Gilles Deleuze dalam Perspektif

http://2.bp.blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya

Gilles Deleuze, seorang filsuf yang bunuh diri pada awal November 1995 setelah menghabiskan beberapa tahun dalam siksaan sakit paru-paru, adalah seorang sosok filsuf yang menimbulkan banyak kontroversi, terutama di Perancis. Otomatis, publik Perancis pada waktu itu terdiam kaku mendengar berita tragis kematiannya.

Padahal, pemikiran Deleuze sungguh mengajarkan kita untuk menerima hidup apa adanya.[1] Ia mengajarkan supaya kita menjaga ‘kehendak untuk hidup’ di dalam diri kita. Katanya, “orang selalu menulis untuk menghadirkan sesuatu ke dalam kehidupan, untuk membebaskan kehidupan dari penjaranya.” (Deleuze, 1990). Sangat menyakitkan bahwa justru seorang filsuf, yang sangat menerima dan mencintai kehidupan, melakukan bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya.

Walaupun begitu, Didier Eribon, seorang yang sangat memperhatikan perkembangan pemikiran Deleuze, berpendapat bahwa tidak ada kontradiksi antara pemikiran Deleuze dengan sikap maupun pilihan hidupnya.

Pada dasarnya, pengalaman hidup Deleuze dipenuhi dengan kesedihan. Hal ini membuat ia menjadi pribadi yang rapuh dan lemah.

“Di dalam hidup”, demikian tulisnya, “ada suatu bentuk keanehan, kesehatan yang rapuh, konstitusi yang lemah, kegagapan vital yang justru menjadi daya tarik seseorang.” (Deleuze, 1987). Baginya, semua hal, yang tampak bagi banyak orang sebagai negatif ini, merupakan sumber dari inovasi, kreatifitas, dan penemuan.

Ia kemudian menulis, “Sangatlah aneh bagaimana seorang pemikir hebat memiliki kehidupan personal yang rapuh, kesehatan yang tidak pasti, dan pada waktu yang sama mereka menjalani hidup sampai pada keadaan kekuatan absolut..” (ibid) Kesehatan yang rapuh yang mendorong Deleuze untuk melakukan bunuh diri jelas merupakan dorongan yang sama, yang memungkinkan dia menulis pemikiran-pemikirannya.

Menurut Eribon, kita harus melihat Deleuze dengan sudut pandang yang plural. “Ada beberapa diri yang ada di dalam setiap orang,” demikian tulis Deleuze berulang kali, “Orang yang menulis tidaklah pernah sama. Sang pencipta adalah bayangan.” (dalam Eribon, 1996)

Bayangan dari berbagai diri yang berbeda-beda itu muncul dan menggema di dalam emosi, pemikiran, dan kemudian mempengaruhi pengalaman dasar dari semua seniman, penulis, maupun filsuf. Hal yang sama juga terjadi pada Deleuze, terutama karena ia tidak pernah berhenti untuk berubah, berusaha melepaskan diri dari definisi, kategori-kategori, dan tangan-tangan kekuasaan.

Pada masa-masa awal karirnya, yakni pada dekade 50-an dan 60-an, ia lebih cocok dipandang sebagai seorang ahli sejarah filsafat. Ia seperti seseorang yang meneruskan tradisi filsafat yang sudah ada sebelumnya. Ia pun mengagumi orang-orang tertentu, seperti Hume, Spinoza, dan Henri Bergson, karena Deleuze menganggap mereka sebagai para filsuf besar di dalam sejarah filsafat, sekaligus lebih dari itu.

Beberapa buku khusus pun ditulis untuk menjabarkan pemikiran mereka satu per satu. Pada 1988, ia menulis buku tentang filsafat Bergson. Pada 1991, ia mempublikasikan berbagai tulisannya tentang Hume dan empirisme di dalam filsafat. Pada 1984, ia menulis buku tentang filsafat kritis Kant. Dan pada 1968, ia menulis tentang filsafat Spinoza.

Akan tetapi, filsuf yang sungguh-sungguh dikaguminya adalah Nietzsche. Bukunya tentang Nietzsche, yang dipublikasikan pada 1962, memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pemikirannya, sekaligus terhadap para filsuf Perancis. Di bawah pengaruh Nietzsche, para filsuf Perancis hendak mencari arah baru bagi pemikiran filosofis, sekaligus memungkinkan mereka menjaga jarak dari Marxisme dogmatis yang memang sangat dominan pada waktu itu.

Kurang lebih pada waktu-waktu itulah Deleuze menjalin persahabatan dengan Michel Foucault yang setahun sebelumnya telah mempublikasikan Madness and Civilization, suatu karya yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran Nietzsche. Di titik inilah kedua pemikir besar tersebut memiliki kesamaan minat dan keprihatinan.

