Dunia Macam Apa?

eyes world blue eyes earth maps artwork photomanipulations 1920x1200 wallpaper_wallpaperswa.com_58
wallpaperswa.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Unika Widya Mandala Surabaya

Beberapa hari yang lalu, saya mengunjungi pasar kecil dekat rumah. Seperti biasa, pasar begitu ramai dengan orang yang melakukan transaksi jual beli. Yang menarik perhatian saya adalah, betapa kotornya pasar tersebut. Ia terletak dekat dengan tempat sampah, persis di depan sungai kecil yang ditimbun oleh sampah yang begitu banyak, mulai dari botol aqua, sampai dengan sayur-sayuran busuk. Pemandangan yang mengerikan tersebut tentu saja dibarengi dengan bau busuk yang menusuk hidung.

Tak jauh dari pasar tersebut, ada gedung tinggi menjulang. Gedung itu adalah apartemen yang berdiri tinggi menjulang di antara perumahan kelas menengah ke atas. Sekali lagi, saya tergerak oleh ketimpangan sosial yang begitu besar antara si kaya dan si miskin di Indonesia tercinta ini. Keadaan semacam ini dapat dengan mudah ditemukan di berbagai tempat di Indonesia.

Memang, kita hidup di dunia yang penuh dengan tantangan. Perang tak berkesudahan di berbagai tempat ditambah dengan kerusakan lingkungan hidup menjadi tantangan bersama. Ketimpangan sosial seolah menjadi bom waktu yang menunggu untuk meledak, sehingga menghasilkan konflik besar di masyarakat. Pertanyaan kecil lalu menggantung, dunia macam apakah yang kita wariskan ke anak cucu kita? Ada nada pesimis di dalam jawaban atas pertanyaan tersebut.

Kemajuan yang Berkelanjutan

Gerhard de Haan, ilmuwan pendidikan asal Berlin, pernah menyatakan, bahwa tema “kemajuan yang berkelanjutan” (nachhaltige Entwicklung) adalah tema terpenting jaman kita. Ide ini haruslah disatukan dengan berbagai bidang kehidupan masyarakat, mulai dari seni, pendidikan, ekonomi sampai dengan politik. Di Jerman, orang bisa mengambil jurusan turisme hijau sebagai pendidikannya. Di dalam jurusan ini diajarkan, bagaimana orang bisa berwisata dengan hemat energi, seperti misalnya menggunakan angkutan umum, dan tidak bersandar melulu pada kendaraan pribadi.

Konsep “kemajuan yang berkelanjutan” ini nantinya berkembang secara konkret menjadi berbagai kebijakan di bidang ekonomi dan pariwisata. Sebagai konsumen, kita bisa memilih untuk membeli produk yang dibuat dengan prinsip perdagangan yang adil. Kita hanya perlu melihat label yang tertempel di barang yang hendak kita beli. Ada kemungkinan lainnya, yakni produk yang dibuat dengan cara-cara yang sehat, yang biasanya tertempel label “bio”. Semua label ini melambangkan adanya proses-proses yang adil di belakang beragam produk ataupun jasa yang kita beli.

Konsep ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Ia lahir dari masa-masa awal revolusi industri di Eropa pada abad 18 lalu. Pada masa itu, kayu adalah sesuatu yang amat berharga. Orang menggunakan kayu tidak hanya untuk membangun rumah, tetapi juga untuk pemanas ruangan dan memasak. Beberapa hutan menjadi gundul, akibat dari proses-proses ini. Keadaan ini mendorong Hans Carl von Carlowitz, yang pada waktu itu menjadi pemerhati hutan di Jerman, untuk menulis buku pada 1713 tentang ekonomi dari hutan-hutan (Ökonomie der Walder). Ide tentang kemajuan ekonomi yang berkelanjutan dan memperhatikan keadaan lingkungan hidup pun lahir di Eropa.

Sejak saat itu, konsep berpikir dan bertindak berdasarkan kesadaran lingkungan hidup pun meningkat. Pada 2002 lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadakan pertemuan di Rio de Janeiro. Mereka bersepakat untuk merumuskan program global dengan nama “Pendidikan untuk Kemajuan yang Berkelanjutan” (Bildung für nachhaltige Entwicklung). Semua negara anggota PBB, termasuk Indonesia, haruslah menerapkan berbagai kebijakan yang menunjang program tersebut, terutama di bidang pendidikan dan penelitian.

Keadaan di Indonesia

Jika diperhatikan lebih dekat, kesadaran akan kelestarian lingkungan hidup sudah selalu menjadi bagian dari budaya Indonesia. Beragam bentuk kearifan lokal di berbagai tempat di Indonesia telah menunjukkan, bagaimana pelestarian lingkungan hidup telah menjadi bagian sehari-hari kehidupan mereka. Hutan setempat tidak hanya lestari, tetapi juga berkembang semakin luas dan indah. Kesadaran semacam ini lahir dari pemahaman mendasar, bahwa manusia adalah bagian integral dari alam sekitarnya. Tidak ada pembedaan antara manusia dengan alam yang melahirkan serta membesarkannya.

