Seneca dan Kebebasan Batin

miro - seneca
blogspot.com

Seneca di dalam De vita Beata

Oleh Reza A.A Wattimena

Hidup adalah perjalanan yang penuh dengan bunga dan duri. Ini tidak dapat disangkal. Setiap orang mengalami masa-masa gelap dalam hidupnya. Namun, disela-sela masa-masa itu, mereka pun menemukan kebahagiaan.

Banyak orang yang lelah dengan perjalanan ini. Bagaimana mungkin saya bisa merasa bahagia, ketika saya tahu, ini semua hanya sementara, dan besok atau mungkin nanti sore, musibah lain akan datang menimpa saya? Orang-orang seperti ini lalu mencari cara untuk melampaui jatuh bangunnya kehidupan. Ada beragam cara, mulai dari menggunakan narkoba (ganja, heroin, ampfetamin), belanja gila-gilaan (konsumtivisme?), menjadi pengguna jasa pelacuran tetap (sex sampai mati untuk menutupi kesedihan?), menumpuk kekayaan (kalau perlu dengan korupsi?), pencarian segala bentuk kenikmatan lainnya (pesta setiap malam atau makan tanpa henti?), sampai dengan bunuh diri.

Pertanyaan penting disini adalah, apakah harus seperti itu? Apakah hidup itu harus selalu jatuh bangun dan naik turun? Apakah ada cara hidup yang lain? Untuk menjawab ini, kita perlu untuk menengok pemikiran Seneca.

Seneca adalah salah satu filsuf Yunani Kuno yang hidup pada 1 sampai 65 setelah Masehi.1 Ia menulis buku De Vita Beata (tentang Hidup yang Bahagia), yang merupakan kumpulan surat kepada kakaknya, Gallio, pada 58. Bagi para ahli pemikiran Yunani Kuno, ini merupakan buku terpenting yang pernah ditulis oleh Seneca. Dari tulisan ini, kita bisa melihat, bahwa Seneca bukan hanya seorang filsuf, tetapi juga penulis yang memiliki gaya yang indah dan memikat.

Tulisan ini terdiri dari 36 halaman. Tema utamanya adalah soal kebahagiaan. Di dalam buku ini, Seneca memiliki pandangan yagn berbeda dengan Epikuros. Bagi Seneca, hidup yang bahagia adalah hidup yang berjalan harmonis dan alamiah. Kebahagiaan tidaklah terkait dengan kenikmatan, tetapi dengan keutamaan, yakni hidup yang secara alami sesuai dengan gerak dan hukum-hukum alam.

Kenikmatan seringkali menjadi godaan bagi orang, sehingga ia tidak lagi mengejar keutamaan. Maka, dorongan untuk meraih kenikmatan haruslah diatur, atau bahkan sungguh-sungguh dilawan. Pada satu titik, orang lalu tidak lagi memilih, apakah ia mencari kenikmatan atau penderitaan lagi. Ia menjadi bebas dari segala bentuk kecenderungan emosi manusia, lalu menjadi pasrah dan menerima hidup apa adanya.

Inilah kebahagiaan yang sejati, menurut Seneca, yakni ketika orang tidak lagi memilih rasa sakit atau rasa nikmat, melainkan menjadi bebas dari keduanya. Ia tidak lagi terpengaruh oleh keduanya. Ia menjadi tenang sepenuhnya. Ia tidak merasa sedih sekaligus tidak merasa senang, walau dunia sekitarnya terus berubah.

Hidup adalah rangkaian peristiwa. Ada peristiwa yang sedih dan ada yang peristiwa yang menyenangkan. Orang tidak boleh memilih salah satu dari antara keduanya, jika ia ingin sampai pada kebahagiaan. Kebahagiaan hanya dapat diraih, jika orang mampu menerima semua peristiwa dengan lapang dada, tanpa memilih apapun. Inilah inti utama dari keutamaan yang dinyatakan Seneca, yang nantinya banyak dikenal sebagai sikap Stoik.

