Publikasi Terbaru: Pedagogi Kritis

Pemikiran Henry Giroux Tentang Pendidikan dan Relevansinya untuk Indonesia

Oleh Reza A.A Wattimena

Diterbitkan di 

Jurnal Filsafat, ISSN: 0853-1870 (print); 2528-6811 (online) Vol. 28, No. 2 (2018), p. 180-199, doi: 10.22146/jf.34714

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Tulisan ini merupakan kritik terhadap pedagogi tradisional di dalam pendidikan dengan menggunakan konsep pedagogi kritis yang dirumuskan oleh Henry Giroux. Pedagogi kritis berupaya mempertanyakan dan mengungkap hubungan-hubungan kekuasaan di dalam masyarakat yang menciptakan penindasan dan ketidakadilan sosial. Ia menyediakan wawasan yang luas sekaligus kepekaan moral untuk mendorong orang terlibat di dalam perubahan sosial, guna menciptakan masyarakat yang lebih bebas dan adil. Pedagogi kritis hendak mempertanyakan pola pikir neoliberalisme yang kini merasuki berbagai bidang kehidupan manusia. Tulisan ini juga melihat kemungkinan menerapkan konsep pedagogi kritis dari Henry Giroux untuk konteks Indonesia.

Silahkan diunduh: Pedagogi Kritis Giroux 2

 

Koruptor yang Santun

Saatchi Art

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Salah satu sekolah di Jakarta mengeluh, karena murid-muridnya banyak berperilaku kurang ajar. Mereka cenderung tak bisa diatur. Mereka juga cenderung tak hormat terhadap orang lain, apalagi terhadap orang yang lebih tua. Mereka juga menjadi pengguna berlebihan beragam gadget teknologi yang ada sekarang, tanpa bisa dikontrol.

Akhirnya, sekolah ini memutuskan untuk memberikan pelatihan terhadap murid-murid tersebut dalam bentuk latihan dasar kepemimpinan. Alasannya sederhana. Mereka ingin, supaya murid-murid sekolah tersebut bisa lebih patuh. Mereka ingin, supaya murid-muridnya menjadi lebih mudah dikendalikan, sesuai dengan keinginan keluarga dan sekolah. Lanjutkan membaca Koruptor yang Santun

Agama, Kemiskinan dan Politik Kekuasaan

Evening Standard

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Seorang teman bertanya, mengapa orang Indonesia begitu fanatik dengan agamanya? Ia berasal dari negara yang tak peduli pada agama. Maka dari itu, ia heran, mengapa orang Indonesia sangat gandrung dengan agama. Saya terdiam di hadapan pertanyaan tersebut.

Saya mulai berpikir soal asal muasal agama. Mengapa agama ada? Mengapa ia bisa begitu tersebar di berbagai belahan dunia? Lanjutkan membaca Agama, Kemiskinan dan Politik Kekuasaan

Merasa “Tak Berguna”?

Nikolina Petolas

Oleh Reza A.A Wattimena

Seorang teman selalu mengeluh. Dia bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 9 malem, bahkan di hari Sabtu. Untuk bisa sampai di kantor jam 8, ia harus berangkat jam 6 pagi. Memang, pendapatannya besar. Asuransi dan tunjangannya juga tinggi.

Namun, ia merasa lelah. Ia tak punya waktu untuk keluarga dan teman. Di hari libur, ia hanya bisa tidur, karena sudah amat lelah. Ia merasa tak berguna, karena hidup hanya menjadi budak korporat. Lanjutkan membaca Merasa “Tak Berguna”?

Indonesia Darurat Filsafat

Oleh Reza A.A Wattimena

Dalam banyak hal, Indonesia memang sedang darurat akal sehat. Ini berarti, Indonesia sedang darurat filsafat, karena filsafat merupakan alat utama untuk mengembangkan akal sehat manusia. Filsafat pula yang melahirkan pemikiran-pemikiran besar yang mengubah dunia. Di peradaban Eropa, filsafat yang melahirkan ilmu pengetahuan modern dan teknologi, sebagaimana bisa dirasakan sekarang ini.

