Aristoteles dan Hidup yang Bermutu

smashingmagazine.com
smashingmagazine.com

Tentang buku Ethika Nikomacheia

Oleh Reza A.A Wattimena

Sedang di München, Jerman

Di tengah pengaruh iklan dan media yang menawarkan kenikmatan hidup, sulit bagi kita untuk melihat apa yang sungguh penting dalam hidup ini. Kita pikir, kita perlu cantik, cerdas dan kaya dalam hidup. Lalu, kita pun melihat tiga hal itu sebagai tujuan utama yang harus diraih dalam hidup. Jika gagal, lalu kita merasa tak berguna.

Apakah kecerdasan, kecantikan dan kekayaan adalah tujuan tertinggi hidup manusia? Inilah pertanyaan penting yang harus kita pikirkan bersama. Ada yang bilang, Tuhan-lah yang menjadi tujuan hidup manusia. Bagi banyak orang, pendapat itu terdengar terlalu abstrak, dan tidak banyak membantu di dalam kehidupan sehari-hari.

Aristoteles di dalam bukunya yang berjudul Ethika Nikomacheia, atau Etika Nikomacheia, mencoba menjawab pertanyaan ini. Buku tersebut ditulis sekitar tahun 340 sebelum Masehi.1 Kemungkinan, Nikomacheia adalah anak dari Aristoteles. Buku ini terdiri dari 300 halaman dan dianggap sebagai salah satu karya paling penting di dalam sejarah filsafat, terutama dalam bidang etika. Argumen pertama Aristoteles adalah, bahwa setiap tindakan selalu mengarah pada tujuan tertentu, yakni yang baik itu sendiri di dalam bidang itu.

Misalnya memasak. Memasak punya tujuan yang utama, yakni memasak dengan baik, sehingga menghasilkan makanan yang enak. Menyanyi juga bertujuan untuk menyanyi dengan indah, sehingga bisa menghibur orang. Ini berlaku untuk semua tindakan manusia.

Aristoteles juga membedakan dua macam tujuan. Tujuan pertama adalah tujuan yang ada di dalam dirinya sendiri, yakni di dalam tindakan itu sendiri. Tujuan kedua adalah tujuan yang ada di luar tindakan itu sendiri. Contoh tujuan kedua adalah membersihkan sepeda, supaya sepeda terlihat bagus. Contoh tujuan pertama adalah, seperti diberikan Aristoteles, bermain alat musik flut, yang memberikan kepuasan pada dirinya sendiri.

Sebagai manusia, setiap orang juga punya tujuan tertinggi, yakni mencapai Eudaimonia. Biasanya, kata ini diterjemahkan sebagai kebahagiaan, atau kepenuhan hidup. Ini adalah tujuan tertinggi dalam arti ini merupakan tujuan terakhir manusia. Tidak ada lagi selain ini.

Hidup yang bahagia dan penuh sekaligus juga adalah hidup yang bermutu tinggi, yakni hidup yang baik. Hidup yang baik berisi tindakan baik yang membawa kebaikan tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain. Hidup yang baik juga berarti hidup yang optimal, dimana semua kemampuan yang ada berkembang secara maksimal.

Hidup yang baik dan bahagia adalah tujuan tertinggi manusia, karena ia tidak memiliki tujuan apapun lagi di luar dirinya. Tujuan lain, misalnya uang dan nama besar, bukan merupakan tujuan tertinggi, karena itu hanya alat untuk mengantar kita pada tujuan lainnya, misalnya kebahagiaan hidup atau sejahtera bersama keluarga. Argumen ini amat penting di dalam etika Aristoteles.

Pada titik ini, ia lalu berpendapat, bahwa kebahagiaan dan kepenuhan hidup hanya dapat ditemukan di dalam kodrat alamiah manusia yang unik, yang membedakan ia dengan hewan maupun tumbuhan. Tumbuhan hanya memiliki dua kecenderungan, yakni makan dan melanjutkan keturunan. Manusia dan hewan juga memilikinya.

Hewan memiliki kemampuan untuk bergerak dan bereaksi, ketika menghadapi sesuatu. Sebagian tumbuhan memilikinya. Manusia juga memilikinya. Namun, manusia memiliki kemampuan yang tak dimiliki oleh hewan maupun tumbuhan, yakni berpikir dengan menggunakan akal budinya. Kebahagiaan dan kepenuhan hidupnya bisa dicapai, jika manusia mampu mengembangkan kemampuan akal budinya. Inilah jalan hidup seorang filsuf, yakni jalan hidup tertinggi yang bisa diraih oleh manusia.

