Naluri dan Peradaban

http://fractalontology.files.wordpress.com
fractalontology.com

Sebuah Sketsa Singkat

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Di dalam diri setiap orang bercokol dua naluri purba, yakni naluri meraih kenikmatan, dan naluri untuk menguasai. Artinya, secara alamiah, setiap orang terdorong oleh nalurinya untuk mencari apa yang nikmat, apa yang enak, dan itu manusiawi, tak bisa dihindarkan. Di sisi lain, setiap orang terdorong dari dalam dirinya untuk menguasai, yakni pertama dengan memberi nama, memberi arti, lalu menggunakan (misalnya alam atau zat baru untuk kepentingan manusia itu sendiri).

Setiap detik, manusia mencari apa yang enak, entah tempat duduk yang enak di dalam bis, arah kursi yang enak di kantor atau di kampus, atau sekedar mencari makan yang enak sekaligus murah (nikmat). Setiap detik, manusia terdorong untuk menguasai. Zat baru diberi arti dan diperas fungsinya di laboratorium untuk kepentingannya, entah untuk kepentingan bisnis atau kepentingan kemanusiaan. Inilah dua naluri purba manusia yang selalu bercokol di dalam batin setiap orang, entah ia sadar, atau tidak.

Kini, kita hidup di dalam masyarakat hukum. Inilah yang disebut para ahli ilmu sosial sebagai peradaban, yakni suatu teknik untuk mengatur naluri-naluri manusia, sehingga ia tidak menyeruak keluar, dan menghancurkan manusia itu sendiri. Jadi, peradaban, dalam bentuk aturan, hukum, budaya, filsafat, dan agama, tidak menghancurkan naluri manusia, melainkan sekedar mengelolanya. Bisa dibilang, peradaban adalah jalan putar yang lebih tertata, walaupun tujuan akhirnya tetap sama, yakni memuaskan naluri manusia.

Salah satu naluri paling purba untuk meraih kenikmatan adalah seks. Dengan berhubungan seks, orang memperoleh kenikmatan badaniah tertinggi yang bisa dirasakan oleh manusia. Namun, tentu saja, orang tidak bisa berhubungan seks sembarangan, misalnya dengan siapapun, kapanpun dan dimanapun. Disinilah tugas peradaban, yakni menata naluri seks manusia, supaya tidak merusak kehidupan manusia secara keseluruhan. Dan bentuk peradaban untuk mengelola seks adalah institusi pernikahan, dimana orang bisa berhubungan seks di tempat dan waktu yang telah diatur, sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat.

Di dalam perusahaan, kita bisa melihat susunan kekuasaan, mulai dari pemilik, direktur utama, sampai dengan tukang sapu. Di dalam dunia politik, kita juga bisa melihat, bagaimana pemerintahan diatur dengan susunan kekuasaan yang jelas, mulai dari presiden, sampai dengan pegawai kelurahan setempat. Susunan kekuasaan dibuat, supaya naluri berkuasa di dalam diri manusia bisa disalurkan keluar, namun tetap dalam batas-batas aturan yang telah ditetapkan sebelumnya, yakni batas karir (perusahaan), ataupun batas undang-undang (politik). Susunan kekuasaan dalam bisnis maupun politik adalah jalan “beradab” untuk memuaskan naluri berkuasa manusia.

Selain seks, naluri manusia untuk mencapai kenikmatan di dalam tindakan memakan. Mulut adalah sumber kenikmatan terbesar kedua, setelah seks. Naluri kenikmatan dalam bentuk tindakan memakan ini pun perlu diatur, yakni perlu dibuat “beradab”. Maka, manusia menciptakan mall dan restoran, guna memuaskan naluri memakan dan melahap yang memang sudah selalu bercokol di dalam dirinya. Namun, untuk memakan, manusia perlu membayar, dan uang setiap orang, betapapun kayanya dia, tetap terbatas. Maka, memakan dan melahap (mengkonsumsi) tetap terbatas, dan dibuat “beradab” dalam bentuk aturan harga makanan, dan kesempatan memakan (jam buka restoran dan mall).

