Charles Taylor

Google Images

Oleh: Reza A.A Wattimena, Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Charles Taylor lahir pada 5 November 1931.[1] Ia berasal dari Kanada, yakni kota Montreal, Quebec. Ia adalah seorang filsuf yang memiliki jangkauan penelitian dan refleksi sangat luas, mulai dari filsafat politik, filsafat ilmu-ilmu sosial, dan sejarah filsafat. Pada 1952 Taylor meraih gelar B.A pada bidang sejarah dari Universitas McGill. Kemudian ia melanjutkan studi ke Oxford pada bidang filsafat, politik, dan ekonomi. Pada 1955 ia menjalani studi doktoral di bawah Isaiah Berlin dan G.E.M Anscombe pada bidang filsafat.

Setelah menyelesaikan studi doktoralnya, Taylor bekerja di Universitas Oxford sebagai professor pada bidang teori sosial dan teori politik. Selain itu dia juga adalah seorang professor pada bidang filsafat dan ilmu politik di Universitas McGill, Montreal, Kanada. Sekarang ini ia telah pensiun, dan menjadi professor emeritus. Pada 1955 ia memperoleh gelar kehormatan Order of Canada, penghargaan tinggi pemerintah Kanada terhadap warganya. Pada Juni 2008 Taylor memperoleh Kyoto Prize pada bidang filsafat dan seni. Banyak ahli berpendapat bahwa Kyoto Prize adalah hadiah nobel versi Jepang.

Menurut Ruth Abbey ada beberapa hal yang membuat Charles Taylor dapat dianggap sebagai salah satu filsuf terbesar abad ke-20.[2] Selama lebih dari empat puluh tahun, Taylor menulis banyak sekali artikel dan buku, serta berdiskusi di forum-forum publik tentang masalah-masalah yang sedang relevan. Usia tua tidak membuatnya kedodoran. Sebaliknya pada usia tua, ia justru menulis karya-karya baru yang mencerahkan banyak orang di berbagai bidang. Tulisan-tulisannya dibaca orang hampir di seluruh dunia. Dia berbicara dan menulis dalam bahasa Jerman, Inggris, dan Perancis dengan sangat mahir. Menurut Abbey yang membuat Taylor layak disebut sebagai salah satu filsuf terbesar abad ke-20 adalah jangkauan tema analisisnya yang begitu luas dan mendalam. Ia banyak menulis tentang moral, subyektivitas, teori politik, epistemologi, hermeneutika, filsafat pikiran, filsafat bahasa, dan bahkan estetika. Belakangan ini ia banyak juga menulis tentang agama.

Pada era sekarang banyak ilmuwan begitu terspesialisasi di bidangnya, sehingga lupa dengan hal-hal lain di luar displin keilmuannya. Namun hal ini rupanya tidak terjadi pada Taylor. Ia mampu menulis tentang berbagai macam hal, namun dengan analisis maupun refleksi yang sangat mendalam. Oleh karena itu ia juga banyak disamakan dengan para filsuf klasik yang memang menulis tentang banyak hal, sekaligus secara mendalam. Abbey bahkan menempatkan Taylor setara dengan Plato, Aristoteles, Augustinus, Hobbes, Locke, Rousseau, Kant, Hegel, John Stuart Mill, dan Nietzsche dalam hal keluasan sekaligus kedalaman pemikiran.

Walaupun menulis tentang beragam tema, namun jika kita membaca tulisan Taylor, kita langsung merasa terlibat di dalam perdebatan tentang tema-tema yang sedang relevan di masyarakat. Dengan kata lain filsafat Taylor sekaligus membentuk sistem yang kelihatan klasik, namun sekaligus relevan dengan persoalan-persoalan yang tengah dihadapi masyarakat modern sekarang ini. Dalam bahasa Abbey filsafat Taylor sekaligus tepat pada waktunya (timely) dan abadi (untimely).[3] Dengan bekal itu filsafat Taylor sekaligus sistematis dan fleksibel. Posisinya teoritis filosofisnya jelas, namun sekaligus terbuka untuk bisa memahami persoalan-persoalan baru yang sedang muncul. Hal yang sama kiranya berlaku untuk filsafat politiknya, terutama tentang politik pengakuan dan multikulturalisme yang akan coba saya analisis secara detil pada bab berikutnya.

