Mengurai Ingatan Kolektif

r169_457x256_13915_Memory_2d_illustration_surrealism_fantasy_house_picture_image_digital_art
digital-art-gallery.com

Bersama Maurice Halbwachs, Jan Assmann dan Aleida Assmann dalam Konteks Peristiwa 65 di Indonesia

 Oleh Reza A.A Wattimena[1]

Peneliti, Penulis dan Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman.

Banyak orang masih mengira, bahwa mengingat adalah tindakan pribadi. Hanya aku dan kepalaku yang mengingat. Namun, anggapan ini kini banyak dibantah. Ingatan mengandaikan banyak hal sebagai latar belakangnya. Ia menggunakan bahasa dan simbol yang sebenarnya adalah ciptaan masyarakat. Tindak mengingat juga menggunakan lingkungan sosial, seperti tempat dan orang lain, sebagai titik acunya. Pendek kata, orang tidak mungkin mengingat, tanpa konteks sosial tertentu yang menjadi latar belakangnya.

Pada tingkat yang lebih luas, latar belakang sosial, yang memungkinkan tindak mengingat tersebut, juga memiliki kemandiriannya sendiri. Inilah yang disebut sebagai ingatan kolektif (kollektives Gedächtnis), sebagaimana menjadi titik tolak di dalam tulisan ini. Dalam arti ini, tindak mengingat tersebut tidak semata dilakukan secara pribadi, tetapi secara kolektif, yakni ingatan sebuah kelompok, sebuah masyarakat, atau sebuah bangsa. Ingatan kolektif semacam ini menjadi dasar bagi identitas kolektif masyarakat tersebut, termasuk bagaimana masyarakat itu memandang dirinya sendiri (Selbstbild).
Dalam konteks Indonesia, ketika berbicara ingatan kolektif, kita langsung teringat beragam peristiwa penting yang membentuk identitas bangsa kita. Salah satunya adalah peristiwa 65 yang dimulai dengan penculikan ketujuh perwira Angkatan Darat di Jakarta, dan berakhir dengan pembunuhan massal terhadap anggota-anggota PKI, maupun organisasi-organisasi yang terkait dengannya. Seluruh kebijakan politik, ekonomi, budaya, pendidikan sampai dengan pertahanan di Indonesia berubah drastis sejak saat itu. Kebencian dan dendam, akibat konflik yang lahir dari peristiwa 65, juga belum sepenuhnya terselesaikan. Ini tentunya bisa menjadi benih-benih perpecahan di masa depan. Sebagai bangsa, kita juga tidak memiliki kesempatan untuk memahami dan belajar sepenuhnya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Disinilah letak arti penting berbicara soal ingatan kolektif dalam konteks Indonesia.

Menimbang keadaan tersebut, tulisan ini akan menguraikan konsep ingatan kolektif (kollektives Gedächtnis), sebagaimana dipahami oleh Maurice Halbwachs, Jan Assmann dan Aleida Assmann. Di dalam uraian akan juga dijelaskan, bagaimana beragam pemahaman tentang ingatan kolektif tersebut bisa digunakan untuk memahami makna peristiwa 65 bagi bangsa Indonesia.[2] Awalnya (1) akan dijelaskan pemikiran Maurice Halbwachs tentang ingatan kolektif. Di dalamnya akan disinggung juga (1.1) hidup dan karya Maurice Halbwachs, (1.2) inti pandangannya tentang ingatan kolektif, (1.3) konsepnya tentang pembedaan antara sejarah dan ingatan kolektif, serta (1.4) ciri sosial dari ingatan.

Pada bagian berikutnya akan dijelaskan (2) pandangan Jan Assmann dan Aleida Assmann tentang ingatan kolektif. Sebagai awal tentu akan dijelaskan (2.1) hidup dan karya dari Jan Assmann dan Aleida Assmann. Setelah itu akan dijabarkan pula (2.2) pandangan Jan Assmann tentang ingatan kolektif, serta (2.3) ingatan kolektif sebagai sistem. Setelah itu akan dijabarkan (2.4) pandangan Aleida Assmann tentang ruang-ruang ingatan. Tulisan ini akan ditutup dengan (3) kesimpulan. Ada tiga buku yang menjadi acuan utama tulisan ini, yakni karya Maurice Halbwachs dengan judul On Collective Memory, karya Jan Assmann bersama rekan-rekannya yang berjudul Kultur und Gedächtnis, dan karya Aleida Assmann dengan judul Erinnerungsräume, Formen und Wandlungen des kulturellen Gedächtnisses. Kaitan antara berbagai teori tentang ingatan kolektif dengan peristiwa 65 di Indonesia akan terus disinggung di dalam tulisan ini.

