Paradoks Kepemimpinan dan Pemilu Kita di 2014

creativeintelligenceinc.com
creativeintelligenceinc.com

Oleh B. Herry Priyono

Musim gempita membandingkan dua calon presiden/wakil-presiden hampir usai. Negeri ini akan segera memasuki pucuk waktu. Kita hendak berdiri beberapa menit di bilik pemungutan suara untuk menerobos momen genting yang akan memberi nama hari esok Indonesia.

Apa yang berubah sesudah kedua kubu menjajakan rumusan visi dan misi, program, dan mematut-matut diri dalam debat di televisi? Tidak banyak, kecuali emosi politik yang terbelah ke dalam pertarungan abadi antara “memilih dari keputusasaan” dan “memilih bagi harapan”. Setelah berbagai timbangan nalar dikerahkan, yang tersisa adalah tindakan memilih yang digerakkan dua daya itu. Mungkin kita bahkan tidak menyadarinya.

Namun dengan itu dua kubu juga kian membatu. Masih tersisa beberapa hari bagi kita untuk menimbang pilihan dengan akal-sehat. Barangkali tiga pokok berikut dapat dipakai menambah aneka kriteria yang telah banyak diajukan. Lanjutkan membaca Paradoks Kepemimpinan dan Pemilu Kita di 2014

Mencapai Kebebasan Batin

flickr.com
flickr.com

Sebuah Refleksi Filosofis

oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya, sedang penelitian di Jerman

Ketika Sukarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesian 1945 yang lalu, ada dua hal yang ada di dalam pikiran mereka, yakni kebebasan dan kemakmuran. Keduanya menjadi mimpi besar, tidak hanya untuk mereka berdua, tetapi juga untuk para bapak bangsa lainnya, seperti Sutan Sjahrir, Muhammad Yamin, dan sebagainya. Dengan kebebasan di tangan, bangsa Indonesia lalu mulai bisa membangun dirinya ke arah keadilan dan kemakmuran bagi semua warganya. Kebebasan dianggap sebagai jembatan emas menuju masyarakat yang paripurna. (Latif, 2011)

Sebagai pribadi, kita tentu juga ingin bebas. Kita ingin bisa menentukan hidup kita sesuai dengan keinginan kita. Kita juga ingin hidup aman, bebas dari rasa takut dan cemas atas hal-hal di luar diri kita. Keinginan untuk bebas tertanam secara alamiah di dalam jiwa manusia.

Penelitian yang dilakukan Institut für Gesellschaftspolitik di Jerman menunjukkan satu hal, bahwa kebebasan (Freiheit) merupakan nilai tertinggi di dalam masyarakat Jerman sekarang ini. (Reder, et.al, 2014) Hidup tak ada artinya, jika tidak ada kebebasan. Seluruh sistem politik dan ekonomi Jerman memang dirancang untuk bisa menampung cita-cita kebebasan semacam ini. Tentu, tidak ada sistem yang sempurna yang tidak lagi membutuhkan refleksi ulang. Lanjutkan membaca Mencapai Kebebasan Batin

Machiavelli dan Kecerdikan Politis

deviantart.net
deviantart.net

Oleh Reza A.A Wattimena

Jika anda ingin menjadi politikus, maka ada satu buku yang wajib anda baca. Judulnya adalah Il Principe, atau Sang Pangeran yang ditulis oleh Niccolo Machiavelli (1469-1527). Buku ini bisa menuntun anda untuk menjadi penguasa politik yang sejati, dan bukan yang murahan. Bahkan, dapat dibilang, buku ini adalah salah satu buku yang paling banyak mengundang tafsir dan debat sampai sekarang di kalangan para ahli ilmu politik, filsuf politik dan politikus itu sendiri.

Niccolo Machiavelli menulis buku itu pada 1532.1 pada waktu itu, ia adalah diplomat sekaligus pegawai pemerintahan di Florence (sekarang bagian dari Italia). Dalam karir politiknya, ia banyak berhubungan dengan Raja Perancis dan Raja Jerman (waktu itu Kekaisaran Romawi Suci). Karena suatu masalah politik, ia akhirnya dikejar dan kemudian dibunuh.

