Tuhan dan Uang: Pertautan Ganjil di Dalam Hidup Manusia

free-pictures.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Bangsa Indonesia hidup dan berkembang dengan banyak masalah. Dari sudut pandang filsafat, salah satu masalah yang cukup pelik adalah fenomena “penjualan Tuhan” oleh pihak-pihak tertentu untuk memenuhi kepentingan ekonomi dan politik mereka. Dengan slogan-slogan yang berbau agama, orang memperoleh dukungan politik dan ekonomi untuk kepentingan pribadi mereka. (Prasetyono, 2011)

Di sisi lain banyak juga orang, secara tidak sadar, menjadikan uang sebagai tuhan dalam hidup mereka. Uang menjadi satu-satunya tujuan dan tolok ukur di dalam hidupnya. Untuk mendapatkan uang orang siap menempuh berbagai cara, termasuk dengan merugikan orang lain. Fenomena inilah yang menjadi tema diskusi Extension Course Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya pada semester gasal 2011. Tema besar diskusi adalah “Tuhan dan Uang: Menafsirkan Ulang Hubungan antara Tuhan dan Uang di dalam Kehidupan.”

Diskusi pertama dibuka dengan presentasi dari Herlina Yoka Roida tentang pemikiran Aristoteles dan Hernando de Soto. Menurutnya Aristoteles membedakan dua hal, yakni antara penggunaan uang untuk kebutuhan rumah tangga (oikonomos), dan uang yang dikejar demi uang itu sendiri, dan kemudian ditumpuk tanpa batas. Hernando de Soto, seorang peraih nobel di bidang ekonomi, juga menyatakan, bahwa uang adalah modal untuk hidup dan berkompetisi di dalam masyarakat kapitalisme. (Roida, 2011)

Kedua pemikir ini yakni Aristoteles dan Hernando de Soto, sejauh saya tafsirkan, melihat uang hanya semata sebagai alat untuk tujuan di luar dirinya (kebutuhan hidup dan modal untuk bersaing), bukan tujuan final dari aktivitas manusia itu sendiri. Ini merupakan perbedaan tipis, namun membawa dampak yang luar biasa besar.

Tuhan, Uang, dan Agama

Muhammad Nafik dalam pemaparannya tentang Tuhan dan uang di dalam Islam menyatakan, bahwa uang tidak sama dengan modal. Modal adalah milik pribadi. Sebaliknya uang adalah milik publik, maka perlu digunakan untuk kepentingan publik. Sebagai bagian dari publik, uang memiliki dua fungsi yang jelas, yakni sebagai alat pengukur nilai suatu barang, dan sebagai alat tukar.

Maka sikap rakus dalam mengejar uang tidaklah masuk akal. Sikap itu hanya masuk akal, jika uang adalah barang privat yang bisa dimiliki sepenuhnya oleh satu orang. Namun faktanya tidak begitu. Uang adalah barang publik, maka perlu juga digunakan sesuai dengan tujuan-tujuan yang terkait dengan kehidupan bersama. (Nafik, 2011)

Terkait dengan pandangan hidup Buddhisme dan Konfusianisme, Agustinus Pratisto Trinarso menyatakan, bahwa di era sekarang ini, manusia lupa, bahwa ia juga adalah mahluk rohani. Tarikan kebutuhan dan pemuasaan raga (tubuh) membuat manusia terlena. Maka ia pun lalu melakukan segalanya untuk mencapai pemuasaan tubuh yang setinggi-tingginya, termasuk dengan menjual Tuhan untuk mendapatkan uang. (Trinarso, 2011)

Buddhisme dengan nilai-nilai mistik luhurnya mengajak kita untuk mengangkat diri ke level yang lebih tinggi, yang berpusat pada pencarian pencerahan diri, dan bukan semata memuaskan kebutuhan raga. Konfusianisme sebagai pandangan hidup Cina yang amat kuno dan agung juga mengingatkan, supaya manusia memperhatikan cinta dan perhatian pada manusia lainnya lebih dari perhatiannya pada uang dan kekuasaan. Dua paham ini bisa digunakan untuk menangkal dampak-dampak merusak dari materialisme (pencarian materi semata) dan sekularisme (berfokus pada kebutuhan jasmani-dunia semata) yang tersebar tanpa kendali di masyarakat kita.

