Manusia

almostvelvet.files.wordpress.com

Diolah dari kuliah terbuka yang diberikan Komaruddin Hidayat di UIN, Jakarta pada 2008 lalu

Oleh Reza A.A Wattimena

Kebahagiaan yang sejati hanya dapat diraih, jika orang dapat bersikap seturut dengan sifat-sifat dasariahnya sebagai manusia. Setiap sifat dasariah manusia selalu mempunyai kebutuhan. Dalam arti ini kebahagiaan adalah pemenuhan kebutuhan dari sifat dasariah tersebut. Dengan kata lain Anda baru bisa merasa bahagia, jika semua kebutuhan dari sifat dasariah Anda sebagai manusia telah terpenuhi. Pertanyaannya lalu apakah ragam sifat dasariah manusia itu? Lanjutkan membaca Manusia

Dunia yang Selalu Cacat

i280.photobucket.com

OLEH: REZA A.A WATTIMENA

Siapa yang tak kagum dengan Marilyn Monroe? Seorang gadis cantik bernama kecil Norma Jeane Baker ini sekaligus seorang penyanyi, model, dan bintang film pada era 1950-an. Semua orang menyukainya. Semua orang iri padanya.

Namun entah mengapa ia bunuh diri. Pada usia 36 tahun, ia meracuni dirinya sendiri. Ia mati ketika masa jayanya. Ia cacat di balik kesempurnaannya. Lanjutkan membaca Dunia yang Selalu Cacat

Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat!

2.bp.blogspot.com

Oleh: Yudhistira ANM Massardi

Jika orientasi pendidikan adalah untuk mencetak tenaga kerja guna kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai—katakanlah hingga dua dekade ke depan—yang akan dihasilkan adalah jutaan calon penganggur.

Sekarang saja ada sekitar 750.000 lulusan program diploma dan sarjana yang menganggur. Jumlah penganggur itu akan makin membengkak jika ditambah jutaan siswa putus sekolah dari tingkat SD hingga SLTA. Tercatat, sejak 2002, jumlah mereka yang putus sekolah itu rata- rata lebih dari 1,5 juta siswa setiap tahun. Dalam ”kalimat lain”, ada sekitar 50 juta anak Indonesia yang tak mendapatkan layanan pendidikan di jenjangnya. Lanjutkan membaca Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat!

Inspirasi dari Kompas: Gaya Politikus Salon

Oleh: Indra Tranggono

Parlemen sebagai habitat cendekia politik yang terlibat dengan penderitaan rakyat kini kian memudar.

Publik pun kian sulit merasakan tetes keringat kerja keras berbasis integritas, komitmen, dan kapabilitas sebagian besar wakil rakyat. Publik lebih kerap menjumpai politikus salon: rapi, wangi, modis, dan penuh gaya, tetapi steril dari keprihatinan sosial. Rencana pembangunan gedung 36 lantai yang akan menghamburkan Rp 1,1 triliun lebih hanyalah salah satu gaya berkuasa para politikus salon. Lanjutkan membaca Inspirasi dari Kompas: Gaya Politikus Salon

Nilai-nilai Kehidupan Soetikno Tanoko (Avia Avian Paints)

http://www.kazuya-akimoto.com

Antara Bisnis dan Keluarga

Oleh: Reza A.A Wattimena

Wajahnya masih segar dan bercahaya. Walaupun usianya sudah menginjak 81 tahun. Ingatannya masih amat tajam. Beragam tanggal dari peristiwa penting dalam hidupnya tetap diingat. Suaranya masih tegas dan keras, mencerminkan wibawa seorang pemimpin yang tak lenyap ditelan waktu dan usia.

Ketika berbicara matanya selalu menatap lawan bicaranya. Cahaya jernih memancar dari kejernihan matanya. Biasanya itu merupakan tanda banyaknya pengalaman yang telah ia tempuh dalam hidupnya. Pengalaman itu membuat pribadinya matang, sekaligus bijaksana.

