Diskusi Terbuka: Tubuh dan Pornografi

Diskusi Tubuh dan Pornografi

Politik (fenomenologi)

Oleh: Reza A.A Wattimena

Fenomenologi (phenomenology) adalah sebuah cara mendekati realitas yang pertama kali dirumuskan secara sistematis oleh Edmund Husserl.[1] Cita-cita dasarnya adalah menjadikan fenomenologi sebagai ilmu tentang kesadaran (science of consciousness). Dalam arti ini fenomenologi adalah “sebuah upaya untuk memahami kesadaran sebagaimana dialami dari sudut pandang orang pertama.”[2] Fenomenologi sendiri secara harafiah berarti refleksi atau studi tentang suatu fenomena (phenomena). Fenomena adalah segala sesuatu yang tampak bagi manusia. Fenomenologi terkait dengan pengalaman subyektif (subjective experience) manusia atas sesuatu. Dalam hidup sehari-hari, orang sebenarnya telah melakukan praktek fenomenologi, ketika mereka melakukan proses refleksi, yakni proses bertanya pada dirinya sendiri.

Dengan demikian fenomenologi adalah sebuah cara untuk memahami kesadaran yang dialami oleh seseorang atas dunianya melalui sudut pandangnya sendiri. Jelas saja pendekatan ini amat berbeda dengan pendekatan ilmu-ilmu biologis ataupun positivisme.[3] Ilmu-ilmu biologis ingin memahami cara kerja kesadaran melalui unsur biologisnya, yakni otak. Dalam arti ini mereka menggunakan sudut pandang orang ketiga, yakni sudut pandang pengamat. Kesadaran bukanlah fenomena mental, melainkan semata fenomena biologis. Sebaliknya fenomenologi menggunakan pendekatan yang berbeda, yakni dengan “melihat pengalaman manusia sebagaimana ia mengalaminya, yakni dari sudut pandang orang pertama.”[4] Lanjutkan membaca Politik (fenomenologi)

Inspirasi dari Harian Kompas: Pedagogik Kritis

3.bp.blogspot.com

Oleh: Mochtar Buchori

Beberapa waktu lalu, empat teman datang ke rumah. Mereka membawa manuskrip berjudul ”Pedagogik Kritis”.

Teman-teman ini ingin tahu pendapat saya dan sekaligus meminta saya menulis kata sambutan untuk penerbitan buku itu. Ini berarti mereka berasumsi bahwa saya akan setuju dengan isi manuskrip tersebut. Sebuah fait accompli yang halus!

Manuskrip terdiri dua bagian: sejarah perkembangan pedagogik kritis dan beberapa karangan tentang pendidikan di Indonesia yang berciri pedagogik kritis.

Menurut pendapat saya, kata kritis sebagai adjektiva kata pedagogik agak berlebihan (redundant). Pedagogi (teori tentang membimbing anak menuju kedewasaan) dan pedagogik (praksis membimbing anak menuju kedewasaan) lahir dan berkembang karena adanya pemikiran kritis mengenai gagasan-gagasan dan praksis pendidikan yang berlaku selama suatu kurun waktu. Lanjutkan membaca Inspirasi dari Harian Kompas: Pedagogik Kritis

Militansi

wapedia.mobi

 

Oleh: Reza A.A Wattimena

Bangsa kita krisis militansi. Orang terjebak dalam rutinitas. Mereka menjalani hidupnya dengan terpaksa. Kerja pun dijalan dengan separuh hati.

Tak heran banyak hal gagal dijalankan. Pemberantasan korupsi gagal. Pengentasan kemiskinan gagal. Perlawanan pada teror bom kini tersendat.

Menjadi militan berarti hidup dengan sebuah nilai. Bahkan orang rela mati demi terwujudnya nilai tersebut. Menjadi militan tidak melulu sama dengan menjadi fundamentalis. Nilai hidup seorang militan lahir dari penempaan kritis dan reflektif.

Itulah yang kita perlukan sekarang ini. Lanjutkan membaca Militansi

Inspirasi dari Semarang: Renaisans Perkotaan

deanhc.com
Oleh Eko Budihardjo

Berita tentang kemubaziran dana rakyat triliunan rupiah akibat telantarnya ribuan unit rumah susun sewa di DKI Jakata (Kompas, 1-2 Maret 2011) sungguh terasa amat menyesakkan dada.

Betapa tidak. Begitu banyak saudara kita sebangsa dan setanah air yang masih tinggal di kolong jembatan, sepanjang tepi rel kereta api, bahkan di kuburan, dengan kondisi mengenaskan. Kok, bisa-bisanya di negara Pancasilais ini ada 74 dari 78 menara kembar rumah susun yang sudah terbangun ternyata mangkrak atau telantar. Kendalanya, menurut pihak berwenang, karena tak tersedia prasarana (infrastruktur) seperti air bersih dan listrik, serta sarana pendidikan dan akses transportasi. Lanjutkan membaca Inspirasi dari Semarang: Renaisans Perkotaan

Inspirasi dari Jakarta: Semangat "Gambaru"

pablo_picasso02_800 Oleh: JANSEN SINAMO

Kita sedang menyaksikan bangsa Jepang menghadapi bencana: gempa, tsunami, dan nuklir sekaligus.

Lewat televisi, Facebook, dan Twitter, kita tahu seluruh dunia memuji mereka karena terlihat bagaimana Pemerintah Jepang yang terus mengobarkan semangat dengan tenang dan tidak emosional, bekerja tenang dan teratur, meminta warga tetap waspada, mengimbau warga bahu-membahu menghadapi bencana, termasuk menghemat listrik dan makanan, serta meminta maaf karena terpaksa harus melakukan pemadaman listrik bergilir.