Melalui pemaparannya yang jernih, Ramon Nadres mengantarkan kita pada proses memahami kaitan Tuhan dan Uang di dalam ajaran Gereja Katolik Roma. Baginya jika ada orang menggunakan nama Tuhan untuk mendapatkan uang ataupun kekuasaan, maka ia sebenarnya memuja uang, dan memuja dirinya sendiri. Uang yang ia dapatkan memberikan keamanan dan kenyamanan pada dirinya, maka ia pun menginginkan uang dalam jumlah lebih banyak.

Pada titik ini sang pemuja uang tersebut bahkan bersedia untuk menyakiti orang lain, supaya ia memperoleh uang. Artinya ia semakin kaya, sementara banyak orang justru semakin menderita, karena perbuatannya. Inilah situasi ketidakadilan yang amat bertentangan dengan ajaran Kristiani, ataupun ajaran lainnya di dunia ini.

Setiap benda di dunia ini, menurut ajaran Gereja Katolik Roma, termasuk uang, haruslah digunakan untuk kebaikan bersama semua mahluk di muka bumi ini. Maka tidak ada sebuah benda pun yang boleh dimiliki secara personal, tanpa bisa dibagikan untuk orang yang membutuhkan. Orang yang berkelimpahan memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk melayani lebih banyak orang. Hanya dengan itu keadilan bisa dan kebaikan bersama bisa tercipta. (Nadres, 2011)

Tentang Tuhan dan uang, Max Weber, seorang filsuf sosiolog asal Jerman yang hidup pada awal abad ke-20, punya pendapat menarik. Baginya etos Protestantisme mendorong lahirnya kapitalisme modern di Eropa. Adapun etos tersebut adalah hidup hemat, berusaha untuk menjadi sukses dalam hidup, dan memandang kesuksesan sebagai tanda, bahwa Tuhan berkarya di dalam hidupnya. Dapat dikatakan dengan jelas, bahwa kemiskinan adalah simbol dari dosa. Oleh karena itu kapitalisme lahir di Eropa, di mana Protestantisme berkembang pesat, dan bukan di belahan dunia lainnya.

Pemikiran Weber ini menyadarkan kita, betapa cara kita beragama amat mempengaruhi cara kita bekerja, dan juga tingkat kemakmuran kita. Para teknokrat ekonomi di Indonesia tidak tahu mengenai hal ini. Selama cara kita beragama masih primitif dan merusak, selama itu pula bangsa kita tidak akan dapat mencapai kemakmuran yang diinginkan. Itulah paradoks yang dilihat oleh Weber. (Wattimena, 2011)

Kerinduan untuk mencapai hidup yang lebih baik tersebut amat dirasakan oleh orang-orang yang hidup pada abad 21 ini. Itulah salah satu alasan, mengapa banyak orang begitu terpikat dengan ajaran New Age yang menawarkan cara untuk melenyapkan penderitaan, dan mencapai harmoni diri di dalam hidup manusia. Sebagaimana dicatat oleh Aloysius Widyawan, ajaran New Age ini sebenarnya ajaran lama yang dirumuskan secara baru.

Ada satu kelemahan yang cukup fatal dari ajaran ini, yakni fokusnya yang berlebihan pada kedamaian dan kesempurnaan individu, serta sikap negatif totalnya pada penderitaan yang dialami manusia. Padahal menurut Aloysius Widyawan, kedamaian dan kesempurnaan haruslah dicapai dalam hubungannya dengan Tuhan dan orang lain, bukan dengan fokus pada dirinya sendiri. Penderitaan juga jangan dihindari atau dilupakan, melainkan direfleksikan sebagai pelajaran hidup manusia yang, walaupun pahit, namun mengantarkan manusia pada kebijaksanaan. (Widyawan, 2011)