Machiavelli menulis tentang banyak tema, mulai dari etika, sejarah filsafat, puisi, politik, bahkan komedi. Namun, banyak orang mengenal nama Machiavelli hanya dari karya politiknya, Il Principe. Juga berkat buku itu, dan tafsiran atasnya, nama Machiavelli memiliki reputasi yang jelek. Ia lalu dikaitkan dengan ajaran tentang berbagai penipuan dan tindakan-tindakan jelek lainnya di dalam politik, demi meraih dan mempertahankan kekuasaan. Namun, König, sumber yang saya acu, menolak tafsiran jelek semacam itu. Lanjutkan membaca Machiavelli dan Kecerdikan Politis

Filsafat tentang Kesehatan

inquisitr.com
inquisitr.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Ketika merayakan hari lahir, banyak orang mendoakan, supaya kita selalu sehat. Kita pun mendoakan hal yang sama, ketika orang lain merayakan hari lahirnya. Di titik ini, kita bisa melihat, bagaimana kesehatan menjadi nilai yang penting dalam hidup manusia. Hal ini bisa diamati di berbagai peradaban, tidak hanya di Indonesia.

Kesehatan lalu disamakan dengan kebahagiaan. Orang tidak bisa bahagia, jika ia tidak sehat. Untuk menjadi sehat, orang juga perlu untuk menata pikiran dan pola hidupnya dengan pikiran-pikiran yang baik, yakni dengan kebahagiaan. Ada kaitan yang bersifat timbal balik dan amat erat antara kesehatan dan kebahagiaan.

Dipersempit

Namun, kita juga hidup di dalam masyarakat yang mempersempit arti kesehatan. Sadar atau tidak, kita hanya melihat kesehatan dalam arti kesehatan fisik semata. Banyak orang sibuk berolah raga dan makan makanan yang bergizi, supaya sehat. Yang banyak terjadi kemudian adalah, orang bisa berpenampilan ganteng, bertubuh indah, dan kelihatan keren, walaupun hidupnya sedih dan merana. Ini sebenarnya sama sekali tidak sehat. Lanjutkan membaca Filsafat tentang Kesehatan

Thomas Aquinas dan Summa Theologiae

deviantart.net
deviantart.net

Oleh Reza A.A Wattimena

Salah satu tema yang menjadi perhatian banyak orang di dunia sekarang ini adalah kaitan antara iman dan nalar. Iman kerap kali dipandang sebagai kepercayaan buta. Sementara, nalar dianggap sebagai bagian dari diri manusia yang sama sekali tak terkait dengan iman. Pemisahan semacam ini tidak hanya salah dalam level pikiran dan pengetahuan, tetapi juga bisa membawa petaka besar, seperti konflik dan perang.

Ketika dua hal itu dipisahkan, lalu kita seolah mendapat dua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan manusiawi yang selalu muncul di kepala kita, seperti darimana asal kita, kemana kita akan pergi, setelah kita mati, dan sebagainya. Jawaban yang mana yang benar? Ini tentu menciptakan banyak kebingungan. Tentang ini, saya rasa, kita perlu belajar dari Thomas Aquinas, terutama di dalam bukunya yang berjudul Summa theologica, atau Kumpulan dari Teologi.

Buku tersebut adalah salah satu buku terpenting di dalam Filsafat Abad Pertengahan Eropa yang ditulis sekitar tahun 1266-1273.1 Thomas Aquinas, penulisnya, hidup dari 1224 sampai dengan 1274. Masa ini dianggap sebagai masa keemasan dari Filsafat Skolastik Abad Pertengahan yang amat kuat mengakar di dalam tradisi Kristiani. Lanjutkan membaca Thomas Aquinas dan Summa Theologiae

Boethius: Antara Kebahagiaan, Kedamaian dan Kebebasan

blogspot.com
blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Nelson Mandela, almarhum, adalah Presiden Pertama Afrika Selatan yang terpilih secara demokratis. Sebelumnya, ia adalah tahanan politik selama 27 tahun, karena menentang sistem yang bersifat diskriminatif di Afrika Selatan, yang banyak juga dikenal sebagai Apartheid. Setelah menjadi presiden, ia tidak pernah terdorong untuk membalas dendam, namun justru mendorong proses perdamaian dan pengampunan, guna membangun masyarakat Afrika Selatan yang baru. Mengapa ia bisa melakukan itu?

