Si penjilat itu naik pangkat lagi. Kerjaannya berantakan. Namun, mulutnya manis, dan pandai merayu atasan. Ia tidak hanya diampuni kesalahannya, tetapi juga naik pangkat, melampaui teman-temannya yang lebih mampu.
Di tempat lain, keponakan sang penguasa mendapat posisi penting. Ia tidak berpengalaman. Ia tidak pernah menunjukkan prestasi apapun. Semata karena lahir di tempat yang tepat, dan menjadi keponakan sang penguasa, ia mendapatkan jabatan yang penting. Lanjutkan membaca Meritokrasi untuk Indonesia
Persoalan kekerasan terhadap perempuan adalah persoalan mendesak yang menuntut jalan keluar yang tepat. Kekerasan terhadap perempuan menjadi unik, karena seringkali melibatkan pemerkosaan. Tubuh perempuan dilecehkan sebagai tanda penguasaan dan penghinaan dari pelaku. Setelah terpuaskan, si pelaku lalu membunuh korban, kerap kali dengan cara-cara sadis.
Kita semua bergidik ngeri membaca berita-berita pemerkosaan yang bermuara pada pembunuhan sadis. Kita semua marah, dan menuntut keadilan bagi semua pihak. Namun, persoalan ini tetap muncul, bahkan dengan tingkat brutalitas yang semakin mengerikan. Mengapa ini bisa terjadi? Lanjutkan membaca Melampaui Pemerkosaan
Peneliti, Penulis dan Doktor dari Universitas Filsafat Muenchen, Jerman
Italia, 1564, lahirlah seorang ilmuwan sekaligus filsuf yang pemikirannya akan menggetarkan dunia. Namanya adalah Galileo Galilei. Mungkin, anda pernah mendengar namanya. Ia adalah salah satu tokoh di dalam dunia ilmu pengetahuan yang berani menantang tradisi dan kekuasaan yang mengekang kebebasan berpikir, berpendapat dan mencari kebenaran.
Ia berpendapat, bahwa pusat dari tata surya bukanlah bumi, seperti yang diyakini tradisi Gereja Katolik dan filsafat pada abad pertengahan, melainkan matahari. Pandangan ini menyangkal langsung pandangan Gereja Katolik pada masa itu. Galileo pun dituduh sebagai bidaah, dan harus menjalani berbagai persidangan maupun tahanan rumah, sampai akhir hayatnya. Nantinya, pandangan-pandangan utama Galileo justru terbukti benar. Lanjutkan membaca Sains dan Spiritualitas
Peneliti, Penulis dan Doktor Filsafat dari Universitas Filsafat München Jerman
Anaïs Nin, penulis asal Kuba, pernah berkata, “Kita menulis untuk merasakan kehidupan dua kali, pada saat itu, dan ketika kita mengingatnya di dalam tulisan kita.”
Perubahan
Setiap hari, kita menulis. Kita menulis untuk mengirim pesan kepada teman atau keluarga. Kita menulis untuk menyampaikan perasaan kita, entah kepada buku harian, blog atau kepada orang lain. Dengan menulis, kita memperoleh ruang untuk mengekspresikan pemikiran kita, termasuk di dalamnya harapan dan ketakutan di dalam hidup kita. Menulis berarti menciptakan ruang, tempat dimana kita bisa menjadi diri kita sendiri, tanpa halangan dari pihak manapun. Lanjutkan membaca Menulis, Penyembuhan dan Perubahan
Peneliti, Penulis dan Doktor Filsafat dari Universitas Filsafat München, Jerman
Tanggapan atas buku “Filsafat Negasi” tulisan Muhammad Al-Fayyadl dalam Diskusi di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya 9 Mei 2016
Saya teringat suatu sore di kota Berlin, Jerman. Saya sedang berdiskusi dengan seorang kawan tentang perbedaan antara filsafat Jerman dan filsafat Prancis kontemporer. Kawan saya berpendapat, bahwa para pemikir Prancis tidak dapat dianggap sebagai seorang filsuf, melainkan sastrawan. Mereka menggunakan bahasa yang indah dan berbunga-bunga, guna menyampaikan maksud mereka yang sebenarnya cukup sederhana. Ini tentunya berbeda dengan gaya menulis para filsuf Jerman kontemporer, seperti Julian Nida Rümelin dan Jürgen Habermas, yang menekankan ketepatan kata, supaya tulisannya bisa dimengerti oleh masyarakat luas.
