Siap Menang, Siap Kalah: Tentang Kebebasan Hati

blogspot.com
blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Manusia hidup dengan tujuan di dalam hatinya. Tujuan itu memacunya untuk bangun pagi, dan kemudian bekerja. Tanpa tujuan, hidupnya terasa hampa. Tujuan yang mengental kuat kerap menjadi ambisi.

Ia lalu berusaha untuk mencapai ambisi tersebut. Segala daya upaya dilakukan, supaya ambisi itu menjadi kenyataan. Di dalam pertarungan politik dan bisnis, cara-cara yang jahat pun kerap digunakan. Tujuan dan ambisi hidup sering mengaburkan tata nilai dalam hidup kita.

Ambisi membuat kita hidup dalam tegangan. Kecemasan dan kegelisahan hidup membayangi hidup orang yang berambisi. Satu hal yang pasti disini, usaha bisa dilakukan, tetapi hasil tidak ada yang bisa memastikan. Ketidakpastian ini membuat tegangan di dalam diri menjadi semakin besar.

Di dalam setiap keputusan, selalu ada dua kemungkinan, gagal atau berhasil. Kemenangan adalah kemungkinan. Keberhasilan adalah kemungkinan. Ia bukanlah kemutlakkan, bahkan jika kita telah mengupayakan segala cara untuk mencapainya.

Kekalahan dan kegagalan juga suatu kemungkinan nyata. Ia dijauhi. Namun, ia terus menghantui setiap usaha kita. Ia tak bisa disangkal, walaupun kita mengupaya segala cara untuk menjauhinya.

Ada satu cerita kecil dari Cina Kuno. Ketika seorang pemanah memanah tanpa kepentingan dan emosi, ia memiliki kemampuan tertingginya. Kemungkinan besar, ia akan berhasil. Ketika ia memanah untuk memenangkan pertandingan, kemampuannya menurun seperempat. Kemungkinan besar, ia akan gagal memanah targetnya. Ketika ia memanah untuk mendapatkan hadiah emas dan permata, ia kehilangan seluruh kemampuannya. Kegagalan adalah kepastian.

Inti dari cerita ini adalah soal kebebasan di dalam hati. Orang harus berusaha, tanpa emosi dan obsesi akan keberhasilan di masa depan. Ia harus berusaha, tanpa terpaku pada hasil yang akan dicapainya di masa depan. Pendek kata, ia harus berusaha dengan kebebasan: siap menang, dan siap kalah.

Kekalahan adalah “kata”. Ia adalah label yang kita tempelkan pada suatu peristiwa. Ia bukanlah kenyataan itu sendiri. Ia adalah tempelan pikiran kita atas pengalaman tertentu.

Begitu pula dengan kemenangan. Ia juga adalah “kata”. Ia juga adalah label. Ia bukanlah kenyataan dan ia akan berubah, sejalan dengan perubahan manusia dan masyarakat.

Keduanya sementara dan semu. Keduanya akan berubah. Keduanya akan datang, dan kemudian pergi. Orang yang menjadikan kemenangan ataupun kekalahan sebagai tujuan sekaligus obsesi dalam hidupnya berarti menjalani hidup yang palsu.

Sejatinya, hidup bukanlah soal menang atau kalah. Ia bukanlah perlombaan. Ia bukanlah pertempuran. Ia bukanlah pengejaran ambisi. Ia bukanlah usaha untuk menghindari kegagalan atau kekalahan.

Sejarah manusia juga sudah membuktikan ini. Pemenang di masa lalu akan kalah di masa kini. Yang kalah di masa lalu juga akan menang di masa kini, atau di masa depan. Roda hidup bergerak, tak peduli, siapa yang kalah, siapa yang menang.

Kita tidak boleh sibuk terfokus pada kalah dan menang. Semuanya adalah semu dan palsu. Kita perlu belajar untuk melihat apa yang lebih kekal dan lebih dalam dari kekalahan ataupun kemenangan. Kita perlu untuk “melampaui” kekalahan dan kemenangan.

Apa yang kekal? Yang kekal adalah kebebasan hati. Kita perlu berusaha menyadari hidup kita, lalu mencapai kebebasan di dalam hati. Kebebasan ini membuat kita tidak lagi memilih antara menang atau kalah. Kita juga tidak lagi memilih sakit atau senang, kaya atau miskin. Kita bebas dari obsesi dan ambisi, sambil terus bekerja mengisi hidup kita dengan hal-hal yang bermakna.

Siap menang, siap kalah, itulah tanda kebebasan hati. Tim sepak bola Brazil harus menelan banyak kekalahan besar di Piala Dunia 2014 lalu. Mereka siap menang, lalu belajar untuk kalah. Mereka pemenang di masa lalu. Namun, kini, mereka merasakan cecap kekalahan.

Prabowo telah kalah dan mengundurkan diri dari Pemilu politik Indonesia 2014 ini. Ia bekerja keras untuk menang. Ia berambisi dan terobsesi untuk menang. Namun, apakah ia siap untuk kalah? Apakah ia punya kebebasan di dalam hatinya untuk menjalani kekalahannya?

Kebebasan dalam hati membuat orang melampaui menang dan kalah dalam hidupnya. Ia lalu bisa melihat keadaan hidupnya dengan jernih. Kejernihan ini menghasilkan kedamaian hati. Hidupnya bahagia. Ia tak lagi gelisah mengejar ambisi, atau takut akan kegagalan.

Kebebasan dalam hati membuat kita bisa memutuskan dengan jernih. Kita tidak lagi dikotori oleh kepentingan maupun ambisi. Kita tidak lagi memiliki emosi negatif yang mengotori penilaian kita. Kita akan hidup dengan bahagia, dan bisa menjadi pemimpin yang baik di bidang-bidang yang kita jalani.

Dengan kebebasan hati, keberhasilan dan kegagalan tidak memiliki arti lagi dalam hidup kita. Kita siap kalah, siap menang, bahkan siap untuk kehilangan segalanya. Kita siap untuk segalanya. Hati kita tenang, walaupun dunia seolah terbalik.

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

4 thoughts on “Siap Menang, Siap Kalah: Tentang Kebebasan Hati”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s