Hermeneutika, Epistemologi, dan Filsafat Manusia

Salah satu tema filsafat yang menjadi perhatian Taylor adalah hermeneutika, yakni cabang filsafat yang merefleksikan proses manusia menafsirkan dan memberi makna realitas. Di dalam filsafat Taylor, hermeneutika terkait erat dengan refleksi filosofis tentang manusia, atau yang juga disebut sebagai filsafat manusia. Baginya manusia adalah mahluk yang menafsirkan dirinya sendiri, atau self-interpreting creatures. Dalam arti ini kemampuan manusia menafsir dan memaknai realitas juga menjadi hakekat terdalam dari manusia itu sendiri. Dalam bahasa filsafat hermeneutika Charles Taylor terkait erat dengan ontologi dari manusia itu sendiri.

Menurut Abbey konsep hermeneutika yang dirumuskan Taylor juga merupakan bagian sentral dari epistemologinya.[4] Dalam arti ini pengetahuan manusia, yang merupakan tema kajian utama di dalam epistemologi, adalah hasil dari keterlibatan manusia yang aktif dengan dunia. Konsep keterlibatan dengan dunia ini diperoleh Taylor dari fenomenologi tubuh yang sebelumnya sudah dirumuskan oleh Merleau-Ponty.[5] Taylor berulang kali menegaskan, bahwa pengetahuan adalah hasil dari keberadaan manusia yang tertanam di dalam realitas dalam bentuk pengalaman. “Cara kita bertemu dengan dunia secara kognitif”, demikian tulis Abbey tentang filsafat Taylor, “dibentuk dan ditentukan oleh fakta bahwa kita adalah tubuh.”[6] Tidak hanya itu pengetahuan kita tentang dunia bersifat relatif dan hanya dari satu perspektif, tepat karena pengetahuan kita muncul dari tubuh yang berhadapan dengan dunia.

Misalnya anda melihat sebuah meja. Anda tidak dapat melihat meja dari segala arah, melainkan hanya dari satu arah. Namun jika anda menggerakan tubuh dan mengubah posisi, maka anda bisa melihat meja dari arah lain, walaupun itu juga hanya satu arah saja. Di dalam perjalanan waktu, manusia berhasil menemukan alat-alat yang membantunya mengetahui realitas yang melampaui kemampuan tubuh untuk mengetahuinya, seperti sel, molekul, dan sebagainya. “..Disini”, demikian Abbey tentang Taylor, “Taylor lebih peduli dengan dasar dari pengetahuan, dengan pengetahuan dari sudutnya yang paling primitif secara ontologis.”[7]

Taylor juga berpendapat lebih jauh, bahwa walaupun menggunakan peralatan teknologi yang rumit, manusia selalu saja mengetahui melalui tubuhnya. Peralatan teknologi yang canggih tidak akan berarti, jika manusia tidak memiliki tubuh, atau tubuhnya tidak berfungsi dengan baik. Dengan kata lain suatu refleksi filosofis tentang cara manusia mengetahui dalam artinya yang paling fundamental dan primitif tetaplah dibutuhkan, lepas dari keberadaan peralatan teknologi yang memang juga membantu manusia untuk mengetahui. Apa gunanya memiliki mikroskop tercanggih di dunia, jika anda buta? Apa gunanya memiliki kaca mata tercanggih dan termahal di dunia, tetapi anda tidak memiliki mata?

Manusia mengetahui dunia melalui tubuhnya. Maka pengetahuan tentang dunia hanya dapat diperoleh melalui pengalaman praktis, dan bukan melalui kontemplasi filosofis yang abstrak. Dalam arti ini ‘dunia’ bukan hanya area yang ada di luar sana, melainkan juga dapat dipahami sebagai latar belakang yang memberikan konteks dan makna. Setiap orang bertindak dan berpikir dengan terus mengacu pada latar belakang ini. Maka pengetahuan tentang dunia bukan melulu merupakan pengetahuan realitas obyektif di depan indera, melainkan pengetahuan yang sifatnya pra-reflektif, yang seringkali tidak disadari. Ilmu pengetahuan dan filsafat adalah suatu upaya untuk mengangkat pengetahuan pra-reflektif ini menjadi obyek penelitian yang reflektif, kritis, dan sistematis.

Manusia dan Bahasa

“Konsep Taylor tentang manusia sebagai mahluk yang menafsirkan dirinya sendiri”, demikian tulis Abbey tentang Taylor, “searah dengan pentingnya tempat bahasa di dalam kehidupan manusia.”[8] Peran tubuh sebagai alat untuk mengekspresikan pemikiran melalui bahasa sangatlah penting. Dapat juga dikatakan bahwa tubuh merupakan rumah bahasa. Dalam arti ini bahasa memiliki banyak arti, yakni segala sesuatu yang dapat menjadi alat untuk berkomunikasi. Tubuh merupakan rumah bahasa, karena tubuh memiliki kemampuan untuk mengekspresikan. Di dalam mengekspresikan pemikiran atau maksud tertentu, tubuh melakukan proses pengolahan secara internal.