 

  1. Ingatan Kolektif Menurut Maurice Halbwachs

1.1 Maurice Halbwachs

Maurice Halbwachs adalah seorang sosiolog sekaligus filsuf. Pemikirannya amat dipengaruhi oleh Emile Durkheim. Ia menafsirkan secara kreatif ide-ide dasar Emile Durkheim sebagai dasar bagi pemikirannya tentang ingatan kolektif. Di sisi lain, ia juga dipengaruhi oleh beberapa pemikir lainnya, seperti Max Weber, Pareto dan Joseph Schumpeter. Dengan pola ini, Halbwachs memberikan sumbangan besar bagi pemikiran Prancis kontemporer.[3]

Halbwachs lahir di Reims, Prancis pada 1877. Ia berasal dari keluarga Katolik disana. Ayahnya adalah seorang guru bahasa Jerman. Karena konflik antara Prussia dan Prancis pada 1871, keluarganya terpaksa harus pindah ke Prancis. Keluarganya memiliki nilai-nilai liberal, dan salah satu pendukung utama cita-cita demokrasi dan Revolusi Prancis. Halbwachs sendiri nantinya menjadi anggota dari Partai Sosialis di Prancis.

Seperti sedikit sudah disinggung sebelumnya, Halbwachs amat dipengaruhi oleh pemikiran Henri Bergson (Filsafat) dan Emile Durkheim (Sosiologi). Bagi Halbwachs, pemikiran Bergson terlalu individualistik. Filsafat Bergson memerlukan pemahaman lebih dalam tentang hakekat dari sosialitas manusia, atau Gemeinsamkeit.[4]

Tentang hakekat dari sosialitas manusia, Halbwachs memperoleh banyak inspirasi dari sosiologi Emile Durkheim. Dengan kata lain, ia menggabungkan pemikiran filosofis individualistik Bergson dengan teori sosial dari Emile Durkheim sebagai dasar bagi pemikirannya tentang ingatan kolektif. Dari sudut pandang ini, ingatan kolektif dapat dimengerti sebagai hubungan antara keadaan di masa sekarang, dan ingatan atas masa lalu. Dengan begitu, ingatan kolektif dapat dimengerti sebagai rekonstruksi sosial atas masa lalu dari sudut pandang masa kini. Dalam arti, penelitian sejarah dan ilmu-ilmu sosial memainkan peranan penting sebagai dasar analisis.[5]

Pengandaian dasar pemikiran Halbwachs adalah, bahwa ingatan selalu memiliki akar yang bersifat kolektif. Artinya, ingatan selalu merupakan produk dari sosialitas manusia. Ingatan tersebut berkembang dan didirawat melalui hubungan antar manusia di dalam masyarakat. Dalam konteks ini, ingatan manusia selalu merupakan sebuah ingatan kolektif.

 

1.2 Ingatan Kolektif

Pikiran dan imajinasi manusia seringkali hanya dipahami sebagai hal pribadi semata. Halbwachs menolak pandangan ini.[6] Segala hal yang muncul di dalam pikiran manusia selalu tertanam di dalam konteks sosial tertentu. Setiap inspirasi dan ide selalu diciptakan dari lingkungan sosial tertentu. „Diri“ manusia juga merupakan sebuah produk sosial. Semua ini diciptakan oleh proses-proses sosial yang terjadi di dalam masyarakat.