Kerut di wajahnya menandakan satu hal; pengalaman hidup yang panjang dan bermakna. Dari gerak geriknya kita bisa tahu, betapa ia adalah pribadi yang sigap dan rajin dalam bekerja. Beberapa kali ia berjumpa dengan karyawan yang telah lama bekerja padanya. Tepukan di pundak kepada mereka menjadi tanda, betapa ia menyayangi mereka sebagai seorang sahabat dan keluarga.

Itulah sosok Soetikno Tanoko pada usianya yang ke 81 (Usia China: 83). Senyumnya hangat. Kesan sebagai seorang ayah yang mengayomi keluarga amat kuat terasa, ketika kita berjumpa dengannya. Tak berlebihan jika saya mengatakan, kehadirannya membawa kehangatan tersendiri bagi orang sekitarnya.

Dengan sentuhan tangannya langsung, ia membesarkan Toko Cat 73 di Malang, bersama saudaranya, Suwandi Tanoko. Pada era 1960-1970an, juga bersama saudaranya, ia membawa toko itu menjadi Toko Cat nomor satu di Malang. Juga dengan sentuhan tangannya, ia mendorong Pabrik Cat Avia Avian menuju masa jaya, setelah sebelumnya hampir bangkrut. Juga bersama istrinya ia menciptakan keluarga yang bahagia.

Ia menyentuh dan mengubah hidup banyak orang. Lanjutkan membaca Nilai-nilai Kehidupan Soetikno Tanoko (Avia Avian Paints)

Diskusi System Thinking: Ateisme

 Diskusi System Thinking

Bahagia (Beberapa Pandangan)

ideaofhappiness.files.wordpress.com

OLEH:

REZA A.A WATTIMENA

Dahulu kala ada seorang pemikir besar bernama Plato yang hidup di Yunani sekitar 2600 tahun yang lalu. Ia berpendapat bahwa setiap manusia memiliki ragam keinginan dan hasrat yang saling berkonflik satu sama lain, serta bahwa manusia harus mengatur semua hasrat yang bergejolak di dalam dirinya tersebut. Memang pandangan ini jauh dapat ditelusuri di peradaban-peradaban kuno Mesopotamia maupun Hindu kuno, namun Platolah orang yang pertama kali mengajukan pertanyaan ini dan berusaha menjawabnya secara sistematis.

Pada salah satu tulisannya, Plato menyebut salah seorang bernama Gorgias. Tentu saja ia lebih merupakan tokoh fiksi yang digunakan sebagai simbol untuk menggambarkan orang-orang pada jamannya. Gorgias di dalam tulisan Plato berpendapat, bahwa kebahagiaan seseorang terletak di dalam kemampuannya untuk mewujudkan apa yang ia inginkan, apapun bentuknya.

Lanjutkan membaca Bahagia (Beberapa Pandangan)

Inspirasi dari Kompas: Laskar Dagelan

 

masjustice.files.wordpress.com

Oleh: SUKARDI RINAKIT

Minggu lalu, setelah menonton Laskar Dagelan: From Republik Jogja with Love besutan Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, dan Agus Noor, saya menjadi lebih memahami kuatnya pendekatan kultural dalam sebuah pergerakan, termasuk untuk kontestasi politik.

Ke dalam, pendekatan itu tidak saja dapat mengukuhkan soliditas bersama, tetapi juga melahirkan jargon politik yang ampuh guna memompa alam bawah sadar dan identitas kesejarahan. Dalam kasus Yogyakarta, terakit kalimat sakral ”Yogya tetap istimewa, istimewa orangnya, istimewa negerinya”. Energi ini sulit dikempiskan oleh langkah politik konvensional, apalagi hanya oleh manuver politik prosedural. Lanjutkan membaca Inspirasi dari Kompas: Laskar Dagelan

Facebook dan Gerakan Massa

Cogito April 2011

Oleh: Reza A.A Wattimena

April 2011 buletin Cogito Fakultas Filsafat ingin membedah kaitan antara Facebook dan Gerakan Massa. Ada tiga tulisan. Yang pertama adalah tulisan berjudul Facebook: Awal sebuah Revolusi karangan Aloysius Luis Kung, mahasiswa Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya.

