Bunuh Diri Sosial dan Krisis Logos

weeklyvoice.com
weeklyvoice.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Manusia memang akan punah. Apa yang pernah ada, pasti suatu saat akan punah. Itu adalah hukum baja sejarah yang tak bisa dihindari. Pertanyannya kemudian, kapan kita akan punah? Menyimak beragam gejala dunia, rupanya waktunya tidak akan lama lagi.

Penyebabnya adalah diri kita sendiri. Sebagai satu spesies, kita seolah melakukan bunuh diri sosial, yakni bunuh diri spesies kita sendiri sebagai manusia. Kita saling membunuh. Kita merusak alam. Segala yang kita lakukan seperti tak habis-habisnya berusaha membunuh spesies kita sendiri.

Di Indonesia, korupsi bagaikan kanker yang merusak segalanya, mulai dari keadaan keuangan bangsa, sampai dengan moral hidup sehari-hari. Kekerasan dan ketidakmampuan hidup dalam perbedaan sudut pandang melahirkan perang dan penderitaan bagi semua. Konflik antar agama dan antar kelompok membuat hidup bersama menjadi amat sulit. Aku korupsi, maka aku ada, itulah kiranya yang menjadi semboyan sehari-hari para pejabat politik, hukum, maupun ekonomi kita di Indonesia.

Di belahan dunia lain, perang terus berkobar. Israel dan Palestina hampir mustahil mencapai perdamaian. Perang saudara di Suriah juga belum menunjukkan titik akhir. Protes massal yang berujung pada konflik fisik antara demonstran dan polisi di Turki juga belum menemukan titik kesepakatan. Baru-baru ini, preman yang menamakan dirinya FPI (Front Pembela Islam) juga bikin onar di Surabaya.

Itu konflik antar manusia. Di sisi lain, dengan segala ilmu pengetahuan yang kita miliki, kita membunuh banyak hewan. Ada belasan ribu spesies hewan yang punah sebagai dampak langsung maupun tidak langsung dari tindakan manusia. Kita bahkan “tega” mengacaukan rancangan genetika satu spesies hewan (ayam misalnya), supaya kita bisa menyantap mereka lebih dan lebih lagi. Jika ayam bisa melawan, mereka akan mengandakan perang besar dengan manusia.

Hampir setiap detik, kita merusak udara. Dengan konsumsi bahan bakar yang luar biasa besar, kita menghisap energi dari alam, dan mengubahnya jadi sampah yang merusak alam itu sendiri. Hutan hancur, karena diubah menjadi kawasan rumah mewah yang besar dan mahal, walaupun penghuninya tidak pernah ada di rumah, karena harus bekerja keras untuk merawat rumah mewah miliknya (ironis?). Ketika hutan hancur, ratusan spesies hewan dan tumbuhan juga ikut hancur bersamanya. Ini semua terjadi, karena kedunguan dan kerakusan kita sebagai manusia.

Dampak yang sudah nyata adalah perubahan iklim. Cuaca menjadi kacau. Akibatnya, banyak panen gagal, sehingga bahan makanan semakin sulit diperoleh. Jika pun ada, harganya menjadi tidak menentu. Hujan yang berlebihan juga menyebabkan bencana banjir, seperti di daerah Passau, Jerman Selatan, yang baru-baru ini dihantam banjir, karena hujan berhari-hari. Volume air laut juga meningkat, sehingga banyak menenggelamkan pulau-pulau kecil yang ada.

Apakah kita sebagai manusia punya “keinginan untuk mati” (death wish) yang tinggi, namun terpendam? Seolah apapun yang kita lakukan bermuara pada kehancuran spesies kita sendiri. Kita menciptakan teknologi untuk membantu kita. Namun, dengan teknologi ini, kita justru menghancurkan diri kita sendiri. Inilah paradoks manusia yang paling jelas terlihat, sekaligus paling tak disadari.