Pemerintah juga memberikan tips-tips menghadapi bencana, menyediakan call centre yang bisa dihubungi 24 jam, dan mengirim tim SAR dari setiap prefektur menuju lokasi-lokasi bencana. Warga dan pemerintah bahu-membahu menyelamatkan korban sehingga terasa betul bahwa di Jepang manusia benar-benar sangat berharga. Terlihat pula pemandangan warga yang saling menyemangati.

Lanjutkan membaca Inspirasi dari Jakarta: Semangat "Gambaru"

Diskusi Terbuka Bioetika: Bayi Tabung dan Aspek Moralnya

Brosur Diskusi Bayi Tabung-resize

Inspirasi dari Jakarta: Politik, Partai, dan Militansi

Oleh: picasso-massacreinkorea1951_www16sanskarcom Donny Gahral Adian

Hiruk-pikuk politik belakangan ini menyembunyikan sesuatu yang banal: retak koalisi akibat pengajuan hak angket oleh parlemen, anti-kebebasan pers Menteri Sekretaris Kabinet, dan bocor kawat diplomatik yang menyengat beberapa tokoh republik ini.

Kita tahu semua itu akan berakhir di meja negosiasi. Politik berubah menjadi sesuatu yang purba bernama oikonomia. Oikonomia alias ekonomi sesungguhnya kehilangan sesuatu yang fundamental dalam politik bernama militansi. Logika oikonomia adalah logika pertukaran yang saling menguntungkan. Ia tak punya kosakata menjelaskan militansi. Politik, sebaliknya, adalah militansi berkelanjutan terhadap prinsip atau ideologi. Militansi boleh dibilang adalah raison d’être politik.

Lanjutkan membaca Inspirasi dari Jakarta: Politik, Partai, dan Militansi

Lomba

198801069_c2363d909a Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Kita senang sekali dengan lomba. Sedikit-sedikit kita ikut lomba. Sedikit-sedikit kita mengadakan lomba. Seolah kita tidak bisa hidup tanpa lomba.

Katanya dengan lomba kita bisa tahu, siapa yang lebih baik di antara kita. Dengan lomba kita bisa kenal orang-orang baru. Dengan lomba kita bisa belajar dari orang lain. Dan dengan menang lomba, kita bisa meningkatkan reputasi kita.

Apakah benar begitu?

Saya yakin di balik lomba, ada keinginan untuk berkuasa. Saya juga yakin di balik lomba, ada keinginan untuk menghancurkan lawan. Ini semua jauh lebih dominan, daripada keinginan untuk belajar bersama, apalagi belajar dari orang lain.

Maka itu saya tidak setuju dengan lomba, apapun bentuknya.

Lanjutkan membaca Lomba

Filsafat

http://vivirlatino.com

 

Sebuah Tinjauan Dari Masa Yunani Kuno sampai Posmodernisme

Oleh: Reza A.A Wattimena[1]

Tulisan ini merupakan sebuah tinjauan historis tentang berbagai model berfilsafat yang ada di dalam sejarah filsafat Barat. Tujuannya adalah memperkenalkan, menanggapi secara kritis, serta mengembangkan berbagai metode tersebut untuk memahami dan menjawab berbagai persoalan yang ada di dalam masyarakat kita, dan juga untuk melatih pola berpikir kita dalam aktivitas sehari-hari. Seperti yang tertulis pada judul, saya akan memaparkan model-model berfilsafat dari masa Yunani Kuno sampai posmodernisme.

1.Pencarian Archē dan Elenchus dalam Filsafat Yunani Kuno

Sulit sekali menemukan catatan otentik mengenai filsafat sebelum Sokrates. Yang dapat ditemukan adalah potongan tulisan yang seolah tidak memiliki hubungan satu sama lain. Satu-satunya sumber yang cukup bisa diandalkan adalah tulisan-tulisan Aristoteles mengenai para filsuf sebelumnya. Ia juga dikenal sebagai sejarahwan filsafat sistematis pertama di dalam sejarah. Maka dari itu halangan pertama kita untuk bisa memahami filsafat Yunani Kuno adalah halangan penafsiran, karena kita hanya bisa mengandalkan tulisan-tulisan para filsuf setelahnya. Kita hanya bisa mengandalkan sumber sekunder.

Yang kita miliki adalah kumpulan fragmen yang terobek dari naskah asli yang telah hilang. Akibatnya beragam penafsiran saling bertentangan tentang fragmen itu tidak didasarkan pada teks tulisan yang memadai, melainkan hanya copotan saja. Walaupun minimalis namun fragmen-fragmen tulisan para filsuf sebelum Sokrates tetaplah sangat berharga. Beberapa kutipan menyiratkan makna yang sangat mendalam untuk bisa dipelajari dan direfleksikan. Dari situ kita bisa memahami bagaimana tokoh-tokoh awal filsafat dan sains ini memahami realitas yang ada di hadapan mereka.

Berdasarkan teks-teks yang ada, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa setidaknya ada dua kelompok filsuf yang dominan di dalam Filsafat Yunani Kuno. Mereka adalah para filsuf pra-Sokratik dan kaum sofis. Kedua kelompok filsafat ini memiliki ajaran yang berbeda, namun keduanya penting untuk dipahami, karena dari merekalah filsafat dan sains selanjutnya berkembang. Aristoteles menyebut para filsuf pra-Sokratik pertama sebagai physiologoi (natural philosophers), atau para filsuf natural. Mereka hendak mencari prinsip terdasar (archē) dari seluruh realitas dengan menggunakan kosa kata naturalistik (naturalistic terms). Para filsuf natural ini berbeda dengan para pendahulunya yang lebih mengedepankan penjelasan-penjelasan mitologis (mythological explanations) dalam bentuk cerita dewa dan dewi.

