Seperti Stasiun Kereta Api

5784627-HSC00001-7Oleh Reza A.A Wattimena

Saya suka duduk di stasiun kereta api. Banyak orang berlalu lalang. Ada yang terburu-buru mengejar kereta yang hendak pergi. Ada yang duduk bersantai menunggu kedatangan kereta berikutnya.

Yang pasti, stasiun kereta amatlah dinamis. Beragam orang ada di dalamnya. Beragam kepentingan datang silih berganti. Di satu titik, pada malam hari, stasiun menjadi sunyi bersama dengan berakhirnya hari.

Kereta datang dan pergi, tanpa meninggalkan jejak. Stasiun kereta api adalah ruang murni. Ia diisi oleh beragam hal, mulai dari manusia, kereta sampai dengan barang dagangan. Namun, stasiun kereta tak terpengaruh, karena kemurnian ruangnya.

Emosi dan pikiran manusia juga serupa. Mereka bagaikan kereta yang datang dan pergi. Kita adalah ruang murni, bagaikan stasiun kereta api yang bisa menampung semuanya, tanpa penolakan. Kita yang sejati adalah kesadaran murni bagaikan ruang yang bisa menampung semua bentuk pikiran dan emosi, tanpa hanyut di dalamnya.

Ketika emosi datang, tubuh bergejolak. Emosi kuat mempercepat detak jantung. Marah dan takut adalah dua emosi kuat tersebut. Tak sedikit orang hanyut di dalamnya, sehingga mereka seperti berada di neraka, baik bagi dirinya, maupun bagi orang sekitarnya.

Namun, semua bentuk emosi akan berlalu. Marah akan lenyap, seolah tanpa jejak. Takut juga akan lenyap, seolah ia tak pernah sungguh datang. Semua yang datang pasti akan pergi. Semua yang muncul pasti akan lenyap.

Kita lalu menjadi pengamat yang tenang. Kita tidak menilai soal baik atau buruk. Kita tidak menolak atau mengejar apapun. Kita mengamati pergantian emosi dan pikiran yang terjadi di dalam ruang kesadaran kita. Kita bagaikan gunung tinggi yang kokoh diterpa hujan, badai maupun angin kencang.

Buahnya adalah kekebalan batin. Ini bukan berarti, kita tidak lagi memiliki emosi atau pikiran. Kekebalan batin berarti, orang mampu menemukan ketenangan di berbagai gejolak emosi ataupun pikiran yang terjadi di dalam dirinya. Marah, takut dan sedih tidak lagi membutuhkan waktu lama untuk diobati.

Kejernihan pun lahir. Kita sadar akan apa yang terjadi disini dan saat ini. Dengan kejernihan yang ada, kita bisa membaca keadaan sekitar. Kita pun bisa bertindak sesuai dengan keadaan di depan mata, tanpa tambahan atau pengurangan apapun.

Apa yang terbaik bisa dilakukan di saat ini? Itu pertanyaan yang lahir dari kejernihan. Tidak ada keinginan untuk mengendalikan keadaan secara berlebihan. Tidak ada pula sikap menyerah pasrah pada keadaan yang terjadi di depan mata.

Ada saatnya, ketegasan bertindak diperlukan. Ada saatnya, kemarahan memainkan peranan. Tapi, ini perlu dilakukan dengan kesadaran penuh. Kepekaan pada perubahan keadaan adalah kuncinya.

Namun kerap kali, kelembutan itu lebih perkasa. Ia meruntuhkan kemarahan. Ia memberikan ketenangan dan kejernihan pada keadaan yang menekan. Kejernihan membuat kita mampu peka bertindak lembut, ketika itu yang sungguh dibutuhkan.

Kita perlu belajar dari stasiun kereta api. Kita tidak menolak atau mengejar apapun di hidup ini. Kita menerapkan hal yang sama terkait emosi dan pikiran yang muncul di dalam diri. Kebijaksanaan yang sejati, yakni ketenangan batin di segala perubahan kehidupan, pun bisa menjadi milik kita.

***

cropped-rf-logo-done-rumah-filsafat-2-1.png

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.