Hiperkonsumerisme, Hiperteks, Hipermedia

http://nextnature.net

Oleh BRE REDANA

Apakah Anda bangga bangsa ini menempati urutan atas pengguna jasa komunikasi maya? Sebagai pengguna Facebook terbesar kedua di dunia, terbesar ketiga untuk Twitter. Pengguna telepon seluler meningkat pesat dari tahun ke tahun. Lalu, sejumlah orang terinjak-injak ketika mengantre Blackberry yang dijual separuh harga di Pacific Place, Jakarta.

aya sama sekali tidak bangga, bahkan prihatin. Kemajuan teknologi komunikasi telah sampai pada suatu paradoks: dia memisahkan, bukan menghubungkan. Benar, dia menghubungkan seseorang dengan mereka yang jaraknya jauh dari lingkungan fisik-sosial. Hanya saja, sebaliknya pada saat bersamaan orang itu tercerabut dari ruang sosial di mana secara fisik kita semua hadir. Lanjutkan membaca Hiperkonsumerisme, Hiperteks, Hipermedia

Gilles Deleuze dalam Perspektif

http://2.bp.blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya

Gilles Deleuze, seorang filsuf yang bunuh diri pada awal November 1995 setelah menghabiskan beberapa tahun dalam siksaan sakit paru-paru, adalah seorang sosok filsuf yang menimbulkan banyak kontroversi, terutama di Perancis. Otomatis, publik Perancis pada waktu itu terdiam kaku mendengar berita tragis kematiannya.

Padahal, pemikiran Deleuze sungguh mengajarkan kita untuk menerima hidup apa adanya.[1] Ia mengajarkan supaya kita menjaga ‘kehendak untuk hidup’ di dalam diri kita. Katanya, “orang selalu menulis untuk menghadirkan sesuatu ke dalam kehidupan, untuk membebaskan kehidupan dari penjaranya.” (Deleuze, 1990). Sangat menyakitkan bahwa justru seorang filsuf, yang sangat menerima dan mencintai kehidupan, melakukan bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Lanjutkan membaca Gilles Deleuze dalam Perspektif

Mengenal Marquis de Sade (1740-1814)

http://i2.listal.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Motif utama dari filsafat Marquis de Sade adalah untuk memahami kejahatan (Vice and Wickedness) di dalam diri dan kehendak manusia. Metode yang digunakan adalah pengamatan dan refleksi diri (self-reflection), yakni melihat ke dalam dirinya sendiri. Cara penyampaiannya juga beragam, mulai dari narasi cerita (story narrative) sampai dengan spekulasi teoritik (theoretical speculation). Karena berada di dalam tegangan dua model penyampaian itu, banyak orang merasa sulit memahami maksud sesungguhnya dari de Sade.[1] Bahkan Airaksinen, salah satu komentator pemikiran de Sade, berpendapat, bahwa ia, de Sade, adalah seorang filsuf yang tersembunyi (philosopher in disguise). Etikanya adalah anti-etika, dan metafisikanya adalah anti-metafisika. Ia hendak membalik semuanya, dan mengajak kita memikirkan hal-hal lama secara baru. Lanjutkan membaca Mengenal Marquis de Sade (1740-1814)

Otak, Pikiran, dan Kebebasan Kita

http://thebeautifulbrain.com
http://thebeautifulbrain.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya

Apakah kita ini bebas? Apakah kebebasan kita hanya sekedar ilusi? Para filsuf telah lama berdebat soal ini. Penelitian terbaru di bidang neurosains (neuroscience) membuktikan, seperti diyakini oleh beberapa ilmuwan besar abad ini, bahwa kehendak bebas adalah suatu ilusi. (Nahmias, Is Neuroscience the Death of Free Will?, 2011)

Duduk Permasalahan

Pada 2002 lalu seperti dikutip oleh Nahmias, Daniel Wegner, seorang psikolog, menyatakan begini, “Seolah bahwa kita ini adalah agen. Tampaknya kita menyebabkan hal-hal yang kita lakukan… namun cukup menyadarkan kita dan amatlah akurat untuk menyebut ini semua sebagai ilusi.” Di tempat lain seorang ahli neurosains terkemuka, Patrick Haggard, menyatakan, “Kita jelas tidak memiliki kehendak bebas. Tidak dalam arti yang kita pikir.” Di bidang yang sama, Sam Harris bilang begini, “Tampaknya anda memang adalah seorang agen yang bertindak sesuai dengan kehendak bebas anda. Masalahnya adalah bahwa sudut pandang ini tidak dapat berjalan bareng tentang apa yang kami ketahui soal otak manusia.” Lanjutkan membaca Otak, Pikiran, dan Kebebasan Kita

