Tentang Susunan dari Kenyataan yang Ada

saduluhouse.org
saduluhouse.org

Aristoteles di dalam Metafisika

Oleh Reza A.A Wattimena

Sedang Penelitian Filsafat Politik di München, Jerman

Sulit menghindar dari pertanyaan-pertanyaan, ketika kita memiliki anak atau kerabat yang masih berumur 2 sampai 6 tahun. Mereka ingin tahu segala sesuatu, mulai dari hal kecil, seperti upil di hidung, sampai dengan matahari di atas sana. Ketika kita bertambah usia, sulit rasanya mengingat, bahwa kita pernah memiliki rasa penasaran sebesar itu.

Di dalam filsafat, pertanyaan tentang susunan serta hakekat dari segala yang ada adalah salah satu pertanyaan terpenting. Pertanyaan ini menjadi dasar dari seluruh filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi modern, sebagaimana kita kenal sekarang ini. Salah satu filsuf yang mencoba menjawab pertanyaan ini secara sistematik adalah Aristoteles.

Aristoteles adalah murid Plato. Ia menulis buku dengan judul Ta meta ta physika, atau Metafisika, pada 340 sebelum Masehi. Buku ini bukanlah sebuah karya utuh, melainkan kumpulan tulisan pendek dari Aristoteles. Ia menamai kumpulan tulisan tersebut sebagai “filsafat pertama”.1

Buku ini sempat menghilang dan ditemukan kembali di perpustakan Alexandria, Mesir. Ia terletak di urutan setelah buku-buku fisika. Judul buku itu pun bisa diartikan sebagai “setelah” fisika, yakni metafisika. Menurut Siegfried, judul buku itu langsung menggambarkan isi utama dari buku tersebut.

Tujuan dari buku ini adalah memahami kenyataan yang ada di sekitar kita. Aristoteles memulai dari hal-hal material yang ada di sekitar kita yang secara langsung bisa dialami. Pola semacam ini, yakni memahami kenyataan yang ada, akan menjadi salah satu tema utama di dalam filsafat, yakni metafisika sebagai bagian penting dari filsafat.

Tantangan terbesar dari buku ini adalah gaya menulis Aristoteles yang begitu kering dan kaku. Pembaca pasti kesulitan memahami maknanya, ketika pertama kali membaca buku ini. Ada dua penyebab. Pertama, Aristoteles memang menulis buku ini untuk pembaca umum, melainkan untuk para filsuf, atau akademisi di bidang filsafat. Kedua, buku ini bukanlah karya utuh, melainkan kumpulan tulisan. Ini membuat susunannya menjadi terkesan tidak runtut.

Tema utama dari buku ini adalah soal “Ada”, yakni sejauh konsep ini dapat dipikirkan dengan akal budi. “Ada” adalah keseluruhan kenyataan yang ada. Namun, “Ada” memiliki banyak bentuk di dalam kenyataan yang ada. Ia juga memiliki tingkatan di dalam dirinya sendiri.

Buku Metafisika terdiri dari sekitar 400 halaman. Ada 4 bab, atau buku, di dalamnya. Buku pertama terdiri dari sekitar 35 halaman. Isinya tentang berbagai pemikiran yang telah ada sebelum Aristoteles tentang pengetahuan manusia. Sebagian besar isinya menjabarkan pemikiran filsuf sebelum Sokrates dan pendapat Plato tentang pengetahuan manusia.

Isi utama buku Metafisika terdapat pada bab 5, atau buku kelima. Di dalamnya, Aristoteles menjabarkan berbagai konsep yang menjadi dasar dari metafisika, yakni Prinsip, Penyebab, Hakekat, Keniscayaan dan lainnya. Bagian seterusnya mencoba menjelaskan arti dari konsep Substansi, dan bagaimana ia menjadi dasar dari segala yang ada di dalam kenyataan.