 

1.2.1 Ingatan Kolektif sebagai „Atmosfer Sosial“

Ingatan kolektif tampak sebagai sebuah atmosfer sosial di dalam masyarakat. Halbwachs menjelaskan hal ini dengan menggunakan perbandingan seorang yang baru datang ke sebuah negara baru. Ketika ia tiba, ia mendapatkan perasaan tertentu. Perasaan ini merupakan pantulan dari budaya dan sejarah negara yang baru dikunjunginya tersebut. Seringkali, perasaan yang muncul tidak hanya satu, melainkan beragam. Semuanya berada berbarengan. Disini, Halbwachs menulis,

 

„Seorang anak yang merasakan perasaan orang dewasa dan kekhawatiran akan hal-hal yang tidak diharapkan, seorang yang mengalami perubahan lokasi, pekerjaan atau keluarga yang belum melepaskan semua ikatan dengan kelompok sosialnya sebelumnya- semua adalah contoh-contoh dari fenomena ini. Seringkali, pengaruh sosial lebih rumit, beragam dan saling terkait.“[7]

 

Di titik ini, kita bisa melihat kaitan erat antara ingatan kolektif sebuah masyarakat dengan identitas personal orang-orang yang ada di dalamnya. Identitas pribadi setiap orang selalu tertanam di dalam konteks sosial, yakni di dalam ingatan kolektif masyarakatnya.[8] Halbwachs lebih jauh menulis,

 

„Ide yang kita punya tentang diri kita sendiri, walaupun itu sangat personal dan spesifik, adalah ide orang lain tentang kita. Peristiwa-peristiwa di dalam hidup kita juga terukir di dalam ingatan dari kelompok-kelompok yang terdekat dengan kita.“[9]

 

Ide tentang orang lain selalu ada di dalam ingatan individual seseorang. Walaupun begitu, ingatan personal orang tersebut juga mempengaruhi ingatan kolektif masyarakatnya. Hubungan erat antara ingatan personal dan ingatan kolektif ini, menurut Halbwachs, adalah esensi dari ingatan kolektif.

 

1.2.2 Kesadaran dan Ketidaksadaran

Ingatan manusia juga adalah campuran antara kesadaran dan ketidaksadaran. Akan tetapi, manusia tak dapat merumuskan dengan sistematis isi dari ingatan yang terletak di dalam ketidaksadaran. Ia tetap berada tersembunyi di dalam ketidaksadaran seseorang dan masyarakatnya. Tentang ini, Halbwachs menulis,

 

„Mereka tampak tidak terlihat dari sudut pandang orang lain, maupun dari sudut pandang kita. Ini seperti orang yang mengunci hartanya di dalam sebuah kotak yang amat rumit, sehingga ia sendiri pun tak bisa membukanya. Ia tidak ingat nomor kombinasinya, dan hanya bersandar pada kebetulan untuk mengingatnya.“[10]

 

Halbwachs mencoba menjelaskan dengan jalan lain. Ingatan kolektif sebuah masyarakat selalu diakui sebagai bagian dari ingatan bersama. Artinya, semua anggota masyarakat mengetahui isi dari ingatan tersebut, dan mengakuinya sebagai versi yang sah. Ingatan kolektif semacam ini tertanam juga di dalam pikiran kolektif masyarakat tersebut sebagai sebuah kelompok, misalnya dalam bentuk berbagai monumen dan cerita-cerita yang tersebar di masyarakat tentang masa lalu. Semua ini juga tersebar di masyarakat itu sendiri, dan diakui sebagai bagian dari identitas sosial masyarakat tersebut.

Namun, ada jenis ingatan lainnya. Ia tersembunyi, terutama ingatan tentang peristiwa negatif yang terkait dengan konflik di masa lalu. Walaupun tersembunyi, orang masih bisa melihat jejak ingatan ini di arsitektur gedung-gedung sebuah kota. Jejak-jejak dari masa yang telah berlalu, termasuk beragam konflik yang mewarnainya, juga langsung dapat dirasakan dan dilihat di tata kota sebuah kota. Jejak-jejak masa lalu juga dapat didengar melalui cerita yang disampaikan turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kedua jenis ingatan kolektif ini berperan penting untuk penciptaan sekaligus pengembangan identitas sosial sebuah masyarakat. Di sisi lain, sebuah masyarakat selalu memiliki beragam versi ingatan kolektif terkait dengan masa lalunya. Setiap versi mempengaruhi identitas sosial masyarakat tersebut, walaupun pengaruhnya berbeda-beda.