Menyingkap Kodrat Hewani Manusia

pasarkreasi.com

Manusia dan Fenomena Kekerasan Massa menurut

Pemikiran Elias Canetti di dalam Buku Crowds and Power

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

            Indonesia adalah tanah yang penuh dengan konflik sosial. Ungkapan itu tidak berlebihan. Seperti dicatat oleh Imparsial, lembaga swadaya masyarakat yang berfokus pada pengembangan Hak-hak Asasi Manusia di Indonesia, pada 2008 lalu saja, ada setidaknya 1136 konflik kekerasan massal di Indonesia, dengan rata-rata 3 kejadian setiap harinya. Detilnya sebagai berikut; Penghakiman massa terjadi 338 kali (30 %), tawuran massal terjadi 240 kali (21 %), konflik massal bernuasa politik terjadi 180 kali (16%), konflik bernuansa perebutan sumber daya ekonomi terjadi 123 kali (11%), konflik perebutan sumber daya alam terjadi 109 kali (10%), pengeroyokan massal terjadi 47 kali (4%), konflik bernuansa agama dan etnis terjadi 28 kali (2 %), dan konflik massal lainnya terjadi 56 kali (5%). Dari semua konflik tersebut, sebagaimana dinyatakan oleh Rusdi Marpaung, Direktur Imparsial, ada 112 orang meninggal, dan 1736 orang mengalami luka-luka.[1] Kita masih belum menyimak beragam konflik massal lainnya yang lolos dari pengamatan Imparsial. Lanjutkan membaca Menyingkap Kodrat Hewani Manusia

Organisasi, Tujuan, dan Inspirasi di Baliknya

mastersofseo.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya

Setiap organisasi di dunia ini memiliki dua mimpi, yakni tetap ada, dan berkembang, baik segi kualitas maupun kuantitas. Untuk membuat dua mimpi tersebut menjadi nyata, banyak uang dikeluarkan, dan banyak usaha dilakukan. Namun sebagaimana dicatat oleh Baldoni, seringkali upaya tersebut, walaupun mulia, tidak fokus kena pada apa yang perlu dilakukan. Banyak organisasi lupa untuk menghayati satu hal yang amat penting, yang ada di dalam organisasi itu sendiri, yakni tujuan (purpose).

Lanjutkan membaca Organisasi, Tujuan, dan Inspirasi di Baliknya

Pendidikan Karakter yang Kontekstual

free-pictures-photos.com

Oleh Agustinus Ryadi

Dosen di Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya

Pendidikan karakter bangsa kita  sudah berjalan hampir satu abad yang lalu, namun hasilnya menggenaskan. Para pemimpin menunjukkan karakter tidak peduli dan tidak sensitif terhadap kehidupan masyarakat. Setiap orang yang memiliki kekuasaan berusaha membuat keputusan yang menguntungkan diri sendiri. Menghamburkan uang negara untuk diri sendiri tanpa memikirkan kesejahteraan rakyat. Kehidupan bangsa saat ini berada pada titik nadir terendah. Di mana-mana terjadi kebobrokan moral, krisis dalam dunia politik, pengadilan, pendidikan, bahkan krisis di bidang pemerintahan dan kepemimpinan. Lanjutkan membaca Pendidikan Karakter yang Kontekstual

Tuhan dan Uang: Pertautan Ganjil di Dalam Hidup Manusia

free-pictures.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Bangsa Indonesia hidup dan berkembang dengan banyak masalah. Dari sudut pandang filsafat, salah satu masalah yang cukup pelik adalah fenomena “penjualan Tuhan” oleh pihak-pihak tertentu untuk memenuhi kepentingan ekonomi dan politik mereka. Dengan slogan-slogan yang berbau agama, orang memperoleh dukungan politik dan ekonomi untuk kepentingan pribadi mereka. (Prasetyono, 2011) Lanjutkan membaca Tuhan dan Uang: Pertautan Ganjil di Dalam Hidup Manusia