Ketika membaca buku Filsafat Negasi ini, ingatan tentang percakapan tersebut mengalir deras di dalam kepala saya. Saya mencoba membaca buku ini, dan melahirkan semacam metanegasi, yakni negasi atas negasi. Yang saya tangkap adalah, bahwa Fayyadl mencoba memaparkan apa yang sesungguhnya tidak bisa dipaparkan oleh kata dan konsep. Sebuah kepura-puraan (pretensi), bahwa kehidupan bisa dilukiskan dengan guratan tulisan yang mati, setelah pengarang meninggalkannya. Lanjutkan membaca Metanegasi, Pretensi dan Kesalahan
Krisis Peradaban Sebagai Krisis Akal Budi Dialog dengan Pemikiran Edmund Husserl di dalam Die Krisis der europäischen Wissenschaft und die transzendentale Phänomenologie, eine Einleitung in die phänomenologische Philosophie
Oleh Reza A.A Wattimena
di dalam Jurnal Studia philosophica et theologica STFT Widya Sasana Malang
Vol. 15. No. 1 Maret 2015
SK DIRJEN DIKTI: 167/DIKTI/KEP/2007
Bisa dilihat di link berikut: http://www.studiapt.org/shelf.php?p=1
Peneliti, Penulis dan Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman.
Banyak orang masih mengira, bahwa mengingat adalah tindakan pribadi. Hanya aku dan kepalaku yang mengingat. Namun, anggapan ini kini banyak dibantah. Ingatan mengandaikan banyak hal sebagai latar belakangnya. Ia menggunakan bahasa dan simbol yang sebenarnya adalah ciptaan masyarakat. Tindak mengingat juga menggunakan lingkungan sosial, seperti tempat dan orang lain, sebagai titik acunya. Pendek kata, orang tidak mungkin mengingat, tanpa konteks sosial tertentu yang menjadi latar belakangnya. Lanjutkan membaca Mengurai Ingatan Kolektif
Peneliti, Penulis dan Doktor Filsafat dari Universitas Filsafat Muenchen Jerman
Apa hubungan antara demo supir taksi di Jakarta pada 22 Maret 2016 lalu dengan globalisasi? Sekilas, kita tidak bisa melihat hubungan langsung. Namun, jika ditelaah lebih dalam, hubungannya langsung tampak: perkembangan informasi dan teknologi dari negara lain kini memasuki Indonesia, dan mempengaruhi industri transportasi di Jakarta. Pendek kata, para supir taksi itu merasa dirugikan oleh perkembangan industri informasi dan komunikasi yang mengurangi penghasilan mereka per harinya. Siapapun yang diancam mata pencahariannya pasti akan bergerak protes. Sayangnya, ini seringkali berakhir pada kekerasan yang tidak menguntungkan siapapun.
Ini juga terjadi, karena globalisasi, yang salah satunya ditandai dengan perkembangan pesat teknologi informasi dan komunikasi, masih belum mencapai titik rekonsiliasi. Artinya, globalisasi masih menghasilkan ketimpangan di berbagai bidang yang juga melahirkan berbagai kemungkinan konflik. Namun, ini janganlah dilihat sebagai titik final. Globalisasi masih mungkin berubah, dan itu semua amat tergantung dari para aktor globalisasi yang adalah manusia-manusia juga. Tulisan ini ingin menawarkan sebuah model di dalam memandang globalisasi dalam konteks Indonesia, yakni globalisasi sebagai rekonsiliasi. Di dalam rekonsiliasi ini, semua aspek kehidupan manusia, mulai dari politik, agama, pendidikan sampai dengan budaya, menemukan titik seimbangnya yang bersifat dinamis. Titik seimbang yang dinamis memungkinkan terciptanya keadilan dan kemakmuran untuk masyarakat Indonesia. Lanjutkan membaca Supir Taksi, Globalisasi dan Pencarian Identitas yang Sejati
Saya punya bayangan untuk membuat lemari. Warnanya coklat tua, dan ada tiga pintu. Di salah satu pintu, ada cermin, supaya saya bisa menyisir di depannya di pagi hari. Lalu, saya mencari tukang yang bisa membantu saya mengubah bayangan tersebut menjadi kenyataan. Lemari coklat tua tiga pintu dimulai dari secercah ide di kepala saya.
