Filsafat untuk Ketahanan Nasional

Paul Nash

Oleh Reza A.A Wattimena

Tidak bisa dipungkiri, bangsa Indonesia sedang dihantam dari berbagai penjuru. Di satu sisi, ideologi neoliberalisme merasuk ke dalam sendi-sendiri politik, ekonomi, hukum dan budaya Indonesia. Di dalam ideologi ini, uang menjadi raja, dan segalanya tunduk pada kekuatan uang. Politik bisa dibeli dengan uang. Bahkan hukum dan budaya, yang menjaga kelestarian hidup bersama, juga bisa dibeli dengan uang.

Kursi politik bisa diperoleh oleh penawar tertinggi. Hukuman bisa dikurangi dengan suap menyuap. Gaya hidup masyarakat pun dipenuhi dengan berbagai upaya untuk memperoleh uang, dan membelanjakannya untuk kesenangan pribadi. Nilai-nilai kesederhanaan hidup dan solidaritas terkikis habis.

Di sisi lain, radikalisme agama pun juga merasuki dunia politik, ekonomi, hukum dan budaya kita. Radikalisme agama adalah kerinduan akan kemurnian ajaran suatu agama di dunia yang majemuk dan kompleks. Ini jelas adalah gejala sakit jiwa. Tidak hanya itu, kaum radikal bersedia melakukan kekerasan untuk mewujudkan “mimpi sakit jiwa” mereka.

Di Indonesia, kita sudah melihat pergeseran beberapa partai politik ke arah radikalisme agama. Pilkada Jakarta 2017 menjadi pembelajaran bersama tentang ini. Apakah peristiwa serupa akan terjadi pada 2019 nanti? Jawabannya tergantung pada ketahanan nasional bangsa Indonesia itu sendiri.

Kegagalan Ketahanan Nasional

Gejala berkembangnya dua ideologi asing, yakni neoliberalisme dan radikalisme agama, merupakan tanda kegagalan ketahanan nasional kita sebagai bangsa. Kedua ideologi itu bahkan merasuki dunia pendidikan. Pendidikan pun berubah menjadi ajang cuci otak, entah menjadi ladang penghasil koruptor, atau ladang penghasil kelompok radikal agamis. Diperlukan sebuah perubahan mendasar di dalam strategi ketahanan nasional bangsa kita.

Ketahanan nasional adalah kemampuan suatu bangsa untuk menghadapi beragam tantangan yang muncul, baik tantangan dari dalam negeri, maupun luar negeri. Ketahanan nasional membantu suatu bangsa untuk mempertahankan identitas maupun integritasnya sebagai bangsa. Ketahanan nasional memiliki beberapa unsur, yakni ketahanan ideologi, ketahanan ekonomi, ketahanan politik, ketahanan budaya dan ketahanan keamanan.

Bangsa yang memiliki ketahanan sosial tinggi hidup dalam keadilan dan kemakmuran. Hukum bisa diandalkan untuk menghukum para pelanggar hukum, lepas dari status ekonomi ataupun sosialnya. Pertumbuhan ekonomi juga merata, sehingga bisa memberikan hidup yang bermartabat secara ekonomis bagi pihak yang paling miskin di masyarakat. Ini semua bisa dicapai, jika ada perubahan cara berpikir yang mendasar.

Filsafat dan Perubahan Cara Berpikir

Filsafat merupakan unsur pendorong perubahan cara berpikir yang terbesar. Ini terjadi, karena filsafat menyentuh langsung cara berpikir manusia. Cara berpikir ini akan menentukan perilaku sekaligus keputusan orang di dalam hidupnya. Dua hal kiranya penting untuk diperhatikan.

Pertama, filsafat melatih orang berpikir kritis. Artinya, orang diajarkan untuk tidak gampang percaya pada informasi yang mereka dengar. Orang juga diajarkan untuk tidak gampang percaya pada pendirian pribadi, sebelum itu diuji di hadapan kenyataan. Dalam arti ini, filsafat bisa membantu rakyat Indonesia untuk menangkal segala bentuk pengaruh buruk dari dalam maupun luar negeri.