Filsafat, Agama dan Ilmu Pengetahuan

Di Indonesia, filsafat nyaris tak mendapat tempat. Kita lebih terpukau dengan agama dan ilmu pengetahuan modern. Ada dua masalah disini. Pertama, agama selalu berpijak pada kepercayaan mutlak terhadap tradisi, sehingga kerap kali menutup akal sehat dan pemikiran kritis. Ini merupakan salah satu sebab berkembangnya radikalisme agama di Indonesia sekarang ini. Lanjutkan membaca Indonesia Darurat Filsafat

Zen dalam Bencana

British Journal of Photography

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Praktisi Zen

Hidup manusia memang dipenuhi bencana. Penderitaan kerap kali mengikuti, setelah bencana terjadi. Bencana yang menimpa Lombok dan Bali jelas merupakan hal menyedihkan yang menciptakan banyak penderitaan. Bagaimana kita memahami semua ini?

Pemikir asal Jerman, Viktor Frankl, berpendapat, bahwa segala bentuk penderitaan bisa dijalani, jika orang memiliki makna dalam hidupnya. Makna ini bisa berupa keluarga, nilai-nilai kehidupan atau Tuhan. Namun, bencana yang begitu menyakitkan kerap kali membunuh semua makna yang ada. Orang justru jatuh ke dalam rasa putus asa. Lanjutkan membaca Zen dalam Bencana

Filsafat untuk Ketahanan Nasional

Paul Nash

Oleh Reza A.A Wattimena

Tidak bisa dipungkiri, bangsa Indonesia sedang dihantam dari berbagai penjuru. Di satu sisi, ideologi neoliberalisme merasuk ke dalam sendi-sendiri politik, ekonomi, hukum dan budaya Indonesia. Di dalam ideologi ini, uang menjadi raja, dan segalanya tunduk pada kekuatan uang. Politik bisa dibeli dengan uang. Bahkan hukum dan budaya, yang menjaga kelestarian hidup bersama, juga bisa dibeli dengan uang.

Kursi politik bisa diperoleh oleh penawar tertinggi. Hukuman bisa dikurangi dengan suap menyuap. Gaya hidup masyarakat pun dipenuhi dengan berbagai upaya untuk memperoleh uang, dan membelanjakannya untuk kesenangan pribadi. Nilai-nilai kesederhanaan hidup dan solidaritas terkikis habis. Lanjutkan membaca Filsafat untuk Ketahanan Nasional

Gunakan Akal Sehat

Trauma by Animesh Nandi

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Kita sudah hidup. Namun, kita belum hidup dengan akal sehat. Pikiran kita dijajah oleh emosi dan tradisi. Kita bahkan tak mampu melihat kemungkinan-kemungkinan di luar tradisi, baik itu tradisi budaya maupun agama yang diwariskan kepada kita.

Di dalam hidup, kita juga berpolitik. Sayangnya, kita belum berpolitik dengan akal sehat. Politik masih dilihat sebagai ajang perebutan kekuasaan dan pengumbaran kerakusan. Akibatnya, banyak keputusan politik justru merugikan rakyat banyak, dan menghancurkan dunia politik itu sendiri. Lanjutkan membaca Gunakan Akal Sehat

Publikasi Terbaru: Pendidikan Gila Gelar?