Tuhan, Uang, dan Perhitungan Bisnis

Di dalam teori probabilitas, sebagai mana dikatakan oleh Herlina Yoka Roida, masa depan tetap adalah suatu kemungkinan. Banyak rumus digunakan namun tetap tak mencapai kepastian. Fakta bahwa masa depan adalah kemungkinan menjadi batas-batas dari kerakusan kita, karena kerakusan yang berlebihan justru bisa menjadi bumerang balik yang menghancurkan kita nantinya. Di dalam ketidakpastian masa depan, terutama dalam konteks ekonomi dan bisnis, Tuhan menjadi satu titik total yang pasti, yang menjadi harapan sekaligus batas-batas bagi kerakusan manusiawi kita. (Roida, 2011)

Menurut Julius Koesworo di dalam teori-teori dasar kewirausahaan, uang dan keuntungan adalah sesuatu yang dicari. Bahkan keuntungan adalah satu simbol nyata, bahwa suatu bisnis berjalan dengan baik. Jalan pintas untuk mencapai keuntungan, seperti menyuap dan curang, tentu harus dicegah. Keuntungan harus disertai dengan kreativitas, kesadaran akan bisnis serta keuntungan sebagai suatu berkat, manajemen yang efisien, dan niat untuk melayani masyarakat luas. (Koesworo, 2011)

Juga di dalam teori-teori manajemen, sebagaimana dinyatakan oleh Christina Whidya Utami, bisnis selalu terkait dengan keuntungan. Tanpa keuntungan bisnis tidak akan dapat berjalan, dan banyak orang akan terjebak pada kemiskinan. Maka keuntungan adalah sesuatu yang mutlak di dalam bisnis, apapun bentuk bisnisnya. Yang perlu menjadi perhatian adalah soal cara kita mencapai keuntungan di dalam bisnis tersebut. (Utami, 2011)

Hidup manusia selalu terkait dengan organisasi, entah itu organisasi RT/RW, kelurahan, kantor, pendidikan, dan bahkan negara. Organisasi tentunya membutuhkan budaya organisasi yang unggul. Itulah yang dikatakan oleh Budi Iswanto. Nilai-nilai budaya organisasi itu bersumber pada ajaran moral yang telah ada di dalam hidup manusia, dan ajaran moral itu seringkali diambil dari kesadaran akan keberadaan Tuhan yang berkarya di dalam hidup manusia. Dengan adanya budaya organisasi yang unggul, maka organisasi itu juga akan bekerja dengan baik, dan menjalankan fungsinya untuk melayani manusia untuk mencapai hidup yang lebih baik. (Iswanto, 2011)

Berbicara tentang Tuhan menurut Satrio Widyatmoko, kita juga langsung berbicara tentang matematika. Di dalam matematika ada ide dasar, yakni yang tak berhingga. Yang tak berhingga adalah keseluruhan dari apa yang kita pikirkan, dan terwujud secara nyata di dalam bagian-bagiannya. Di dalam teologi Tuhan dianggap sebagai yang absolut dan yang tak terhingga itu sendiri. Ia tak tampak oleh mata, namun dalam dilihat dalam karya ciptaannya, yakni dunia itu sendiri. (Widyatmoko, 2011)

Tuhan, Uang, dan Filsafat

Berbicara tentang Tuhan mau tidak mau, kita akan berbicara tentang kebaikan. Di dalam Tuhan ada kebaikan. Ilmu yang secara langsung berbicara tentang beragam kebaikan dan kejahatan di dalam hidup manusia adalah etika. Etika itu sendiri dapat juga disebut sebagai filsafat moral.

Untuk menanggapi berbagai krisis dunia, menurut Agustinus Ryadi, kita memerlukan pandangan teoritis-etik yang tepat. Ia menjabarkan tiga bentuk teori, yakni egoisme etik (pengejaran kepentingan diri sendiri yang seringkali merugikan orang lain), deontologi (ukuran baik adalah prinsip-prinsip rasional yang mendasari suatu tindakan), dan utilitarisme (yang baik adalah yang memberikan sebanyak mungkin kebaikan bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat).