Walaupun sama-sama mencari prinsip dasar dari realitas dengan menggunakan kosa kata natural, para filsuf prasokratik seringkali terlibat dalam perdebatan tulisan, karena perbedaan pendapat. Perdebatan itu muncul karena masing-masing filsuf saling bersikap kritis satu sama lain. Dari sini kita bisa menarik kesimpulan, bahwa filsafat adalah suatu displin berpikir yang selalu melakukan kritik diri (self-critique), bahkan dari awal mula berdirinya. Tidak hanya itu mereka bahkan melakukan kritik tajam terhadap cara berpikir mitologis yang dominan pada jamannya. Dengan kecenderungan untuk berpikir kritis seperti itu, muncullah para filsuf yang saling berdebat soal prinsip dasar yang menentukan seluruh realitas, yang juga bisa disebut sebagai archē.

Para filsuf natural itu, yang juga bisa kita sebut sebagai para filsuf prasokratik, menjadikan seluruh alam semesta sebagai obyek penelitian mereka. Mereka berusaha memahami alam semesta bukan dengan menggunakan penjelasan mitologis, melainkan dengan penjelasan-penjelasan naturalistik (naturalistic explanations), seperti prinsip air, udara, api, dan atom. Dalam arti ini mereka juga bisa disebut sebagai para ilmuwan (scientist) pertama di dalam sejarah. Proses mendekati realitas dengan tujuan mencari prinsip terdasar (fundamental principle) yang menyatukan keseluruhan ini nantinya akan mempengaruhi para filsuf dan ilmuwan selanjutnya. Lanjutkan membaca Filsafat

Buku Filsafat Terbaru: Metodologi Penelitian Filsafat


Image0738Editor: Reza A.A Wattimena

ISBN: 978-979-21-2940-3

Penerbit: Kanisius Yogyakarta

Kerja sama dengan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta


Daftar Isi

Prakata

Oleh: M. Mukhtasar Syamsuddin

Kebenaran dan Metodologi Penelitian Filsafat: Sebuah Tinjauan Epistemologi

Oleh: P. HARDONO HADI

Metodologi Penelitian Filsafat

Oleh : Toeti Heraty Noerhadi

Metode Penelitian Filsafat: Belajar dari Filsuf Alfred N. Whitehead

Oleh: J. Sudarminta

Penelitian pada Bidang Ilmu Filsafat: Perbandingan Usulan Penelitian

Oleh : Anton Bakker

Metode Filsafat dalam Tinjauan Ilmu Agama

Oleh : M. Amin Abdullah

Metoda Pengertian dan Antropologi Filsafat

Oleh : S. Takdir Alisjahbana

Metode Refleksi Metodologis Merleau-Ponty

Oleh: M. Mukhtasar Syamsuddin

Berbagai Bentuk Metode Berfilsafat: Sebuah Tinjauan Historis Sistematis Dari Masa Yunani Kunosampai Posmodernisme

Oleh: Reza A.A Wattimena Lanjutkan membaca Buku Filsafat Terbaru: Metodologi Penelitian Filsafat

Charles Taylor

Google Images

Oleh: Reza A.A Wattimena, Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Charles Taylor lahir pada 5 November 1931.[1] Ia berasal dari Kanada, yakni kota Montreal, Quebec. Ia adalah seorang filsuf yang memiliki jangkauan penelitian dan refleksi sangat luas, mulai dari filsafat politik, filsafat ilmu-ilmu sosial, dan sejarah filsafat. Pada 1952 Taylor meraih gelar B.A pada bidang sejarah dari Universitas McGill. Kemudian ia melanjutkan studi ke Oxford pada bidang filsafat, politik, dan ekonomi. Pada 1955 ia menjalani studi doktoral di bawah Isaiah Berlin dan G.E.M Anscombe pada bidang filsafat.

Setelah menyelesaikan studi doktoralnya, Taylor bekerja di Universitas Oxford sebagai professor pada bidang teori sosial dan teori politik. Selain itu dia juga adalah seorang professor pada bidang filsafat dan ilmu politik di Universitas McGill, Montreal, Kanada. Sekarang ini ia telah pensiun, dan menjadi professor emeritus. Pada 1955 ia memperoleh gelar kehormatan Order of Canada, penghargaan tinggi pemerintah Kanada terhadap warganya. Pada Juni 2008 Taylor memperoleh Kyoto Prize pada bidang filsafat dan seni. Banyak ahli berpendapat bahwa Kyoto Prize adalah hadiah nobel versi Jepang.

Menurut Ruth Abbey ada beberapa hal yang membuat Charles Taylor dapat dianggap sebagai salah satu filsuf terbesar abad ke-20.[2] Selama lebih dari empat puluh tahun, Taylor menulis banyak sekali artikel dan buku, serta berdiskusi di forum-forum publik tentang masalah-masalah yang sedang relevan. Usia tua tidak membuatnya kedodoran. Sebaliknya pada usia tua, ia justru menulis karya-karya baru yang mencerahkan banyak orang di berbagai bidang. Tulisan-tulisannya dibaca orang hampir di seluruh dunia. Dia berbicara dan menulis dalam bahasa Jerman, Inggris, dan Perancis dengan sangat mahir. Menurut Abbey yang membuat Taylor layak disebut sebagai salah satu filsuf terbesar abad ke-20 adalah jangkauan tema analisisnya yang begitu luas dan mendalam. Ia banyak menulis tentang moral, subyektivitas, teori politik, epistemologi, hermeneutika, filsafat pikiran, filsafat bahasa, dan bahkan estetika. Belakangan ini ia banyak juga menulis tentang agama.