Namun, akal budi bukan berarti hanya mengembangkan teori untuk memahami dunia, tetapi juga akal budi di dalam tindakan hidup sehari-hari. Dalam konteks ini, akal budi juga bertujuan untuk mengembangkan keutamaan-keutamaan di dalam diri manusia yang hanya bisa dimiliki oleh dirinya, dan bukan oleh hewan ataupun tumbuhan. Keutamaan adalah karakter yang terdapat di dalam diri manusia.

Keutamaan mempengaruhi cara berpikir dan cara bertindak manusia. Aristoteles lalu membedakan dua macam keutamaan, yakni keutamaan akal budi dan keutamaan etis. Keutamaan akal budi mencakup dual hal, yakni kebijaksanaan dan kecerdasan. Untuk mencapai hidup yang bahagia dan penuh, manusia harus belajar untuk menjadi bijak sekaligus cerdas.

Kecerdasan disini tidak hanya berarti mampu berpikir abstrak, tetapi kemampuan manusia untuk memahami keadaan di sekitarnya, lalu membuat keputusan dan pertimbangan-pertimbangan yang tepat atas keadaan itu. Pada titik ini, kecerdasan tidak dapat dilepaskan dari kebijaksanaan. Bentuk keutamaan kedua yang dirumuskan Aristoteles adalah keutamaan etis. Ia menyebutnya sebagai “kemampuan untuk berada di tengah”, yakni di antara dua titik ekstrem yang berbeda.

Titik tengah disini bukanlah berarti kompromi, namun lebih dari itu, yakni sesuatu yang lebih tinggi daripada dua titik ekstrem yang ada. Contoh lain yang diberikan Aristoteles adalah soal keutamaan kemurahan hati. Dia suka memberi kepada teman-temannya, dan kepada orang yang membutuhkan. Ada dua sikap ekstrem yang ingin dilampaui oleh keutamaan ini, yakni sikap pelit dan sikap suka menghambur-hamburkan. Kemurahan hati bukanlah kompromi dari dua sikap jelek tersebut, melainkan jalan tengah yang melampaui keduanya.

Kemurahan hati memiliki dua keutamaan lain, yakni sikap bertanggung jawab dan kepantasan. Dua hal inilah yang membuat sikap murah hati lebih tinggi daripada sikap pelit dan sikap suka menghambur-hamburkan. Pola yang sama juga dapat ditemukan di dalam keutamaan-keutamaan lainnya, yang dipandang Aristoteles sebagai jalan tengah, seperti kejujuran, sikap dapat dipercaya, dan sebagainya.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana manusia bisa memiliki keutamaan-keutamaan ini? Aristoteles tidak berbicara soal tindakan biasa, tetapi soal karakter dasar manusia, yakni soal keutamaan dirinya. Kita tidak dapat membuat orang menjadi berani hanya dengan berkata, “kamu harus berani!” Itu percuma. Keutamaan hanya dapat diperoleh melalui latihan dan pendidikan, kata Aristoteles.

Dari latihan dan pendidikan yang rutin, orang akan terbiasa dengan sikap tertentu. Keutamaan lalu diperoleh sebagai hasil dari pembiasaan hidup. Lalu, keutamaan akan menjadi bagian dari hidup orang tersebut, dan akan dilakukannya secara tanpa sadar. Ia akan menjadi jujur, berani dan murah hati secara tanpa sadar, setelah melalui proses pendidikan dan pembiasaan.

Orang yang “bertindak” jujur dan orang “yang” jujur adalah dua hal yang berbeda. Orang yang bertindak jujur bisa di tempat lain akan bertindak tidak jujur. Kejujuran hanya merupakan tindakan yang biasa berubah sewaktu-waktu. Sementara, orang yang jujur akan selalu bertindak jujur, apapun yang terjadi. Inilah orang yang berkeutamaan, sebagaimana dipahami oleh Aristoteles.

