Eksistensi (Menjadi Bahagia)

fineartamerica.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Pada tulisan ini Anda diajak untuk menemukan siapa diri Anda sebenarnya, dan apa yang membuat Anda menjadi begitu unik. Kunci utama kebahagiaan adalah mengetahui diri sendiri, dan menerimanya apa adanya. Dengan mengetahui diri sendiri, Anda bisa memahami di mana Anda memiliki kekuatan, dan di mana kelemahan Anda. Dan dengan mengetahui siapa diri Anda sebenarnya, identitas yang Anda miliki tidak akan terpengaruh oleh label yang diberikan orang lain.[1]

Memang sebagian identitas Anda ditentukan oleh kewarganegaraan, nama, pekerjaan, agama, dan bentuk fisik. Akan tetapi identitas-identitas tersebut bukalah keseluruhan diri Anda. Artinya ada karakter internal di dalam diri Anda yang melampaui itu semua. Maka dari itu Anda harus menemukan kualitas di dalam diri Anda, yang membuat Anda unik dibandingkan dengan orang-orang lainnya.

Hal ini sebenarnya sangat masuk akal. Bagaimana mungkin Anda bahagia, jika Anda tidak yakin siapa diri Anda sebenarnya? Bagaimana mungkin Anda bahagia, jika Anda hidup berdasarkan bagaimana orang lain memandang Anda? Jika Anda tidak tahu apa yang sungguh berarti di dalam hidup? Jika Anda tidak mencintai diri Anda sendiri? Jika Anda tidak menerima diri Anda sendiri apa adanya? Jika Anda tidak tahu apa kelebihan Anda, dan berusaha mengembangkannya? Pikiran dan perasaan Anda tentang diri Anda sendiri menentukan apa yang Anda percayai tentang diri Anda sendiri. Ketika seluruh dunia mengatakan sebaliknya, Anda tetap teguh tak tergoyahkan.

Untuk bisa bahagia orang perlu menciptakan kebiasaan untuk hidup bahagia (happiness habit). Caranya adalah dengan berusaha untuk hidup di sekitar orang-orang yang mengembangkan potensi Anda, bertindak sesuai dengan apa yang mengembangkan Anda, mengetahui dan bertindak sesuai dengan potensi unik yang Anda miliki, dan hidup seturut dengan nilai-nilai yang Anda yakini. Dari semua itu identitas diri adalah titik tolak yang sangat penting. Ingatlah bahwa memahami dan menerima diri apa adanya adalah kunci utama untuk menjadi bahagia. Orang yang bahagia harus bisa mencintai dan menghargai dirinya sendiri, walaupun mungkin saja ia sangat berbeda dibandingkan dengan lingkungan sosialnya.

Apakah Anda seringkali merasa, bahwa Anda tidak mengenali diri Anda sendiri? Apakah Anda membiarkan orang lain menentukan siapa diri Anda? Dengan mengenali dan memahami diri apa adanya, Anda tidak akan membiarkan penilaian orang lain menggangu ketenangan hati dan kebahagiaan yang Anda miliki. Orang yang sungguh mengenali dirinya sendiri akan merasa tenang, walaupun banyak orang berbicara buruk tentangnya. Identitas diri berarti menjadi diri Anda sendiri yang sesungguhnya, karena diri Anda sendiri adalah kondisi terbaik yang mungkin Anda miliki. Menemukan dan menerima identitas diri berarti menjadi jelas akan siapa Anda sesungguhnya, dan kemudian menyatakannya dengan jelas kepada orang lain.

Mengenali dan menerima identitas diri berarti membedakan akan apa yang Anda kerjakan di dalam hidup, yakni profesi Anda, dengan siapa Anda sesungguhnya. Orang seringkali tidak mampu membedakan hal ini. Misalnya Anda adalah sekaligus seorang suami, ayah, guru, dan seorang pemusik. Selama ini tidak ada masalah dengan beragam identitas tersebut. Ketidakbahagiaan muncul ketika salah satu dari identitas tersebut memperoleh perhatian lebih dibandingkan yang lainnya, sehingga pasti ada satu bentuk identitas yang berkurang porsi perhatiannya.