Yesus, tokoh terpenting di dalam Agama Kristiani (bahkan mereka meyakininya sebagai Tuhan), dihukum mati dengan penyaliban. Ini adalah hukuman yang amat sadis dan menghina. Sebelum kematiannya, konon ia berkata, “Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu, apa yang mereka lakukan.” Bagaimana mungkin? Mengapa ia mau mengampuni para pembunuhnya?

Ada semacam kekuatan batin yang mendorong mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak mungkin. Pengampunan setelah pengalaman ketidakadilan adalah tindakan yang luar biasa mulia, namun amat sulit untuk dilakukan. Orang harus memiliki kekuatan batin dan kedamaian hati yang mendalam, supaya bisa melakukan itu. Untuk menerangkan ini, saya rasa, kita perlu untuk belajar dari Boethius, filsuf Eropa yang hidup pada masa kekaisaran Romawi. Lanjutkan membaca Boethius: Antara Kebahagiaan, Kedamaian dan Kebebasan

Seneca dan Kebebasan Batin

miro - seneca
blogspot.com

Seneca di dalam De vita Beata

Oleh Reza A.A Wattimena

Hidup adalah perjalanan yang penuh dengan bunga dan duri. Ini tidak dapat disangkal. Setiap orang mengalami masa-masa gelap dalam hidupnya. Namun, disela-sela masa-masa itu, mereka pun menemukan kebahagiaan.

Banyak orang yang lelah dengan perjalanan ini. Bagaimana mungkin saya bisa merasa bahagia, ketika saya tahu, ini semua hanya sementara, dan besok atau mungkin nanti sore, musibah lain akan datang menimpa saya? Orang-orang seperti ini lalu mencari cara untuk melampaui jatuh bangunnya kehidupan. Ada beragam cara, mulai dari menggunakan narkoba (ganja, heroin, ampfetamin), belanja gila-gilaan (konsumtivisme?), menjadi pengguna jasa pelacuran tetap (sex sampai mati untuk menutupi kesedihan?), menumpuk kekayaan (kalau perlu dengan korupsi?), pencarian segala bentuk kenikmatan lainnya (pesta setiap malam atau makan tanpa henti?), sampai dengan bunuh diri.

Pertanyaan penting disini adalah, apakah harus seperti itu? Apakah hidup itu harus selalu jatuh bangun dan naik turun? Apakah ada cara hidup yang lain? Untuk menjawab ini, kita perlu untuk menengok pemikiran Seneca. Lanjutkan membaca Seneca dan Kebebasan Batin

Filsafat Tentang Kesepian

wheresthedrama.com
wheresthedrama.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Ada lebih dari 6 milyar manusia di atas muka bumi sekarang ini. Akan tetapi, banyak orang masih hidup dalam kesepian yang menggerogoti jiwa. Inilah salah satu keanehan terbesar masyarakat manusia di awal abad 21 ini. Seperti lantunan lagu yang dinyanyikan Once dari Band Dewa, “di dalam keramaian, aku masih merasa sepi..”

Beragam penelitian dari berbagai bidang ilmu sampai pada satu kesimpulan, bahwa kesepian itu berbahaya. Ia mendorong orang untuk berpikir salah. Akibatnya, ia merasa kesal, dan bahkan mengalami depresi. Dari keadaan yang jelek ini, banyak orang lalu memutuskan untuk melakukan bunuh diri. (Solomon, 2002) Apakah kesepian selalu menggiring manusia ke arah kegelapan semacam ini?