Pada era sekarang banyak ilmuwan begitu terspesialisasi di bidangnya, sehingga lupa dengan hal-hal lain di luar displin keilmuannya. Namun hal ini rupanya tidak terjadi pada Taylor. Ia mampu menulis tentang berbagai macam hal, namun dengan analisis maupun refleksi yang sangat mendalam. Oleh karena itu ia juga banyak disamakan dengan para filsuf klasik yang memang menulis tentang banyak hal, sekaligus secara mendalam. Abbey bahkan menempatkan Taylor setara dengan Plato, Aristoteles, Augustinus, Hobbes, Locke, Rousseau, Kant, Hegel, John Stuart Mill, dan Nietzsche dalam hal keluasan sekaligus kedalaman pemikiran. Lanjutkan membaca Charles Taylor

Inspirasi dari Jakarta: Debat

Oleh: Goenawan Mohamad

Saya malas berdebat. Tiap debat mengandung unsur berlaga, ujian, dan telaah. Memang, dulu ketika Socrates menanyai seseorang, menggunakan teknik eclenchus, menyoal dan meminta jawab dan siap dibantah serta membantah, ia tak bermaksud mengalahkannya hingga takluk. Ia menggugah orang untuk berpikir, menilik hidup, terutama hidupnya, dan menjadi lebih bijaksana sedikit. Tapi tidak setiap orang seperti Socrates. Dan saya cepat lelah dengan berujar lisan.

Pengalaman saya mengajari saya bahwa debat, seperti umumnya dialog, acap kali berakhir dengan dua-log: saya dan lawan bicara saya akan seperti dua pesawat televisi yang disetel berhadap-hadapan. Dia tak mencoba mengerti saya dan saya tak mencoba mengerti dia. Bahasa punya problem. Kata yang kita ucapkan atau kita tulis tidak jatuh persis di sebelah sana dalam makna yang seperti ketika ia keluar dari kepala saya.

Pengalaman saya juga membuat saya bertanya: apa tujuan sebuah perdebatan? Untuk menunjukkan bahwa saya tak kalah pintar ketimbang lawan itu? ”Kalah pintar” tidak selamanya mudah diputuskan, kalaupun ada juri yang menilai. Atau untuk meyakinkan orang di sebelah sana itu, bahwa pendirian saya benar, dan bisa dia terima? Saya tak yakin.

Kita tak bisa untuk selalu optimistis, bahwa sebuah diskusi yang ”rasional” akan menghasilkan sebuah konsensus. Bahkan Mikhail Bakhtin cenderung menganggap bahwa debat yang terbuka dan kritis tidak dengan sendirinya akan membuka pintu ke sebuah ruang di mana orang bisa bertemu dan bersepakat. Justru sebaliknya: yang akan terjadi adalah makin beragamnya pendapat dan pendirian.

Bagi Bakhtin, orang yang berbeda punya pandangan dunia yang berbeda pula, dan pada saat mereka sadar bahwa intuisi mereka tentang realitas berbeda—dan teknik Socrates akan menimbulkan kesadaran itu—mereka akan makin ketat dalam pilihan posisi mereka. Ada yang selamanya tak terungkap, juga bagi diri sendiri, dalam kalimat. Lanjutkan membaca Inspirasi dari Jakarta: Debat

Cinta Benci

love-or-hate-red Suatu Refleksi Fenomenologi Eksistensial

“….untuk mencintai berarti untuk membenci musuh yang sama…”

Oleh: Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik,

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Tampaknya, roda masyarakat kita digerakkan oleh kebencian. Bagaimana tidak, setiap hari di jalan raya (Jakarta), saya melihat orang bertengkar hanya karena alasan sepele. Di dalam pertengkaran itu, mereka saling mengutuk, mencerca, menyumpahi, dan bahkan bisa saling membunuh! Saya sering menyaksikan berita pembunuhan di televisi. Seorang ayah tega membunuh anaknya sendiri demi mendapatkan uang asuransi yang dipunyai anaknya. Seorang pencopet dipukuli di tempat sampai meninggal, dan tidak ada seorang pun yang mau bertanggungjawab. Bagaimana tidak?

Perang, pembunuhan, dan sikap negatif yang didasari kebencian adalah tontonan sehari-hari yang bisa kita lihat langsung, ataupun tidak langsung melalui media. Kebohongan, prasangka, ketidaktulusan tampak mewarnai relasi manusia sehari-hari. Praktek suap menyuap dan diskriminasi mewarnai dunia hukum kita. Praktek monopoli dan kerakusan mewarnai dunia ekonomi kita. Praktek kekerasan pun mewabah di dalam dunia pendidikan kita, seperti baru-baru ini tampak dalam kasus pembunuhan di IPDN.

Di sisi lain, kalau kita mau jeli sedikit, tindak pengorbanan dan cinta sebenarnya kerap terjadi di sekitar kita. Pengorbanan seorang ibu yang harus bangun pagi2 mempersiapkan semuanya untuk anak-anak dan suaminya. Pengorbanan seorang suami yang harus banting tulang bekerja secara tulus untuk menghidupi keluarganya. Masih banyak hal positif lainnya yang sebenarnya mewarnai relasi antar manusia. Dan itu tidak bisa diabaikan begitu saja.

Memang, relasi antar manusia adalah sesuatu yang rumit untuk direfleksikan. Beragam variabel bisa dijejer, dan refleksi juga bisa dilakukan dari berbagai sudut pandang. Kerumitan hakekat relasi antar manusia adalah suatu undangan bagi kita untuk merefleksikan lebih jauh apa sebenarnya yang mendasari relasi antar manusia. Apakah kebencian, seperti yang dengan mudah kita saksikan, atau cinta yang sebenarnya juga terselip di tengah aktivitas kehidupan kita yang serba rutin dan monoton? Ataukah keduanya? Di dalam tulisan ini, dengan melakukan refleksi fenomenologi eksistensial, saya akan berargumen bahwa hakekat dari relasi antar manusia adalah sekaligus kebencian dan cinta.

