Tentang Susunan dari Kenyataan yang Ada

saduluhouse.org
saduluhouse.org

Aristoteles di dalam Metafisika

Oleh Reza A.A Wattimena

Sedang Penelitian Filsafat Politik di München, Jerman

Sulit menghindar dari pertanyaan-pertanyaan, ketika kita memiliki anak atau kerabat yang masih berumur 2 sampai 6 tahun. Mereka ingin tahu segala sesuatu, mulai dari hal kecil, seperti upil di hidung, sampai dengan matahari di atas sana. Ketika kita bertambah usia, sulit rasanya mengingat, bahwa kita pernah memiliki rasa penasaran sebesar itu.

Di dalam filsafat, pertanyaan tentang susunan serta hakekat dari segala yang ada adalah salah satu pertanyaan terpenting. Pertanyaan ini menjadi dasar dari seluruh filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi modern, sebagaimana kita kenal sekarang ini. Salah satu filsuf yang mencoba menjawab pertanyaan ini secara sistematik adalah Aristoteles.

Aristoteles adalah murid Plato. Ia menulis buku dengan judul Ta meta ta physika, atau Metafisika, pada 340 sebelum Masehi. Buku ini bukanlah sebuah karya utuh, melainkan kumpulan tulisan pendek dari Aristoteles. Ia menamai kumpulan tulisan tersebut sebagai “filsafat pertama”.1 Lanjutkan membaca Tentang Susunan dari Kenyataan yang Ada

Filsafat dan Dunia yang tak Pernah Ada

ndr.de
ndr.de

Markus Gabriel dan Metafisika Dunia

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Saat ini, saya sedang membaca buku berjudul Warum es die Welt nicht gibt (mengapa dunia tidak ada), terbitan Ullstein Verlag 2009 lalu. Harga buku itu murah, sekitar 15 Euro, tergantung beli dimana, dan baru atau bekas. Penulisnya adalah Markus Gabriel, seorang Professor Filsafat di bidang Epistemologi dan Filsafat Modern di Universität Bonn. Di artikelnya di Der Spiegel yang berjudul Eine Reise durch das Unendliche, Romain Leick melakukan wawancara yang cukup mendalam dengan Gabriel terkait dengan bukunya tersebut.

Sejauh saya tangkap, tujuan buku itu adalah mengajukan satu argumen baru terkait dengan realisme, yakni bahwa dunia memiliki sifat tetap pada dirinya sendiri, lepas dari pikiran manusia. Pertanyaan penting disini adalah, bagaimana manusia bisa tahu dengan dunianya? Ini adalah pertanyaan dasar di dalam Filsafat Pengetahuan (Erkenntnistheorie), atau epistemologi. Pertanyaan ini sama mendasarnya dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis lainnya yang terus menggangu manusia sepanjang jaman, yakni dari mana kita berasal? Apa artinya hidup? Dan apa tujuan keberadaan kita di dunia ini? (Leick, 2013)

Gabriel juga menjelaskan, bahwa filsafat masih dapat memberikan sumbangan besar terkait dengan pertanyaan kosmologis, yakni apa artinya alam atau dunia tempat kita tinggal? Dalam arti ini, dunia bukanlah hanya dunia fisik material semata, tetapi juga dunia yang dihayati dan dihidupi oleh manusia. Fisika modern, beserta dengan ilmu-ilmu modern lainnya, seperti neurosains, sering melakukan penyempitan pemahaman atas dunia dengan melihatnya semata sebagai gejala material-fisik-biologis saja. Pola inilah yang kiranya ingin ditantang sekaligus dilampaui oleh Gabriel. Lanjutkan membaca Filsafat dan Dunia yang tak Pernah Ada