Pendidikan Gila Gelar? Pemikiran Julian Nida-Rümelin tentang “Kegilaan Akademisasi” (Akademisierungswahn) di Uni Eropa dan Amerika Serikat serta Arti Pentingnya untuk Keadaan Indonesia

Oleh Reza A.A Wattimena

Diterbitkan di Wanua: Jurnal Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Hasanuddin  Volume 3 Issue 3, December 2017 

Tulisan ini ingin menjabarkan beberapa argumen penting dari Julian Nida-Rümelin terkait dengan kegilaan akademisasi yang terjadi di Amerika Serikat dan Uni Eropa, serta menunjukkan arti pentingnya bagi keadaan di Indonesia. Kegilaan akademisasi ini tampak jelas pada obsesi masyarakat luas dan pemerintah terhadap gelar akademik, serta melupakan unsur pendidikan lainnya, yakni pendidikan yang berfokus langsung pada keterampilan kerja. Ini terjadi, karena kesalahpahaman pemerintah dan masyarakat luas tentang arti pendidikan, serta kesalahpahaman tentang hubungan antara kebijakan politik pendidikan dengan keadaan ekonomi nyata di lapangan. Nida-Rümelin menawarkan analisis terhadap hal ini, sekaligus jalan keluar dari permasalahan pendidikan yang terjadi, yakni dalam bentuk pengakuan kesetaraan antara dual pendidikan keterampilan kerja di satu sisi, dan pendidikan akademik di sisi lain. Keduanya tetap didasarkan pada pandangan filosofis tentang pendidikan sebagai pengembangan kepribadian. Beberapa relevansi atas argumen ini terhadap keadaan Indonesia, beserta dengan tanggapan kritis atasnya, juga akan diberikan di dalam tulisan ini.

Silahkan download Gila Gelar, Pendidikan Nida Rümelin

 

Antara Petarung dan Penyatu

Drawdeck

Oleh Reza A.A Wattimena

Dunia terbelah oleh dua keutamaan sekarang ini. Di satu sisi, keutamaan petarung lahir dan berkembang. Di sisi lain, keutamaan penyatu juga tersebar di berbagai tempat. Di dalam kolomnya di New York Times, David Brooks menyebut kedua keutamaan ini sebagai keutamaan Athena (petarung) dan keutamaan Jerusalem (penyatu). (Brooks, 2018)

Keutamaan petarung adalah keutamaan kekuatan dan kekuasaan. Keberanian menjadi unsur utama di dalam keutamaan ini. Keberanian juga harus dibalut dengan kekuatan maupun kekuasaan yang besar. Tujuan utamanya adalah untuk mengalahkan musuh-musuh yang dianggap menganggu. Lanjutkan membaca Antara Petarung dan Penyatu

Percakapan Zen

Lebih lanjut bisa dilihat di dua buku berikut:

Bisa diperoleh di:

Penerbit Karaniya
JL.Mangga I Blok F 15
Duri Kepa, Kebon Jeruk
Jakarta Barat 11510
Telepon: +6221 568 7957
WhatsApp: +62 813 1531 5699

Atau di Toko Buku Terdekat

Fenomenologi Ketidaktahudirian

DeviantArt

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Mengapa ada orang yang tidak tahu diri? Pertanyaan ini menjadi penting di tengah pengajuan presiden dan calon presiden untuk Pilpres 2019 nanti. Fenomenologi mencoba mendekati keadaan sebagaimana adanya (zurück zu den Sachen selbst). Pendekatan ini kiranya penting untuk memahami sepak terjang politisi Indonesia sekarang ini.

Nuansa ketidaktahudirian tercium pekat di udara. Masa depan politik Indonesia pun dipertaruhkan.

Tidak Tahu Diri

Tidak tahu diri memiliki tujuh unsur. Pertama, ketidaktahudirian berakar pada ketidaktahuan (Unwissenheit). Orang yang tak sadar kemampuan, lalu berlagak untuk mengambil peran besar, akan menjadi orang yang tak tahu diri. Sayangnya, di Indonesia, banyak orang tak kenal dirinya sendiri, sehingga tak sadar pada kemampuannya. Mereka lalu berlagak di panggung politik untuk menjadi pemimpin yang penuh dengan omong kosong. Lanjutkan membaca Fenomenologi Ketidaktahudirian

Merobohkan Tembok-tembok Keilmuan

Oleh Reza A.A Wattimena

Semua ilmu pengetahuan modern dimulai dari filsafat. Filsafat, dengan kata lain, adalah ibu dari semua ilmu pengetahuan modern, seperti kita kenal sekarang ini. Fisika, biologi, kedokteran, kimia serta turunannya, seperti teknik, dikenal sebagai filsafat alam (natural philosophy). Sementara, hukum dan politik dikenal sebagai filsafat sosial (social philosophy).