Kebencian dan cinta ini bukanlah dalam arti emosionil, tetapi dalam arti fenomenologis. Artinya, kebencian dan cinta dilihat pada dirinya sendiri, dan bukan pada gejolak emosi maupun perasaan yang datang dan pergi. Kebencian dan cinta dipandang sebagai dorongan primordial yang menggerakan manusia untuk berelasi dengan manusia lainnya. Dorongan primordial ini adalah suatu dorongan metafisis yang menggerakan relasi antar manusia sekaligus menggerakkan peradaban itu sendiri. Untuk menjabarkan argumen itu, saya akan menjabarkan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan pendekatan fenomenologi eksistensial (1). Lalu, saya akan memaparkan hakekat kebencian dari sudut pandang fenomenologi eksistensial, terutama dari konsep tatapan yang dirumuskan oleh Sartre (2). Setelah itu, saya akan menjabarkan hakekat dari cinta sebagai modus mendasar relasi manusia (3). Tulisan ini akan ditutup dengan sebuah kesimpulan (4).

Lanjutkan membaca Cinta Benci

Dungu

imgname--dumb_money_and_the_meltdown---50226711--dunce2 Oleh: Reza A.A Wattimena

Ada gejala menarik belakangan ini. Segala bentuk wacana yang amat mendalam berubah menjadi amat dangkal, ketika sampai di tangan kita. Kedalaman makna tak dapat dirasa. Yang ditangkap oleh mata dan akal hanyalah potongan makna yang cacat sebelah.

Wacana pendidikan karakter berubah menjadi kebersihan kuku dan kerapihan jambang rambut. Kedalaman berpikir displin filsafat dianggap sebagai sekolah dukun. Orang banting tulang belajar psikologi dikira hanya untuk bisa “membaca orang”. Moralitas disempitkan semata menjadi urusan cium tangan.

Wacana kewirausahaan yang begitu mendalam menjadi semata urusan jaga toko. Pendidikan sebagai ajang pembebasan diterjemahkan semata menjadi menggurui. Investasi sebagai simbol kepercayaan antara pribadi diterjemahkan semata sebagai cara menggapai keuntungan finansial sesaat. Dan konsep kebebasan yang begitu luhur dan dalam diterjemahkan menjadi bersikap seenaknya.

Kedalaman iman diterjemahkan semata menjadi banyak atau sedikitnya orang “tampak” berdoa. Kualitas intelektual seseorang semata dilihat dari kumpulan sertifikat ataupun ijazah yang ia punya. Manajemen organisasi diterjemahkan menjadi semata urusan birokrasi miskin visi yang amat teknis dan dangkal, serta justru memperlambat semuanya. Ekonomi diterjemahkan semata-mata sebagai hitungan-hitungan jumlah kekayaan finansial.

Apa yang terjadi?

Lanjutkan membaca Dungu

Multikulturalisme untuk Indonesia

charles-taylor-philosopher Pemikiran Charles Taylor

tentang Politik Pengakuan dan Multikulturalisme,

serta Kemungkinan Penerapannya di Indonesia.

Reza A.A Wattimena,

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

“..Jika hanya ada satu agama di Inggris maka akan ada bahaya despotisme, jika ada dua, mereka akan saling membunuh, namun jika ada tiga,

maka mereka akan hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan..”

Voltaire

Abstract:

Inspired by Charles Taylor’s Political Philosophy, the author will argue that to become a meaningful society, Indonesian society first of all have to respect various forms of life in it. The various forms of life have to live authentically according to its identity, value, and customs in the relation with another forms of life that co-exist in the society. The author will also try to apply Taylor’s political philosophy in the context of Indonesian society. In the end, Indonesian context can give a certain critical remarks to the development of Taylor’s philosophy.

Keywords: Identitas, multikulturalisme, politik pengakuan.

Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah cerita. Sandra adalah orang Jawa yang tinggal Prancis. Ia adalah seorang gadis yang sangat berbakti pada orang tuanya. Orang tuanya tinggal di Surabaya. Mereka berasal dari suatu kota di Jawa Tengah. Mereka merasa bahwa Sandra perlu untuk mengenal dunia luar. Maka kedua orang tuanya menyekolahkan Sandra untuk menempuh pendidikan lanjut di Paris, Prancis. Ia menjadi gadis yang cerdas, kritis, dan sangat mencintai orang tuanya. Di Paris ia berhasil menyelesaikan studinya dengan gemilang, dan bahkan menjalin hubungan serius dengan teman sekolahnya. Mereka siap untuk menikah dan membina hidup bersama.

Namun orang tua Sandra memiliki rencana berbeda. Mereka sudah mempersiapkan orang yang, menurut mereka, tepat untuknya, yakni seorang pria yang memiliki latar belakang persis sama dengan Sandra. Secara kultural pria tersebut adalah pasangan yang tepat untuk Sandra. Namun ia menolak dengan alasan sudah memiliki pasangan jiwa. Tegangan pun terjadi. Atas nama budaya dan tradisi, orang tua Sandra menyarankan pria tersebut sebagai pasangan hidupnya. Atas nama kebebasan dan cinta (yang juga merupakan bagian dari tradisi masyarakat tertentu), Sandra memilih pasangan jiwanya di Paris sana. Ia bingung. Orang tuanya pun bingung.[1] Apa yang harus mereka lakukan?

Sekilas kisah ini mirip cerita sinetron. Namun di balik cerita ini terdapat problem masyarakat multikultur yang sangat mendalam, yakni apa yang harus dilakukan, ketika dua kultur bertemu dan saling berbeda pandangan? Jawaban yang biasanya langsung muncul adalah melakukan dialog. Namun dialog tanpa dasar nilai dan pemikiran yang sama tidak akan banyak membuahkan hasil. Dialog hanya menjadi gosip ataupun ngerumpi semata yang seringkali berakhir dalam kebuntuan. Maka yang diperlukan adalah menemukan dasar nilai yang sama untuk menjadi titik tolak dari dialog. Sebelum itu inti terdalam dari tegangan kultural yang terjadi juga perlu untuk dipahami. Pada titik inilah wacana multikulturalisme menemukan relevansinya.

