Indonesia dan Demokrasi Mbulet

http://www.hemmy.net

Oleh Reza A.A Wattimena

Mbulet itu artinya membingungkan, berbicara berputar, dan sulit dipercaya. Orang berbicara namun membuat orang lain bingung. Orang bertindak juga dengan memaksa orang lain untuk memutar otak, dan bingung. Setiap buih kata yang keluar hanya menghasilkan kegelapan bagi orang sekitar yang mendengar.

           Di negeri kita demokrasi telah menjadi sesuatu yang mbulet. Semua orang berbicara. Tak ada yang mendengarkan. Yang berbicara bingung. Yang mendengar jauh lebih bingung. Apa sebenarnya yang terjadi?

Kebodohan

            Orang berbicara panjang namun tak ada isi. Ini adalah tanda kebodohan. Kebodohan ditutupi dengan ribuan kata yang miskin makna. Kata tidak lagi menjelaskan, melainkan justru memiringkan kebenaran.

            Itulah yang terjadi di Indonesia. Pidato politisi panjang dan tampak bersemangat. Tapi kita semua tahu, itu tidak bermakna, karena tak akan menjadi realita. Rapat birokrasi di organisasi apapun panjang dan membunuh jiwa, karena para pimpinannya menutupi kebodohan dengan ribuan kata yang terucap, namun tak menyentuh makna.

            Demokrasi kita perlu lebih sedikit kata. Kata yang terucap dan tertulis haruslah mencerminkan kedalaman analisis, dan bukan semata pelarian diri dari ketidakmampuan menghadapi masalah.  Setiap kata harus disertai jiwa, dan bukan hanya buih mulut yang membuat orang mengerutkan alis kepala.

Miskin Percaya Diri

            Di balik serbuan kata tanpa makna, ada kelemahan tersembunyi di baliknya, yakni miskinnya rasa percaya diri. Ketidakpercayaan pada kemampuan diri ditutupi dengan kata-kata panjang yang berbunga-bunga. Kata tidak lagi mencerminkan maksud, melainkan justru menutupinya dari mata dunia.

            Di Indonesia kita banyak menemukan orang semacam ini. Di depan publik mereka tampak cerdas dan perkasa. Namun ketika berbicara suasana langsung berubah menjadi tak nyaman. Dia berbicara namun tak menjelaskan apa-apa. Dia membuka mulut namun hanya suara berisik yang terdengar di telinga.

            Maka orang perlu untuk belajar percaya pada dirinya sendiri. Tak ada orang yang sempurna, maka setiap orang punya kesempatan yang sama untuk maju, sejauh ia menghendakinya. Ia perlu berbicara lebih sedikit, namun dengan keyakinan diri, serta kedalaman makna yang mengikutinya.

Miskin Refleksi

            Orang bisa menjadi mbulet, karena ia malah refleksi. Ia malas memikirkan apa yang telah ia lakukan sebelumnya. Ia terjebak pada roda rutinitas yang, secara perlahan, tapi pasti, menghancurkan jiwa.

            Ia membuat semua orang bingung. Ia tak bisa dipercaya, karena kata yang keluar dari mulutnya jauh dari kebenaran yang ada dalam realita. Ia mengecoh dan mengelak, sehingga citra yang tampak jauh dari isi yang sebenarnya.

            Kita juga banyak menemukan orang semacam ini di Indonesia. Rutinitas terlalu padat untuk berhenti mengistirahatkan pikiran. Jika begitu yang rusak bukan hanya fisik, tetapi juga pikiran dan jiwa. Tanpa sadar (karena miskin refleksi), mereka mempersulit perubahan, menutup kemajuan, dan membunuh orang lain.

            Maka kultur refleksi haruslah dikembangkan. Tak ada hari tanpa refleksi, itulah yang kita perlukan. Ini harus menjadi suatu gerakan sosial, dan tak boleh hanya beberapa individu saja. Dengan kedalaman refleksi demokrasi kita tidak lagi akan mbulet.

Demokrasi Kita

            Demokrasi Indonesia adalah demokrasi mbulet. Orang berbicara panjang untuk menutupi kebodohan. Orang berbicara lama untuk menutupi ketidakpercayaan diri. Orang berbicara berputar karena ia malas refleksi.

            Yang lebih sulit bukanlah berbicara banyak, tetapi berbicara sedikit, namun maksud tersampaikan. Orang harus belajar untuk berbicara lebih sedikit, lebih tepat, lebih bermakna, dan lebih mencerahkan. Dasar dari demokrasi adalah kata dan bahasa.

           Jika kata dan bahasa mbulet, maka demokrasi pun mbulet. Jika kata dan bahasa jauh dari makna, maka yang dihasilkan hanyalah argumentasi kosong yang amat mirip dengan sekedar suara. Tak heran nilai-nilai demokrasi kita hanya berkembang menjadi suara, dan tak pernah menjadi nyata. Tidak heran memang..

Penulis adalah Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s