Tubuh manusia adalah sumber kenikmatan, sekaligus sumber rasa sakit. Untuk menikmati atau untuk menderita, manusia perlu tubuhnya, walaupun kenikmatan dan penderitaan itu seringkali tergolong kenikmatan dan penderitaan batiniah. Salah satu bentuk kenikmatan tubuh adalah keindahan, yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk mode berpakaian dan kultur fitness. Jutaan orang membayar jutaan dollar ataupun euro, sekedar untuk memuaskan hasrat akan keindahan tubuhnya dengan berpakaian indah, sekaligus melatih tubuhnya, supaya berbentuk sesuai keinginan. Industri mode pakaian dan fitness adalah jalan berputar beradab untuk memuaskan naluri kenikmatan badaniah manusia.

Naluri manusia untuk menguasai, sebenarnya, juga memiliki paradoks di dalam dirinya sendiri. Sekalipun manusia ingin menguasai, ia sekaligus juga ingin dikusai, diatur, dan ditaklukkan oleh sesuatu yang dianggapnya lebih kuat. Inilah mengapa, manusia menciptakan agama, yakni sebagai jalan beputar yang “beradab” untuk diatur, dikuasai, dan ditaklukkan oleh sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri, yang disebutnya sebagai “tuhan”. Naluri untuk dikuasai inilah yang juga mendorong manusia untuk begitu mudah tergoda pada kekuasaan totaliter dalam segala bentuknya, entah teosentris (berdasarkan agama) atau militer.

Peradaban adalah simbol, bahwa manusia mampu bergerak melampaui naluri-naluri purbanya. Ia adalah jalan putar bagi manusia untuk menata dan mengelola naluri-nalur purbanya, supaya tidak merusak perkembangan manusia itu sendiri. Kemungkinan berikutnya adalah, mampukah manusia melampaui peradaban yang telah ia bangun sendiri, karena peradaban yang telah ia bangun ini ternyata memiliki banyak kelemahan yang fatal, seperti pengrusakan lingkungan, krisis serta perang yang tak berkesudahan? Mampukah manusia membuat peradaban yang telah ada dan berfungsi sekarang ini lebih “beradab”?

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

8 thoughts on “Naluri dan Peradaban”

  1. Sebenarnya manusia tidak berubah sejak zaman purba. Panah yang digunakan untuk berburu dulu, hanya bentuknya yang berubah – salah satunya berbentu partai. Semangat menaklukkan juga dibangun melalui konsepsi partai atas nama demokrasi. Semangat menaklukkan ini pulalah yang membuat manusia menciptakan masalahnya kemudian dicarikan solusi, untuk kemudian dibuatkan masalah kembali untuk kemudian kembali dicarikan solusi. Pertanyaannya bukan hanya; semakin beradabkah manusia atau sebaliknya? Yang juga penting untuk ditanyakan; belajarkah manusia dari kesalahannya? Sepertinya tidak. Dan kalaupun manusia siap “dikuasai”, hal itu tentu (hanya) karena tak mampu menguasai, yang bisa jadi sambil terus mencari “panah” untuk dilontarkan …

    Suka

  2. halo.. pakabar Reza
    zaman materialis gini,manusia mestilah dahulu meraih naluri menguasai – menguasai ‘materi’ – barulah manusia dapat meraih naluri kenikmatan – semakin nikmat atas segala sesuatu, manusia justru tidak meraih naluri “berkuasa atas dirinya”..terlena lupa diri..peradaban yang telah ada menjadi lebih beradab dan lebih biadab.

    Suka

  3. Naluri manusia untuk meraih kenikmatan dan kekuasaan itu sebenarnya menjadi suatu yang alami. Benar seperti yang dikatan bahwa semuanya itu butuh pengontrolan baik dari dalam diri sendiri maupun dari luar masyarakat sekitarnya..mungkin bisa saya bertanya soal mana yang lebih di prioritaskan manusia saat ini, apakah naluri untuk mencapai kenikmatan atau lebih pada pencapaian kekuasaan?? lalu apa dasar utama sehingga hal itu bisa terjadi?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s