Banyak kasus lainnya dengan intensitas jauh lebih besar berlatar pada tegangan kultur tersebut. Di dalam filsafat politik kontemporer, pertanyaan inti yang diajukan sebagai titik awal penelitian adalah, bagaimanakah bentuk politik kultural yang mampu menampung semua identitas kultural secara harmonis (hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan) dan dinamis (terbuka pada perubahan, baik dari dalam maupun dari luar)? Itulah kiranya pertanyaan yang juga menjadi pergulatan wacana multikulturalisme. Pada tulisan ini saya hendak menjawab pertanyaan tersebut dengan mengacu pada filsafat politik Charles Taylor sebagaimana ditulisnya di dalam Multiculturalism: Examining the Politics of Recognition.[2] Pada akhir tulisan saya berharap juga mampu memberikan alternatif untuk permasalahan Sandra dan orang tuanya.

Untuk itu saya akan membagi tulisan ini ke dalam empat bagian. Awalnya saya akan memperkenalkan sosok hidup maupun pemikiran Charles Taylor (1). Lalu saya akan menjelaskan pandangannya soal politik pengakuan dan multikulturalisme (2). Pada bagian berikutnya saya akan mencoba menerapkan pandangan Taylor tersebut di dalam konteks masyarakat Indonesia.[3] Bagian ini bukanlah sebuah analisis komprehensif tentang Indonesia melalui kaca mata filsafat politik Charles Taylor, melainkan sebuah eksperimen berpikir awal tentang kemungkinan penerapan multikulturalisme dan politik pengakuan di dalam masyarakat Indonesia dengan terlebih dahulu mempertimbangkan faktor demografis, kultural, filosofis, dan geografis Indonesia (3). Tulisan ini akan saya tutup dengan kesimpulan dan tanggapan kritis, sekaligus mengajukan beberapa prinsip dasar yang sekiranya bisa menjadi panduan bagi Sandra dan orang tuanya untuk membuat keputusan (4).

Untuk membaca lebih jauh, silahkan hubungi Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya (http://filsafat.wima.ac.id/)


[1] Cerita ini saya adaptasi dengan konteks Indonesia, namun mengacu pada Parekh, Bhikhu, Rethinking Multiculturalism, London: MacMillan Press, 2000.

[2] Pada tulisan ini saya ingin membahas pandangan Charles Taylor tentang politik pengakuan dan multikulturalisme, serta menanggapinya secara kritis. Saya mengacu pada Taylor, Charles, “The Politics of Recognition”, dalam Multiculturalism: Examining the Politics of Recognition, New Jersey: Princeton University Press, 1994.

[3] Bandingkan dengan pemaparan yang sangat menarik di dalam Hefner, Robert W. (ed), The Politics of Multiculturalism, Honolulu: University of Hawai’i Press, 2001. Saya sadar sekali Taylor berangkat dari tradisi intelektual yang sangat berbeda dengan Indonesia. Oleh karena itu saya tidak akan menerapkan pemikirannya begitu saja, namun dengan catatan kritis. Secara sederhana dapat dikatakan, pemikiran Charles Taylor dapat memberikan kontribusi penting bagi Indonesia, dan situasi serta kultur Indonesia bisa memperkaya pemikiran Charles Taylor secara khusus, maupun wacana politik pengakuan dan multikulturalisme pada umumnya.

Gambar dari http://filipspagnoli.files.wordpress.com/2009/09/charles-taylor-philosopher.jpg

Tukang Suap

bribe Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Praktek suap selalu melibatkan dua pihak, yakni yang disuap dan penyuap. Keduanya perlu ada supaya praktek suap terjadi. Tak adil jika kita hanya menyalahkan pihak yang disuap. Dalam hal ini keduanya sama bersalahnya.

Apa yang ada di balik mental para penyuap? Inilah pertanyaan yang kiranya terlupakan di balik segala analisis tentang korupsi, terutama yang terkait dengan lembaga publik. Tanpa analisis semacam ini, pengetahuan kita soal fenomena korupsi, terutama praktek suap, terjebak pada satu sisi semata. Pengetahuan yang hanya berfokus pada satu sisi sebenarnya tidak layak disebut sebagai pengetahuan, melainkan semata prasangka.

Mentalitas Jalan Pintas

Salah satu keutamaan mendasar manusia adalah keteguhan bertekun di dalam proses. Segala keberhasilan muncul melalui tempaan waktu dan peristiwa. Orang tidak bisa sukses dalam sekejap mata. Ia perlu menempuh tantangan hidup yang mungkin saja menggetarkan jiwa.

Di Indonesia sekarang ini, keutamaan semacam itu semakin langka. Orang tidak tahan bertekun di dalam proses. Orang tidak tahan hidup dalam tantangan. Akibatnya mereka mencari jalan pintas untuk mencapai sukses yang jauh dari kematangan.

Orang mau cepat kaya. Namun ia tidak mau berusaha sepenuh tenaga. Orang mau memperoleh kemudahan, tanpa memberikan kontribusi nyata. Mentalitas sukses melalui jalan pintas inilah yang kini menjadi trend di masyarakat kita.

Inilah yang menjadi pola pikir para penyuap. Mereka tidak sabar dengan birokrasi dan prosedur. Padahal birokrasi dan prosedur tidak selalu buruk, namun justru dibuat untuk menjamin hasil yang berkualitas. Para penyuap tidak sabar dengan semua itu, lalu menyuap untuk melancarkan jalan menuju sukses yang semu.