Misalnya kita sering melihat beberapa orang yang berjuang untuk menemukan kata yang tepat, guna menyatakan maksudnya secara persis. Kemampuan orang untuk mengungkapkan diri, emosi, perasaan, dan pikirannya dengan menggunakan kata yang tepat menentukan cara ia memandang dirinya sendiri, dan bagaimana orang sekitarnya memandangnya. “Perjuangan untuk menemukan artikulasi yang tepat”, demikian tulis Abbey tentang Taylor, “dalam arti ini, lebih lagi, merupakan proses yang berkelanjutan..”[9] Semakin orang mampu mengungkapkan pikiran ataupun perasaannya dengan tepat, semakin ia mampu mempertegas dan mengembangkan jati dirinya sendiri. Dan sebaliknya orang yang tidak mampu melakukan hal tersebut akan terjebak pada gambaran tentang dirinya sendiri yang salah, dan kesalahpahaman yang muncul dari pihak orang lain.

Sebagai mahluk yang menafsirkan dirinya sendiri, manusia juga adalah mahluk yang hidup dalam waktu. Pengaruh filsafat Heidegger sangat jelas disini. Bagi Taylor manusia adalah mahluk yang mewaktu, maka ia juga menafsirkan dirinya di dalam lintasan sejarah hidupnya sendiri. Dia menyebut lintasan sejarah itu sebagai narasi. “Kita melihat diri kita sendiri sebagai suatu cerita yang mengungkap dirinya,” demikian tulis Abbey tentang Taylor, “dan di mana kita bergerak semakin dekat atau menjauh dari nilai-nilai tentang kebaikan dan tujuan yang berbeda.”[10] Kehidupan manusia adalah suatu narasi historis tentang keberhasilan dan kegagalan, serta tentang perubahan yang datang silih berganti. Manusia adalah mahluk yang menafsirkan dirinya sendiri di dalam horison waktu dan narasi hidupnya.

Taylor tentang Moralitas

Menurut Abbey etika di dalam filsafat Taylor lebih tepat disebut sebagai ontologi moral, yakni moral yang memiliki dimensi hakikinya sendiri, lepas dari pikiran manusia. Bahkan dapat dikatakan bahwa ia hendak melampaui paradigma yang berpusat pada manusia di dalam teori-teori tentang moralitas, dan kemudian memberi ruang bagi sumber-sumber tindakan moral yang berada di luar, atau melampaui, diri manusia. Dalam hal ini Taylor banyak mengikuti filsafat moral Iris Murdoch. Bagi Murdoch sendiri moral adalah tarikan dari Yang Baik itu sendiri, yang sifatnya lebih tinggi dari motivasi manusia biasa.[11]

Di dalam filsafat moral kontemporer telah muncul wacana yang menyatakan dengan jelas, bahwa konsep baik selalu bersifat relatif pada kultur ataupun waktu tertentu. Taylor tidak sepenuhnya setuju dengan hal itu. Ada nilai-nilai kebaikan yang menurutnya bersifat universal bagi seluruh manusia. “Salah satu aspek sentral di dalam etika manusia”, demikian tulis Abbey tentang Taylor, “… adalah hasrat untuk menghindari penderitaan yang tidak perlu bagi manusia lainnya.”[12] Etika bukanlah sesuatu yang bersifat pasti, seperti kepastian yang banyak berlaku di dalam ilmu-ilmu alam. Justru suatu ajaran etika yang mengklaim kepastian memiliki bahaya laten, yakni ketidakmampuannya untuk memahami manusia dalam kerumitan situasinya. Setiap ajaran etika harus mulai dari fenomena empiris yang nyata dalam dunia, dan persoalan etis memang selalu berangkat dari pengalaman manusia yang kompleks.

“Untuk bisa memahami kehidupan moral secara lebih penuh”, demikian Abbey tentang Taylor, “kita harus,… terlibat secara langsung dengan reaksi dan tanggapan-tanggapan manusiawi.”[13] Kehidupan moral manusia memiliki beragam aspek yang seringkali saling berkontradiksi satu sama lain. Aspek yang satu meniadakan aspek lainnya. Ini semua menciptakan kerumitan tersendiri. Moralitas menurut Taylor harus berusaha menangkap kerumitan dan kontradiksi di dalam kehidupan moral manusia. Upaya menyederhanakan dalam rumus dan prinsip-prinsip dogmatis pada akhirnya tidak akan pernah mampu menangkap kerumitan dinamika moral manusia.

