Mahasiswa, Ruang Publik, dan Pendidikan

3.bp.blogspot.com

Dipresentasikan di Universitas Airlangga Surabaya, 19 Mei 2011

Oleh Reza A.A Wattimena

Ruang publik adalah sebuah ruang tempat dibentuk dan dimatangkannya opini publik. Di dalamnya orang-orang berkumpul, saling bertukar pendapat, saling memahami, dan sampai pada satu keputusan tentang satu masalah di dalam hidup bersama. (Wattimena, 2007)

Misalnya ada masalah terkait seorang mahasiswa yang terpaksa putus kuliah. Pihak BLM (Badan Legislatif Mahasiswa) Fakultas akan menanyakan penyebab utama dari peristiwa ini kepada dekanat. Lalu pihak BLM juga akan bertanya kepada mahasiswa terkait, apakah ia menerima keputusan ini dengan lapang dada. Jika ada masalah maka BLM akan membuat forum.

Forum ini bertujuan untuk dua hal, yakni perubahan keputusan, atau menjelaskan keputusan yang telah dibuat, sehingga seluruh pihak yang terkait bisa memahaminya. Tujuan forum adalah memberi legitimasi bagi setiap keputusan yang terkait dengan kepentingan bersama.  Lanjutkan membaca Mahasiswa, Ruang Publik, dan Pendidikan

Arti Keluarga

wordpress.com

Soetikno Tanoko di Mata Adiknya, Suwandi Tanoko

Oleh Reza A.A Wattimena

                  Sosoknya masih terlihat perkasa, walau usianya sudah tua. Dari matanya kita bisa melihat, bahwa ia memiliki sifat yang keras. Suaranya lantang ketika bercerita. Memang di masa mudanya, ia terkenal sebagai jagoan di antara teman-temannya.

                  Sewaktu muda ia tak segan berkonflik dengan orang di jalan, jika ia merasa benar. Ya, ia memang pemberani yang sama sekali tak kenal takut. Itulah sosok Suwandi Tanoko, adik Pak Tik (Soetikno Tanoko), namun berbeda ibu.

                  Sewaktu Pak Tik sampai ke Indonesia, Suwandilah yang membantu Pak Tik belajar bahasa Indonesia, dan bahkan belajar naik sepeda. Itu semua mereka lakukan setiap hari, sampai akhirnya Pak Tik bisa berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia, serta naik sepeda. Lanjutkan membaca Arti Keluarga

Beriman secara Ilmiah, Mungkinkah?

3.bp.blogspot.com

Akan Dipresentasikan di Paroki Santo Yakobus Citra Raya Surabaya pada tanggal 29 Mei 2011.

Oleh Reza A.A Wattimena

            Apa artinya menjadi orang yang beriman? Beriman berarti meyakini seperangkat ajaran tertentu, sekaligus nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Beriman berarti percaya bahwa seperangkat ajaran tertentu bisa membawa hidup manusia ke arah yang lebih baik. Ini berlaku untuk semua agama, ataupun ideologi yang ada di dunia.

            Beriman tidak hanya memahami ajaran, tetapi juga menghayati nilai yang terkandung di dalam ajaran itu. Misalnya di dalam agama Katolik diajarkan, bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Di balik ajaran itu terkandung nilai, bahwa manusia haruslah rendah hati, karena Tuhan saja bersikap rendah hati dengan bersedia menjadi manusia. Tuhan saja rela berkorban untuk manusia. Masa kita tidak mau berkorban untuk orang-orang sekitar?

            Orang tidak boleh hanya beriman, atau memahami nilai-nilai hidup dari imannya. Orang juga mesti menerapkan secara konsisten nilai-nilai itu di dalam hidup kesehariannya. Jika tidak diterapkan maka iman dan penghayatan nilai hanya menjadi sesuatu yang sia-sia. Dengan kata lain harus ada kesesuaian antara keimanan yang diyakini, nilai-nilai hidup yang diperoleh, dan perilaku keseharian.

            Itulah artinya menjadi orang beriman sekarang ini. Lanjutkan membaca Beriman secara Ilmiah, Mungkinkah?