Pikiran
Di dalam pikiran saya, ada berbagai benih kenyataan. Ada bayangan-bayangan yang bisa menjadi kenyataan, asal saya berani bertindak untuk mewujudkannya. Ini rupanya sejalan dengan ajaran filosofis yang usianya sudah ribuan tahun, bahwa pikiran adalah sumber dari segalanya. Materi, yang kita bayangkan sebagai sesuatu yang mandiri dari pikiran, pun sebenarnya adalah bentukan pikiran juga. Lanjutkan membaca Pikiran dan Pencerahan
Peneliti dan Doktor Filsafat dari Universitas Filsafat Muenchen, Jerman
Karl Popper, filsuf asal Austria, pernah menulis buku dengan judul Die offene Gesellschaft und ihre Feinde, atau masyarakat terbuka dan musuh-musuhnya. Di dalam bab akhir buku tersebut, ia mengajukan pertanyaan, apakah sejarah dunia memiliki makna? Ada beragam jawaban atas pertanyaan tersebut yang dirumuskan oleh berbagai pemikir di sepanjang sejarah manusia. Di hadapan beragam bencana dan penderitaan yang menimpa manusia, banyak pemikir yang menjawab, bahwa sejarah dunia tidak memiliki makna apapun. Semua harapan akan kandas oleh perang dan konflik yang menghancurkan segalanya. (Frank, die Zeit, 2015)
Masyarakat Terbuka
Popper memutuskan untuk menulis buku Die offene Gesellschaft und ihre Feinde pada 13 Maret 1938. Pada hari itu, tentara Nazi Jerman menyerang Austria. Keadaan perang di Eropa pada masa itu telah membuat Popper terpaksa melarikan diri ke New Zealand. Bagaimanapun juga, ia adalah warga kota Wina keturunan Yahudi. Nyawanya dan keluarganya terancam, akibat sepak terjang Nazi Jerman di Eropa. Lanjutkan membaca Mencipta Masyarakat Terbuka
Beberapa hari yang lalu, saya mengunjungi pasar kecil dekat rumah. Seperti biasa, pasar begitu ramai dengan orang yang melakukan transaksi jual beli. Yang menarik perhatian saya adalah, betapa kotornya pasar tersebut. Ia terletak dekat dengan tempat sampah, persis di depan sungai kecil yang ditimbun oleh sampah yang begitu banyak, mulai dari botol aqua, sampai dengan sayur-sayuran busuk. Pemandangan yang mengerikan tersebut tentu saja dibarengi dengan bau busuk yang menusuk hidung.
Tak jauh dari pasar tersebut, ada gedung tinggi menjulang. Gedung itu adalah apartemen yang berdiri tinggi menjulang di antara perumahan kelas menengah ke atas. Sekali lagi, saya tergerak oleh ketimpangan sosial yang begitu besar antara si kaya dan si miskin di Indonesia tercinta ini. Keadaan semacam ini dapat dengan mudah ditemukan di berbagai tempat di Indonesia. Lanjutkan membaca Dunia Macam Apa?
Dosen di Unika Widya Mandala Surabaya, Doktor Filsafat dari Universitas Filsafat Muenchen, Jerman
Mantan Rektor Universitas Airlangga Surabaya, Fasichul Lisan, kini ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh KPK terkait dengan pendirian RS Unair. Bukti-bukti sudah mencukupi untuk menetapkan dia sebagai tersangka. Tentu saja, asas praduga tak bersalah tetap harus dipegang. Orang harus dianggap tak bersalah, sampai ia sungguh terbukti sebaliknya.
Lepas dari apa yang sesungguhnya terjadi, pertanyaan mendasar, tentang mengapa orang korupsi, tetap menarik perhatian banyak kalangan. Ini terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di banyak negara lainnya. Masalahnya bukan adanya korupsi, tetapi tingkat korupsi yang mengkhawatirkan, sehingga menghambat seluruh proses pembangunan lainnya. Proses perluasan pendidikan, fasilitas kesehatan dan pengentasan kemiskinan menjadi terhambat, akibat tingkat korupsi yang amat besar. Lanjutkan membaca Mengurai Epistemologi Koruptor
Apa hubungan antara demo supir taksi di Jakarta pada 22 Maret 2016 lalu dengan globalisasi? Sekilas, kita tidak bisa melihat hubungan langsung. Namun, jika ditelaah lebih dalam, hubungannya jelas tampak: perkembangan informasi dan teknologi dari negara lain kini memasuki Indonesia, dan mempengaruhi industri transportasi di Jakarta. Pendek kata, para supir taksi itu merasa dirugikan oleh perkembangan industri informasi dan komunikasi yang mengurangi penghasilan mereka per harinya. Siapapun yang diancam mata pencahariannya pasti akan bergerak protes. Sayangnya, ini seringkali berakhir pada kekerasan yang tidak menguntungkan siapapun.[1]
Ini juga terjadi, karena globalisasi, yang salah satunya ditandai dengan perkembangan pesat teknologi informasi dan komunikasi, masih belum mencapai titik rekonsiliasi. Artinya, globalisasi masih menghasilkan ketimpangan di berbagai bidang yang juga melahirkan berbagai kemungkinan konflik.[2] Namun, ini janganlah dilihat sebagai titik final. Globalisasi masih mungkin berubah, dan itu semua amat tergantung dari para aktor globalisasi yang adalah manusia-manusia juga. Tulisan ini ingin menawarkan sebuah model di dalam memandang globalisasi dalam konteks Indonesia, yakni globalisasi sebagai rekonsiliasi. Di dalam rekonsiliasi ini, semua aspek kehidupan manusia, mulai dari politik, agama, pendidikan sampai dengan budaya, menemukan titik seimbangnya yang bersifat dinamis. Titik seimbang yang dinamis memungkinkan terciptanya keadilan dan kemakmuran untuk masyarakat Indonesia. Lanjutkan membaca Supir Taksi, Globalisasi dan Rekonsiliasi?