What rise must fall, apa yang pernah ada harus juga hancur. Ini mungkin fakta yang paling nyata, yang paling tak bisa dihindari dalam hidup. Selama jutaan tahun, dinosaurus menjadi penguasa dunia, dan mereka pun lenyap, karena alam menghancurkan mereka. Manusia pun juga pasti akan mengalami nasib yang sama, mungkin dengan sebab yang berbeda, namun pasti nasib yang sama pula.

Apakah ada solusi? Harapan memang selalu ada. Namun, kita butuh perubahan besar, yakni perubahan yang mendasar: perubahan cara berpikir dan perubahan cara hidup. Untuk ini, saya rasa, kita bisa belajar dari tradisi pemikiran fenomenologi yang dirumuskan oleh Edmund Husserl, terutama dalam bukunya yang berjudul Die Krisis der europäischen Wissenschaften und die transzendentale Phänomenologie: eine Einleitung in die phänomenologische Philosophie.

Menurut Husserl, seluruh peradaban Eropa berpijak pada satu konsep dasar yang amat penting, yakni Logos. Dalam arti ini, Logos memiliki makna yang amat luas. Ia bisa berarti sekaligus akal budi, roh, ide, dan bahkan Tuhan. Logos memiliki dimensi yang sekaligus rasional dan empiris (berpijak pada kenyataan hidup sehari-hari) maupun mistik serta misterius (tak terjangkau oleh akal budi kita). Segala krisis yang kita alami di berbagai belahan dunia hari ini lahir dari kegagalan kita memahami makna Logos, dan menerapkannya dalam kehidupan.

Logos adalah inti dari filsafat, sebagaimana dikembangkan di Yunani Kuno, dan filsafat adalah asal muasal dari semua ilmu pengetahuan yang ada di dunia. Bahkan, agama-agama Samawi, seperti Kristen, Yahudi, dan Islam, juga amat dipengaruhi oleh pemikiran filosofis semacam ini. Namun, orang kini menyempitkan Logos semata pada akal budi, dan akal budi semata disempitkan menjadi teknik untuk menguasai alam (teknologi), demi kepentingan manusia.

Ketika alam dikuasai, maka ia akan rusak. Dan ketika alam rusak, manusia pun akan juga hancur. Perubahan cara berpikir dari logos sebagai upaya untuk memahami alam (verstehen und kennen) menjadi penguasaan (beherrschen) atas alam adalah akar dari semua kerusakan yang terjadi di dunia dewasa ini. Alam dipakai, dan tak lama kemudian, manusia lain pun dikuasai dan dipakai, seperti layaknya barang mati.

Penyempitan atas Logos inilah yang menandai era kita sekarang. Dampaknya mulai dari fundamentalisme agama (mengurung Logos ke dalam konsep-konsep religius yang sempit) maupun fundamentalisme ekonomi (mengurung logos semata pada kesempatan untuk memperoleh lebih banyak uang). Solusinya lalu, mengembalikan logos ke tempatnya semula, sebagai upaya sadar manusia untuk memahami alam dalam segala kemegahan maupun kemisteriusannya, yakni menjadi upaya untuk bisa hidup-bersama-dengan-alam. (mit der Natur umgehen).

Ilmu pengetahuan, kultur, dan agama adalah bentuk-bentuk ekspresi (Ausdrücke) dari Logos. Dan segala bentuk ekspresi manusia selalu berpijak pada sungai sejarah yang terbatas oleh waktu dan tempat. Maka, ia tak pernah mutlak, melainkan selalu bergerak, juga dalam sungai sejarah. Pemutlakan atas ekspresi dari Logos (dalam bentuk agama, ilmu, atau kultur) adalah kesalahan berpikir yang parah, yang menggiring kita pada segala bentuk perang maupun pengrusakan alam sekarang ini.