Kerusuhan di Perancis pada bulan Mei 1968 sungguh membawa pengaruh besar bagi arah pemikiran Deleuze. Peristiwa itu pulalah yang mendorongnya untuk melepaskan diri dari keterpesonaan kepada sejarah filsafat, dan mulai berusaha merumuskan filsafatnya sendiri.

Pertemuannya dengan Felix Guattari sungguh sangat menentukan bagi perkembangan pemikiran Deleuze berikutnya. Bersama-sama, mereka menulis buku yang menjadi perhatian kalangan akademisi pada waktu itu.

Kerja sama dalam penulisan tersebut tampak juga menciptakan kebingungan. Banyak orang bertanya-tanya, manakah bagian yang ditulis oleh Deleuze, dan manakah bagian yang ditulis oleh Guattari?

Menurut Eribon, pertanyaan itu tidaklah tepat. Guattari dan Deleuze sering meluangkan waktu mereka untuk berdiskusi dan berdebat. Mereka bisa berjam-jam melemparkan konsep satu sama lain, dan merumuskannya juga secara bersama-sama. Baru setelah itulah mereka mulai menulis buku-buku tersebut.

Memang, walaupun sering bekerja sama, baik Guattari dan Deleuze juga menulis secara independen. Akan tetapi, karya-karya mereka bersamalah yang nantinya sungguh menjadi perhatian pada filsuf dan akademisi pada waktu itu.

Karya mereka yang paling menarik perhatian publik adalah Anti-Oedipus. Eribon melukiskan bagaimana Perancis seolah-olah dijatuhi bom pada 1972, ketika buku itu terbit untuk pertama kalinya.

Pada masa itu, dunia intelektual Perancis didominasi oleh paradigma Psikoanalisis. Dan dari sudut pandang Marxisme, Freudo-Marxisme tampak menjadi satu-satunya perangkat intelektual yang mungkin untuk membawa pembebasan, sekaligus mendorong terjadinya gerakan sosial yang efektif.

Pada akhir-akhir hidupnya, Deleuze menyatakan dengan jelas bahwa baginya, filsafat adalah sebuah “bidang yang imanen”. Berfilsafat bukan soal mencari apa yang transenden di balik seluruh realitas, melainkan suatu upaya untuk mengkonseptualisasikan realitas secara imanen, sehingga memungkinkan orang untuk memahami apa yang terjadi di dalam dunia, seperti di dalam politik, kebudayaan, dan di dalam gerakan-gerakan sosial.

Eribon memberikan satu contoh. Buku Anti-Oedipus, yang ditulis Deleuze bersama Guattari, memainkan peranan penting di dalam mendorong terjadi Gerakan Kaum Gay Di Perancis pada waktu itu.

Walaupun Deleuze sendiri bukanlah seorang gay, atau seorang homo seksual, ia mengambil bagian aktif pada dekade 70-an di dalam FHAR (Front Homoseksual Daction Revolutionnaire). Yang menarik, generasi pertama aktivis yang berpartisipasi di dalam gerakan ini justru lahir pertama kali pada peristiwa kerusuhan Mei’68.

Memang, gerakan sosial pendukung kaum homo seksual ini tidak berlangsung lama. Mungkin hal itu terjadi, karena keterkaitannya dengan gerakan kiri baru yang memang sangat gencar pada waktu itu, dan segera hilang gaungnya beberapa tahun kemudian, terutama pada dekade 1970 dan 80-an.

Bersama Foucault dan Guattari, Deleuze berpartisipasi aktif mengelola sebuah jurnal yang ditujukan untuk menciptakan wacana-wacana baru tentang homoseksualitas. Judul jurnal tersebut adalah Tiga Milyar Keanehan (Three Billion Perverts).

Jurnal tersebut pada akhirnya ditutup oleh pemerintah Perancis. Semua kopi dari jurnal itu dimusnahkan. Guattari pun dituntut dengan tuduhan pelanggaran terhadap hukum publikasi “benda-benda cabul”.

Deleuze berusaha memaknai peristiwa ini. Baginya, kejadian ini paling cocok untuk menggambarkan konsepnya yang disebutnya sebagai “deteritorialisasi”, yakni kemampuan untuk melarikan diri dari “teritori-teritori”, atau dampak dari kekuasaan dominan-mayoritas. Ia membela kaum minoritas, dan menyebut seluruh perjuangannya sebagai “perjuangan terus menerus untuk menjadi bagian dari minoritas.” (Eribon, 1996)

Minoritas haruslah terus berproses, yakni dengan terus-menerus menolak untuk didefinisikan di dalam “teritori-teritori” kekuasaan. Mereka harus menolak identitas permanen yang diberikan oleh para penganut esensialisme yang hendak mendefinisikan seluruh realitas seturut kriteria-kriteria mereka.