Taylor juga menegaskan bahwa walaupun kehidupan moral manusia memiliki banyak kontradiksi, namun ada satu hal yang kiranya tetap pasti, yakni manusia selalu terarah pada yang baik (the good) itu sendiri. Di dalam tulisannya tentang Taylor, Abbey menegaskan, bahwa konsep yang baik memang memiliki kedekatan dengan konsep Tuhan. Namun dalam arti ini, Tuhan sudah dilepaskan dari ciri manusiawinya, dan menjadi Tuhan pada dirinya sendiri yang lepas dari pencitraan manusiawi. Dalam hal ini rupanya Taylor sangat dipengaruhi oleh Heidegger, terutama di dalam pandangannya soal ekologi. Setiap entitas baik yang hidup maupun yang tidak memiliki nilai intrinsik pada dirinya sendiri.

Pada hemat saya konsep Tuhan di dalam pemikiran Taylor dapat disamakan dengan alam semesta itu sendiri. Ini adalah sejenis panteisme. Setiap entitas memiliki nilai pada dirinya sendiri, karena Tuhan sudah selalu hadir di dalamnya. Konsep bahwa segala sesuatu di alam semesta ini memiliki nilai intrinsik nantinya akan mempengaruhi filsafat politik Taylor. Nantikan uraian selanjutnya.


[1] Untuk perkenalan sosok dan pemikiran Taylor, saya mengacu pada http://en.wikipedia.org/wiki/Charles_Taylor_(philosopher) diakses pada 12 Oktober pk. 11.15.

[2] Untuk selanjutnya saya mengacu pada tulisan Abbey, Ruth, “Timely Meditations in an Untimely Mode”, dalam Charles Taylor, Cambridge: Cambridge University Press, 2004, 1. “Several things mark Charles Taylor as a distinctive figure in the landscape of contemporary philosophy. Taylor has been publishing consistently and prolifically for over four decades and despite his retirement from McGill University some years ago, his intellectual energies continue unabated…” Pada bab tentang sosok hidup dan pemikiran Charles Taylor ini, saya terinsipirasi dari pembacaan terhadap tulisan Abbey ini.

[3] Lihat, ibid, 2, “This blend of timely thinking and untimely mode raises the question of system in Taylor’s thought. On the one hand, a thinker with something to say on a diverse range of philosophical questions might be expected to display a rigid, and possibly even predictable, consistency in response to different issues.On the other hand, one who so directly engages the debates of the daymight understandably bemore sporadic and targeted in his or her contributions.”

[4] Ibid, 3, “He thus follows Heidegger’s lead in linking hermeneutics to ontology. Further examination of Taylor’s philosophical anthropology shows hermeneutics to be central to his epistemology, too.This is because he views human knowledge as the product of engaged, embodied agency. Along with the influence of Heidegger, in this we see the powerful legacy of another twentieth-century continental thinker – Merleau-Ponty – for the development of Taylor’sthought.”

[5] Bandingkan dengan pemaparan tentang fenomenologi Merleau-Ponty dalam Budi Hardiman, F., Filsafat Fragmentaris, Yogyakarta: Kanisius, 2007.

[6] Abbey, 2004, 3, “The way we encounter the world cognitively is shaped and constrained by the fact that we are bodies”

[7] Ibid, “here Taylor is concerned with the fundaments of knowledge, with knowledge in its most ontologically primitive condition.”

[8] Ibid, 4, “Taylor’s view of humans as self-interpreting animals accords great importance to the place of language in human life.”

[9] Ibid, “Striving for a correct articulation in this way is, moreover, an ongoing process”

[10] Ibid, 5, “We see our lives as stories that unfold, and in which we move closer to or further away from different strongly valued goods and goals.”

[11] Bdk dengan pemaparan Magnis-Suseno, Franz, “Good atau God? Catatan tentang Filsafat Moral Iris Murdoch”, dalam Diskursus Vol. 3, No. 2, Oktober 2004, Jakarta: STF Driyarkara, 2004.

[12] Abbey, 2004, 10, “One of the central aspects of human ethics drawn out of Taylor’s work by Kerr is the desire to avoid unnecessary suffering in other human beings”

[13] Ibid, “In order to understand moral life more fully we must, rather than attempting to bracket or negate our ordinary reactions and responses, engage more directly with them”

Gambar dari http://www.standpointmag.co.uk/files/u28/Underrated-Bottum.jpg

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s