Publikasi Terbaru: Mendidik Integritas

Marisol García Pulgar

KONSEP KESATUAN PRIBADI (EINHEIT DER PERSON) DI DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN JULIAN NIDA-RÜMELIN

Oleh Reza A.A Wattimena

dimuat dalam 

Studia Philosophica et Theologica, Vol. 18 No. 1, Maret 2018

Abstrak

Tulisan ini menjabarkan inti pandangan Julian Nida-Rümelin tentang konsep kesatuan pribadi sebagai proses pendidikan integritas di dalam tradisi pendidikan humanis. Metode yang digunakan adalah analisis kritis terhadap tulisan Nida-Rümelin di dalam buku Philosophie einer humanen Bildung, sekaligus dengan mengacu pada penelitian yang telah dilakukan oleh penulis artikel ini sebelumnya. Beberapa tanggapan kritis juga akan diberikan terhadap pandangan Nida-Rümelin ini. Mendidik integritas berarti mendidik manusia dalam keseluruhan unsur dirinya. Ia menciptakan keseimbangan yang merupakan hal yang amat penting di dalam tradisi pendidikan humanis.

Kata-kata kunci: Integritas, Kesatuan Pribadi, Pendidikan Humanis

Silahkan diunduh disini: Mendidik Integritas, Studia vol 18 no. 1 Maret 2018-29-39-1-10

Iklan

Integritas dan Rabun Jauh

itb.ac.id
itb.ac.id

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang di München, Jerman

Hampir setiap saat, kita dipaksa oleh situasi untuk membuat keputusan, mulai dari keputusan kecil tentang apa yang kita makan untuk sarapan, atau keputusan besar, seperti apakah kita akan menikah, atau tidak. Di dalam setiap keputusan, selalu ada pertimbangan-pertimbangan yang perlu untuk diperhatikan. Setidaknya, pertimbangan tersebut mencakup dua hal, yakni keadaan nyata yang ada, atau orang menyebutnya sebagai “data”, dan prinsip hidup seseorang, yakni nilai-nilai hidup yang ia yakini sebagai manusia. Dengan dua alat ini, setiap saat, hampir setiap detik, orang membuat keputusan.

Keadaan dan Prinsip

Dengan data, orang memperoleh informasi tentang keadaan di dunia, mulai dari harga saham, sampai bagaimana orang-orang lain membuat keputusan dalam keadaan yang sama. Dengan data, orang bisa belajar dari pengalaman orang lain, juga dari keadaan di luar, supaya ia bisa membuat keputusan yang tepat. Namun, data sama sekali tidak cukup untuk membuat keputusan. Sebaliknya, data bisa menipu kita, sehingga kita membuat keputusan yang salah, yang akhirnya tidak hanya merugikan kita, tetapi juga merugikan orang lain.

Inilah kecenderungan umum manusia pada umumnya, yakni membuat keputusan berdasarkan situasi, berdasarkan data. Keputusan yang diambil biasanya mengambil data jangka pendek, maka tujuannya pun untuk memperoleh keuntungan atau keberhasilan dalam jangka pendek pula. Ini juga yang menjadi hal terpenting di dalam metode penelitian ilmiah ilmu pengetahuan modern. Dengan cara berpikir ini, ilmu pengetahuan modern lalu menghasilkan penemuan-penemuan yang mengubah dunia (jadi lebih baik?). Lanjutkan membaca Integritas dan Rabun Jauh