Mentalitas jalan pintas ini haruslah disadari, lalu dilenyapkan. Mentalitas jalan pintas merombak sistem dan aturan yang ada, demi kepentingan sesaat mereka. Alhasil sistem dan aturan lalu kehilangan wibawa. Jalan pintas yang diambil para penyuap menjadi preseden untuk para penyuap lainnya, guna melakukan praktek yang sama.

Lanjutkan membaca Tukang Suap

Inspirasi dari STF Driyarkara: Memahami Akar-akar Kekerasan Massa

violence20cartoon2 Oleh: F Budi Hardiman

“Segala yang jahat berasal dari kelemahan”

Jean-Jacques Rousseau

Mengapa manusia melakukan kekerasan kepada sesamanya? Pertanyaan sederhana ini menyimpan keheranan. Keheranan adalah sebuah perasaan yang timbul saat orang menghadapi yang tidak lazim. Dapat dibayangkan apa yang terjadi di dalam sebuah masyarakat yang menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang lazim. Tak ada keheranan yang muncul atasnya, akal pun tertidur, dan bersamaan dengan itu kekerasan tidak pernah dipersoalkan. Sebuah masyarakat yang tidak mempersoalkan kekerasan sudah kehilangan keberadabannya. Karena itu, pertanyaan di atas sangat penting untuk dilontarkan dan dijawab.

Jawaban atasnya sangat mendesak justru di saat merebaknya peristiwa-peristiwa kekerasan massa setelah tumbangnya rezim Soeharto. Kita ingat kembali katalog kekerasan massa di negeri kita: kerusuhan Mei 1998 dengan target etnis China, perang saudara di Maluku antara orang Kristen dan Muslim, perselisihan etnis di Kalimantan antara Dayak dan Madura, pengejaran dukun-dukun santet di Blambangan, tawuran antar pelajar, dan seterusnya. Dan dalam pertarungan politis dalam rangka Pemilu 2004 kecemasan akan kekerasan massa tak juga dijauhkan dari kita. Ia justru meningkat. Orang bisa berkilah bahwa saat itu kita berada dalam keadaan tidak normal. Namun, dalam keadaan yang dianggap “normal” pun pencuri sandal di masjid di wilayah Tangerang sudah bisa mengalami nasib mengenaskan seperti bidaah di Eropa abad pertengahan: dibakar massa.

Keheranan kita bertambah saat membaca bagaimana sikap para pelaku kekerasan itu terhadap korban-korban mereka. Dalam konflik etnis di Kalimantan kepala manusia dipenggal dan diarak beramai-ramai dengan penuh kebanggaan. Ekstasis massa semacam itu juga terjadi di dalam peristiwa Blambangan dan banyak peristiwa lain, seperti dalam perang, pogrom, masaker, dan seterusnya. Yang ganjil dalam perilaku massa itu adalah berciri psikologis: para pelaku mengalami penumpulan rasa salah atas tindakan kekerasan mereka. Akal sehat sirna dan moralitas kehilangan daya gigitnya. Setelah berjarak dari peristiwa itu, orang lalu mengatakan bahwa individu terseret oleh desakan kebersamaan mereka sehingga tak bisa lain kecuali melakukan seperti yang dilakukan orang yang lain. Individu yang terlibat dalam kekerasan massa sekonyong-konyong dipindahkan dari ruang kontak sehari-hari ke dalam suatu ruang peleburan kolektif yang mengisap ciri-ciri personalnya sebagai seorang individu. Saya menyebutnya “ruang kolektif’ karena ruang ini diproduksi oleh kebersamaan dan menjadi tempat bergeraknya tindakan-tindakan kolektif. Di dalam ruang kolektif itu tindakan-tindakan yang tak lazim dalam ruang keseharian dirasa lazim. Memenggal kepala dirasa lazim di tengah-tengah situasi tak lazim dinamika kekerasan massa. Dengan kata lain, rasa salah raib ditelan oleh suatu “kelaziman dari ketaklaziman” dinamika kekerasan massa.

Yang kita bicarakan di sini bukan kekerasan individual-yaitu kekerasan yang dilakukan oleh individu, seperti membunuh karena dendam pribadi, memerkosa atau merampok-melainkan kekerasan massa, yakni kekerasan yang dilakukan oleh massa. Kekerasan jenis ini berbeda dari kekerasan yang dilakukan individu karena para pelaku melakukan kekerasan itu tidak semata-mata atas dasar dendam atau kebencian personal, melainkan banyak dipengaruhi dinamika sebuah kelompok. Kekerasan individual terliput oleh hukum pidana dan situasi sehari-hari, tetapi kekerasan massa sering melampaui hukum positif itu. Bentuk gigantis dari kekerasan massa itu adalah revolusi dan perang. Sulitlah menghukum demikian banyak pelaku. Karena itu, semakin banyak pelakunya semakin gigantis massa yang bertindak destruktif, semakin kurang personallah motif kekerasan dan semakin merasa benarlah para pelaku kekerasan itu. Kekerasan massa tidak beroperasi di dalam hukum, tetapi melawan dan melampaui tatanan hukum itu sendiri. Karena kompleksnya peristiwa ini, akar-akar penyebabnya juga kompleks. Namun, dalam ulasan ini saya akan menarik perhatian Anda pada tiga akar kekerasan yang terkait dengan conditio humana, yaitu: yang bersifat epistemologis, antropologis, dan sosiologis.

Lanjutkan membaca Inspirasi dari STF Driyarkara: Memahami Akar-akar Kekerasan Massa

Mafia Ideologi dan Budaya Rasionalisme

ideology_487805 Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Di dalam salah satu tulisannya di harian Kompas, Komaruddin Hidayat (Sabtu, 24 April 2010) mengungkap perlunya Indonesia untuk memiliki satu ideologi yang jelas, yang bisa memberikan arah sekaligus panduan di dalam proses pembangunan. Baginya Reformasi yang berlangsung selama ini tidak memiliki arah maupun ideologi yang jelas, sehingga bangsa Indonesia kini terjebak dalam kebingungan.