Ketika identitas sebagai seorang guru lebih penting dari sebagai seorang ayah, maka keluarga akan merasa dipinggirkan. Dan ketika identitas seorang ayah lebih penting daripada seorang guru, maka pekerjaan sehari-hari akan terganggu. Setiap orang perlu untuk menjaga keseimbangan identitasnya. Memang tidak mungkin keseimbangan itu dicapai sepenuhnya. Akan tetapi usaha untuk meraih keseimbangan itu perlu untuk terus dilaksanakan.

Ingatlah bahwa setiap orang itu unik. Bahkan saudara kembar identik pun memiliki kepribadian yang berbeda. Cobalah Anda lihat KTP (Kartu TAnda Penduduk) yang Anda punya. Disana tertulis nomor identitas, tanggal lahir, jenis kelamin, dan sebagainya. Akan tetapi KTP itu tidak mampu menggambarkan kerumitan pribadi Anda. Untuk bisa mencapai kebahagiaan, orang juga perlu menyadari kompleksitas kepribadiannya. Dan sekali lagi kompleksitas pribadi itu tidak akan pernah ditemukan pada nomor identitas, agama, ataupun jenis kelamin semata.

Beberapa orang menempuh langkah khusus untuk lebih mengenal diri mereka sendiri. Mereka mengambil cuti dari pekerjaan, dan melakukan perjalan spiritual untuk menemukan jati diri. Mereka berharap bahwa dengan menemukan keunikan, maka mereka akan lebih bahagia dalam menjalani hidup. Summers dan Watson juga dengan jelas menyatakan, bahwa dengan menemukan apa yang unik di dalam diri, Anda akan lebih tampak menarik di hadapan orang lain, dan akan membuat Anda merasa nyaman dengan diri Anda sendiri.

Identitas itu bagaikan sidik jari. Sidik jari setiap orang itu berbeda. Tidak hanya itu sidik jari tidak berubah dari orang kecil sampai ia tua dan meninggal nanti. Tidak ada dua sidik jari yang sama pada jari seseorang. Setidaknya ada 10 sidik jari pada sepuluh jari setiap orang. Hal yang sama berlaku untuk identitasnya. Setiap orang memiliki beragam identitas, namun semua itu memberikan peran dalam keunikannya. Seringkali orang tidak berani menunjukkan dan mempertegas identitas itu. Maka ia lalu menjadi orang yang melulu menyesuaikan diri dengan orang sekitarnya. Pandangan itu tidak tepat. Menurut Summers dan Watson, identitas bukanlah sebuah penjara yang membuat orang tidak bisa berubah, melainkan sebuah titik tolak bagi setiap orang untuk mulai membangun kehidupannya. Orang perlu untuk bersikap terbuka dan fleksibel di dalam memaknai identitasnya. Itulah cara terbaik untuk bisa berpartisipasi aktif di dalam dunia sosial tanpa kehilangan identitas diri.

Anton berusia 27 tahun. Ia sudah bekerja. Akan tetapi ia merasa, bahwa ia belum mengenal dirinya sendiri. Ia merasa bahwa dirinya terdiri dari sifat-sifat yang bertentangan. Ia bisa menjadi sahabat yang setia sekaligus kekasih yang suka berselingkuh. Dengan kata lain ia bingung, siapakah dirinya sebenarnya? Ia juga kadang menjadi pribadi yang berbeda. Berhadapan dengan orang baru, Anton suka merasa malu. Namun di kesempatan lain, ia bisa menjadi orang yang meriah, yang memberikan keceriaan pada teman-temannya.

Seringkali juga Anton merasa tidak sabar menghadapi keadaan sekitarnya. Padahal menurut teman-temannya, ia adalah orang yang sabar. Ada juga masa di mana Anton menjadi orang yang sangat patuh pada peraturan. Ia menjunjung tinggi peraturan. Namun di masa lain, ia bisa menjadi orang yang berani mengambil resiko dengan melanggar peraturan, guna mencapai tujuannya. Beragam sifat yang berlawanan itu membuat Anton khawatir, jangan-jangan ia menderita kelainan jiwa.