Akar-akar Kesepian

Saya melihat, ada dua akar mendasar dari kesepian. Pertama adalah akar sistemik. Kita hidup di dalam masyarakat pembunuh. Ada dua ciri mendasar dari masyarakat pembunuh, yakni ketakutan pada segala bentuk perbedaan (cara berpikir yang berbeda, cara hidup yang berbeda, bahkan warna kulit yang berbeda) dan kecenderungan untuk melihat sistem, aturan serta kebijakan lebih penting dari hidup manusia. Lanjutkan membaca Filsafat Tentang Kesepian

Epikuros dan Kenikmatan Hidup

daydaypaint.com
daydaypaint.com

Tentang buku Surat Kepada Menoikeus

Oleh Reza A.A Wattimena

Banyak orang merasa sedih dan sakit kepala, ketika membaca koran harian. Banyak berita buruk. Akhirnya, ia semakin sedih, karena merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Koran sebagai sumber informasi justru malah membuat kita merasa tak berdaya, ketika membacanya.

Ketika mendengar berita tentang bencana, kita juga merasa sedih sekaligus bersyukur, karena kita dan keluarga kita bukanlah korbannya. Namun, jauh di dalam lubuk hati, kita tetap takut, bila bencana itu menghampiri kita dan orang-orang yang kita kasihi. Kita takut, terutama jika kita mati, siapa yang akan menjaga dan merawat keluarga kita?

Yang lebih mendasar lagi, kita takut akan masa depan. Kita takut ada “apa-apa” di masa depan kita, apapun itu artinya. Kita lalu membuat rencana untuk menata masa depan, seperti bikin asuransi, menabung, dan sebagainya. Namun, kegelisahan dan ketakutan tetap ada, bahkan mungkin semakin besar. Lanjutkan membaca Epikuros dan Kenikmatan Hidup

Aristoteles dan Bentuk-bentuk Politik

http://freeyork.org
freeyork.org

Tentang Buku Politika tulisan Aristoteles

Oleh Reza A.A Wattimena

Mungkin terdengar aneh, jika kita bertanya, mengapa ada politik? Jika membaca koran, sosial media, atau berita TV setiap harinya, kita selalu dikepung oleh berita-berita seputar politik. Namun, kita tidak pernah sungguh tahu, mengapa semua itu ada. Apakah kita sungguh membutuhkan politik, termasuk kehadiran negara dan pemerintah? Jika ya, mengapa?

Jika politik, termasuk kehadiran negara dan pemerintah harus ada, maka semua itu harus ditata, supaya bisa memberikan kesejahteraan bersama untuk semua orang, tanpa kecuali. Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana menata politik secara tepat? Apa saja bentuk-bentuk yang mungkin ada? Tema ini dibahas panjang lebar oleh Aristoteles di dalam bukunya yang berjudul Politika.

Buku Politika adalah karya Aristoteles yang ditulis sekitar tahun 340 sebelum Masehi.1 Buku ini, yang terdiri dari kurang lebih 300 halaman, dapat dianggap sebagai lanjutan dari buku Ethika Nicomacheia (lebih berfokus pada filsafat moral). Buku Politika, terlihat dari judulnya, berisi uraian Aristoteles tentang filsafat politik. Lanjutkan membaca Aristoteles dan Bentuk-bentuk Politik

Aristoteles dan Hidup yang Bermutu

smashingmagazine.com
smashingmagazine.com

Tentang buku Ethika Nikomacheia

Oleh Reza A.A Wattimena

Sedang di München, Jerman

Di tengah pengaruh iklan dan media yang menawarkan kenikmatan hidup, sulit bagi kita untuk melihat apa yang sungguh penting dalam hidup ini. Kita pikir, kita perlu cantik, cerdas dan kaya dalam hidup. Lalu, kita pun melihat tiga hal itu sebagai tujuan utama yang harus diraih dalam hidup. Jika gagal, lalu kita merasa tak berguna.

Apakah kecerdasan, kecantikan dan kekayaan adalah tujuan tertinggi hidup manusia? Inilah pertanyaan penting yang harus kita pikirkan bersama. Ada yang bilang, Tuhan-lah yang menjadi tujuan hidup manusia. Bagi banyak orang, pendapat itu terdengar terlalu abstrak, dan tidak banyak membantu di dalam kehidupan sehari-hari.

