Martabat di Pusaran Politik Predator

Essay And Cover Letter

Oleh Reza A.A Wattimena

Warga Negara Indonesia, Tinggal di Jakarta

Masa-masa Pemilihan Umum, termasuk Pemilihan Presiden, Legislatif atau Kepala Daerah, adalah masa-masa yang menarik. Di masyarakat demokratis modern, seperti Indonesia, ini adalah masa-masa yang amat menentukan bentuk dan masa depan bangsa. Tak berlebihan, jika masa-masa ini juga dikenal sebagai pesta demokrasi, dimana rakyat menggunakan kekuasaannya untuk memilih para pemimpin bangsa. Namun, sisi gelapnya juga terus merongrong, yakni kehadiran politik predator yang rakus kuasa dan siap memangsa.

Masa-masa ini juga adalah masa penuh tawa. Kita tertawa melihat kelakuan para calon pemimpin bangsa, ketika berkampanye. Kepalsuan dan kebohongan begitu kuat tercium di udara. Dalam banyak hal, perilaku mereka menghibur, namun dengan cara-cara yang bisa membuat sakit perut. Lanjutkan membaca Martabat di Pusaran Politik Predator

Iklan

Martabat, Citra Diri, Hegemoni,….

mater.org.au
mater.org.au

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala, Surabaya

Hampir 12 jam setiap harinya, Amin (bukan nama sebenarnya) bekerja sebagai buruh tambang di pedalaman Aljazair, Afrika Utara. Pekerjaannya selalu melibatkan kekuatan fisik yang ekstrem. Bersama teman-temannya, ia menggali dan menutup galian dengan aspal setiap harinya. Ia menerima upah, namun sayang, upah itu tidak semestinya.

Untuk pekerjaan yang sama, rekannya yang berasal dari Inggris mendapat upah yang lebih tinggi. Kemampuan mereka sama. Bahkan, untuk beberapa situasi, kemampuan Amin lebih tinggi dari koleganya tersebut. Yang membedakan mereka dalam hal ini hanya satu: ras.

Karena ditekan situasi, Amin tak punya pilihan. Ia merasa, martabatnya sebagai manusia direndahkan, hanya karena ia berasal dari Indonesia. Menurut dia, bangsa Indonesia tak punya martabat di hadapan bangsa-bangsa lainnya di dunia. “Jika bekerja di Malaysia”, demikian katanya,”banyak perempuan Indonesia hanya akan menjadi pelacur. Sebagai pekerja, kami juga sering mengalami diskriminasi dari petugas resmi Malaysia, hanya karena kami orang Indonesia.”

Sistem politik dan ekonomi dunia memang memuliakan martabat satu ras tertentu, dan secara bersamaan merendahkan martabat ras lainnya. Di dalam politik, tindakan agresi satu bangsa tertentu dianggap sebagai pembebasan. Sementara, tindakan agresi bangsa lainnya dianggap sebagai terorisme. Di dalam bidang ekonomi, seperti yang dialami Amin, orang Indonesia seringkali mendapatkan upah yang jauh lebih rendah untuk pekerjaan yang sama, dibandingkan dengan orang yang berasal dari bangsa-bangsa lainnnya (Eropa, Amerika, Australia?) Lanjutkan membaca Martabat, Citra Diri, Hegemoni,….