diperlukan. Justru, kita harus menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga, daripada keluarga.

Harta paling berharga adalah perhatian kita. Ia berakar pada hidup. Ia juga berakar pada kesadaran. Melatih perhatian akan mengubah seluruh hidup kita ke arah yang lebih baik.

Perhatian

Ada lima hal yang perlu diperhatikan. Pertama, perhatian kita adalah dunia kita. Apa yang kita perhatikan, itulah yang akan memenuhi hidup kita. Jika perhatian kita ke arah hal-hal yang menggelisahkan, maka hidup kita akan gelisah.

Jika perhatian kita diarahkan pada pengembangan batin, maka batin akan berkembang. Artinya, batin akan seimbang dan damai di segala keadaan. Kita perlu sadar akan hal ini. Sekali lagi, perhatian adalah harta paling berharga, karena ia adalah hidup kita.

Dua, perhatian terkait dengan konsentrasi. Tanpa konsentrasi, kita tidak akan bisa mengerjakan apapun. Untuk belajar dengan baik, kita perlu konsentrasi. Begitu pula untuk bekerja, supaya bisa menopang hidup secara layak.

Tiga, tak heran, perhatian kita menjadi komoditi. Berbagai perusahaan berusaha merebut perhatian kita. Iklan adalah salah satu caranya. Mengupas berita sensasional yang dangkal adalah cara lainnya. Industri pencuri perhatian (pemasaran) adalah industri yang amat besar di dunia.

Empat, perhatian adalah sumber derita, sekaligus sumber bahagia manusia. Semakin perhatian diarahkan pada hal-hal yang merusak, maka penderitaan muncul. Sebaliknya, semakin perhatian diarahkan pada hal-hal yang membahagiakan, maka kebahagiaan datang. Ini sangat sederhana, namun kerap terlupakan.

Lima, maka melatih perhatian adalah sesuatu yang amat penting. Secara sadar, kita meletakkan perhatian pada satu titik selama beberapa waktu tertentu. Ini akan menciptakan ketenangan dan kejernihan. Mutu hidup kita berkembang ke arah yang lebih baik, jika kita belajar melatih perhatian kita.

Yang tertinggi adalah memperhatikan perhatian itu sendiri. Perhatian menjadi reflektif. Ia menjadi kosong, tanpa subyek dan obyek. Disini dan saat ini, kebebasan tertinggi sudah ada di genggaman.

Segala tantangan lalu dihadapi dengan tenang. Permasalahan keluarga tak akan habis. Ia selalu datang dan pergi. Perhatikan perhatian, dan tetaplah berada di keadaan itu selama mungkin. Semua akan baik-baik saja.

===

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

2 tanggapan untuk “Harta yang Paling Berharga,… Bukanlah Keluarga”

  1. setuju sekali , keluarga bawa problem, tapi bisa juga terjadi, kita malah ditolong dalam kesulitan justru oleh keluarga , yg kita hindari. semua nya mungkin terjadi.
    sudah lama saya lepas dari pengertian keluarga (hubungan darah).
    bagi saya semua alam semesta, dari binatang, pohon, bahkan saudara2 kita yg lagi dihukum, dll. adalah keluarga besar, yg saya hormati hak2 nya.
    dengan pandangan tsb. saya merasa begitu bebas, tanpa nilai, tanpa beda.
    hidup dari saat ke saat, disini dan kini.
    ingin saya jelaskan lebih dalam, tetapi bahasa dan kata2 tidak mampu utk menerangkan segala macam pengalaman.
    selamat berkarya, dan terima kasih !!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.