Aristoteles di dalam bukunya yang berjudul Ethika Nikomacheia, atau Etika Nikomacheia, mencoba menjawab pertanyaan ini. Buku tersebut ditulis sekitar tahun 340 sebelum Masehi.1 Kemungkinan, Nikomacheia adalah anak dari Aristoteles. Buku ini terdiri dari 300 halaman dan dianggap sebagai salah satu karya paling penting di dalam sejarah filsafat, terutama dalam bidang etika. Argumen pertama Aristoteles adalah, bahwa setiap tindakan selalu mengarah pada tujuan tertentu, yakni yang baik itu sendiri di dalam bidang itu. Lanjutkan membaca Aristoteles dan Hidup yang Bermutu

Tentang Susunan dari Kenyataan yang Ada

saduluhouse.org
saduluhouse.org

Aristoteles di dalam Metafisika

Oleh Reza A.A Wattimena

Sedang Penelitian Filsafat Politik di München, Jerman

Sulit menghindar dari pertanyaan-pertanyaan, ketika kita memiliki anak atau kerabat yang masih berumur 2 sampai 6 tahun. Mereka ingin tahu segala sesuatu, mulai dari hal kecil, seperti upil di hidung, sampai dengan matahari di atas sana. Ketika kita bertambah usia, sulit rasanya mengingat, bahwa kita pernah memiliki rasa penasaran sebesar itu.

Di dalam filsafat, pertanyaan tentang susunan serta hakekat dari segala yang ada adalah salah satu pertanyaan terpenting. Pertanyaan ini menjadi dasar dari seluruh filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi modern, sebagaimana kita kenal sekarang ini. Salah satu filsuf yang mencoba menjawab pertanyaan ini secara sistematik adalah Aristoteles.

Aristoteles adalah murid Plato. Ia menulis buku dengan judul Ta meta ta physika, atau Metafisika, pada 340 sebelum Masehi. Buku ini bukanlah sebuah karya utuh, melainkan kumpulan tulisan pendek dari Aristoteles. Ia menamai kumpulan tulisan tersebut sebagai “filsafat pertama”.1 Lanjutkan membaca Tentang Susunan dari Kenyataan yang Ada

Menuju Keadilan dan Kebahagiaan​

wikimedia.org
wikimedia.org

Filsafat Politik Plato di dalam buku Politeia

Oleh Reza A.A Wattimena

Sedang Penelitian Filsafat Politik di München, Jerman

All we need is love, kata The Beatles, band Inggris di dekade 1960-an. Suara John Lennon yang khas dengan indah melantunkan lagu tersebut. Petikan bas dari Paul McCartney dan ketukan drum dari Ringo Star yang unik menjadi dasar dari lagu tersebut. Namun, apakah isi lirik tersebut benar, bahwa all we need is love: yang kita butuhkan hanya cinta?

Jika cinta disamakan dengan emosi sesaat atau dorongan seks belaka, maka jawabannya pasti “tidak”. Namun, saya merasa, kata “cinta” mesti diberikan makna baru yang lebih mendalam disini. Belajar dari Plato, terutama dalam bukunya yang berjudul Politeia, cinta haruslah ditafsirkan sebagai keadilan dan kebenaran. Perpaduan dua hal itu lalu akan menghasilkan kebahagiaan.