Yang kedua adalah tulisan berjudul Anarki karangan Kristoforus Sri Ratulayn, juga mahasiswa Fakultas Filsafat. Dan yang ketiga adalah tulisan mengenai pemikiran Karol J. Wojtyla yang ditulis oleh Adrian Adiredjo, Dosen di Fakultas Filsafat. Lanjutkan membaca Facebook dan Gerakan Massa

Filsafat, Tubuh, dan Pornografi

http://www.arthit.ru

Narasi Diskusi 2 April 2011

Oleh: Reza A.A Wattimena[1]

Rencana tak berjalan mulus. Beberapa peserta tampak kebingungan soal jadwal. Jadwal yang tertera di undangan dan brosur berbeda. Panitia pun tampak kebingungan.

Akhirnya diskusi Tubuh dan Pornografi dimulai pada pk. 10.00 tepat di Gedung A 303, Kampus Dinoyo UNIKA Widya Mandala Surabaya. David Jones berperan sebagai moderator, dan memberikan beberapa kata pengantar. Reza A.A Wattimena maju, dan memulai presentasinya. Diskusi Tubuh dan Pornografi yang diselenggarakan Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya pun dimulai pk. 10.05.[2] Lanjutkan membaca Filsafat, Tubuh, dan Pornografi

Inspirasi dari Kompas: Bunuh Diri Kebudayaan

 

sp.life123.com

oleh: GEGER RIYANTO

 

Ada ungkapan penyair Jerman, Heinrich Heine, ”Di mana mereka membakar buku, ujung-ujungnya mereka akan membakar manusia”. Memang demikian. Memusnahkan teks-teks historikal dan kultural bukan sekadar membakar kertas; untuk mengatakannya dengan mengerikan, ini adalah upaya satu pihak menghapus total pihak-pihak yang dibencinya. Lanjutkan membaca Inspirasi dari Kompas: Bunuh Diri Kebudayaan

Koin

 

api.ning.com

OLEH RAINY MP HUTABARAT

Di jalan raya kini kerap ditemui koin-koin rupiah dengan nilai nominal kecil: 50; 100; dan 200. Koin rupiah dengan nilai nominal tertinggi 1.000, masih bisa membeli kerupuk atau sepotong pisang goreng. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan koin sebagai ”mata uang logam”. Secara faktual di Indonesia koin adalah mata uang dengan nilai nominal dan nilai riil yang sifatnya recehan.

Menurut sebuah sumber, mata uang pertama di dunia berbentuk koin, muncul pada 700 SM di Pulau Aegina atau 650 SM di Lydia, keduanya di Yunani. Tentu saja koin pertama di dunia ini bukan uang recehan.

Koin-koin dengan nominal terkecil tak bisa dipakai untuk membeli apa-apa. Karena itu barangkali sebagian orang enggan menyimpannya di dompet dan membuangnya di jalan-jalan. Saya selalu memungutnya karena merasa terhina dan sedih melihat uang rupiah diperlakukan sebagai barang tak berguna.

Tiga tahun berturut-turut koin rupiah ternyata mencatat perjuangan yang cukup heroik. Ia tak hanya menjadi alat tukar, satuan pengukur nilai, alat investasi, tetapi juga lambang perjuangan. Ia tak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga simbolik. Seorang rekan Facebook baru-baru ini mengingatkan koin ”sebagai lambang perlawanan”—dan menemukan aktualitasnya melalui ungkapan, melalui bahasa. Lanjutkan membaca Koin

Jancuk


Oleh: Reza A.A Wattimena

Refleksi Hasil Diskusi Cogito “Jancuk”,

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya, 1 April 2011.

Kata ini bagaikan belut. Tidak ada makna pasti. Kata ini hidup dalam konteks. Cara mengucapkan sampai siapa yang dituju menentukan maknanya.