Paham ini tampaknya merupakan pengaruh langsung dari cara berpikir Hindu dan Buddhis. Memang, selama lebih dari 1000 tahun, Indonesia berada di bawah kekuasaan kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha, yang besar diantaranya adalah Sriwijaya dan Majapahit. Kedua pandangan ini mengingatkan, bahwa manusia bukanlah seonggok daging dan darah semata, tetapi juga merupakan alam semesta itu sendiri. Tidak ada keterpisahan antara manusia dengan seluruh alam semesta, beserta segala mahluk yang ada di dalamnya. Kesadaran ini tertanam begitu dalam di dalam cara berpikir dan cara hidup orang Indonesia, sampai sekarang ini.

Sayangnya, beragam kearifan lokal semacam ini kian menghilang. Globalisasi telah menyebarkan cara berpikir neoliberalisme, yang melulu mementingkan nilai ekonomi, ke seluruh dunia. Bersama dengan globalisasi, kebudayaan Amerika dan Eropa pun tersebar ke seluruh dunia, seolah tanpa bisa terbendung. Kesemuanya itu mengancam kearifan lokal yang telah berkembang ribuan tahun di Indonesia. Bersama dengan itu, kelestarian alam kita pun terancam oleh perkembangan industri yang terlalu pesat, beserta limbahnya yang sebagian besar tidak bisa diolah.

Sebenarnya, globalisasi bukanlah proses yang melulu buruk. Banyak keuntungan yang bisa diperoleh dengan proses ini, mulai dari keuntungan melalui perdagangan ekonomi di tingkat global, pendidikan lintas negara, sampai dengan perkembangan budaya dan cara hidup. Ini adalah buah-buah globalisasi yang bisa dipetik, asalkan pemerintah kita memiliki aturan yang kuat dan adil di dalam menata proses globalisasi. Sayangnya, ini tak terjadi di kenyataan. Pemerintah kita justru dipenuhi korupsi, kolusi dan nepotisme yang menghambat pembangunan di berbagai bidang.

Dunia Macam Apa?

Menghadapi pertanyaan, dunia macam apa yang kita wariskan pada anak cucu kita, kita hanya dapat terdiam. Yang pasti, alam yang kita wariskan adalah alam yang sudah rusak. Tata politik dan ekonomi global pun masih menghasilkan ketimpangan sosial yang amat besar antara si kaya dan si miskin. Ketimpangan ini membawa beragam masalah lainnya, mulai dari kriminalitas, sampai dengan konflik antar kelas sosial yang membawa korban jiwa amat banyak. Wacana “kemajuan yang berkelanjutan” pun nyaris tak terdengar di berbagai diskusi publik di Indonesia, dan sama sekali tidak menjadi bagian dari wacana diskusi di tingkat elit politik Indonesia.

Pemerintah tentu berperan penting di dalam membangun Indonesia. Namun, kita tidak boleh sepenuhnya menggantungkan diri pada pemerintah. Sebagai warga negara, kita perlu ikut serta mempengaruhi berbagai bentuk kebijakan, sehingga bisa berpihak pada kepentingan rakyat banyak. Kita bisa bergabung dengan kelompok-kelompok kritis yang sudah ada di masyarakat, atau membuka wacana-wacana baru untuk memajukan bangsa. Harapannya, dunia yang kita wariskan kepada anak cucu kita adalah dunia yang lebih baik dari yang kita tinggali saat ini. Bukankah itu yang kita semua mau?

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

4 tanggapan untuk “Dunia Macam Apa?”

  1. Seperti yang anda tuliskan, ada kesalahan cara berpikir yang menyebabkan kerusakan dunia ini, khususnya di indonesia lembaga lemmbaga agama kebanyakan tidak peka terhadap kerusakan alam saat ini. Yang dapat saya perbuat saat ini, dengan menanam sayur dan buah di halaman rumah, agar petani tidak membuka lahan dengan mengurangi luas hutan di pedesaan untuk memenuhi kebutuhan sehari2. Tapi memang akan ada konsekuensi, apakah petani akan kehilangan mata pencaharian, sekali lagi ada kesalahan cara berpikir, bagaimana pendapat anda pak reza.

    Dikirim dari ASUS saya

    Suka

    1. dimana ada masalah, disitu ada kesalahan berpikir. Kita butuh perubahan sistemik memang. Walaupun usaha individual juga tetap berarti. Pemerintah, bisnis dan masyarakat sipil perlu sungguh bekerja sama untuk menangani masalah satu per satu

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s