Adalah penting bagi kita di Indonesia untuk memikirkan hal ini secara mendalam, terutama menyambut pemilu 2014 yang akan menghasilkan tata politik baru di Indonesia. Pemahaman tentang keadilan, kebenaran dan kebahagiaan adalah kunci dari politik yang bersih, yang bisa memberikan kesejahteraan untuk seluruh rakyat. Ia juga adalah kunci untuk mencapai hidup yang bahagia dan bermutu. Tentang hal ini, kita bisa belajar banyak dari buku Politeia. Lanjutkan membaca Menuju Keadilan dan Kebahagiaan​

Apakah Kita Abadi?

wikimedia.org
wikimedia.org

Plato di dalam buku Phaidon

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala, Surabaya

Hubungan antara tubuh dan jiwa adalah salah satu hal yang paling banyak dibicarakan di dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. Para filsuf dan ilmuwan dari berbagai bidang mencoba merumuskan teori tentang hal ini. Pertanyaan yang biasa muncul adalah, apakah tubuh kita adalah satu-satunya yang ada? Apa yang dimaksud dengan jiwa, jika kita menggunakan kata ini?

Di dalam bukunya yang berjudul Phaidon (380 SM), Plato mencoba menjawab pertanyaan ini. Latar dari buku ini adalah dialog Sokrates dengan murid-muridnya, menjelang kematiannya. Ini adalah peristiwa yang amat menyedihkan untuk Plato. Setidaknya, empat buku tulisan Plato berisi tentang cerita Sokrates, mulai dari pengadilan sampai dengan penghukuman matinya.1

Seperti buku-buku Plato lainnya, Phaidon juga memiliki jalan cerita. Phaidon adalah nama seorang murid Sokrates. Di dalam buku itu, ia seolah menjadi saksi dari semua peristiwa yang ada. Ia sendiri tidak ambil bagian langsung di dalam dialog yang ada. Menurut kesaksiannya, Plato juga tidak hadir di dalam peristiwa itu, karena ia sedang sakit. Lanjutkan membaca Apakah Kita Abadi?

Revolusi Doa dan Revolusi Mental

sesawi.net
sesawi.net

oleh Sindhunata (Pemimpin Redaksi Majalah Basis, Yogyakarta) dan Joko Widodo (Gubernur DKI Jakarta, Calon Presiden PDI Perjuangan 2014)

KITA memerlukan pemimpin yang taat beragama, yang bisa membawa perbaikan moral bangsa. Begitu dikatakan mantan Wakil Presiden Hamzah Haz baru-baru ini. Hamzah Haz juga menyarankan perlunya dibangun lebih banyak tempat ibadah, agar semakin banyak orang berdoa sehingga semakin banyak pula orang yang memiliki moral yang baik.

Hamzah Haz tidak keliru jika ia menghubungkan doa dan moral yang baik. Hanya masalahnya, doa manakah yang bisa membuahkan moral yang baik? Pertanyaan ini kebetulan juga sedang digeluti sejumlah sarjana antropologi dan teologi Islam maupun Kristen. Pergulatan mereka dikumpulkan di bawah tema ”Prayer, Power, and Politics” dalam jurnal Interpretation, Januari 2014.

Para antropolog kultural memahami doa sebagai aktivitas ritual. Dari sudut kultural, ritus adalah kesempatan, di mana orang menjalin hubungan baik dengan kelompoknya, maupun realitas sosialnya, termasuk kekuasaan. Sementara karena pada hakikatnya kekuasaan selalu relasional, kekuasaan mau tak mau juga memengaruhi ritus dan dirasakan secara riil oleh mereka yang menjalankan aktivitas ritual itu. Di situlah terletak hubungan antara doa dan kekuasaan. Dengan pendekatan di atas, Rodney A Werline, profesor studi agama-agama di Barton College, North Carolina, meneliti bagaimana doa-doa dihidupi tokoh-tokoh Kitab Suci Perjanjian Lama, seperti Hannah, Ruth, Salomo, dan Daniel. Dari penelitiannya terlihat doa terjadi dalam cakupan relasi sosial dan historis yang amat luas.

biografi.blogspot.de
biografi.blogspot.de

Doa bisa berfungsi sebagai dinamika keluarga, sebagai ekspresi cinta di antara sahabat, sebagai ratapan orang jujur yang tidak bersalah tetapi menjadi korban, sebagai teguran pemuka agama terhadap umatnya dan sebagai upaya bagaimana mengobati luka sosial umatnya, sebagai jalan bagi para pemimpin untuk menjalankan kepemimpinannya, juga sebagai jalan menentang kekuasaan represif. Lanjutkan membaca Revolusi Doa dan Revolusi Mental