Sahabat dekat mengucapkan kata ini untuk menyapa. Musuh besar juga mengucapkan kata ini, ketika menyatakan rasa bencinya. Kata ini bukanlah kata sifat, atau kata kerja. Ia hanya kata. Ia adalah ekspresi.

Kata ini lahir dari “rahim” orang Surabaya. Kata ini secara singkat menggambarkan identitas orang Surabaya. Ia menggambarkan secara gamblang roh masyarakat pinggir pantai yang amat unik ini.

Seorang Filsuf asal Austria, Ludwig Wittgenstein, pernah berpendapat, bahwa bahasa lahir dari suatu konteks. Konteks itu disebutnya sebagai permainan bahasa (language games). Di dalam permainan bahasa, ada aturan yang harus dipatuhi. Makna suatu kata atau suatu aktivitas selalu harus dilihat dalam konteks permainan bahasanya. Lanjutkan membaca Jancuk

Kematian

paul-klee-death-and-fire

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

(Untuk seorang sahabat yang amat saya “cintai”…)

Kiev, Ukraina, kota yang amat dingin. Seorang nelayan pergi ke sungai untuk memancing. Namanya dirahasiakan oleh surat kabar setempat. Tak yang tahu pasti, siapa namanya.

Usianya 43 tahun. Ia mau memancing dan terlebih dahulu menyalakan kapalnya. Ia mengambil kabel lalu mencolokannya ke sumber listrik. Kakinya menginjak air. Ikan di dalam air itu mati. Terkejut, ia pun mengambil ikan gratis itu. Namun tak beberapa lama kemudian, nasibnya berubah. Ia mati… oleh sebab yang sama dengan ikan yang ia ambil.

Ternyata pagi itu ia hendak menangkap ikan, memasaknya, dan memakannya, guna mengenang kematian ibu mertua yang amat dikasihinya. Ironis. Lanjutkan membaca Kematian

Diskusi Cogito: Dilema Kata Jancuuk

DANCOK!!!!_ver.2

Bahagia Part. 1

happyart.aleloop.com

Oleh: Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya

Seperti segala sesuatu di bawah langit, kebahagiaan pun memiliki sejarah, walaupun sejarah kebahagiaan tidaklah sama dengan sejarah-sejarah lainnya. Sejarah kebahagiaan adalah sejarah bagian dari diri manusia, dan sejarah tentang segala sesuatu yang layak diperjuangkan di dalam kehidupan manusia. Sejarah kebahagiaan menyangkut manusia dalam kaitannya dengan segala sesuatu yang berharga untuknya, termasuk pula keseluruhan alam semesta.

Besarnya skala kebahagiaan membuat orang sulit untuk sungguh memahaminya, dan usaha mencari kebahagiaan pun seringkali adalah suatu usaha yang problematis. Banyak upaya yang bisa dicapai, namun seringkali semua upaya itu saling bertentangan satu sama lain. Akibatnya tidak ada pengertian tunggal yang menyeluruh tentang kebahagiaan. Jika kebahagiaan bisa dipahami secara menyeluruh, maka kebahagiaan hanyalah persoalan intelektual saja. Namun faktanya kebahagiaan melampaui dimensi intelektualitas. Oleh sebab itu pikiran manusia tidak dapat, dan tidak boleh, bisa memahaminya secara utuh. Kebahagiaan menyisakan misteri bagi manusia yang hendak mencarinya. Lanjutkan membaca Bahagia Part. 1

Pelacur

25.media.tumblr.com

Oleh: Goenawan Mohamad

Dengan tubuhnya yang gempal perempuan itu memecah batu, dengan tubuhnya yang tebal ia seorang pelacur.

Namanya Nur Hidayah, 35 tahun, kelahiran Tulungagung, Jawa Timur. Ia seorang istri yang ditinggalkan suami (meskipun mereka belum bercerai), ia ibu dari lima anak yang praktis yatim.