Filsafat Bisnis

x4b.xanga.com

Compassionate Business sebagai Bisnis Masa Depan, Mungkinkah?

Sebuah Tinjauan Filsafat Bisnis menurut Chade-Meng Tan

Dipresentasikan dalam Pertemuan Life and Business Club

22 Mei 2011 di Surabaya.

(Diinspirasikan dan dikembangkan dari Kuliah Chade-Meng Tan di TED Talks http://www.ted.com)

Oleh Reza A.A Wattimena

             Secara etimologis (akar kata), filsafat terdiri dari philo dan sophia, yang berarti pencinta kebijaksanaan. Orang yang berfilsafat adalah orang yang mencintai kebijaksanaan, dan berusaha mencarinya di dalam kehidupan. Kebijaksanaan bukanlah suatu situasi yang sudah jadi, melainkan sebuah proses yang masih harus dicari. Seorang filsuf bukanlah orang yang bijaksana, tetapi orang yang berusaha sedikit demi sedikit untuk menjadi bijaksana dalam hidupnya.   Lanjutkan membaca Filsafat Bisnis

Dewan Perwakilan Rakyat?

visualarts.synthasite.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Notulensi Diskusi COGITO Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya 29 April 2011

            Perlukah gedung DPR yang baru dibangun? Inilah yang menjadi tema diskusi Cogito 29 April 2011 yang diadakan di Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya. Diskusi dimulai pada pukul 08.50, dan mengambil tempat di ruang kelas Fakultas Filsafat. Beragam argumen diajukan. Lalu semuanya diuji di dalam “pengadilan akal budi” filosofis. Lanjutkan membaca Dewan Perwakilan Rakyat?

Hak Milik

thecriticalarizonan.files.wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita semua bekerja. Katanya untuk hidup. Tetapi tidak hanya hidup. Kita bekerja untuk menciptakan hidup yang berkualitas.

Salah satu tanda kualitas hidup adalah kuantitas harta milik. Semakin banyak harta milik yang ada, semakin tinggilah kualitas hidup seseorang. Inilah asumsi yang menggerakan roda konsumsi di masyarakat kita. Asumsi yang begitu saja diterima sebagai benar, tanpa pernah dipertanyakan terlebih dahulu. Lanjutkan membaca Hak Milik

Diskusi Cogito: Pembangunan Gedung DPR

Eksistensi (Menjadi Bahagia)

fineartamerica.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Pada tulisan ini Anda diajak untuk menemukan siapa diri Anda sebenarnya, dan apa yang membuat Anda menjadi begitu unik. Kunci utama kebahagiaan adalah mengetahui diri sendiri, dan menerimanya apa adanya. Dengan mengetahui diri sendiri, Anda bisa memahami di mana Anda memiliki kekuatan, dan di mana kelemahan Anda. Dan dengan mengetahui siapa diri Anda sebenarnya, identitas yang Anda miliki tidak akan terpengaruh oleh label yang diberikan orang lain.[1] Lanjutkan membaca Eksistensi (Menjadi Bahagia)

Modus Eksistensi Beragama

http://www.happiness-after-midlife.com

Oleh Yonky Karman

Fanatisme beragama kini menyeruak di ruang publik. Agama terang-terangan dipakai dalam proyek delegitimasi ideologi dan hukum negara. Negara dianggap sekuler, pejabatnya dajal, hukumnya bertentangan dengan agama, dan polisinya tentara setan.

Ironisnya, pemerintah dan organnya sibuk menghakimi kelompok agama yang secara ideologis tak berbahaya. Namun, radikalisme agama dalam bentuk kekerasan dan subversif tidak ditindak tegas. Lanjutkan membaca Modus Eksistensi Beragama

Kelas Atas Kita

http://www.zandlgroup.com

Oleh Bre Redana

Ada profesi yang pada dirinya tak melekat pengertian bekerja, yakni ”selebriti”. Cita-cita menjadi selebriti, kata remaja cantik. Televisi sering mengucapkan, dia adalah selebriti. Dia telah menjadi selebriti. Lanjutkan membaca Kelas Atas Kita

Mahluk yang Merasa

Oleh Reza A.A Wattimena

Resensi Buku
Brooks, David, The Social Animal: The Hidden Sources of Love, Character, and Achievement, Random House, New York, 2011, ISBN: 978-1-4000-6760-2

