Otak, Pikiran, dan Kebebasan Kita

http://thebeautifulbrain.com
http://thebeautifulbrain.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya

Apakah kita ini bebas? Apakah kebebasan kita hanya sekedar ilusi? Para filsuf telah lama berdebat soal ini. Penelitian terbaru di bidang neurosains (neuroscience) membuktikan, seperti diyakini oleh beberapa ilmuwan besar abad ini, bahwa kehendak bebas adalah suatu ilusi. (Nahmias, Is Neuroscience the Death of Free Will?, 2011)

Duduk Permasalahan

Pada 2002 lalu seperti dikutip oleh Nahmias, Daniel Wegner, seorang psikolog, menyatakan begini, “Seolah bahwa kita ini adalah agen. Tampaknya kita menyebabkan hal-hal yang kita lakukan… namun cukup menyadarkan kita dan amatlah akurat untuk menyebut ini semua sebagai ilusi.” Di tempat lain seorang ahli neurosains terkemuka, Patrick Haggard, menyatakan, “Kita jelas tidak memiliki kehendak bebas. Tidak dalam arti yang kita pikir.” Di bidang yang sama, Sam Harris bilang begini, “Tampaknya anda memang adalah seorang agen yang bertindak sesuai dengan kehendak bebas anda. Masalahnya adalah bahwa sudut pandang ini tidak dapat berjalan bareng tentang apa yang kami ketahui soal otak manusia.”

Media massa dan dunia ilmu pengetahuan AS menanggapi pernyataan-pernyataan tersebut dengan antusias dan penuh kontroversi. Jika orang tidak bebas, maka ia tidak bisa diminta bertanggungjawab atas perbuatannya, dan konsep tanggung jawab moral serta legal pun tidak dapat dituntut darinya. Di sisi lain menurut saya, matinya kehendak bebas (free will) berarti matinya satu-satunya hal yang secara mendasar membedakan kita dari mahluk hidup lainnya. Kita kehilangan tanda bahwa kita memiliki jiwa, dan tanpa jiwa, kita tak punya hak-hak asasi, maka bisa diperlakukan sebagai benda-benda saja yang dapat diganti, jika sudah tak berguna.

Dari sudut pandang ilmu hukum, kehendak bebas adalah sesuatu yang amat penting, karena itu berarti, orang bisa bertanggungjawab sepenuhnya atas kesalahan mereka, dan, dari sisi pendidikan, orang layak menerima pujian, jika mencapai prestasi tertentu. Menurut penelitian Nahmias ketika orang dihadapkan pada argumen, bahwa kehendak bebas adalah suatu ilusi, maka ia akan cenderung untuk bertindak semaunya, seperti mencontek dan amat enggan membantu orang lain yang tengah mengalami kesulitan. (Nahmias, 2011) Lalu bagaimana?

Neurosains dan Kehendak Bebas

Yang harus dilakukan adalah menjelaskan, bahwa penelitian-penelitian mutakhir terbaru di bidang neurosains tidak dapat membuktikan, bahwa kebebasan (freedom) itu tidak ada, sehingga tidak akan merusak tata hukum yang sudah ada, ataupun melenyapkan satu-satunya tanda, bahwa manusia memiliki jiwa, dan hak-hak asasi yang melekat di dalam dirinya, yang tak dapat lepas ataupun dicabut, apapun yang terjadi. Yang sesungguhnya terjadi menurut Nahmias, dan saya sependapat dengannya, bahwa pemahaman dasar para ilmuwan neurosains tentang kebebasan sudah salah sejak awal, sehingga seluruh kesimpulan mereka tentang kebebasan, atau kehendak bebas, tidak dapat dibenarkan.

Para ilmuwan neurosains berpendapat, bahwa kehendak bebas adalah cerminan dari suatu entitas metafisis yang bernama jiwa (soul). Jiwa adalah sumber dari aktivitas berpikir manusia. Mereka tidak setuju dengan pemahaman ini, karena bagi mereka, otak dan pikiran adalah hasil dari aktivitas biologis-materialistik semata. Otak dan pikiran adalah organ, serta tidak ada kaitannya dengan jiwa.