 

1.2.3 Individu dan Kolektivitas

Ingatan kolektif dibangun dari ingatan-ingatan para warga di suatu masyarakat. Kumpulan ingatan tersebut lalu dilihat sebagai sebuah entitas kolektif. Ia terdiri dari jaringan serta campuran (Vermischung) berbagai ide tentang masa lalu yang tersebar di dalam masyarakat. Tentang ini, Halbwachs menulis,

 

„Walaupun ingatan kolektif mengambil kekuatannya dari kumpulan koheren orang-orang, namun tentang individu-individu sebagai kelompok yang mengingat. Walaupun ingatan-ingatan ini saling mendukung satu sama lain dan diketahui semuanya, setiap anggota individual memiliki intensitas yang berbeda di dalam mengalaminya.“[11]

 

Para warga mengingat masa lalunya sebagai sebuah masyarakat. Dalam arti ini, ingatan kolektif adalah hasil dari tindakan kolektif dari warga masyarakat tersebut. Akan tetapi, setiap warga memiliki peran yang berbeda di dalam pembentukan ingatan kolektif. Pengalaman langsung warga tersebut terkait dengan beragam peristiwa masa lalu menentukan isi dari ingatan yang ia miliki.

Seorang individu mengingat terjadinya sebuah peristiwa. Ingatan individu tersebut juga membentuk ingatan kolektif masyarakatnya. Ingatan personal seseorang dapat dianggap sebagai sudut pandang tertentu dari ingatan kolektif sebuah masyarakat. Sudut pandang ini bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan terus berubah dan berkembang dalam proses komunikasi antar manusia di dalam masyarakat.

 

1.2.4 Konteks Indonesia

Ingatan kolektif selalu berubah dan berkembang. Ingatan kolektif terkait dengan peristwa 65 di Indonesia juga memiliki beragam versi. Satu versi menegaskan, bahwa PKI (Partai Komunis Indonesia) dan semua kelompok kiri di Indonesia adalah pelaku utama dari Gerakan 30 September yang menangkap para perwira Angkatan Darat di Jakarta pada 1 Oktober 1965. Oleh karena itu, semua partai dan kelompok ini haruslah dihancurkan.

Namun, penjelasan ini hanyalah satu versi dari beragam penjelasan lainnya yang ada. Ada ingatan kolektif lainnya terkait dengan peristiwa ini, yakni ingatan kolektif para korban. Korban peristiwa 65 mengalami penahanan paksa yang tidak adil, dan beragam bentuk kekerasan lainnya.[12] Ingatan para korban ini tersembunyi dari pengetahuan banyak orang di masyarakat. Ia ada sebagai ingatan kolektif yang tidak disadari (unbewusstes kollektives Gedächtnis). Jejak-jejak ingatan kolektif para korban juga ada di beragam cerita tentang sejarah komunisme di Indonesia.

 

1.3 Antara Sejarah dan Ingatan Kolektif

1.3.1 Aspek-aspek Ingatan Kolektif

Halbwachs melihat dua perbedaan mendasar antara ingatan kolektif dan sejarah. Baginya, ingatan kolektif adalah,

„pikiran yang terus berlanjut yang kelanjutannya tidak artifisial, karena ia mengambil dari masa lalu apa yang masih hidup atau apa yang mampu untuk hidup di dalam kesadaran sebuah kelompok yang melestarikan ingatan tersebut.“[13]

 

Ada tiga hal yang kiranya penting disini, yakni kontinuitas ingatan, kesadaran dan kehendak politis dari warga untuk melestarikan ingatannya.

Yang pertama, ingatan kolektif itu dinamis. Ia adalah sebuah proses yang berkelanjutan. Ia dapat berubah, sejalan dengan perubahan yang terjadi di masyarakat. Yang kedua, ingatan kolektif sebuah masyarakat tertanam di dalam kesadaran para warganya. Yang ketiga, pelestarian ingatan kolektif amat tergantung dari kehendak politis warganya. Dalam arti ini dapat dikatakan, bahwa ingatan kolektif berakar pada kesadaran kolektif dari warga sebuah masyarakat. Ia juga menjadi bagian dari identitas kolektif masyarakat tersebut.

