Keberanian untuk Berpikir

arnhemncounter
arnhemncounter

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Berpikir adalah tindakan khas manusia. Sudah sejak sekitar 400 tahun yang lalu, Rene Descartes, filsuf asal Prancis, menyatakan, bahwa aku berpikir, maka aku ada. Artinya, keberadaan manusia menjadi unik dan nyata, ketika ia menggunakan pikirannya. Ketika ia berhenti berpikir, atau malas berpikir, maka jati dirinya menjadi tidak jelas.

Namun, berpikir memiliki banyak aspek. Banyak orang mengira, bahwa berpikir hanya melulu soal teknis, yakni soal menghitung, melihat guna, dan mencari keuntungan. Namun, berpikir teknis hanyalah satu bagian kecil dari tindak berpikir manusia. Ada pola berpikir lainnya, misalnya berpikir reflektif dan kontemplatif untuk memahami suatu hal di dunia secara mendalam.

Berpikir, pada pengertiannya yang paling mendalam, juga bergerak melampaui ilmu pengetahuan dan filsafat. Kedua bidang ini sekarang sudah menjadi begitu teknis. Begitu banyak konsep yang sangat rumit dan sulit dimengerti, sehingga justru membunuh kemampuan berpikir kritis manusia untuk mempertanyakan hal-hal yang ada, dan kemudian mencari kemungkinan-kemungkinan baru. Dengan kata lain, tindak berpikir manusia lebih luas dari sekedar ilmu pengetahan dan filsafat.

Kemalasan Berpikir

Era sekarang ini ditandai dengan gejala kemalasan berpikir di berbagai bidang. Orang seolah hanya mampu berpikir teknis untuk menghitung keuntungan dan kerugian, sementara kemampuan berpikir reflektif dan kritis justru semakin hilang. Kemalasan berpikir ini juga dapat ditemukan pada ketidakmampuan untuk menerobos tradisi dan cara berpikir lama yang sudah lama bercokol.

Akibatnya, orang hanya manut pada kebiasaan lama yang sudah tidak lagi pas dengan keadaan sekarang. Ketika keadaan berubah, sementara cara berpikir dan cara menyingkapi keadaan tersebut tak berubah, maka akan terjadi masalah. Krisis dan konflik akan lahir dari ketidakcocokan cara berpikir dan kenyataan yang ada. Hidup bersama dan hidup pribadi pun akan menjadi semakin sulit.

Kemalasan berpikir inilah yang harus dilawan dan dilampaui. Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Maka, cara berpikir kita pun juga harus ikut adaptif sekaligus kritis dengan perubahan yang ada. Perubahan adalah sesuatu yang harus disingkapi secara bijak, dan bukan ditolak mentah-mentah. Orang yang malas berpikir akan menentang perubahan, walaupun ia tidak sungguh memahami arti perubahan tersebut.

Kemalasan berpikir juga membuat orang iri hati pada keberhasilan orang lain. Keberhasilan orang lain adalah ancaman baginya, karena ia akan tampak bodoh dan malas, jika dibandingkan dengan orang yang berhasil tersebut. Maka, ia pun berniat untuk menjegal orang lain untuk keuntungannya sendiri. Jika orang tersebut berani berpikir secara mendalam dan luas, maka keberhasilan orang lain justru harus menjadi daya pacu bagi dirinya untuk juga berkembang ke arah yang unik dan otentik bagi dirinya sendiri.

Keberanian Berpikir

Lawan dari kemalasan berpikir adalah keberanian berpikir. Keberanian berpikir berarti berani mempertanyakan cara-cara lama yang sudah tidak pas. Ia juga berarti berani keluar dari belenggu tradisi untuk menciptakan pola baru yang lebih segar dan pas dengan keadaan sekarang. Keberanian berpikir juga berarti berani melahirkan diri kembali terus menerus, baik dalam level pribadi maupun organisasi.

Ini, menurut saya, adalah salah satu keutamaan penting dalam hidup berorganisasi ataupun berpolitik. Tradisi atau cara lama yang ada bukanlah sesuatu yang perlu disembah dan dipuja bagaikan sesuatu yang mulia dan tanpa cela, melainkan sesuatu yang harus terus dibaca dan dimengerti ulang, lalu dilahirkan kembali dengan bentuk-bentuk yang baru. Tradisi dan cara-cara lama di dalam organisasi dan di dalam politik adalah sesuatu yang terus dilahirkan kembali, supaya bisa menanggapi dengan tepat tantangan jaman yang terus berubah.

Kemalasan berpikir juga bisa ditafsirkan sejalan dengan argumen Heidegger, bahwa manusia modern terjangkit penyakit ketidakberpikiran (Gedankenlosigkeit). Ia hidup bagaikan robot yang tak mampu mencari makna dan tak bisa berpikir mendalam. Ketika ini terjadi, maka kebijakan dan tindakan yang ia buat amat mungkin merugikan orang lain dan merusak alam, bahkan tanpa ia sadari, karena ia tidak lagi berpikir. Keberanian berpikir kritis dan mendalam, itulah keutamaan utama yang kita butuhkan sekarang ini.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

4 thoughts on “Keberanian untuk Berpikir”

  1. Keberfikiran menjadi absurd ketika “ruang berfikir” sudah lenyap beserta adagium juga stigma yang berserakan yang kemudian membelenggu paradigma akan konteks yang hanya sebagai ” daur ulang prngetahuan” yang tidak berkesudahan. Bertubi-tubi memenjarakan tubuh dan fikiran kita berabad-abad tanpa ada jalan keluar dari kondisi yang menakutkan itu.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s