Hakekat Massa Menurut Elias Canetti

free-pictures-photos.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

            Elias Canetti (1905-1994) [1]adalah orang Jerman keturunan Bulgaria. Ia dikenal sebagai seorang filsuf, penulis novel, penulis esei, sosiolog, dan penulis naskah drama. Pada 1981 ia meraih hadiah Nobel untuk kategori sastra dan literatur. Karyanya yang paling terkenal adalah Crowds and Power yang diterbitkan pada 1960. Buku itulah hendak saya jabarkan dan tanggapi di dalam tulisan ini. Di dalam buku itu, ia mencoba memahami fenomena gerakan massa, dan aspek-aspek yang mengitarinya. Untuk itu ia membaca berbagai peristiwa sejarah, mitos, dan karya-karya sastra yang tersebar di berbagai kebudayaan dunia. Lanjutkan membaca Hakekat Massa Menurut Elias Canetti

Untuk Tujuan yang Lebih Tinggi

free-pictures-photos.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Apakah anda pernah membaca buku tulisan Clay Christensen, seorang dosen di Harvard Business School, yang berjudul The Innovator’s Dilemma? Konon sebagaimana dinyatakan oleh James Allworth, buku itu adalah salah satu buku favorit Steve Jobs, salah satu pendiri dan orang yang memimpin perusahaan Apple Computer di AS mencapai masa jayanya. (Allworth, 2011)

Isinya kurang lebih begini. Di dalam perkembangan teknologi, ada beberapa perubahan yang disebut sebagai perubahan disruptif, yakni perubahan yang menggoyang tatanan yang ada. Pada awalnya perubahan ini hanya berupa inovasi yang seolah tanpa arti. Namun dalam perjalanan waktu, karena masyarakat semakin melihat nilai tambah dari inovasi ini, maka terjadilah perubahan, di mana inovasi ini menjadi penguasa pasar yang baru. Lanjutkan membaca Untuk Tujuan yang Lebih Tinggi

Pengusaha (Anti) Korupsi

Oleh Reza Syawawi

http://s1.hubimg.com

Transparency International yang berbasis di Berlin, Jerman, meluncurkan Bribe Payers Indeks 2011 (2/11). Sebuah instrumen untuk mengukur sejauh mana tingkat suap pengusaha dalam menjalankan bisnisnya yang dilakukan di sejumlah negara.

Dalam survei ini, Transparency International menyurvei sekitar 3.000 eksekutif perusahaan di 28 negara yang dikategorikan maju secara ekonomi, termasuk Indonesia. Bahkan, semua negara yang tergabung dalam G-20 dilibatkan dalam survei. Hasilnya, China dan Rusia di urutan paling ”buncit”, posisi ke-27 dan ke-28. Perusahaan di negara ini dikategorikan paling sering melakukan praktik suap demi kelancaran bisnisnya. Sektor terkorup adalah yang berkaitan dengan pekerjaan umum dan konstruksi. Lanjutkan membaca Pengusaha (Anti) Korupsi

Mengenal Elias Canetti

Oleh Reza A.A Wattimena 

            Elias Canetti (1905-1994) adalah orang Jerman keturunan Bulgaria. [1] Ia dikenal sebagai seorang filsuf, penulis novel, penulis esei, sosiolog, dan penulis naskah drama. Pada 1981 ia meraih hadiah Nobel untuk kategori sastra dan literatur. Karyanya yang paling terkenal adalah Masse und Macht, atau Crowds and Power, yang diterbitkan pada 1960. Buku itulah hendak saya jabarkan dan tanggapi di dalam tulisan ini. Di dalam buku itu, ia mencoba memahami fenomena gerakan massa, dan aspek-aspek yang mengitarinya. Untuk itu ia membaca berbagai peristiwa sejarah, mitos, dan karya-karya sastra yang tersebar di berbagai kebudayaan dunia.