Rob dan Julia berjumpa. Entah bagaimana –tanpa pertimbangan rasional sedikit pun- mereka merasa, bahwa mereka telah menemukan pasangan jiwanya. Tak lama mereka makan malam. Waktu berlalu mereka pun menikah. Mereka melahirkan seorang putra, dan menjadi sebuah keluarga. Lanjutkan membaca Mahluk yang Merasa

Bersama yang Tersalib dan yang Terguncang

http://www.philvaz.com

Oleh Martin Lukito Sinaga

Kompas 21 April 2011

Guncangan dahsyat akibat gempa di Jepang, Maret lalu, bersama tsunami yang mengikutinya masih membekas.

Malah, dengan kebocoran reaktor nuklir di Fukushima, bencana itu sungguh tertoreh dalam kehidupan dan ingatan rakyat Jepang. Riaknya pun tersebar luas dan beragam. Di Jerman, reaktor-reaktor nuklir akan ditutup dan pendulum politik bergerak mendukung Partai Hijau. Lanjutkan membaca Bersama yang Tersalib dan yang Terguncang

Politik yang Bermartabat

jamigold.com

Oleh F Budi Hardiman

Izinkanlah saya mengutip nasihat seseorang dari lima abad silam yang paling banyak dihujat sekaligus diikuti dalam politik: Niccolo Machiavelli. ”Membunuh sesama warga, mengkhianati kawan, curang, keji, tak peduli agama,” demikian tulisnya, ”tidak dapat disebut kegagahan. Cara-cara macam ini dapat memenangkan kekuasaan, tetapi bukan kemuliaan.”

Gloria, itulah martabat dalam politik. Politik yang bermartabat tak digerakkan semata-mata oleh nafsu pencarian kekuasaan. Martabat memancar dari tindakan otentik yang penuh kedaulatan dari seorang pemimpin berkarakter. Itulah kemuliaan yang membuat dirinya dihormati rakyatnya. Sisi gagasan tentang martabat ini jarang dicermati para pembaca yang telanjur menilai Machiavelli sebagai guru kelicikan politis. Lanjutkan membaca Politik yang Bermartabat

Indonesia dan Demokrasi Mbulet

http://www.hemmy.net

Oleh Reza A.A Wattimena

Mbulet itu artinya membingungkan, berbicara berputar, dan sulit dipercaya. Orang berbicara namun membuat orang lain bingung. Orang bertindak juga dengan memaksa orang lain untuk memutar otak, dan bingung. Setiap buih kata yang keluar hanya menghasilkan kegelapan bagi orang sekitar yang mendengar. Lanjutkan membaca Indonesia dan Demokrasi Mbulet

Bahagia (Level-level Kebahagiaan)

http://www.surrealists.co.uk

Oleh Reza A.A Wattimena

Diolah dari Pemikiran Komaruddin Hidayat (2008)

Ada lima tahap kebahagiaan. Tahap ini bisa juga disebut sebagai tangga kebahagiaan. Setiap tahap di dalam tangga ini selalu bersesuaian dengan sifat-sifat dasariah manusia, yang sudah dibahas pada tulisan sebelumnya. Sebenarnya tangga kebahagiaan ini tidak selalu bisa dipandang secara vertikal, tetapi juga bisa secara horizontal. Artinya tidak ada jenis kebahagiaan yang lebih tinggi daripada jenis kebahagiaan lainnya. Saya akan bahas lebih jauh mengenai hal ini pada akhir tulisan. Lanjutkan membaca Bahagia (Level-level Kebahagiaan)

Kebahagiaan: Tujuh Pilar

http://www.metapub.com

Diolah dari kuliah terbuka yang diberikan Komaruddin Hidayat di UIN, Jakarta pada 2008 lalu

