Puisi yang Menyangkal Demokrasi

blogspot.com

OLEH BANDUNG MAWARDI

Ketika berhadapan dengan demokrasi, puisi adalah sangkaan dan sangkalan. Ia menantang dan menghardik. Karena demokrasi itu elitis dan dominatif, puisi pun pantas untuk menampik dengan rasa gerah dan marah. Demokrasi ternyata bukanlah sebuah garansi bagi kemakmuran, keadilan, dan kesetaraan. Demokrasi adalah sebuah kekuasaan, yang ternyata diskriminatif, berkah bagi elite, tetapi pelit bagi kaum yang pailit.

Maka, puisi pun dituliskan dan lantang disuarakan untuk mengoreksi cacat bawaan demokrasi itu. Puisi adalah resistensi dan menolak arogansi politik yang dibangun di atas fondasi demokrasi. Konon, serangan yang dilakukan Socrates pada demokrasi Yunani kuno antara lain juga menggunakan kutipan-kutipan puisi yang sarkastik. Puisi pun menjadi sangkalan atas selebrasi demokrasi sejak awalnya di Yunani. Dan, Socrates pun menjadi martir karenanya.

Sangkalan puisi pada demokrasi sebenarnya sudah terjadi jauh hari sebelumnya, melalui karya-karya Hesodius: petani sekaligus penyair. Sebagaimana diutarakan IF Stone (1991), puisi-puisi Hesodius menjadi sangkalan atas demokrasi karena, antara lain, ia menguak aib dan menyerang kaum elite. Di posisi ini, Hesodius berseberangan dengan Homerus, pujangga ningrat yang agung. Puisi Kerja dan Hari gubahannya, antara lain, yang menyerang para tuan tanah, diakui sebagai puisi protes sosial-politik pertama, puisi menyerang para tuan tanah.

”Tak ada kerja yang aib, kemalasanlah suatu kehinaan.” Begitu Hesodius membela petani yang kala itu sudah menjadi buruh yang diisap oleh kerakusan pemilik modal, tuan tanah, dan penguasa. Si penyair secara sarkastik para tuan tanah saat menjadi hakim. Mereka adalah ”para pelahap uang sogok” dan ”penindas rekan sendiri dengan keputusan bengkok”.

Musuh kekuasaan

Sejarah pun bergerak, dan puisi pun harus menerima nasibnya: hidup dalam represi dan ketidakpastian. Zaman mungkin tidak memberangus puisi, tetapi secara pasti ia ditepikan, menjadi musuh bagi kekuasaan. Czeslaw Milosz (1986), penyair Nobel itu, turut merasakan nasib puisi—juga dirinya—di hadapan arogansi politik.

Abad XX memang menjadi ironi tersendiri bagi demokrasi. Di satu kali puisi menjadi lonceng kehadiran demokrasi, tetapi belum lagi gema lonceng itu habis, puisi pun dicurigai, dikhianati, dan direpresi. Dalam idealismenya yang teguh, Milosz menganggap puisi sebagai seruan perdamaian, jeda spiritualitas, misteri cinta, dan geliat filsafat di sela-sela letusan bedil, gerincing terali penjara, hujatan di ruang-ruang politik, dan kecerewetan pasar.

Dunia memerlukan sekaligus mengusir puisi dalam arus politik-demokrasi. Ketika dunia lumpuh, manusia sakit, dan abad XX menjelma rumah sakit dengan pasien-pasien kritisnya, puisi meliuk di sela rintihan, makian, teriakan, keluhan, dan lirih doa. Demokrasi telah membuat dunia modern menjadi sebuah klinik di mana kebebasan adalah pertanyaan yang pelik.

Erich Fromm pun menganggap kebebasan kadang adalah puncak keinginan, tetapi juga dapat menjadi ujung keputusasaan. Kebebasan menjadi dilema bagi manusia modern. Dan puisi adalah simbol terbaik dari dilema itu. Pada titik yang lain ia menjadi kontradiksi. Sidney Hook (1994), misalnya, menganggap demokrasi adalah kerja membuat deskripsi memadai demi gerak menuju hakikat.

Akan tetapi, deskripsi adalah urusan bahasa, sementara hakikat adalah urusan iman. Kontradiksi pun tak terelakkan, bahasa alami kerapuhan dan pembangkrutan andai dijadikan basis eksistensi demokrasi picisan. Puisi mungkin ada di pergumulan kontradiksi demokrasi, tetapi memiliki jalan dan labirin sendiri saat mengucapkan bahasa. Puisi bisa meruntuhkan pesimisme demokrasi, puisi bisa membahasakan impian demokrasi tak termaknai.

Lakon puisi dan demokrasi dalam jejak-jejak sejarah dunia memang mirip lagu cengeng saat malam hujan dan kamar gelap. Puisi itu kemungkinan, demokrasi itu kemustahilan, tetapi candu global. Octavio Paz pun mengucap segala ihwal kotradiksi dan ironi.

Sejarah Amerika Latin, sejarah puisi. Kolonialisme adalah derita kata. Demokrasi seolah mimpi basah. Paz memberi puisi untuk dunia. Puisi adalah ikhtiar rujuk bersama sejarah. Penyair hadir untuk menolak dan menanggulangi tirani sejarah. Demokrasi sebagai sejarah mungkin mesti menemui apes di hadapan puisi.

Kata-kata bisa menjelma nafsu beringas menelanjangi demokrasi. Puisi bisa bunuh diri di depan impian demokrasi untuk mempermalukan gagasan-gagasan manusia modern. Paz mengucap: Puisi ada karena sejarah, puisi itu terwahyukan.

Puisi bisa mengubah dunia kendati demokrasi lancang dan represif. Puisi adalah kehendak melawan tirani, tetapi sanggup meladeni demokrasi tak manusiawi: demokrasi mengandung kontradiksi-kontradiksi akut.

Segala ihwal itu juga teralami dalam sejarah Indonesia. Demokrasi diikhtiari mengubah nasib, tetapi apes tak bisa ditampik, luka susah terobati, sengsara gagal digantikan tawa.

Demokrasi hari ini seolah tanpa puisi. Bahasa-bahasa politik perlahan rusak, pecah, dan genit tanpa ada urusan makna atau tabiat mengubah harga diri demokrasi. Kefasihan mengucap demokrasi ala elite adalah dongengan deskriptif tak puitik.

Negeri ini abai puisi sebagai pijakan konstruksi demokrasi ala Indonesia. Mengabaikan puisi adalah melupakan sejarah dan meremehkan demokrasi. Begitu.

Bandung Mawardi Pengelola Jagat Abjad Solo dan Penulis BukuMacaisme!

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s