
Sebuah Refleksi Filosofis
oleh Reza A.A Wattimena
Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya, sedang penelitian di Jerman
Ketika Sukarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesian 1945 yang lalu, ada dua hal yang ada di dalam pikiran mereka, yakni kebebasan dan kemakmuran. Keduanya menjadi mimpi besar, tidak hanya untuk mereka berdua, tetapi juga untuk para bapak bangsa lainnya, seperti Sutan Sjahrir, Muhammad Yamin, dan sebagainya. Dengan kebebasan di tangan, bangsa Indonesia lalu mulai bisa membangun dirinya ke arah keadilan dan kemakmuran bagi semua warganya. Kebebasan dianggap sebagai jembatan emas menuju masyarakat yang paripurna. (Latif, 2011)
Sebagai pribadi, kita tentu juga ingin bebas. Kita ingin bisa menentukan hidup kita sesuai dengan keinginan kita. Kita juga ingin hidup aman, bebas dari rasa takut dan cemas atas hal-hal di luar diri kita. Keinginan untuk bebas tertanam secara alamiah di dalam jiwa manusia.
Penelitian yang dilakukan Institut für Gesellschaftspolitik di Jerman menunjukkan satu hal, bahwa kebebasan (Freiheit) merupakan nilai tertinggi di dalam masyarakat Jerman sekarang ini. (Reder, et.al, 2014) Hidup tak ada artinya, jika tidak ada kebebasan. Seluruh sistem politik dan ekonomi Jerman memang dirancang untuk bisa menampung cita-cita kebebasan semacam ini. Tentu, tidak ada sistem yang sempurna yang tidak lagi membutuhkan refleksi ulang. Lanjutkan membaca Mencapai Kebebasan Batin




















