Penderitaan dan Peradaban

186092_x089a
artmajeur.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Lebih dari enam botol bir menemani percakapan kami. Sudah hampir semalam suntuk, kami berbincang. Kawan saya, yang berasal dari Jerman, bercerita, bagaimana ia terjebak di dalam cinta segita: jatuh cinta dengan orang yang sudah menikah, dan bahkan punya anak. Kisahnya penuh derita, mirip telenovela, namun nyata.

Sejenak, saya bertanya, “Mengapa kamu tidak pergi, dan melanjutkan hidupmu?” Pertanyaan tersebut tampak menghentaknya. Setitik air mata terlihat menggenang, entah karena sedih, atau karena alkohol. Setelah terdiam sesaat, ia menjawab, “Saya mencintainya. Semua penderitaan yang saya rasakan akan terbayar, jika saya bisa bersamanya. Saya akan terus berjuang, walaupun luka dan derita datang menghadang.” Lanjutkan membaca Penderitaan dan Peradaban

Naluri dan Peradaban

http://fractalontology.files.wordpress.com
fractalontology.com

Sebuah Sketsa Singkat

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Di dalam diri setiap orang bercokol dua naluri purba, yakni naluri meraih kenikmatan, dan naluri untuk menguasai. Artinya, secara alamiah, setiap orang terdorong oleh nalurinya untuk mencari apa yang nikmat, apa yang enak, dan itu manusiawi, tak bisa dihindarkan. Di sisi lain, setiap orang terdorong dari dalam dirinya untuk menguasai, yakni pertama dengan memberi nama, memberi arti, lalu menggunakan (misalnya alam atau zat baru untuk kepentingan manusia itu sendiri).

Setiap detik, manusia mencari apa yang enak, entah tempat duduk yang enak di dalam bis, arah kursi yang enak di kantor atau di kampus, atau sekedar mencari makan yang enak sekaligus murah (nikmat). Setiap detik, manusia terdorong untuk menguasai. Zat baru diberi arti dan diperas fungsinya di laboratorium untuk kepentingannya, entah untuk kepentingan bisnis atau kepentingan kemanusiaan. Inilah dua naluri purba manusia yang selalu bercokol di dalam batin setiap orang, entah ia sadar, atau tidak.

Kini, kita hidup di dalam masyarakat hukum. Inilah yang disebut para ahli ilmu sosial sebagai peradaban, yakni suatu teknik untuk mengatur naluri-naluri manusia, sehingga ia tidak menyeruak keluar, dan menghancurkan manusia itu sendiri. Jadi, peradaban, dalam bentuk aturan, hukum, budaya, filsafat, dan agama, tidak menghancurkan naluri manusia, melainkan sekedar mengelolanya. Bisa dibilang, peradaban adalah jalan putar yang lebih tertata, walaupun tujuan akhirnya tetap sama, yakni memuaskan naluri manusia. Lanjutkan membaca Naluri dan Peradaban