Bagi para ilmuwan neurosains, kehendak bebas dapat disebut sebagai “hantu di dalam pikiran”. Di sisi lain dari sudut pandang Read Montague, kehendak bebas itu dapat dianggap sebagai saudara dekat dari konsep jiwa yang memang telah menjadi konsep yang paling kontroversial di dalam filsafat dan kajian-kajian neurosains itu sendiri. Namun sayangnya mereka tidak sadar, bahwa dunia filsafat dan ilmu-ilmu manusia telah jauh meninggalkan konsep jiwa dan kebebasan klasik semacam itu.

Memang harus diakui penelitian-penelitian terbaru di bidang neurosains dan biologi sampai pada kesimpulan, bahwa pikiran manusia adalah sesuatu yang organik. Artinya pikiran itu adalah sesuatu yang murni material. Saya sepakat dengan itu, setelah menyimak penelitian-penelitian yang telah dilakukan. Namun apakah dari kesimpulan tersebut, kita bisa menarik kesimpulan, bahwa kehendak bebas, dan juga jiwa, adalah ilusi? Bukankah itu sama juga dengan mengatakan, bahwa karena mahluk hidup itu terbuat dari materi-materi yang tak hidup, maka kehidupan itu sendiri pun adalah ilusi?

Di dalam filsafat ada prinsip metafisika dasar, bahwa keseluruhan (whole) itu terdiri dari bagian-bagian (parts), namun keseluruhan itu sendiri lebih besar dari bagian-bagian yang menyusunnya. Jika ada bagian yang hilang, maka keseluruhan itu pun akan hilang. Kehidupan memang tersusun dari organ-organ biologis yang merupakan bagian-bagian dari kehidupan itu sendiri. Namun kehidupan itu sendiri lebih besar dari organ-organ yang berkumpul tersebut, namun jika salah satu organ itu rusak, atau terganggu, maka kehidupan itu sendiri akan terganggu, atau bahkan rusak.

Apa organ yang paling berperan besar dalam menghasilkan dan menggerakan kehidupan? Organ itu adalah otak (brain). Sampai saat ini di dalam dunia ilmu pengetahuan, otak masih dianggap sebagai organ yang paling rumit yang pernah ditemukan. Karena adanya otak yang cukup rumit dan canggih, manusia mampu memahami alam semesta, menyadari dirinya sendiri, membuat sintesis dari berbagai bentuk informasi, serta berpikir abstrak jauh melampaui mahluk hidup lainnya. Pikiran manusia adalah produk dari otak, dan keduanya amat terkait, tak terpisahkan.

Pengetahuan yang diperoleh oleh para ilmuwan neurosains di dalam penelitian mereka tentang otak justru akan membantu menjelaskan proses-proses kehendak bebas manusia, dan bukan justru melenyapkannya. Ini bisa terjadi dengan catatan, bahwa kita mampu merumuskan arti dari kehendak bebas, dan kebebasan itu sendiri, secara canggih. Penelitian-penelitian filosofis terbaru, setidaknya sejauh saya ikuti, sampai pada definisi berikut tentang kebebasan, yakni sebagai kemampuan manusia untuk membayangkan tindakannya sendiri (1), mempertimbangkan berbagai informasi dan argumentasi terkait dengan keputusan-keputusan dalam hidupnya (2), merencanakan tindakan-tindakannya berdasarkan pada pertimbangan yang telah dilakukan (3), dan mengatur tindakannya sendiri di dalam tegangan berbagai keinginan yang ada di dalam dirinya  (4). (Nahmias, 2011)

Saya menyebut rumusan di atas sebagai kebebasan internal (internal freedom). Kebebasan internal juga perlu didukung oleh kebebasan eksternal (external freedom),  yakni bebas dari tekanan ataupun paksaan dalam bentuk apapun yang merongrong empat kemampuan di atas. Selama manusia memiliki empat kemampuan di atas, dan bebas dari paksaan ataupun tekanan dalam bentuk apapun dari luar dirinya, maka ia bisa dikatakan sebagai manusia yang bebas.

Secara singkat kebebasan dapat dipahami dalam tiga hal berikut, yakni kemampuan untuk mempertimbangkan situasi secara sadar (rational deliberation), mampu berpikir rasional (masuk akal) (rational reasoning), dan mampu mengontrol diri sendiri (self control). Dan perlu juga ditegaskan, bahwa ketiga kemampuan ini berakar kuat pada organ biologis manusia yang bernama otak. Kebebasan tidak berada di luar otak, melainkan di dalam dan selalu terkait dengannya. Tiga kemampuan inilah yang menjadi tema-tema penelitian menarik dari para ilmuwan neurosains.