Apa yang dialami oleh Anton ternyata juga dialami oleh banyak orang. Dan keadaan itu bukanlah suatu bentuk kelainan jiwa, melainkan sepenuhnya normal, yakni sebagai proses pencarian identitas diri. Beragam sifat di dalam diri seseorang itu justru melambangkan keunikannya. Ingatlah bahwa manusia bukanlah sebuah kertas putih yang rata dan sepenuhnya rasional maupun konsisten. Beberapa sifat menampilkan dirinya lebih banyak dari sifat-sifat lainnya. Dan juga seringkali sifat-sifat tertentu lebih disukai daripada sifat-sifat lainnya. Akan tetapi beragam sifat yang berbeda tersebut adalah bagian dari manusia. Hal itu juga berlaku untuk Anton. Inkonsistensi identitas tidak selalu bermakna buruk, tetapi juga suatu bentuk dari kekayaan identitas sesorang. Jika Anton menyadari ini, maka ia akan lebih tenang dan bahagia. Ia bisa memilih identitas macam apakah yang ingin dikembangkannya. Ia bisa berkembang secara optimal. Kepercayaan dirinya meningkat.

Sewaktu sekolah dulu Anda diminta untuk mengenakan seragam. Pada pagi hari sebelum masuk kelas, Anda diminta berbaris bersama teman-teman Anda. Setiap anak mengenakan seragam yang sama. Pada hari-hari tertentu, sekolah, terutama sekolah swasta, memiliki seragam khusus. Seragam khusus bisa langsung digunakan untuk mengenali di mana anak itu bersekolah. Seragam khusus menjadi bagian dari identitas unik siswa dari sekolah tertentu. Setelah sekolah selesai ada beberapa anak yang bekerja sambilan di supermarket. Ketika bekerja mereka harus menggunakan seragam yang diwajibkan perusahaan. Pada saat ini mereka harus menyatakan identitas mereka dengan seragam yang berbeda.

Sekarang ini banyak perusahaan besar menghabiskan banyak uang untuk mengembangkan citra perusahaan mereka. Untuk itu mereka menyewa para ahli guna menciptakan suatu lambang yang sungguh mencerminkan identitas dan keunikan perusahaan. Lambang itu haruslah jelas, sehingga calon konsumen mudah mengingatnya. Konsumen membeli produk dengan merk itu, karena mereka tahu kualitas barang macam apakah yang akan mereka dapatkan. Cara berpikir di balik seragam sekolah dan lambang perusahaan sebenarnya adalah sama, yakni mengekspresikan apa yang unik dari mereka. Lalu bagaimana dengan Anda? Bagaimana Anda menyatakan apa yang unik di dalam diri Anda? Apakah Anda membiarkan orang lain yang menyatakan keunikan Anda, atau Anda mendefinisikan serta mengekspresikan keunikan Anda sendiri, seperti yang dilakukan oleh banyak sekolah ataupun perusahaan?

Coba perhatikan para pendukung tim sepak bola tertentu, seperti Persija, Persema, Persebaya, dan sebagainya. Tim-tim tersebut memiliki ratusan penggemar. Mereka rutin menonton pertandingan tim kesayangan mereka, baik langsung ataupun melalui TV. Jika tim bermain baik, maka mereka merasa senang, dan sebaliknya. Para penggemar mengidentifikasi diri mereka dengan tim kesayangan mereka. Maka mereka mengenakan seragam tim, scarf, menggunakan tasnya, mug-nya, dan sebagainya. Semua ini berjalan lancar, ketika tim sepak bola yang mereka dukung memenangkan pertandingan. Namun ketika tim kalah dalam pertandingan, kekecewaan dan kegelisahan muncul. Para penggemar tim bola mengikatkan kebahagiaan dan kekecewaan mereka dengan kemenangan ataupun kekalahan tim.

Banyak orang senang bergabung dengan kelompok tertentu, terutama yang sesuai dengan minatnya. Kelompok membantu orang merumuskan identitasnya. Jika Anda suka dengan perangko, dan Anda bergabung dengan kelompok pecinta perangko, maka fakta itu sudah membantu Anda untuk merumuskan identitas. Identitas membuat Anda yakin dengan diri Anda sendiri. Perasaan keyakinan itu menciptakan kebahagiaan. Namun jangan sampai kelompok menjadi penghalang Anda untuk mencapai identitas. Kelompok membantu Anda merumuskan identitas Anda, dan bukan menghalanginya. Jika suatu kelompok mulai terasa menjajah Anda, maka sudah waktunya Anda keluar.