Pada hari yang sama di harian Kompas, Budiarto Shambazzy menuliskan tentang merebaknya mafia di berbagai sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, mulai dari mafia pajak, mafia sepak bola, mafia hukum, dan berbagai mafia lainnya. Jejaring mafia ini menurutnya bagaikan kanker yang menggerogoti tubuh bangsa Indonesia, dan menjadikannya tidak berdaya.

Dari dua tulisan tersebut, saya melihat adanya satu pertanyaan penting, jika Indonesia hendak menetapkan satu ideologi bangsa yang jelas, mungkinkah ideologi tersebut juga menjadi korban dari mafia? Mungkinkah Indonesia juga jatuh ke tangan para mafia ideologi?

Lanjutkan membaca Mafia Ideologi dan Budaya Rasionalisme

Inspirasi dari Gresik: Hedonisme, Sikap Cuek, dan Kesadaran normatif di dalam hidup bermasyarakat

hedonism-bot-futurama-2942551-800-600 Suatu Tinjauan Etis-Sosial

Oleh: Emanuel Prasetyono

Pengajar Etika Sosial dan Filsafat Manusia pada Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Seorang remaja putri menulis statusnya di facebook demikian: “Hanya mau bersenang-senang; tidak mau peduli lagi pada orang lain, yang penting senang. Wkwkwkwk…”.

Itu hanyalah satu dari sekian banyak status yang pernah terbaca oleh penulis yang intinya mau menunjukkan kesenangan pribadi sebagai ukuran dari segala sesuatu. “Yang penting senang; yang menyenangkan, itulah patokan dari segala keputusan sikap”.

DARI HEDONISME DALAM HIDUP BERSAMA KE BENCANA APATISME DAN SIKAP CUEK

Sikap etis semacam itu sebetulnya bukan hal yang sulit untuk dimengerti oleh kebanyakan orang. Bagi sementara orang, yang mendatangkan nikmat dan kesenangan dianggap sebagai yang baik sehingga layak dikejar dalam hidup. Sementara yang mendatangkan rasa sakit dianggap sebagai yang tidak baik, sehingga pantas ditolak. Sikap etis semacam ini juga bukan barang baru dalam filsafat hidup manusia. Adalah para hedonis yang selalu menekankan kenikmatan dan kesenangan sebagai ukuran yang baik. Hedonisme adalah pandangan yang menempatkan kenikmatan dan kesenangan sebagai tujuan tertinggi dari hidup manusia.

Ketika John Locke (1632-1704) menegaskan sikap etis yang dimotivasi oleh melulu pengalaman inderawi akan rasa senang/nikmat dan rasa sakit, para moralis mengutuknya sebagai hedonis sejati. Mereka menganggapnya sebagai yang tidak bermoral, karena mengesampingkan nilai-nilai lainnya dalam kehidupan manusia yang kompleks ini. Tetapi sesungguhnya manusia modern mempraktekkan apa yang dikatakan oleh Locke tersebut. Lihat saja fenomena korupsi di negeri ini! Orang yang baru menempati kekuasaan sedikit saja akan digoda untuk menggunakan kekuasaan itu untuk memperkaya dan mencari keuntungan diri sendiri, keluarga, atau kelompoknya. Kepentingan publik dianggap sepi. Yang penting “aku happy, banyak duit, banyak rejeki, yang kuinginkan semua terpenuhi”. Apabila ada soal-soal yang berkaitan dengan orang lain, “emang gue pikirin!” Lihat pula bagaimana fenomena lalu lintas di kota-kota kita! Dengan mudah seorang pengendara memotong atau menyalip orang lain tanpa peduli apakah tindakannya itu akan membahayakan nyawa orang lain atau tidak. Lihat pula, betapa sulitnya penyeberang jalan menyeberang, bagaimana truk-truk besar atau bis-bis antarkota tidak memberi kesempatan sedikitpun bagi penyeberang jalan, bahkan termasuk bila yang menyeberang itu orang yang sudah renta. Di negeri ini, ketika manusia memburu kenikmatan dan kesenangan bagi diri sendiri tanpa mempedulikan orang lain, di sanalah sebetulnya terjadi pembenaran terhadap pandangan etis-hedonistis John Locke di atas. Inilah ironi yang seringkali terjadi di negeri yang selalu mengagungkan keagamaan tetapi kehilangan nilai-nilai lain selain nilai kesenangan dan kenikmatan dirinya sendiri.

Lantas orang seringkali berusaha “mengurangi rasa berdosa” dengan cara “membagi dosa” atau “berdosa bareng-bareng”. Contoh konkretnya apa? Contohnya, membagi-bagi hasil korupsi dengan rekan sejawat, sanak-saudara, atau kolega. Atau, berdalih di balik pernyataan: “Toh orang lain berbuat hal yang sama.” Mentalitas inilah yang berada dibalik huru-hara, kerusuhan, atau penjarahan massal. Ketika suatu keburukan atau kesalahan dilakukan oleh banyak orang, ada pola berpikir salah yang menganggap bahwa nilai kesalahan atau nilai keburukan telah dikurangi sehingga menjadi kurang buruk, atau kurang salah; sehingga dianggap boleh dilakukan sedikit saja. Dari sikap hedonistis dalam hidup bersama bisa terjadi bencana apatisme dan sikap cuek yang menghancurkan nilai-nilai sosialitas hidup manusia itu sendiri.

Lanjutkan membaca Inspirasi dari Gresik: Hedonisme, Sikap Cuek, dan Kesadaran normatif di dalam hidup bermasyarakat