Tiap pagi, setelah Tegar, anaknya yang berumur enam tahun, berangkat ke sekolah dengan ojek, Nur datang ke tempat kerjanya. Di sana ia mengangkut batu, kemudian memecah-mecahnya, untuk dijual ke pemborong bangunan. Nova, empat tahun, anak bungsunya, selalu dibawanya. Nur bekerja sekitar lima jam sampai tengah hari.

Lalu ia pulang. Tegar akan sudah kembali ke rumah kontrakan mereka, dan Nur bisa bermain dengan kedua anak itu. Sampai pukul tiga sore. Lanjutkan membaca Pelacur

Diskusi Terbuka “Bayi Tabung” dan Aspek Moralnya

nurainmohd.files.wordpress.com

 

Oleh: Reza A.A Wattimena

Waktu menunjukkan jam 10 pagi tepat. Hari itu Sabtu 26 Maret 2011. Cuaca mendung. Udara cukup dingin untuk ukuran Surabaya.

Ruangan sudah mulai penuh. Beberapa orang saling berbicara. Tampak beberapa teman lama yang bertukar cerita. Tampak beberapa lainnya duduk membaca buku.

Dari kejauhan tampak dengan jelas Prof. Maramis. Beliau mengenakan kemeja hijau, dan sibuk berbincang dengan beberapa tamu yang baru saja hadir. Beberapa saat kemudian datanglah Dr. Aucky Hinting. Beliau adalah salah satu pembicara dari Diskusi Terbuka Bioetika dengan tema Teknik In Vitro Fertilisation (Bayi Tabung) dan Aspek Moralnya yang diselenggarakan Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya dalam kerja sama dengan Calon Fakultas Kedokteran di universitas yang sama. Lanjutkan membaca Diskusi Terbuka “Bayi Tabung” dan Aspek Moralnya

Kebetulan

Google Images

 

Oleh: Reza A.A Wattimena

Hidup kita dipenuhi kebetulan. Berbagai peristiwa terjadi tanpa diramalkan. Hal-hal tak terduga memberikan kejutan. Kita pun bertanya-tanya, apa makna suatu kejadian?

Pada level pribadi kebetulan terus terjadi. Yang kita perlukan hanyalah melihat dengan sedikit jeli. Seperti tiba-tiba hujan, tepat pada waktu kita sampai di tempat tujuan. Atau tepat mendapatkan uang, ketika kita sedang amat membutuhkan.

Hal yang sama terjadi pada level sosial. Konon revolusi seringkali tidak direncanakan. Revolusi seringkali merupakan serangkaian kebetulan. Kita pun patut mempertanyakan akurasi teori-teori yang berusaha menjelaskan perubahan. Lanjutkan membaca Kebetulan

Inspirasi dari Harian Kompas: Negara Tanpa Sastra

http://www.funspill.com

Oleh: Anwari WMK

Negara yang telah kehilangan sensibilitasnya terhadap sastra adalah negara yang tengah menegasikan potensinya sendiri dalam hal menumbuhkembangkan kreativitas dan otentisitas.

Sudah menjadi aksioma, persaingan ekonomi dan industri pada abad ke-21 berbasis inovasi. Sementara inovasi itu sendiri berpijak pada kreativitas dan otentisitas. Tanpa inovasi, mustahil daya saing ekonomi dan industri dapat diwujudkan. Begitu pun tanpa kreativitas dan otentisitas, mustahil inovasi dapat digelorakan. Sementara tak dapat dielakkan, sastra merupakan lahan subur tumbuhnya ”pohon” kreativitas dan otentisitas.

Sudah lebih dari cukup berbagai penjelasan menyebutkan, negara-negara berteknologi maju dewasa ini adalah negara dengan warisan (legacy) sastra. Hampir tidak ada negara maju kini miskin karya sastra. Bahkan sebuah negara mampu beranjak maju tatkala elemen ekonomi dan industri negara tersebut mampu mereguk ilham dari narasi-narasi sastra. Lanjutkan membaca Inspirasi dari Harian Kompas: Negara Tanpa Sastra