Menurut beberapa komentator pemikiran Canetti, buku itu sendiri lahir dari keprihatinan Canetti, ketika melihat pembakaran Palace of Justice di Wina, Austria pada 1927. Buku itu sendiri nantinya terbit pada 1930-an, namun baru menarik perhatian banyak orang pada dekade 1960-an, tepatnya setelah Canetti memperoleh hadiah Nobel untuk kategori sastra dan literatur. Sebagian besar hidupnya dihabiskan di London. Namun begitu ia tidak banyak mengembangkan hubungan dengan para penulis maupun pemikir dari Inggris. Lanjutkan membaca Mengenal Elias Canetti

Penelitian Ilmiah dan Martabat Manusia

http://2.bp.blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Yang kita perlukan sekarang ini adalah jiwa peneliti militan. Bagi mereka penelitian adalah hidup itu sendiri. Penelitian itu nikmat dan berharga pada dirinya sendiri. Entah ada dana atau tidak, ada hibah atau tidak, ada yang memesan atau tidak, ada poin atau tidak, mereka tetap meneliti.. meneliti… meneliti.. tanpa henti.

Bangsa Indonesia merindukan lahirnya generasi baru peneliti bangsa ini yang mempunyai habitus (kebiasaan yang tertanam di dalam gugus berpikir dan tindakan) baru, di mana mereka (para peneliti dan akademisi) tidak lagi meneliti untuk mengejar proyek (pemburu hibah dan peneliti pesanan) atau mengumpulkan angka semata (guna cepat meraih gelar guru besar/professor), melainkan untuk mencari kebenaran (truth seeking) sesuai dengan bidangnya masing-masing, dan, dengan demikian, mengangkat harkat dan martabat manusia (human dignity) Indonesia ke tempat yang luhur. Lanjutkan membaca Penelitian Ilmiah dan Martabat Manusia

Satu Dunia, Satu Luka

http://onoda.files.wordpress.com

Kepemimpinan dan Perubahan

Oleh Reza A.A Wattimena

Di Mesir awal 2011, tepatnya di Tahrir Square, kita melihat sesuatu yang mengagumkan. Massa berkumpul untuk menyatakan protes mereka pada rezim yang berkuasa. Di sampingnya ada orang-orang yang menyediakan makanan gratis untuk massa demonstran, juga ada pelayanan medis, dan bahkan hiburan, supaya para demonstran tidak bosan. Di akhir demonstrasi massa yang sama kemudian membersihkan tempat demonstrasi, dan bubar secara damai.

Tahrir Square adalah ruang publik, yakni ruang milik masyarakat. Maka masyarakat memiliki tanggung jawab untuk merawatnya. Ruang publik adalah rumah sesungguhnya dari rakyat, yakni tempat mereka berjumpa, dan menyatakan kegelisahan serta harapan mereka. Maka ruang publik harus bersih, dan rakyatlah yang harus menjamin kebersihannya. (Benhabib, 2011) Lanjutkan membaca Satu Dunia, Satu Luka

Negara, Pasar, dan Jaminan Sosial

Oleh Makmur Keliat

Setiap orang yang berusia muda dan produktif secara alamiah pasti akan menjadi jompo dan tidak produktif. Setiap orang yang sehat pasti akan pernah jatuh sakit. Bahkan setiap orang yang tengah bekerja suatu ketika mungkin akan dapat kehilangan pekerjaannya karena berbagai sebab, seperti kecelakaan atau karena pemutusan hubungan kerja.

Bagaimana memperlakukan orang-orang seperti ini? Haruskah orang yang lanjut usia, yang tidak sehat, ataupun yang tidak memiliki pekerjaan itu dibiarkan begitu saja untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya? Lanjutkan membaca Negara, Pasar, dan Jaminan Sosial

Catatan Seorang Peneliti

http://magonia.haaan.com

Oleh Tri Ratnawati

Di era Reformasi dengan keterbukaan politiknya pascarezim Soeharto, dinamika politik Indonesia sangat tinggi. Harapan masyarakat terhadap kemajuan dan perbaikan di segala bidang kehidupan juga tinggi.

Tidak mengherankan apabila harapan masyarakat terhadap hasil-hasil penelitian, khususnya bidang ilmu politik, juga tinggi.