Di dalam hidup orang, sadar atau tidak, menganut salah satu dari tiga prinsip etika tersebut, atau kombinasi di antaranya. Pada akhirnya keputusan terbaik adalah keputusan yang bisa secara fleksibel maupun tepat untuk menerapkan ketiga prinsip tersebut di dalam melihat masalah. Hanya dengan begitu keputusan yang diambil bisa sedekat mungkin dengan kebenaran. (Ryadi, 2011)

Di dalam filsafat Hegel, sebagaimana dinyatakan oleh Emanuel Prasetyono, uang dapat dilihat sebagai ekspresi diri manusia dalam kaitannya dengan manusia-manusia lainnya. Kaitan tersebut ada di dalam suatu jaringan sosial yang disebut sebagai masyarakat, atau negara. Uang ada karena manusia, maka manusia tidak pernah boleh dikorbankan untuk mendapatkan uang.

Manusia sebagaimana dinyatakan oleh Hegel selalu tertanam dalam konteks ruang dan waktu. Ia tak pernah sepenuhnya berada di sini dan saat ini, melainkan selalu merentang antara yang absolut, yang universal, dan yang partikular. Maka dari itu ketika kita berbicara tentang manusia, dan kemanusiaan, kita selalu berbicara tentang jaringan sosial yang menjadi konteks dari manusia itu. Pertanyaan kritis yang diajukan oleh Prasetyono adalah, apakah konteks sosial yang kita hidup itu sudah membawa kita menuju kemanusiaan yang sejati, atau justru menindas kita?

Uang dan manusia adalah bagian dari gerak sejarah yang terus bergulir. Namun gerak ini tidak boleh terjadi begitu saja, melainkan harus direfleksikan. Jika tidak ada proses refleksi, maka dalam perjalanan, uang justru akan menindas manusia. Jika itu yang terjadi, maka uang seolah akan berperan menjadi tuhan-tuhan semu yang memperbudak manusia. Menurut Prasetyono itulah yang sekarang ini terjadi, bahkan di negara-negara yang mengaku paling bertuhan sekalipun.

Dengan berpijak pada filsafat hukum Hegel, uang bukanlah Tuhan, maka sebaiknya diperlakukan sebagai benda saja. Sebagai yang bukan Tuhan, uang tidak boleh berada di atas manusia, ataupun alam. Inilah cara pandang yang perlu kita anut bersama di dalam hidup, berbisnis, maupun berpolitik. (Prasetyono, 2011)

Demitologisasi dan Habituasi

Pada hemat saya proses diskusi di atas dapat disimpulkan ke dalam empat butir pemikiran. Pertama, kita perlu melakukan proses demitologisasi uang. Artinya uang dihilangkan dari ciri mistik dan agungnya, lalu dijadikan semata sebagai bagian hidup manusia, sama seperti benda-benda lainnya. Uang bukanlah Tuhan dan tidak akan pernah menjadi Tuhan. Uang adalah pelayan manusia, dan bukan manusia yang justru menjadi pelayan dari gerak uang.

Dua, kita perlu mengembalikan ciri sakral dan transenden dari Tuhan, supaya Tuhan tidak lagi secara semena-mena digunakan untuk memperoleh keuntungan politik atau ekonomi tertentu. Paradoksnya adalah justru ketika Tuhan menjadi transenden, dan dilepaskan dari pertarungan kepentingan ekonomi dan politik manusia, Tuhan justru bisa sungguh menjadi “penyelamat” bagi umat manusia, dan membawa makna yang dalam bagi hidup banyak orang.

Tiga, dua argumen sebelumnya mengajak kita untuk mengubah kesadaran kita sebagai mahluk bertuhan, dan mahluk yang aktif bekerja di dalam bidang ekonomi. Kesadaran bahwa uang bukanlah Tuhan membuka mata kita, bahwa uang diperlukan untuk kebaikan bersama umat manusia, dan bukan merupakan tujuan pada dirinya sendiri. Kesadaran bahwa Tuhan itu bersifat transenden mengajak kita untuk sadar, supaya tidak membawa-bawa Tuhan begitu cepat di dalam urusan sehari-hari hidup kita, terutama untuk memenuhi kepentingan politik ataupun ekonomi jangka pendek semata.

Pengetahuan yang kita peroleh harus bisa mengubah kesadaran kita sebagai manusia. Pengetahuan bukanlah informasi fakta-fakta semata, tetapi harus digali maknanya untuk hidup kita sehari-hari. Hanya dengan begitu pengetahuan bisa membawa kita pada kebijaksanaan hidup yang sesungguhnya.

