Zen dari Amarah

5fbc247f934d28911a63b616ccdf8914

Oleh Reza A.A Wattimena

2006, pagi hari, saya berkendara motor di daerah Rawamangun, Jakarta Timur. Tiba-tiba, ada satu sepeda motor menyalip saya dari kiri. Saya kaget. Yang mengendarai adalah seorang pemuda dengan seorang perempuan yang membonceng di belakangnya.

Tak beberapa lama, hal serupa terjadi. Ternyata, pengendara motor yang sama yang melakukannya. Ia menyalip dari sebelah kiri dengan kecepatan sangat tinggi, sehingga membuat saya kaget. Kemarahan saya meluap.

Saya mengejar motor tersebut, lalu menendangnya. Terjadi baku hantam di antara kami. Dua pengendara tersebut terluka parah. Warga memisahkan, dan kami pun berhenti berkelai.

Setelah keadaan dingin, kami sepakat untuk tenang, dan berdamai. Kami sepakat untuk mengganti kerugian masing-masing. Ah, jalan raya Jakarta memang banyak “setan”. Kemarahan bisa berbuah konflik yang mengancam nyawa.

Tentang Amarah

Beberapa kali, amarah menyiksa dada saya. Rasanya sangat menderita. Amarah adalah reaksi emosional keras terhadap suatu keadaan yang tidak bisa kita terima. Buahnya bisa kata-kata atau tindakan yang merusak, atau menyakiti orang lain.

Diterkam amarah, orang seperti kemasukan setan. Kepribadiannya berubah. Nada suara dan ciri tubuhnya pun berubah total. Setelah amarah usai, orang kerap bingung pada apa yang telah ia alami sebelumnya.

Ada empat unsur di dalam amarah. Pertama, amarah lahir dari penolakan. Penolakan bisa dua macam, yakni penolakan pada keadaan di luar, atau penolakan terhadap perasaan di dalam diri. Keduanya akan melahirkan tegangan yang bermuara pada letupan amarah.

Dua, penolakan biasanya berbarengan dengan keinginan untuk mengubah. Keinginan tersebut begitu kuat, sehingga segala cara mungkin ditempuh untuk melakukan perubahan. Kekerasan pun amat mungkin terjadi. Tak jarang, amarah berbuah pembunuhan di berbagai keadaan.

Tiga, amarah muncul, karena nilai-nilai yang kita yakini dilanggar. Perilaku orang lain menghina diri dan nilai-nilai yang kita anut. Ada sesuatu yang amat pribadi yang dilanggar, sehingga memicu amarah meledak. Ini membuat penyebab amarah menjadi relatif, yakni berbeda dari orang ke orang.

Empat, mungkin, amarah paling menyakitkan terjadi, ketika orang marah pada dirinya sendiri. Disini, amarah dibalut dengan penyesalan, serta rasa tak berdaya. Penyesalan muncul, karena apa yang berlalu tak pernah bisa diulang. Rasa tak berdaya muncul, karena kesalahan yang terjadi tak lagi bisa diperbaiki.

Ketika orang marah, ia sedang meracuni tubuhnya sendiri. Tekanan darah meningkat. Detak jantung juga menjadi amat cepat. Pepatah klasik mengatakan, kemarahan adalah racun yang kita telan, namun berharap orang lain yang merasakan. Amarah, pendek kata, adalah sebentuk kebodohan.

Zen dari Amarah

Zen adalah jalan pembebasan dari penderitaan. Orang menderita, karena kesalahan cara berpikir. Ia tidak memahami dunia sebagaimana adanya. Amarah juga muncul dari kebodohan yang serupa.

Ada tiga hal. Pertama, amarah datang dari kekecewaan. Orang kecewa, karena keadaan tidak sejalan dengan rencana. Ini sudah merupakan penderitaan. Penderitaan menjadi bertambah, ketika orang marah.

Maka, amarah, sebenarnya, sangat tidak masuk akal. Ia adalah penderitaan di atas penderitaan. Orang lalu menderita dua kali. Jika ia tidak marah, maka deritanya hanya satu lapis, yakni dari kekecewaan yang muncul.

Dua, peran kesadaran amat penting disini. Ketika kecewa dan marah muncul, orang hanya perlu mengamati keduanya dengan lembut. Ini bagaikan melihat anak kecil yang sedang menangis. Dengan pengamatan yang sadar dan lembut ini, kebijaksanaan dan kesadaran yang stabil lalu bisa diraih.

Tiga, ini semua perlu terus dilatih dari saat ke saat. Ada kalanya, orang gagal, dan terjebak pada marah maupun kecewa. Ada kalanya, orang berhasil. Yang terpenting, bagaimana keadaan batinmu saat ini? Sadari kekecewaan, dan sadar betul, bahwa amarah itu adalah kebodohan yang tak perlu.

Yang terpenting, janganlah menilai orang dari kemarahannya. Pada saat marah, orang sedang menjadi pribadi yang lain. Jangan menilai dia dari keadaan semacam itu. Orang tersebut sedang menderita.

Ia tidak butuh penghakiman. Yang ia butuhkan adalah cinta, pengertian dan kebijaksanaan….

***

cropped-rf-logo-done-rumah-filsafat-2-1.png

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.