Seringkali orang menghukum dirinya sendiri, jika ia berbuat salah. Ia mencap dirinya sendiri sebagai orang yang kalah, bodoh, gagal, atau bahkan orang yang tidak layak hidup. Inilah yang disebut sebagai self-loathing, yakni membenci diri sendiri. Apakah Anda pernah mengalami ini? Apa yang Anda rasakan setelah Anda mulai membenci diri sendiri? Yang pasti Anda pasti merasa resah, kecewa, dan tidak bahagia. Ada kesalahan cara berpikir disini. Jika Anda gagal pada satu bidang, maka sebenarnya Anda hanyalah gagal pada bidang itu, dan tidak di bidang lainnya. Anda menjadi membenci diri sendiri, karena Anda mengambil satu aspek keburukan dari dalam diri Anda, dan kemudian menyamakannya dengan seluruh identitas diri Anda.

Pada saat situasi semacam itu, Anda hanya perlu mengubah cara berpikir Anda. Anda memang gagal tetapi hanya gagal pada satu bidang, dan bukan di bidang lainnya. Anda harus melokalisir kekecewaan pada satu bidang yang spesifik. Hal ini akan membantu Anda mengurangi stress, dan menjaga kebahagiaan Anda. Manusia memiliki berbagai dimensi dalam hidupnya. Berbagai dimensi itu harus dijaga keseimbangannya. Jika satu dimensi diberi prioritas lebih dari yang lain, dan ketika dimensi itu gagal dalam prosesnya, maka Anda akan sangat kecewa. Ingatlah Anda tidak pernah gagal pada semua bidang kehidupan Anda. Anda hanya gagal pada satu bidang. Dan itu selalu bisa diperbaiki.

Apakah Anda punya kartu nama? Sebagian orang menyatakan diri mereka di dalam kartu nama. Saya adalah Anton, General Manager PT Bumi Sari. Kartu nama mendefinisikan Anda secara jelas, sehingga rekan Anda bisa mengetahuinya secara tepat. Namun ketika Anda kehilangan pekerjaan, maka kartu nama Anda berubah, dan Anda dipaksa untuk mendefinisikan diri dengan cara lain. Tidak hanya itu banyak orang yang kehilangan pekerjaan tidak hanya harus mendefinisikan diri mereka dengan cara lain, tetapi juga merasa tidak berharga, karena mereka bukan siapa-siapa lagi. Mereka bukan lagi orang terhormat yang memiliki jabatan tinggi. Harga diri mereka jatuh. Akibat terjauhnya adalah hilangnya rasa kepercayaan diri. Anda pun menjadi tidak bahagia.

Ingatlah bahwa Anda bukanlah melulu sama dengan pekerjaan Anda. Anda bukanlah profesi Anda. Anda bukanlah peran sosial Anda. Anda bukanlah emosi Anda. Dan Anda bukanlah bentukan pikiran Anda. Anda adalah pribadi yang unik, yang melampaui semuanya itu. Anda adalah diri Anda sendiri. Kedirian Anda melampaui peran-peran sosial yang Anda jalani. Dan ketika peran-peran sosial Anda gagal, maka Anda masih bisa berhasil di bidang lain.

Situs Facebook sangat terkenal belakangan ini. Salah satu keunggulannya adalah situs tersebut mampu mempertemukan teman-teman lama yang sudah lama terpisah. Banyak reuni dibangun dengan menggunakan jaringan virtual dari situs facebook. Begitu banyak orang seolah ingin kembali ke masa lalu, dan merasakan kembali situasi yang menyenangkan pada masa itu. Mengapa reuni dan nostalgia semacam ini muncul? Summers dan Watson mengajukan dua jawaban. Yang pertama adalah orang ingin mengetahui bagaimana kabar temannya sekarang. Yang kedua adalah orang ingin melihat sejauh mana mereka telah berkembang, jika dibandingkan dengan situasi dahulu.