Ekonomi Kesejahteraan Publik untuk Indonesia

ltkcdn.net
ltkcdn.net

Beberapa Butir Pemikiran

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Jantung hati dari ekonomi kesejahteraan publik, sebagaimana dirumuskan oleh Felber, adalah kerja sama antar warga, guna mewujudkan tata politik dan ekonomi yang memberikan kesejahteraan bagi semua, tanpa kecuali. Pandangan ini berakar dalam sekali di pemahaman filosofis tentang ekonomi, sebagaimana dirumuskan oleh Aristoteles. Kerja sama mengandaikan adanya dorongan hati dari rakyat untuk ikut ambil bagian di dalam semua bentuk proses sosial-masyarakat, walaupun kerap kali keadaan sulit, dan kebijakan yang ada tidak sesuai dengan kepentingan dan kehendaknya. Namun, mentalitas semacam ini, yakni kerja sama dan ikut ambil bagian, bukanlah hal asing bagi Indonesia, karena sudah selalu tertanam di dalam bentuk kerja sama yang sudah ada, yakni gotong royong.

Di dalam pemahaman tentang gotong royong, kesejahteraan bersama menjadi tujuan utama, dan bukan kesejahteraan sebagian orang, walaupun mereka adalah mayoritas. Kepentingan individu diperbolehkan, sejauh itu bisa ambil bagian di dalam kesejahteraan bersama suatu masyarakat. Sekali lagi perlu ditegaskan, “bersama” bukan berarti mayoritas, melainkan sungguh-sungguh semua orang yang ada. Di dalam terpaan neoliberalisme (uang dan keuntungan menjadi tolok ukur semua bagian kehidupan masyarakat) dan fundamentalisme agama (menjadikan satu tafsiran agama tertentu sebagai cara untuk mengatur hidup semua orang), budaya gotong royong di Indonesia terkikis, nyaris hilang. Namun, kemungkinan untuk menghidupkannya kembali selalu ada, dan kini, belajar dari Felber, budaya itu digabungkan dengan tata ekonomi kesejahteraan publik yang berpijak lebih kuat pada demokrasi dan martabat manusia, yang dijaga keberlangsungannya oleh sistem hukum dan perjanjian yang bersifat mengikat, namun terbuka.

Tolok Ukur Baru

Ekonomi kesejahteraan publik tidak melihat pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan utama. Uang, keuntungan, dan pertumbuhan ekonomi hanya dilihat berguna, sejauh ia mengembangkan kesejahteraan bersama seluruh warga. Jika uang, keuntungan dan pertumbuhan hanya menghasilkan kesenjangan yang besar antara yang kaya dan yang miskin, maka ia harus diatur lebih ketat, misalnya dengan kebijakan pajak, ataupun bentuk-bentuk lainnya. Tata ekonomi semacam ini, menurut saya, amat sangat cocok untuk konteks Indonesia. Lanjutkan membaca Ekonomi Kesejahteraan Publik untuk Indonesia

Apa yang Kita Cari dalam Hidup?

personal.psu.edu
personal.psu.edu

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Grup band Dream Theater terkenal dengan salah satu lagunya yang berjudul Spirit Carries On. Kalimat-kalimat pertama di dalam lagu itu amatlah menyentuh. Bunyinya begini: darimana kita berasal? Mengapa kita ada disini? Kemana kita pergi, setelah kita mati?

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan dasar yang dimiliki setiap orang. Agama berusaha menjawabnya. Terkadang, jawaban itu tidak cukup, karena manusia berubah, dan ia membutuhkan jawaban baru atas situasi hidupnya. Pertanyaan-pertanyaan ini, menurut saya, bisa dikerucutkan ke dalam dua pertanyaan dasar, yakni apa yang kita cari dalam hidup kita, dan bagaimana kita berusaha mendapatkannya?