Di dalam hidup, kita diminta membuat pilihan. Kerap kali, pilihan yang tersedia begitu banyak. Kita mengalami kesulitan untuk membuat keputusan. Yang diperlukan disini adalah prioritas, yakni pemahaman mendasar tentang apa yang terpenting, yang terlebih dahulu harus dilakukan.
Prioritas
Hal ini penting tidak hanya untuk pribadi kita, tetapi juga untuk kehidupan bersama. Politik yang bermutu adalah politik yang berfokus pada apa yang terpenting, yakni membangun kehidupan bersama yang didasarkan pada keadilan dan kemakmuran untuk semua. Hal-hal lainnya haruslah mengabdi pada prioritas utama ini. Jika tidak, maka ia harus dilepas. Lanjutkan membaca Tentang Prioritas
Di dalam hidup, kita kerap kali merasa tersesat. Kita kehilangan pegangan hidup, karena masalah dan krisis datang bertubi-tubi, seolah tanpa henti. Ibaratnya keluar dari mulut harimau, dan masuk ke mulut singa. Tegangan hidup menghantam terus, tanpa memberi jeda.
Kita pun juga kerap kali merasa kehilangan arah. Kita tidak lagi punya tujuan hidup yang jelas. Pegangan hidup seolah rapuh, dan begitu mudah lepas. Kita tidak lagi menemukan makna dari apa yang sedang kita lakukan. Lanjutkan membaca Ketika Tersesat
Siapa yang tak tergoda dengan gemerlap cahaya kota di malam hari? Gedung-gedung tinggi menjulang memamerkan kecanggihan dan keindahannya. Kota-kota besar dunia memikat begitu banyak orang untuk hidup di dalamnya. Sayangnya, daya pikat tersebut tidak selalu berakhir sebagai cerita bahagia.
Tukang parkir itu masih muda. Setelah lama meninggalkan Jakarta, saya mulai banyak kehilangan arah. Saya bertanya satu alamat kepadanya. Anak muda asal Madura itu menggeleng kepala, tanda tidak tahu. Lanjutkan membaca Kota dan Ilusinya
Dosen di Unika Widya Mandala Surabaya, Doktor Filsafat dari Universitas Filsafat Muenchen, Jerman
Sejak kecil, kita diajar untuk menjadi pintar. Kita diajar untuk melatih pikiran kita, sehingga menjadi pintar. Dengan kepintaran tersebut, kita dianggap bisa hidup dengan baik di kemudian hari. Kita juga bisa menolong orang lain dengan kepintaran yang kita punya.
Hal ini bukan tanpa alasan. Dengan pikiran, manusia menciptakan filsafat. Dari filsafat kemudian berkembanglah beragam cabang ilmu pengetahuan, seperti kita kenal sekarang ini. Dari situ lahirlah teknologi yang kita gunakan sehari-hari. Lanjutkan membaca Aku Berpikir, Maka Aku… Menderita
Jika dipikirkan, hidup memang rumit. Begitu banyak keputusan harus dibuat. Semua dengan akibatnya masing-masing. Apapun yang kita lakukan, sebaik apapun niat di dalam hati kita, tantangan selalu datang menghadang.
Di tengah segala kebingungan yang diciptakan oleh pikiran, kita mencari jawaban. Di tengah beragam tantangan, kita mencari jalan keluar. Pendek kata, kita mencari kejernihan. Dengan kejernihan, harapannya, kita bisa mencapai keputusan yang tepat di dalam beragam keadaan yang terjadi. Lanjutkan membaca Paradoks Kejernihan