Bagaimana memahami Logos dalam bentuk aslinya, yang mencerahkan, yang tidak dipersempit semata menjadi teknik, ataupun agama, ataupun kultur? Ada lima ciri. Yang pertama, Logos itu bersifat kritis, baik pada alam, maupun pada dirinya sendiri. Logos mempertanyakan segala sesuatu, berusaha mencari jawab, namun tak akan pernah berhenti pada titik mutlak. Dengan kata lain, Logos selalu berbentuk otokritik (kritik diri).

Yang kedua, karena selalu bergerak, Logos juga selalu menghasilkan krisis (Krise). Bisa juga dikatakan, krisis (krisis ekonomi, krisis kebudayaan, dan berbagai krisis lainnya) adalah anak kandung dari Logos. Namun, krisis jangan dilihat sebagai kehancuran segalanya, melainkan sebagai peluang untuk berpikir ulang, guna menciptakan kemajuan berikutnya. Krisis, dengan kata lain, adalah kesempatan untuk berkembang.

Yang ketiga, Logos selalu terarah pada keseluruhan kenyataan, dan bukan hanya bagian-bagiannya (agama, kultur, negara, atau keluarga). Ketika Logos mengarah pada kenyataan sebagai keseluruhan, dan manusia sungguh menghayatinya, maka ia akan sampai pada kebijaksanaan, yang merupakan tujuan tertinggi semua bentuk pendidikan. Di masa Yunani Kuno, di tangan Aristoteles, Logos selalu berarti upaya tanpa henti (rasional maupun melampaui-rasionalitas) untuk menggapai Sophia, yakni kebijaksanaan.

Yang keempat, Logos, menurut Husserl, juga selalu berarti dia-logos, yakni proses dua arah, proses diskusi, proses interaksi dan komunikasi dengan dunia. Dunia (Welt), menurut Husserl, adalah rumah bagi setiap pengalaman manusia. Maka, segala bentuk pemikiran manusia harus dikembalikan dan diuji kepada dunia (bukan data statistik yang seringkali menipu). Dunia adalah tolok ukur bagi kebenaran manusia, dan karena dunia terus berubah, maka tolok ukur kita pun akan terus berubah.

Yang kelima, Logos akan menyediakan arah bagi hidup manusia, baik sebagai pribadi maupun sebagai kesatuan spesies, asal kita mau mendengarnya, memahaminya, dan menghayatinya dalam hidup. Logos adalah tanda dari upaya manusia untuk terus berusaha memahami apa yang tak pernah seluruhnya bisa terpahami. Ia menyediakan arah (Orientierung) sekaligus cara untuk hidup. Ia menyediakan horison untuk pemahaman kita akan “dunia” (Welt) dan bagaimana hidup bersama dengannya (umgehen).

Bunuh diri sosial adalah tindakan manusia yang setiap detik terjadi. Selalu ada harapan untuk memperlambatnya, selama kita mampu melakukan perubahan cara berpikir secara mendasar dan massal (ke seluruh dunia), serta kembali menghayati Logos dalam hidup kita. Obat baru, teknologi baru, agama baru, ataupun “tuhan” yang baru tak akan pernah bisa menyelamatkan kita sebagai manusia, selama pemahaman kita tak bersentuhan langsung dengan Logos yang sejati, selama Logos tak menjadi cara hidup (Modus unseres Lebens) dan cara berpikir kita (Modus unseres Denkens).

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

2 thoughts on “Bunuh Diri Sosial dan Krisis Logos”

  1. menarik apa yang anda uraikan saya menghargainya sebagai ungkapan yang cukup berani, namun dibalik alasan tentang pentingnya memaknai logos anda juga mengatakan bahwa segenap krisis yang tercipta itu adalah anak kandung logos saya melihatnya sebagai sebuah pernyataan yang bersifat paradox,epistimologi agama bersifat revelatif fideis sedangkan epistimologi ilmu bersifat evidensialis jika tidak bahkan filsafat sebagai mother sciantorum sudah lebih dulu mati sebelum bunuh diri sosial yang anda maksudkan itu terjadi,salam saya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s