Dengan demikian para ilmuwan neurosains melakukan kritik tajam pada konsep kehendak bebas yang memang telah ditinggalkan oleh para filsuf itu sendiri. Di dalam definisi yang saya jabarkan di atas, tidak ada perbedaan antara pemahaman kebebasan menurut filsafat, maupun hasil-hasil penelitian para ilmuwan neurosains. Kehendak bebas bukanlah ilusi, melainkan sesuatu yang amat nyata dirasakan oleh semua orang, baik oleh para filsuf, ilmuwan, maupun orang-orang pada umumnya.

Kebebasan dan Determinisme

Di dalam pandangan klasik, kebebasan dipertentangkan dengan konsep determinisme (determinism), yakni paham yang berpendapat, bahwa semua pikiran, tindakan, dan perilaku manusia sudah ditentukan sebelumnya, baik secara sosial ataupun biologis. Artinya jika orang ditentukan oleh lingkungan sosialnya, atau oleh kondisi tubuhnya, maka ia tidaklah bebas. Inilah argumen yang coba dipertahankan oleh para ilmuwan psikologi dan neurosains.

Namun pada hemat saya, argumen ini salah arah. Fakta bahwa kita dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial dan biologis tidak berarti bahwa kita tidaklah bebas. Sebaliknya kebebasan -jika dipahami sebagai kemampuan manusia untuk mempertimbangkan secara rasional pilihan-pilihan hidupnya, memutuskan berdasarkan pertimbangan itu, serta mengontrol dirinya dari hasrat-hasrat yang bertentangan dengan keputusan maupun tujuannya- justru berada di dalam konteks lingkungan sosial maupun biologis manusia. Jadi kebebasan dan determinisme sebenarnya tidaklah perlu dipertentangkan.

Benjamin Libet dan John-Dylan Haynes melakukan penelitian dengan menggunakan fMRI untuk menemukan pola saraf di otak, ketika orang melakukan keputusan. Mereka menemukan bahwa sebelum orang membuat keputusan, atau sebelum ia sadar bahwa telah memutuskan, ada gelombang-gelombang otak yang tampak. Dapatkah disimpulkan bahwa keputusan itu muncul bukan dari kehendak bebas manusia, melainkan dari reaksi-reaksi gelombang otak yang tampak dengan jelas di dalam fMRI? Lalu siapa yang sesungguhnya menjadi “tuan” atas keputusan-keputusan yang telah dibuat oleh manusia?

Menurut saya dari penelitian itu, kita tetap tak dapat sampai pada kesimpulan, bahwa kebebasan manusia adalah ilusi. Bahkan kita juga belum bisa memutuskan secara pasti, apakah gelombang otak tersebut yang melahirkan keputusan, atau sebaliknya, yakni keputusan manusia yang mengaktifkan gelombang otak tersebut?  Dan seperti sudah saya jelaskan sebelumnya, kebebasan manusia terkait erat dengan kemampuan manusia untuk berpikir, dan tindak berpikir selalu melibatkan otak. Maka penelitian di atas tidak melenyapkan kebebasan, tetapi justru menegaskan, bahwa kebebasan manusia itu ada, dan itu melibatkan unsur-unsur sosial maupun biologis manusia.

Juga perlu diingat bahwa pikiran (mind) manusia itu terbagi dua, antara pikiran sadar dan pikiran yang relatif mekanis. Pikiran sadar digunakan ketika orang diminta untuk membuat keputusan tentang hal-hal yang amat penting dalam hidupnya. Sementara pikiran relatif mekanis digunakan untuk melakukan hal-hal rutin di dalam kehidupan sehari-harinya. Di dalam dua bentuk pikiran ini, aktivitas otak jelas berbeda.

Pada pikiran sadar aktivitas gelombang otak akan sangat besar. Sementara pada pikiran yang relatif mekanis, aktivitas gelombang otak akan tampak lebih kecil. Namun harus diingatkan bahwa keduanya merupakan aktivitas berpikir, baik berpikir mendalam ataupun rutin, dan itu dengan jelas menunjukkan kebebasan kita sebagai manusia. Kebebasan yang tidak melayang secara metafisis, melainkan tertanam begitu erat di dalam konteks biologis manusia.