Di dalam buku ini, fokus pemikiran Aristoteles adalah soal manusia, dan bagaimana ia bisa sampai pada hidup yang bermutu. Baginya, dimensi sosial manusia amatlah penting. Hidup yang bermutu adalah hidup di dalam masyarakat secara aktif. Kebahagiaan dan kepenuhan hidup hanya dimungkinkan dengan keberadaan orang lain, warga lain, dan keluarga. Aristoteles akan mengembangkan ide ini nanti di dalam filsafat politiknya.

Tiga ide dasar Aristoteles yang amat penting untuk hidup kita. Yang pertama adalah Eudaimonia, atau kebahagiaan dan kepenuhan hidup. Ia mengingatkan kepada kita, apa yang sungguh penting dalam hidup ini. Bukanlah nama besar dan uang yang sungguh menjadi tujuan manusia, melainkan kebahagiaan dan kepenuhan hidup. Tidak ada yang lain.

Ini hanya dapat dicapai, jika kita mengembangkan kemampuan khas kita, yakni akal budi, baik dalam bentuk teori untuk memahami alam, maupun akal budi di dalam tindakan. Bentuk nyata dari semua ini adalah keutamaan hidup yang diperoleh melalui jalan tengah, yakni titik sikap hidup yang melampaui ekstrem-ekstrem yang ada. Orang tidak boleh jatuh pada sikap-sikap keras dalam hidup, melainkan harus selalu melampaui sikap-sikap tersebut.

Ini hanya dicapai, jika orang dididik untuk menjadi orang yang berkeutamaan. Teori tidak dapat membuat orang menjadi keutamaan, melainkan pembiasaan sikap hidup. Orang yang terbiasa berbuat baik akan menjadi orang yang baik. Ini akan mewarnai seluruh tindakan dan sikap hidupnya. Pandangan ini amat pas untuk situasi pendidikan Indonesia yang masih saja melihat nilai akademik dan hasil ujian sebagai ukuran utama pendidikan. Mau sampai kapan?

1 Saya mengikuti uraian König, Siegfried, Hauptwerke der Philosophie: Von der Antike bis 20. Jahrhundert, 2013 bab dengan judul Aristoteles: Ethika Nicomacheia (um 340 v. Chr.), dan Aristotle, Nicomachean Ethics, Cambridge University Press, Cambridge, 2004. Editornya adalah Roger Crisp. Saya mengacu hal. vii-xviii.

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

10 tanggapan untuk “Aristoteles dan Hidup yang Bermutu”

  1. Tulisannya sangat sistimatis & Logis pak, tapi ada yg perlu dipertanyakan : “Keutamaan lalu diperoleh sebagai hasil dari pembiasaan hidup. Lalu, keutamaan akan menjadi bagian dari hidup orang tersebut, dan akan dilakukannya secara tanpa sadar. Ia akan menjadi jujur, berani dan murah hati secara tanpa sadar, setelah melalui proses pendidikan dan pembiasaan”. Pendidikan yg seperti apa untuk menjadi orang yg berkeutamaan?
    Terimakasih..

    Suka

  2. “melihat nilai akademik dan hasil ujian sebagai ukuran utama pendidikan”… lalu sebaiknya penilaian seperti apa yg pas untuk kondisi skrg pak? Tes kejujuran? bukankah penilaiannya menjadi terkesan subyektif sang penilai pak? any idea?… Terimakasih

    Suka

    1. penilaian itu selalu subyektif. Tak bisa dihindarkan. Yang kita perlukan adalah penilaian demokratis. Siswa juga berhak menentukan nilai mereka, bukan hanya guru. Kalau perlu, siswa yang menentukan lulus tidaknya dirinya, bukan guru.

      Suka

      1. Untuk siswa yang dewasa & mempunyai kesadaran tinggi, hal itu mungkin pak, tapi pastinya tidak semua siswa yg seperti itu sehingga output dari pendidikan tidak tercapai. Teladan dari guru & masyarakat masih terlalu konsepsional. Tapi pemikiran ini hendaknya dikembangkan oleh orang2 yg terlibat langsung di pendidikan supaya lebih aplikatif (bisa diimplementasikan). Salam…
        Terimakasih.

        Suka

      2. penilaian demokratis memang sulit. Tapi kita harus mulai percaya sama murid2 kita bukan? LAgi pula, apa output dari pendidikan? Bukankah untuk penyadaran dan pembebasan diri manusia? Terima kasih juga Bung Patar atas komentar2nya. Amat sangat berharga.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s