Di sisi lain reuni adalah kesempatan untuk memamerkan keberhasilan Anda, terutama dibandingkan dengan teman-teman lainnya. Semua bentuk reuni dan nostalgia itu sebenarnya adalah bagian dari proses pembentukan identitas diri. Teman-teman lama mengetahui siapa diri Anda dahulu. Namun mereka lama tidak berjumpa dengan Anda. Proses reuni dan nostalgia juga membantu Anda menemukan diri sendiri dengan melihat bagaimana teman lama Anda, yang dahulu mengenal Anda, melihat Anda kini. Itulah inti dari nostalgia.

Ada sebuah kisah nyata di Amerika Serikat. Sekitar tahun 1960-an Clare Short menyerahkan bayinya untuk diadopsi oleh orang lain. Pada waktu itu ia masih sekolah, jadi tidak bisa menjaga bayinya. 31 tahun kemudian bayi itu sudah besar. Ia mau mengetahui siapa ibunya sesungguhnya. Maka ia menghubungi pihak yang membantu pengadopsiannya. Ia pun kemudian bertemu dengan ibunya. Media menggambarkan bagaimana mereka berpelukan. Sungguh kisah yang mengharukan. Clare Short tidak hanya bertemu dengan anaknya, tetapi ia juga tahu bahwa ia telah menjadi seorang nenek.

Banyak orang mengalami krisis dalam hidupnya. Mereka tidak tahu siapa mereka sebenarnya. Pada satu titik mereka mempertanyakan semua yang mereka lakukan dan yakini selama ini. Biasanya situasi krisis itu ditandai oleh bertambahnya usia, seperti krisis pubertas, krisis paruh baya, ataupun krisis pasca pensiun kerja. Akan tetapi secara umum, krisis bisa terjadi kapan saja, seperti ketika Anda putus kerja, berpisah dengan istri, kehilangan orang yang dicintai, dan sebagainya. Rasa menyesal juga bisa menimbulkan krisis diri, terutama rasa menyesal akibat pernah membuat pilihan penting yang salah di masa lalu. Jika tidak diatur dengan tepat, krisis semacam ini bisa menciptakan ketidakbahagiaan jangka panjang.

Di sisi lain kita juga sering merasa sulit untuk menjadi diri sendiri. Kita merasa bahwa jika kita memperlihatkan jati diri kita pada orang lain, mereka tidak akan menyukainya. Santi adalah orang yang taat beragama. Ia yakin bahwa nilai-nilai agama akan bisa membawa manusia pada kebahagiaan. Akan tetapi ia juga seorang feminis. Ia membela dengan gigih hak-hak kaum perempuan untuk bisa mengembangkan dirinya seturut dengan pilihan bebasnya. Santi mengalami kebingungan. Ketika ia berkumpul dengan teman-temannya seiman, ia merasa harus menyembunyikan sisi feminisnya. Dan ketika ia berkumpul bersama teman-teman pejuang hak-hak kaum perempuannya, ia merasa harus menyembunyikan keyakinan religiusnya. Dalam jangka panjang Santi mengalami ketidakbahagiaan. Ia merasa tidak jujur dengan dirinya sendiri.

Ia merasa jika ia menampilkan dirinya sendiri, teman-temannya akan meninggalkannya. Namun ketika ia berani mengajukan pandangan-pandangannya ke semua teman-temannya, lepas dari mereka seiman ataupun para pejuang hak-hak kaum perempuan, ia justru merasa terbebaskan. Teman-temannya pun mengerti posisi Santi. Hal-hal yang ditakutkan Santi tidak terjadi. Jadi masalah sebenarnya terletak di pikiran Santi, dan bukan di dalam realitas. Summers dan Watson menegaskan, jika Anda menyangkal siapa diri Anda sebenarnya, maka Anda tidak akan pernah merasa bahagia.

