Logos dan “Apa yang Terpenting”

principlesforlifeministries.com
principlesforlifeministries.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Orang beragama menyebutnya sebagai “Tuhan”. Para seniman menyebutnya sebagai “Keindahan” yang bisa diekspresikan melalui berbagai karya. Para ilmuwan menyebutnya sebagai “Kebenaran” yang bisa didekati dengan berbagai metode. Para filsuf Yunani Kuno melihatnya sebagai “Logos“. Kata ini memiliki beberapa arti, yakni bahasa, roh atau akal budi.

Ada berbagai kata untuk hal ini. Saya menyebutnya sebagai “apa yang terpenting.” Ia terungkap dan bisa didekati dengan berbagai cara dan dari berbagai bidang. Ia menjadi pusat dari apa yang sesungguhnya kita cari dalam hidup. Namun, seringkali kita lupa akan hal ini.

“Apa yang terpenting” ini tertanam di berbagai bidang. Ia juga terungkap di berbagai media. Sebuah karya, apapun bentuknya, entah itu sebuah lukisan, musik, bangunan, atau tulisan, jika berhasil menangkap satu bagian kecil dari “apa yang terpenting”, maka akan menciptakan rasa getar dan kagum dari orang yang melihatnya. Tremendum et Fascinosum, kata Rudolf Otto. Lanjutkan membaca Logos dan “Apa yang Terpenting”

Bunuh Diri Sosial dan Krisis Logos

weeklyvoice.com
weeklyvoice.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Manusia memang akan punah. Apa yang pernah ada, pasti suatu saat akan punah. Itu adalah hukum baja sejarah yang tak bisa dihindari. Pertanyannya kemudian, kapan kita akan punah? Menyimak beragam gejala dunia, rupanya waktunya tidak akan lama lagi.

Penyebabnya adalah diri kita sendiri. Sebagai satu spesies, kita seolah melakukan bunuh diri sosial, yakni bunuh diri spesies kita sendiri sebagai manusia. Kita saling membunuh. Kita merusak alam. Segala yang kita lakukan seperti tak habis-habisnya berusaha membunuh spesies kita sendiri.

Di Indonesia, korupsi bagaikan kanker yang merusak segalanya, mulai dari keadaan keuangan bangsa, sampai dengan moral hidup sehari-hari. Kekerasan dan ketidakmampuan hidup dalam perbedaan sudut pandang melahirkan perang dan penderitaan bagi semua. Konflik antar agama dan antar kelompok membuat hidup bersama menjadi amat sulit. Aku korupsi, maka aku ada, itulah kiranya yang menjadi semboyan sehari-hari para pejabat politik, hukum, maupun ekonomi kita di Indonesia. Lanjutkan membaca Bunuh Diri Sosial dan Krisis Logos