Di dalam bukunya yang berjudul Symposion, atau perjamuan, Plato berusaha menjawab pertanyaan ini secara tidak langsung. Ia berbicara soal Eros, dewa cinta di dalam tradisi Yunani Kuno.1 Buku ini terdiri dari sekitar 80 halaman, dan terdiri dari dialog-dialog indah dan terkesan ironis. Latar belakang dari isi buku ini adalah pesta dari Agathon, seorang penyair, yang berhasil memenangkan perlombaan. Lanjutkan membaca Apa yang Kita Cari dalam Hidup?

Plato: Apologia Sokratus, atau Pembelaan dari Sokrates

lexundria.com
lexundria.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya

Ketika semua orang di sekitar kita mencuri, apakah kita akan ikut mencuri? Beranikah kita berkata “tidak” di dalam keadaan seperti itu? Atau, kita takut pada tekanan kelompok; takut dikucilkan? Ketika semua orang berkata “ya”, beranikah kita berkata “tidak”, jika itu adalah kata nurani kita?

Banyak orang takut pada tekanan kelompok. Mereka lalu menjadi konformis, yakni mengikut tekanan kelompok secara buta, tanpa pertimbangan lebih jauh. Dampaknya beragam, mulai dari korupsi berjamaah di berbagai instansi pemerintah di Indonesia, sampai dengan kerusuhan massal setelah menontong sepak bola. Apa yang harus kita lakukan, ketika kelompok atau masyarakat menekan kita untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan nurani kita?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu belajar dari Plato dan Sokrates. Plato menjabarkan soal semacam ini di dalam bukunya Apologia Sokratus. Para ahli masih berdebat, apakah isi buku itu merupakan pendapat Plato, atau Sokrates. Namun, saya rasa, yang penting bukanlah siapa yang menulis, tetapi apa isi tulisannya. Lanjutkan membaca Plato: Apologia Sokratus, atau Pembelaan dari Sokrates

Parmenides: Peri physeos, atau Tentang Alam (über die Natur)

http://library.duke.edu
library.duke.edu

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Kita hidup di era informasi. Begitu banyak informasi kita terima setiap harinya. Televisi, koran, internet bahkan tembok WC umum menawarkan informasi kepada kita. Apa yang terjadi di ujung dunia sebelah selatan bisa langsung kita ketahui melalui telepon selular yang kita gunakan setiap harinya.

Namun, tidak semua informasi itu benar dan layak disimak. Banyak yang hanya merupakan gosip. Banyak juga yang merupakan fitnah untuk memenuhi kepentingan politis tertentu, terutama pada waktu pemilihan umum politik, seperti Indonesia di 2014. Sebagian lainnya hanya informasi tak penting yang tak perlu disimak, seperti kisah hidup para artis.

Seringkali, kita bingung, karena banjir informasi semacam ini. Yang mana yang benar, dan yang mana yang salah? Apa yang harus dilakukan dengan semua informasi ini? Banyak juga informasi yang justru menyulut konflik, karena seringkali berpijak pada fitnah, atau fakta yang salah. Lanjutkan membaca Parmenides: Peri physeos, atau Tentang Alam (über die Natur)

Herakleitos: Peri Physeos, atau tentang Alam (Über die Natur)

la-img.com
la-img.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di München, Jerman.

Kita hidup di dunia yang terus berubah. Cuaca berganti. Hari berganti. Segalanya bergerak, seringkali tanpa kita sadari.

Namun, bukan hanya dunia yang berubah. Kita pun berubah di dalam dunia yang terus berubah. Hubungan kita dengan dunia adalah hubungan timbal balik. Artinya, dunia mengubah kita, dan, pada saat yang sama, kita pun mengambil bagian di dalam proses untuk mengubah dunia.

Perubahan adalah kenyataan yang tak dapat dibantah. Hari ini kita hidup. Besok mungkin kita sudah meninggal, atau orang yang kita sayangi telah meninggal. Tidak ada yang tahu. Pertanyaan penting disini adalah, bagaimana kita memaknai hidup yang terus berubah? Lanjutkan membaca Herakleitos: Peri Physeos, atau tentang Alam (Über die Natur)