Oleh Reza A.A Wattimena

Keluarga

Setidaknya ada tujuh faktor yang bisa membuat Anda bahagia. Faktor pertama adalah family relationship. Keluarga adalah faktor utama pemberi kebahagiaan. Jika kebahagiaan dibayangkan sebagai sebuah bangunan, maka keluarga adalah fondasinya. Jika fondasinya kokoh maka Anda sudah mempunyai modal yang besar untuk bisa meraih kebahagiaan. Sebaliknya jika keluarga Anda berantakan, dan hubungan antar anggota keluarga diwarnai dengan konflik serta kebencian, maka Anda akan merasa tidak bahagia. Anda akan merasa pesimis terhadap dunia. Lanjutkan membaca Kebahagiaan: Tujuh Pilar

Buku Filsafat Ilmu Pengetahuan: Sebuah Pendekatan Kontekstual

Editor Reza A.A Wattimena

ISBN: 978-602-98925-1-2

“Maka ilmu pengetahuan haruslah berpihak dengan tegas, dan harus meninggalkan klaim netralitasnya. Ilmu pengetahuan haruslah berpijak dan berpihak untuk membela kepentingan orang-orang yang tertindas, seperti para korban ekonomi kapitalisme, kaum minoritas yang tertindas, maupun kaum perempuan yang masih mengalami diskriminasi. Namun apakah dengan begitu, ilmu pengetahuan kehilangan obyektivitasnya? Lanjutkan membaca Buku Filsafat Ilmu Pengetahuan: Sebuah Pendekatan Kontekstual

“?”

a7.sphotos.ak.fbcdn.net

 

Diskusi Screening Film

FISIP Universitas Airlangga, Surabaya,

12 April 2011

Oleh Reza A.A Wattimena

Karya-karya terbaik manusia mengangkat kita ke level yang lebih tinggi. Itulah yang saya rasakan, ketika menonton film “?” karya Hanung Bramantyo. Film itu mengangkat saya, dan orang-orang sekitar saya, ke level yang lebih tinggi. Setelah selesai menonton kami menjadi satu, lepas dari perbedaan latar belakang yang ada.

Film itu kompleks. Banyak emosi manusiawi tampil di dalamnya. Ada yang sedih, menakutkan, lucu, sampai yang menyentuh hati. Begitu banyak nilai terkandung di dalamnya untuk kita ambil, dan terapkan untuk mewujudkan hidup bersama yang semakin bijaksana. Lanjutkan membaca “?”

Ateisme dan Problematik di Belakangnya

Narasi Diskusi System Thinking Ateisme

Sabtu 9 April Pk. 09.00-11.30

Oleh Reza A.A Wattimena

Ateisme adalah tema yang kontroversial. Orang yang mengaku dirinya ateis sering dicap tidak bermoral, dan jelmaan setan. Namun kenyataan berbicara berbeda. Ternyata ada orang yang menyatakan dirinya ateis hidup amat bermoral, dan memiliki etos kerja amat baik. Apa yang terjadi? Darimana ia memperoleh sumber nilai moralnya, jika bukan dari agama?

Inilah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Edvin Mario Suryawan, ketika menjadi pembicara dalam diskusi System Thinking Ateisme, yang dilakukan di Fakultas Psikologi, UNIKA Widya Mandala Surabaya dalam kerja sama dengan Fakultas Filsafat di universitas yang sama. Pertanyaan ini lahir dari penelitian yang dilakukan oleh Edvin untuk skripsinya di Fakultas Psikologi. Diskusi berjalan dari pk. 09.15-11.30 pada Sabtu 9 April 2011. Lanjutkan membaca Ateisme dan Problematik di Belakangnya

Manusia

almostvelvet.files.wordpress.com

Diolah dari kuliah terbuka yang diberikan Komaruddin Hidayat di UIN, Jakarta pada 2008 lalu

Oleh Reza A.A Wattimena

Kebahagiaan yang sejati hanya dapat diraih, jika orang dapat bersikap seturut dengan sifat-sifat dasariahnya sebagai manusia. Setiap sifat dasariah manusia selalu mempunyai kebutuhan. Dalam arti ini kebahagiaan adalah pemenuhan kebutuhan dari sifat dasariah tersebut. Dengan kata lain Anda baru bisa merasa bahagia, jika semua kebutuhan dari sifat dasariah Anda sebagai manusia telah terpenuhi. Pertanyaannya lalu apakah ragam sifat dasariah manusia itu? Lanjutkan membaca Manusia