Kebebasan adalah kemampuan manusia untuk mempertimbangkan, memilih dari berbagai pilihan yang ada, dan mengontrol dirinya sendiri. Dan pilihan itu hanya mungkin di dalam lingkungan sosial, dan juga karena manusia selalu sudah berada di dalam lingkungan sosialnya. Tidak mungkin kita bisa membayangkan manusia yang hidup tanpa konteks sosial. Artinya kebebasan tidak bertentangan dengan fakta, bahwa kita ditentukan secara sosial oleh komunitas tempat kita hidup. Namun justru sebaliknya bahwa komunitas sosiallah yang memungkinkan kita mendapatkan dan menggunakan kebebasan kita.

Kejernihan

Dengan demikian argumen bahwa kebebasan manusia hanya sekedar ilusi itu salah arah. Selama para ilmuwan neurosains belum bisa membuktikan, bahwa proses berpikir manusia itu adalah ilusi, maka kebebasan akan selalu ada. Memang kita sudah tahu, bahwa proses berpikir itu terbatas, maka kebebasan manusia pun terbatas. Namun mengatakan bahwa proses berpikir, yang merupakan inti dari kebebasan, itu terbatas tidaklah sama dengan mengatakan, bahwa kebebasan itu adalah ilusi. Justru sebaliknya proses penelitian para ilmuwan neurosains bisa amat membantu kita di dalam memahami kebebasan kita sendiri sebagai manusia.

Penelitian-penelitian neurosains tentang proses berpikir manusia perlu terus dilakukan dengan memperhatikan kejernihan membuat analisis, serta keketatan logika di dalam menarik kesimpulan-kesimpulan. Kita tidak membutuhkan penelitian-penelitian dengan kesimpulan-kesimpulan sensasional, tetapi sebenarnya ditopang tak lebih dari sikap buru-buru, mencari nama, ataupun niat menimbulkan kontroversi semata. Kebenaran yang sejati terletak di dalam ketekunan, kesabaran, dan kejernihan di dalam melihat dunia. Keutamaan-keutaman hidup yang kini langka diterpa budaya instan dan mentalitas pencitraan semata.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

3 tanggapan untuk “Otak, Pikiran, dan Kebebasan Kita”

  1. Pak Reza,
    Saya pernah baca penelitian neurobiloloy beberapa tahun yl bahwa neuron di otak itu selalu wiring (saling kontak dan kemudian beranak-pinak, itu pengertian saya). Penelitian tersebut berkaitan dengan jumlah kosa kata anak 0-3 tahun yang bertambah berlipat ketika ia mendapat dongeng pada usia yang sensitif tersebut. Tetapi apakah keputusan yang diambil manusia ditentukan oleh neuron dalam otak? Tidak adakah faktor lain dalam otak manusia atau di luar otak yang ikut berperan?

    Saya setuju dengan Anda bahwa kebebasan manusia terbatas, terutama oleh budaya, kepercayaan (beliefs), pendidikan, status, dan keputusan yang diambil sebelumnya. Salah satu contoh yang Anda kemukakan tentang mencontek. Pada saat ia memutuskan untuk sekolah atau tidak sekolah, ia memiliki kebebasan. Setelah keputusan tersebut diambil, ia wajib belajar untuk melanjutkan akibat dari keputusan tersebut. Benarkah karena itu ia menjadi tidak memiliki kebebasan? Ia masih mempunyainya, yaitu meninggalkan sekolah. Namun, di sini ada sesuatu konteks lain yang membuatnya tidak bebas: pertanggungjawabannya kepada orangtua yang telah mengeluarkan uang, malu kepada teman sekelas, masa depan yang tidak menetu, pekerjaan … Sepertinya, antara kebebasan dan ketidakbebasan ini sangat kompleks dan bukan masalah neuron yang di otak melulu.

    Suka

    1. iya. Setuju Bu Wuri. Para ilmuwan neurosains memang menyempitkan manusia hanya semata sebagai gejala-gejala biologis semata. Padahal hidup jauh lebih rumit dari itu. Tentang pekerjaan saya rasa prinsipnya begini, kerjakan panggilan hatimu yang terdalam, dan jadilah ahli disana, maka kamu pasti punya tempat di dunia. Banyak anak sekarang tidak mengejar panggilan hati mereka, tapi malah ikut2an. INi yang membuat mereka tidak mendapat pekerjaan. Mereka tidak punya keahlian apapun.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s