Berawal dari Filsafat

Awal dari filsafat adalah rasa kagum terhadap segala yang ada. Keindahan dan keteraturan dari alam semesta juga membuat orang penasaran. Dari dua hal inilah lalu para filsuf pertama mencoba untuk memahami dunia dengan menggunakan penalaran akal sehat (rational reasoning). Mitos, tradisi dan agama sebagai penjelasan pun ditinggalkan. Lanjutkan membaca Merobohkan Tembok-tembok Keilmuan

Buku Terbaru: Mencari Ke Dalam, Zen dan Hidup yang Meditatif

Pemesanan bisa di 
Penerbit Karaniya
JL.Mangga I Blok F 15
Duri Kepa, Kebon Jeruk
Jakarta Barat 11510
Telepon: +6221 568 7957
WhatsApp: +62 813 1531 5699

Atau di Toko Buku Terdekat

Pengantar

Zen merupakan jalan untuk memahami jati diri kita yang sebenarnya. Seringkali, kita mengira, bahwa jati diri kita terkait dengan nama, agama, ras, suku bangsa dan pekerjaan. Padahal, itu semua berubah, dan tidak bisa dipahami sebagai jati diri sejati kita sebagai manusia. Di dalam jalan Zen, pertanyaan terkait dengan jati diri sejati ini dijawab tidak menggunakan nalar, melainkan dengan menggunakan pengalaman „sebelum pikiran“, atau pengalaman langsung manusia dengan kenyataan sebagaimana adanya.

Zen mengajak orang bertanya, siapa diri mereka sebenarnya. „Siapakah aku?“ „Siapa ini yang sedang bertanya?“ Ketika orang bisa menyentuh sumber dari segala pertanyaan dan pikiran yang muncul, ia sedang berjumpa dengan jati diri sejatinya. Pada titik ini, tidak ada penderitaan, dan tidak ada kebahagiaan. Yang ada hanyalah kedamaian sejati yang tidak bergantung pada hal-hal lainnya, seperti uang, kekuasaan, nama baik atau kenikmatan badani. Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Mencari Ke Dalam, Zen dan Hidup yang Meditatif

Dekonstruksi Kesuksesan

Abduzeedo

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Semua orang tentu ingin mencapai sukses dalam hidupnya. Di awal abad 21 ini, kata sukses dikaitkan dengan harta dan nama besar. Pandangan ini tentu tidak datang dari ruang hampa. Semangat jaman (Zeigeist) dari kapitalisme dan materialisme ekonomi amat kuat mempengaruhi pemahaman kita tentang kesuksesan.

Kapitalisme adalah paham yang menekankan penumpukan modal sebagai tujuan utama ekonomi. Modal pun dipahami secara sempit sebagai harta benda, terutama uang dan turunannya. Awalnya, kapitalisme adalah tata kelola ekonomi semata. Namun, kini kapitalisme menjadi pandangan yang menyentuh semua sisi kehidupan manusia. Lanjutkan membaca Dekonstruksi Kesuksesan

Zen Studio: Mencari Kejernihan Hidup di Kota

Di tengah hiruk pikuk kehidupan kota, menjaga kejernihan jiwa adalah sebuah hal yang sangat penting.

Qotacorner mengajak qotalovers bergabung di Zen Studio untuk berlatih meditasi agar kita bisa tetap jernih hidup di kota.

Meditasi di Qotacorner Zen Studio akan dipandu oleh

Dr.phil. Reza A.A. Wattimena.