Di hadapan sikap kritis, radikalisme agama dan neoliberalisme akan langsung luntur. Kedua paham itu jelas tidak bisa bertahan di hadapan pertanyaan dan logika. Merasuknya radikalisme agama dan neoliberalisme jelas merupakan tanda miskinnya sikap kritis di masyarakat Indonesia. Segala bentuk strategi ketahanan nasional akan percuma, jika tidak ada pengembangan sikap kritis di dalamnya.

Dua, filsafat juga berperan besar di dalam pengembangan akal sehat. Pola berpikir lama yang tak lagi sesuai dengan perkembangan jaman dipertanyakan ulang melalui dialog-dialog filsafat. Dengan akal sehat yang terlatih, kita bisa belajari dari bangsa asing, tanpa terhanyut dan kehilangan identitas kita sebagai bangsa. Akal sehat juga bisa membimbing kebijakan yang lebih menekankan pemerataan ekonomi, dan bukan hanya pertumbuhan ekonomi kaum elit semata.

Peran Pendidikan

Dari sudut pandang ini, unsur ketahanan nasional terpenting adalah pendidikan. Sudah terlalu lama pendidikan Indonesia diisi dengan beragam kebodohan, mulai dari kepatuhan buta, soal ujian yang menumpulkan kreativitas, sampai dengan pembiaran terhadap ideologi asing, yakni neoliberalisme dan radikalisme agama.     Tak heran, dengan pola pendidikan semacam ini, dunia pendidikan Indonesia terpuruk di mata dunia internasional. Sumber daya manusia yang dihasilkan pun bermutu rendah.

Filsafat, terutama unsur kritis dan bernalar sehat, harus masuk menjadi unsur inti pendidikan nasional. Ini dimulai dengan memberikan pendidikan filsafat yang bermutu tinggi terhadap para guru dan praktisi ketahanan nasional. Filsafat disini bukanlah filsafat yang mengabdi pada agama atau budaya tertentu, melainkan filsafat dalam arti yang sebenarnya, yakni filsafat sebagai upaya dengan akal sehat dan sikap kritis untuk memahami dunia sebagai keseluruhan. Langkah berikutnya adalah memberikan pendidikan filsafat yang bermutu tinggi kepada masyarakat luas.

Pada akhirnya, ketahanan nasional bangsa Indonesia adalah urusan kita semua. Maka dari itu, kita memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan sikap kritis dan akal sehat yang kita punya. Filsafat jelas berperan besar dalam hal ini. Sikap kritis, akal sehat dan strategi jitu terkait ketahanan nasional akan membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa besar yang tak mudah goyang oleh beragam tantangan, baik dari dalam maupun luar negeri.

Jadi tunggu apa lagi?

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.

6 tanggapan untuk “Filsafat untuk Ketahanan Nasional”

  1. maknanya begitu sederhana dan jelas sekali penerangannya, sangat menyakinkan dan logis.
    pertanyaan : mengapa utk di terapkan begitu alott , bahkan dalam hal2 kecil dan sederhana sehari2.
    sehemat saya, “kita”/ “umum” dewasa ini sudah jadi budak darin”sesuatu”(materi /bahkan künstliche intelligenz / dan sampah2 lain) yang sulit utk di kendali.
    kita lihat dari peminat website ini, yang begitu kecil. misal nya website ini diganti tujuannya, utk “materi, bisnis, dunia maya / tipu dan kekayaan lain”, saya yakin peminat nya berjubel2.
    begitu memilukan, tetapi kita masih bisa fokus ke hal2 lain, yg membawa kearah yg kita “tuju”.
    banya salam !!

    Suka

  2. Pak Reza…saya setuju sekali dengan tulisan anda. Rasanya tidak ada obat yg lebih mujarab dari Filsafat untuk membangun sikap kristis bangsa ini. Dari kecil sampai kuliah dulu orang diajarkan mata kuliah agama dan pancasila..tapi hasilnya seperti yg kita liat sekarang ini. Sebagian besar orang dengan mudah diiring oleh tokoh2 yg kaguminya apalagi tokoh agama…tidak ada sikap kristis.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.