Berdasarkan penelitian Summers dan Watson, semua bentuk perasaan negatif, seperti rasa bersalah, marah, frustasi, dan takut adalah hasil dari pertentangan Anda pribadi kita yang sebenarnya (actual self), dengan ciri pribadi yang kita idealkan (ideal self). Manusia tidak pernah bisa mewujudkan semua harapannya ke dalam realitas. Dengan kata lain ia tidak pernah bisa menjadi sepenuhnya pribadi yang ia inginkan. Ketidakmampuan ini menciptakan krisis internal di dalam diri. Krisis internal yang timbul, akibat kekecewaan karena tidak mampu hidup sesuai dengan prinsip-prinsip yang diinginkan. Menjadi orang yang memiliki prinsip memang baik. Akan tetapi jika prinsip tersebut diterapkan tanpa ada fleksibilitas, maka prinsip itu akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Prinsip-prinsip yang cenderung dipaksakan kepada diri sendiri ataupun orang lain hanya akan membawa ketidakbahagiaan.

Di samping itu banyak perasaan negatif timbul, karena orang takut menjadi tua. Banyak orang yang takut mengalami usia tua. Mereka ingin tetap muda, karena mereka bisa tetap tampak cantik, ganteng, dan dinamis. Sementara beberapa orang lain tampak tetap puas dan bahagia, walaupun usia mereka sudah tua. Bagaimanapun juga penampilan adalah bagian dari identitas Anda sebagai manusia. Teman lama mengenali Anda, karena wajah Anda mungkin tidak banyak berubah dibanding sebelumnya. Anda melihat cermin dan kemudian mengenali wajah yang Anda miliki. Bahkan banyak orang menyamakan begitu saja wajah dengan keseluruhan identitas mereka. Jika mereka ganteng maka mereka juga adalah manusia yang baik, dan sebaliknya.

Memang memperbaiki penampilan juga akan meningkatkan kepercayaan diri. Akan tetapi penampilan yang baik juga percuma, jika Anda tidak memiliki nilai-nilai positif lainnya. Maka dari itu untuk meningkatkan kualitas diri, orang perlu memperbaiki keduanya, sekaligus penampilan fisik maupun kualitas-kualitas pribadi lainnya. Walaupun perkataan ‘jangan menilai buku dari sampulnya’ benar, namun penampilan fisik adalah kesan awal, ketika bertemu dengan seseorang, lalu baru mulai mengenal pribadinya lebih jauh. Keduanya haruslah diperhatikan. Keduanya harus dikembangkan.

Ketidakbahagiaan juga bisa disebabkan oleh kegagalan. Orang-orang yang mengalami ini tidak menjadikan kegagalan sebagai pelajaran, melainkan sebagai hukuman yang berlangsung selama-lamanya. Perasaan kegagalan menggerogoti mereka dari dalam, dan ini membuat mereka menderita. Jika Anda mengalami hal tersebut, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah menyadari bahwa untuk menjadi manusia yang baik, Anda tidak perlu melakukan hal-hal yang hebat, ataupun menjadi manusia sempurna. Kesempurnaan adalah cita-cita yang terus harus dituju, dan mungkin tidak bisa menjadi realitas. Kesadaran bahwa tidak ada orang yang sempurna membuat Anda bisa menerima semua kelemahan maupun kegagalan yang Anda alami.

Belakangan ini banyak muncul penipuan kartu kredit. Anda melakukan pembelian melalui internet, memberikan nomor kartu kredit Anda, dan tiba-tiba tagihan bulanan membengkak, padahal Anda tidak membeli apa-apa. Seseorang telah mencuri nomor kartu kredit Anda. Seseorang telah menggunakan nomor kartu kredit Anda, dan melakukan pembelian dengannya, seolah-olah Anda yang melakukan pembelian. Dalam arti tertentu orang itu telah mencuri identitas Anda. Ia berpura-pura menjadi Anda, dan melakukan pembelian juga atas nama Anda. Uang dan identitas Anda dicuri. Dan sekarang Anda harus melakukan langkah-langkah tegas untuk menghentikannya.

Seringkali kita tidak bisa memilih identitas kita sebagai manusia. Kita tidak bisa memilih siapa orang tua kita, suku, tempat, ataupun karakter genetis yang kita miliki. Seorang filsuf Jerman bernama Martin Heidegger pernah menulis, bahwa manusia itu terlempar ke dunia. Ia tidak bisa memilih. Mirip dengan sidik jari, kita tidak bisa mengganti suku ataupun karakter genetis kita. Akan tetapi tentu saja, kita masih bisa memilih. Beberapa aspek dari identitas diri bisa diubah seturut dengan proses yang kita alami. Pengalaman hidup dapat mengembangkan identitas, sama seperti gizi dari makanan bisa membuat tubuh Anda bertumbuh.