Setiap Sabtu pukul 10.00-11.30 mulai tanggal 4 Agustus 2018. di qotacorner. Jl. Cikatomas 2/22 Jakarta 12180

Tempat terbatas untuk 10 orang. Biaya pendaftaran IDR 150.000,-.

Daftarkan diri anda segera

#zen #meditasi #filsafat

Mushotoku: Bertindak Tanpa Menginginkan

John Moore

Oleh Reza A.A Wattimena

Salah satu ciri utama Zen adalah Mushotoku. Ini adalah keadaan batin yang tidak mencari apapun. Orang lalu hidup tidak melekat pada keinginan ataupun benda-benda luar, dan tidak lagi sibuk mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Ketika titik ini dicapai, kebebasan dan kebahagiaan muncul secara alami.

Kita hidup di dunia yang penuh dengan kepentingan. Jarang ditemukan ketulusan total di dalam hubungan antar manusia. Orang membantu orang lain, karena ada maunya. Kepentingan itu bisa sangat duniawi, seperti mencari balas jasa, atau sangat surgawi, yakni supaya mendapat pahala, atau masuk surga. Lanjutkan membaca Mushotoku: Bertindak Tanpa Menginginkan

Terbitan Terbaru: What are the Fundamental Pillars of Contemporary Globalization?

Diterbitkan dalam The Ary Suta Series on Strategic Management Juli 2018, Volume 42

Oleh Reza A.A Wattimena

Abstract

This article describes and explains the five pillars of contemporary globalization. This process is provoked especially by the rapid development of information, communication and transportation technology, especially since the 1980s. There are five fundamental pillars of contemporary globalization, namely internationalization, interdependence, westernization and the rise of world society. These five pillars are connected to each other. However, the globalization process creates two different global impacts, namely prosperity on the one hand, and poverty which is based on global economic inequality on the other hand. Several elaborated strategies to overcome the challenges of contemporary globalization, such as international cooperation and the revised version of Welfare State tradition, are also elaborated.

Key Words: Globalization, Internationalization, Interdependence, Westernization, World Society Lanjutkan membaca Terbitan Terbaru: What are the Fundamental Pillars of Contemporary Globalization?

Perkembangan Sains-Teknologi dan Perubahan Budaya (Tanggapan Terhadap Peter F. Gontha)

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Peter F. Gontha, Duta Besar RI untuk Polandia, menulis artikel dengan judul “Tanpa Sains dan Teknologi, Indonesia ditelan dunia”. Artikel tersebut diterbitkan di Harian Kompas pada 21 Juli 2018 lalu. Ia menyarankan pentingnya Indonesia mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Tujuannya supaya Indonesia bisa bersaing negara lain di tingkat internasional.

Di sisi permukaan, tulisan itu tampak berniat baik dan benar adanya. Namun, seperti pepatah lama, bahwa jalan ke neraka dibuat dengan niat baik (the road to hell is paved with good intentions), tulisan itu mengandung kesalahan berpikir mendasar yang amat berbahaya. Pendekatan Peter Gontha adalah pendekatan teknokratik dan birokratik. Ia lupa, bahwa sains dan teknologi tidak hanya soal pengembangan infrastruktur, guna mengejar ranking internasional semata. Pengembangan sains dan teknologi adalah soal perubahan budaya secara mendasar. Lanjutkan membaca Perkembangan Sains-Teknologi dan Perubahan Budaya (Tanggapan Terhadap Peter F. Gontha)

Melihat Tanpa Mengingat

GetDrawings.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Pagi ini, cuaca cerah. Suasana sepi. Semua sudah berangkat, entah kerja atau sekolah. Saya menulis, seperti biasa.

Di kamar, yang ada tak hanya kamar. Ada ingatan terselip. Kenangan manis dan pahit selama puluhan tahun mengalir, tanpa diundang. Begitulah pikiran manusia. Lanjutkan membaca Melihat Tanpa Mengingat