Konsep-konsep Deleuze lainnya, seperti kegagapan (stammering), kehalusan (delicacy), dan kelemahan (frailty), sebenarnya adalah sinonim dari ide tentang “minoritas” yang tidak terdefinisikan oleh bahasa-bahasa mayoritas. Jika kita mau menarik semacam filsafat politik dari pemikiran Deleuze, maka kita akan melihat adanya perumusan konsep tentang “kekuatan dari yang lemah”, yakni kemampuan kaum minoritas untuk melepaskan diri dari hukum-hukum yang ditentukan kelompok mayoritas secara terus menerus dengan merumuskan kembali batas-batas pelarian mereka.

Di dalam tulisan-tulisannya, Deleuze sangat sedikit menulis tentang kelompok homo seksual. Akan tetapi, banyak tulisannya tentang gerakan-gerakan minoritas sungguh menjadi acuan penting bagi gerakan-gerakan sosial sekarang ini.

Beberapa waktu yang lalu muncul para pemikir yang hendak mekampanyekan penolakan terhadap pemikiran para filsuf maupun penulis lainnya yang terlibat dengan generasi’68. Eribon berpendapat bahwa banyak orang masih trauma dengan kerusuhan ’68, dan memandang masa-masa itu seolah sebagai “masa-masa menakutkan bagi kaum intelektual”.

Tulisan-tulisan Deleuze, Foucault, Bourdieu, Derrida, dan beberapa penulis lainnya dianggap sebagai produk dari kerusuhan ’68. Hal ini dikampanyekan oleh para pemikir konservatif, walaupun tidak berhasil pada akhirnya.

Sampai sekarang ini, karya-karya Deleuze masih menjadi topik diskusi dan debat yang segar di Perancis. Beberapa komunitas yang membahas tulisan-tulisannya, serta jurnal yang secara khusus membahas pemikiran-pemikirannya telah menjadi bagian integral dari publik intelektual internasional. Bersama Foucault, Derrida, dan Bourdieu, pemikiran-pemikiran Deleuze menjadi salah satu pemikiran yang paling banyak dibahas di Perancis.

Pemikiran Deleuze selalu lolos dari “teritori-teritori” kekuasaan orang-orang yang hendak mencemoohnya, terutama karena peristiwa bunuh diri yang mengakhir hidupnya. Pemikirannya akan terus “melepaskan” diri dari garis-garis dan batas-batas kekuasaan, serta menjadi salah satu pilar bagi kita untuk memahami realitas, baik secara politis, maupun secara eksistensial.

Bunuh diri yang dilakukan oleh Deleuze janganlah dipandang sebagai suatu sikap pengecut, melainkan justru dipandang sebagai salah satu bentuk “cintanya” kepada kehidupan. Ia seolah menolak kehidupan, tetapi dengan tujuan untuk mencintainya lebih dalam. Ia menolak-untuk mencintai kehidupan.

Pada akhirnya, saya hanya bisa berkata, Selamat jalan Deleuze!

Reza Antonius A Wattimena


[1] Seluruh tulisan ini diinspirasikan dari pembacaan saya terhadap tulisan Didier Eribon, Sickness unto life – life and works of philosopher Gilles Deleuze – includes related article on Delueze’s television appearance dalam http://findarticles.com/p/articles/mi_m0268/is_n7_v34/ai_18403696/pg_1. Bulan Maret 1996. Kutipan dari tulisan Deleuze dan kutipan-kutipan lainnya juga diasalkan pada tulisan Eribon ini.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

8 tanggapan untuk “Gilles Deleuze dalam Perspektif”

  1. jarang saya lihat ada yang bahas delleuze guattari..
    hmm.. menarik banget filsuf ini.. kalau boleh request, pembahasan tentang anti-oedipus dan kapitalisme nya dong….

    Suka

  2. Cerita mengenai Deleuze bunuh diri itu bisa diragukan. Ada analisa, somewhere, aku lupa sumbernya, ada kemungkinan bahwa dia tidak bunuh diri. Sebagai orang yg sering kehilangan napas, bukan tidak mungkin bahwa Deleuze mendekati jendela untuk mendapatkan udara dan keadaan yang lemah membuat dia terjatuh. Tapi cerita bunuh diri memang lebih tragis dan seksi bagi filsuf seperti Deleuze dibandingkan kemungkinan bahwa dia meninggal karena kecelakaan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s