Anda sekarang berbeda dengan Anda yang dulu, ketika masih kecil. Namun Anda masih memiliki identitas dasar yang sama. Satu-satunya kebebasan yang sungguh nyata di dalam diri manusia adalah, bahwa ia mampu memaknai semua peristiwa yang dialami dalam hidup. Pengalaman orang pasti beragam. Beberapa baik dan beberapa diantaranya buruk, bahkan sangat buruk. Namun kita bisa memaknai semuanya sebagai sebuah proses dalam hidup. Di samping itu kita dapat memilih peran sosial macam apa yang akan kita jalani. Kita dapat mengembangkan bakat yang kita miliki, atau membiarkannya begitu saja. Semuanya merupakan bagian dari pilihan hidup.

 


[1] Bagian ini saya adaptasi dari Summer dan Watson, 2006 dengan beberapa perubahan untuk disesuaikan dengan seluruh tulisan.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

12 tanggapan untuk “Eksistensi (Menjadi Bahagia)”

  1. hmm… nice Za
    jadi keinget tulisan2 lama Socrates, dan ungkapannya “Nosce te ipsum” – kenali dirimu sendiri
    banyak benarnya memang, dgn mengenal diri sendiri kita bisa bahagia, menjadi pribadi otentik, dan bs mengaktualisasikan diri, living in contentment

    Suka

  2. Salam Kenal…..
    Ini tulisan pertama Anda yang saya baca. Asyik. Alurnya enak. Isinya ‘berisi’. Maaf, komentar ini adalah sebuah spontanitas saja. Mengalir apa adanya. Mungkin tidak jelas. Mungkin juga tidak ‘berisi’. I don’t care. Yang pasti, mudah-mudahan suatu saat bisa berdiskusi. Apalagi sama-sama Surabaya. Terakhir, mohon ijin untuk ‘menculik’ (jika dibutuhkan) sebagian kata-kata atau bahkan satu tulisan utuh. Tq

    Suka

    1. Terima kasih atas apresiasinya. Saya sangat menghargainya. Silahkan datang ke WM dinoyo, fakultas filsafat. Kita bisa ngobrol2 sambil makan siang. Silahkan gunakan tulisan ini sesuai kebutuhan anda.

      Salam,

      Suka

  3. Mas Reza, yang saya ingin tanyakan itu kapan seharusnya kita menjadi diri sendiri dan memperbaiki diri sendiri agar kita selalu bahagia dengan pilihan kita tsb?
    *ditunggu jawabannya ya mas

    Trimakasih,

    Suka

      1. Semua manusia berkamuflase. Itu alamiah. Ketika berbicara dengan Presiden, kita pasti jadi orang yang berbeda, karena segan. Lain halnya kalau kita berbicara dengan teman. Yang penting adalah kita harus ingat, bahwa kamuflase tetap tidak boleh menghilangkan prinsip dan jati diri kita. Fleksibel namun tetap punya integritas.

        Suka

  4. maav sebelumnya, saya mau bertanya, ada yang mengatakan bahwa ” mengenali aspek kejahatan dapat membantu kita untuk mengenali apa artinya menjadi manusia yang otentik ” manusia otentik adalah manusia yang bahagia. yang saya mau tanyakan adalah :

    1. apa hbungan kejahatan dengan manusia yang otentik ?
    2. apa dengan melakukan kejahatan, dapat membuat manusia menjadi otentik ?

    Suka

    1. 1. Dengan mengenali kejahatan dalam diri kita, kita bisa mengelolanya dengan baik, sehingga tidak merusak orang lain, ataupun diri kita sendiri. Hanya dengan begitu, kita bisa melapangkan jalan untuk menjadi manusia otentik, yang bahagia. Kata kunci adalah “mengenali sisi-sisi jahat dalam diri kita”, dan mengelolanya dengan baik.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s