Sikap Stoik (Seneca juga dikenal sebagai seorang pemikiran Stoa) berusaha untuk membuat kita tak gelisah dengan hal-hal yang berubah dalam hidup. Ketika kita mendapat keberuntungan, kita gembira sekali. Namun, ketika musibah datang, dan musibah PASTI datang, kita lalu merasakan sedih yang sangat dalam. Keduanya, menurut Seneca, adalah tanda, bahwa manusia belum sampai pada apa yang yang sejati, yakni kebebasan batin itu sendiri.

Keduanya harus dihindari. Keduanya haruslah disingkirkan dari pikiran. Kita perlu untuk mencari yang lebih tinggi dari keduanya, yakni ketenangan batin yang tidak berpihak pada kesedihan ataupun kesenangan. Ketenangan yang lahir dari kebebasan jiwa, dan bukan dari ledakan emosi-emosi sesaat belaka.

Ketenangan dan kebebasan batin semacam itu hanya dapat diperoleh, jika orang hidup sesuai dengan hukum-hukum alam. Artinya, orang itu bersikap pasrah pada apa yang terjadi padanya, karena alam sudah selalu tahu, apa yang terbaik untuk orang itu. Kepasrahan diri pada gerak alam adalah inti dari kebebasan batin. Inilah inti dari kebahagiaan sejati.

1 Saya mengikuti uraian König, Siegfried, Hauptwerke der Philosophie: Von der Antike bis 20. Jahrhundert, 2013 bab dengan judul Seneca: vom glücklichen Leben (58).

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

14 tanggapan untuk “Seneca dan Kebebasan Batin”

  1. Hidup itu karunia ,,isi dengan manfaat untuk orang lain,,sayangnya orang menilai kebahagian selalu dengan materi,,padahal kita punya naugerah yang agung,,cinta
    Powered by Telkomsel BlackBerry®

    Suka

  2. Mirip dengan konsep ajaran Hindu tentang Karma. Kebahagiaan sejati adalah saat jiwa terbebas dari karma (hukum alam) dan bersatu dengan roh universal, Atman. Saya jadi bertanya-tanya, seberapa berpengaruhnya kebijaksanaan Timur bagi Yunani?

    Suka

  3. sering kali karena rasa tenang dalam menghadapi apapun peristiwa dalam hidup ini termasuk hubungan interaksi dengan sesama di dalam organasisai sering orang ragu apakah saya berpura-pura tenang…. padahal memang sy sersan: serius namun tetap bisa santai…mengapa ya tidak banyak orang mau belajar menjadi manusia yang natural, apa adanya dan menikmati hidup ini ?…

    Suka

  4. Senang berdiskusi dengan bapak…Ini mungkin yang disebut hidup ikhlas, karena kebahagiaan hakiki sudah ada didalam diri (tidak perlu dicara kemana-mana)…pasrah tapi tetap menjalankan apa adanya secara alami…penuh karena sudah terisi dualitas itu sendiri, kosong karena semua realitas adalah konsep, lantas kehidupan hakiki adalah keseimbangan itu sendiri? keseimbangan yang berada di titik tertinggi “pencerahan/enlightment” (Everything is perfect the way they are)…pencerahan batin ilahiah (yang mungkin tidak dapat terdeskripsikan)…pertanyaannya adalah apakah kemajuan suatu bangsa, teknologi, kemakmuran, perdamaian, peradaban, yang menjadi realitas (istilah bapak disebut konsep) merupakan hasil dari gerak sebelum pikiran “secara kolektif”? (intuisi)? jika ya, apakah yang sebelum intuisi?
    sebagai contoh : para penemu yang berhasil menciptakan listrik, pesawat terbang dan sebagainya, apakah ini juga hasil dari gerak sebelum pikiran atau sebelum intuisi? dengan kata lain, para penemu tidak bercita-cita jadi penemu, jika ya, siapa yang menunjuk penemu ini atau men-trigger penemu menciptakan sesuatu?
    Many thanks in advance ya, Pak.

    Suka

    1. terima kasih. Di mata pikiran yang tercerahkan,tidak ada kemajuan. Tidak ada kemunduran. Semua apa adanya. Ini memang sulit sekali dijelaskan. Kuncinya adalah paham arah, yakni menolong sebanyak mungkin mahluk hidup. Seringkali, apa yang kita sebut kemajuan justru merupakan kemunduruan buat mahluk lain, ataupun orang lain. Hati-hati dengan kata kemajuan dan kemunduran.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s