Saya juga mengerti apabila ada pihak yang kadang kecewa atas hasil-hasil penelitian kami (lembaga penelitian negeri/pemerintah), yang dinilai ”di bawah” kualitas hasil-hasil penelitian lembaga swadaya masyarakat tertentu yang cukup punya reputasi. Namun, masyarakat perlu juga tahu beberapa kendala yang saya (dan kemungkinan sebagian kawan-kawan peneliti lainnya) hadapi selama ini. Lanjutkan membaca Catatan Seorang Peneliti

Pemimpin dan Solidaritas Bangsa

http://c.tadst.com

Oleh F. Budi Hardiman

Globalisasi mengubah banyak hal secara mendasar. Di dalam konstelasi baru ini ’bangsa’ mulai kehilangan khasiatnya sebagai perekat kebinekaan.

Rezim-rezim reformasi berhenti bercerita tentang bangsa. Penguatan identitas etnis di daerah-daerah mengancam integrasi sosial. Agama pun dipakai sebagai kode pemerasan dan bisnis teror. Politik suap bersanding dengan apa yang disebut demokrasi mewabah di berbagai sektor. Inovasi-inovasi kultural dan wilayah perbatasan diklaim negara tetangga. Para peneliti kita pun diincar pihak asing. Semua ini terjadi nyaris tanpa sentimen kebangsaan untuk menangkalnya segera.

Jika organisme politis menjadi begitu kompleks, para pemimpin di sana menjadi peragu dan lamban bertindak terhadap ancaman-ancaman ketahanan nasional. Hilang martabatnya, orang kita pun rentan menjadi korban trafficking atau diperdagangkan sebagai pembantu di luar negeri. Semua ini membuat kita bertanya-tanya, benarkah kita suatu bangsa? Lanjutkan membaca Pemimpin dan Solidaritas Bangsa

SIMPOSIUM NASIONAL FILSAFAT: IMAN DAN AKAL BUDI

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Dengan Bangga

Menyelenggarakan

SIMPOSIUM NASIONAL FILSAFAT

IMAN DAN AKAL BUDI Lanjutkan membaca SIMPOSIUM NASIONAL FILSAFAT: IMAN DAN AKAL BUDI

Indonesia, Krisis Ekonomi Global, dan Pancasila Kita

http://www.globalresearch.ca

Oleh Reza A.A Wattimena

Tahun 2011 adalah tahun yang cukup bersejarah untuk umat manusia. Sampai Oktober 2011 setidaknya sudah ada beberapa peristiwa yang mengubah “wajah” dunia.

Musim semi di Arab, di mana rakyat di daerah Arab dan Afrika Utara mulai bergerak melawan pemerintahan diktator yang menindas mereka, kerusuhan di London terkait dengan kebijakan pemerintah yang dirasa merugikan rakyat, protes dari kelas ekonomi menengah di Israel terkait dengan semakin mahalnya harga rumah tinggal dan mahalnya biaya hidup, gerakan sosial (nasional) India melawan korupsi di negaranya, kontroversi terkait dengan hubungan Tibet dan Cina, dan yang terbaru adalah gerakan menduduki Wall Street di New York dan di berbagai bursa efek di seluruh dunia, termasuk Bursa Efek Indonesia di Jakarta. (Roubini, 2011) Lanjutkan membaca Indonesia, Krisis Ekonomi Global, dan Pancasila Kita

Puisi yang Menyangkal Demokrasi

blogspot.com

OLEH BANDUNG MAWARDI

Ketika berhadapan dengan demokrasi, puisi adalah sangkaan dan sangkalan. Ia menantang dan menghardik. Karena demokrasi itu elitis dan dominatif, puisi pun pantas untuk menampik dengan rasa gerah dan marah. Demokrasi ternyata bukanlah sebuah garansi bagi kemakmuran, keadilan, dan kesetaraan. Demokrasi adalah sebuah kekuasaan, yang ternyata diskriminatif, berkah bagi elite, tetapi pelit bagi kaum yang pailit.

Maka, puisi pun dituliskan dan lantang disuarakan untuk mengoreksi cacat bawaan demokrasi itu. Puisi adalah resistensi dan menolak arogansi politik yang dibangun di atas fondasi demokrasi. Konon, serangan yang dilakukan Socrates pada demokrasi Yunani kuno antara lain juga menggunakan kutipan-kutipan puisi yang sarkastik. Puisi pun menjadi sangkalan atas selebrasi demokrasi sejak awalnya di Yunani. Dan, Socrates pun menjadi martir karenanya. Lanjutkan membaca Puisi yang Menyangkal Demokrasi