Secara padat, Aristoteles berpendapat, bahwa Substansi adalah sesuatu yang tidak lagi memerlukan apapun, selain dirinya sendiri. Lawan dari konsep Substansi adalah Penampakan, yakni hal-hal yang tidak terlalu penting, dan dapat berubah. Contohnya adalah warna, ukuran, berat dan sebagainya. Bagian terpenting dari buku Metafisika adalah pembedaan antara materi dan forma.

Hakekat dari benda-benda adalah formanya. Namun, forma tidak bisa ada dengan sendirinya. Ia membutuhkan materi untuk mewujudkan dirinya sendiri. Sebaliknya, materi juga membutuhkan forma. Tanpa forma, ia bukanlah apa-apa.

Forma juga dapat dianggap sebagai penyebab (atau pencipta) dari sesuatu. Sementara, materi dapat dianggap sebagai akibat dari forma, atau dampak selanjutnya dari forma. Di antara dua konsep ini, ada juga konsep ketiga, yakni gerak perubahan dari potensi menjadi kenyataan. Di titik ini, ia lalu mengkritik Plato.

Bagi Plato, hakekat dari sesuatu ada di dalam ide dari sesuatu itu. Namun, Aristoteles tidak setuju. Baginya, hakekat dari benda adalah formanya, yakni bentuk yang memberi isi pada materi. Forma tersebut awalnya hanya berupa kemungkinan (potensi), lalu berkembang menjadi kenyataan. Misalnya biji jeruk (potensi) yang nantinya berkembang menjadi pohon jeruk (kenyataan) yang menghasilkan buah jeruk.

Contoh lainnya adalah kursi kayu. Materi dari kursi kayu adalah, jelas, kayu. Formanya adalah “kursi”. Esensi dari kursi kayu adalah formanya, yakni “kursi”. Kursi tersebut memiliki kemungkinan untuk digunakan sebagai alat bekerja, atau lainnya, sesuai dengan keperluan. Ia bisa digunakan untuk berbagai hal.

Segala sesuatu di kenyataan mengalami perubahan. Ada dua akar perubahan, yakni dari dalam benda itu sendiri, atau dari luar. Misalnya, pertumbuhan biji jeruk menjadi pohon jeruk muncul dari dalam biji itu sendiri. Pelaku utama perubahan adalah biji jeruk itu sendiri. Namun, mobil yang kotor tidak akan otomatis berubah menjadi bersih. Harus ada pelaku dari luar yang membersihkannya: mengubahnya menjadi bersih.

Aristoteles lalu berpendapat, bahwa di balik semua itu, ada satu pelaku perubahan yang abadi dan tak berubah. Ia menyebutnya sebagai penyebab pertama. Ini adalah pemikiran logis, bahwa segala sesuatu ada penyebabnya, dan ada satu penyebab yang menyebabkan semuanya. Ia berada di paling awal, dan menggerakkan semuanya.

Penyebab pertama ini bersifat abstrak. Ia tidak ada hubungan dengan dunia. Ia berada pada dirinya sendiri, dan tidak membutuhkan apapun, selain dirinya sendiri. Konsep ini nantinya berkembang di dalam tradisi Kristiani untuk menjelaskan keberadaan Tuhan.

Aristoteles mengajarkan kita untuk memahami kenyataan yang ada secara rasional dan sistematis. Ia mengembangkan teori tentang susunan dari kenyataan yang ada tidak secara teologis, yakni menggunakan penjelasan Tuhan di dalam agama ataupun Dewa-dewi di dalam mitologi Yunani Kuno, melainkan dengan penalaran akal budi. Cara berpikir semacam ini akan menjadi dasar dari perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di Eropa selanjutnya yang akan melahirkan teknologi modern, seperti kita kenal sekarang ini.

1 Saya mengikuti uraian König, Siegfried, Hauptwerke der Philosophie: Von der Antike bis 20. Jahrhundert, 2013 bab dengan judul Aristoteles: Metaphysik (um 340 v. Chr.), dan Politis, Vasilis, Aristotle and the Metaphysics, Routledge, London, 2004, hal. 1-3.

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

One thought on “Tentang Susunan dari Kenyataan yang Ada”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s