Empat, kebijaksanaan itu pada hemat saya terkait dengan dua hal, yakni kemampuan kita sebagai manusia membuat keputusan di dalam hidup sehari-hari, baik keputusan jangka pendek maupun jangka panjang, dan kemurnian motivasi kita di dalam melakukan berbagai tindakan di dalam hidup. Berbagai diskusi tentang uang di atas mengajak kita untuk membuat keputusan dengan motivasi yang benar, sehingga keputusan kita pun bisa mencapai kebenaran pada konteksnya.

Dengan berlalunya waktu dan displin tinggi untuk mengubah diri, kesadaran akan berubah menjadi kebiasaan, yakni menjadi praktek-praktek rutin di dalam hidup sehari-hari. Di dalam bisnis, politik, keluarga, beragama, maupun bermasyarakat,  perilaku kita akan mencerminkan kebijaksanaan, dan memberikan pencerahan pada orang-orang sekitar. Hanya dengan itu kita bisa mengubah dunia, minimal dunia sekitar kita, menjadi tempat yang lebih baik untuk semua orang.***

Tulisan ini terinspirasi dari tiga belas diskusi dalam Extension Course Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya pada semester gasal 2011 dengan tema “Tuhan dan Uang: Menafsirkan Ulang Hubungan antara Tuhan dan Uang di dalam Kehidupan.” Tulisan Herlina Yoka Roida (Dosen Keuangan di Fakultas Bisnis UNIKA Widya Mandala Surabaya) berjudul Tuhan dan Uang: Dalam Teori Capital Aristoteles dan Hernando de Soto. Tulisan Muhammad Nafik (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Surabaya) berjudul Tuhan dan Uang dalam Perspektif Manajemen Islam. Tulisan Agustinus Pratisto Trinarso (Dosen Filsafat di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya) berjudul Tuhan dan Uang: Dalam Pandangan Konfusianisme dan Buddhisme. Tulisan Ramon Nadres (Dosen Filsafat di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya) berjudul To be Rich or Not be Rich? That is the Question.Tulisan saya sendiri (Reza A.A Wattimena) (Dosen Filsafat di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya) berjudul Tuhan dan Uang: Membaca Ulang Pemikiran Max Weber tentang Etos Protestantisme dan Lahirnya Kapitalisme Modern serta Relevansinya untuk Indonesia Abad ke-21.Tulisan Herlina Yoka Roida (Dosen Keuangan di Fakultas Bisnis UNIKA Widya Mandala Surabaya) berjudul Tuhan dan Uang: Dalam Pandangan Teori Probabilitas.Tulisan Yulius Koesworo (Dosen Keuangan di Fakultas Bisnis UNIKA Widya Mandala Surabaya) berjudul Tuhan dan Uang: Dalam Bisnis dan Kewirausahaan.Tulisan Christina Whidya Utami (Dosen Manajemen Ritel di Fakultas Bisnis UNIKA Widya Mandala Surabaya) berjudul Tuhan dan Uang: Dalam Ilmu Manajemen.Tulisan Y.B Budi Iswanto (Dosen Perilaku Organisasi di Fakultas Bisnis UNIKA Widya Mandala Surabaya) berjudul Tuhan dan Uang: Dalam Teori-teori Budaya Organisasi.Tulisan Aloysius Widyawan (Dosen Filsafat di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya) berjudul Tuhan dan Uang: Dalam Teologi New Age Movement.Tulisan Satrio Widyatmoko (Guru Matematika di SMAK Hendrikus, Surabaya) berjudul Ketakhinggaan vs Sifat Terbatas: Pendekatan Matematika terhadap Problem Tuhan dan Uang.Tulisan Agustinus Ryadi (Dosen Filsafat di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya) berjudul Tuhan dan Uang dalam Pandangan Teori-teori Moral.Tulisan Emanuel Prasetyono (Dosen Filsafat di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya) berjudul Meninjau Kembali Eksistensi dan Peran Uang dalam Hidup Manusia dari sudut pandang Filsafat Hukum Hegel.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s