 

1.3.2 Sejarah dan Ingatan

Sejarah, menurut Halbwachs, menggambarkan data sistematis tentang beragam peristiwa di masa lalu. Sejarah mengandaikan, bahwa masa lalu memiliki sistem dan struktur yang jelas. Masa lalu lalu dilihat semata sebagai data murni yang memiliki pembagian waktu yang jelas. Beragam data dan pembagian tersebut lalu dilihat dengan menggunakan kaca mata sebab akibat yang seolah pasti.[14]

Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, ilmu sejarah menggambarkan beragam peristiwa di masa lalu dengan menggunakan metode yang sistematis. Dengan kata lain, masa lalu dilihat sebagai obyek penelitian yang bersifat obyektif. Campuran peristiwa dengan tafsiran emosional dari orang-orang yang mengalaminya dianggap tidak penting. Semua yang terjadi harus ditafsirkan dengan menggunakan metode ilmiah yang rasional dan obyektif. Walaupun begitu, perubahan tafsiran, misalnya karena hadirnya data-data baru, juga tetap terbuka.

Sejarah melihat masa lalu sebagai rangkaian peristiwa yang memiliki awal, bagian tengah dan penutup. Semua peristiwa di masa lalu disajikan dan dianalisis secara rasional dan sistematis. Namun, penelitian sejarah kerap kali hanya terbatas pada periode waktu tertentu. Ia kerap melupakan keterkaitan sebuah peristiwa yang terjadi secara bersamaan di tempat lain. Tentang ini, Halbwachs menulis,

 

„sama seperti sejarah tertarik dengan perbedaan dan kontras, dan menekankan ciri yang berbeda dari sebuah kelompok dengan memfokuskan pada individu, sejarah juga melihat beberapa tahun yang padahal di dalam kenyataan berlangsung lebih lama. Namun setelah nanti, ketika masyarakat yang baru menggunakan sumber daya baru dan memiliki tujuan yang lain, baru fakta ini bisa dilihat.“[15]

 

Penelitian di dalam ilmu sejarah (Geschichtswissenschaft) membutuhkan fokus yang jelas. Namun, ini juga berarti, bahwa penelitian di dalam ilmu sejarah juga selalu mengabaikan aspek-aspek tertentu dari peristiwa. Setiap bentuk penelitian di dalam ilmu sejarah selalu fokus pada satu peristiwa, sekaligus mengabaikan beragam peristiwa lainnya yang terjadi bersamaan, dan kerap kali memiliki hubungan. Kecenderungan ini tidak dapat dihindari di dalam penelitian ilmu sejarah. Ia adalah bagian dari metode penelitian ilmu sejarah. Di sisi lain, ilmu sejarah juga mengabaikan beragam peristiwa yang tidak bisa dijelaskan logika sebab akibatnya. Kerumitan sebuah peristiwa kerap kali diabaikan demi menyesuaikan dengan metode ilmiah rasional khas ilmu sejarah.

Sejarah dan ingatan kolektif memungkinkan terciptanya sebuah masyarakat. Keduanya adalah dasar dari keberadaan sebuah masyarakat. Namun, keduanya bukanlah sesuatu yang mutlak tak berubah. Selalu ada kemungkinan perubahan atas isi keduanya. Sebuah masyarakat haruslah terus melihat masa lalunya dengan kerangka berpikir yang baru. Proses melihat dengan cara baru ini amatlah tergantung dari percampuran berbagai kepentingan yang ada di masyarakat. Percampuran beragam kepentingan ini juga amat mempengaruhi penulisan sejarah tentang masa lalu masyarakat tersebut.

 

1.3.3 Ingatan dan Masyarakat

Generasi baru biasanya mempertanyakan versi penjelasan sejarah dari generasi sebelumnya. Aspek-aspek penulisan sejarah pun, karena proses ini, berubah.[16] Banyak tegangan politis dan sosial, ketika ini terjadi. Ada hal lain yang mesti diperhatikan, yakni keberadaan pelaku dan korban di dalam konflik di masa lalu. Kedua kelompok tersebut memiliki kepentingan berbeda terkait dengan penulisan sejarah ulang yang berpijak pada keadilan dan perdamaian.

Para pelaku membutuhkan keadilan dalam bentuk pertanggungjawaban atas tindakan mereka yang menghasilkan begitu banyak penderitaan bagi begitu banyak orang di masa lalu. Di sisi lain, para korban membutuhkan reparasi yang adil serta pengakuan dari masyarakat, supaya mereka bisa melanjutkan hidupnya dengan bermartabat. Di antara dua kelompok ini, ada orang-orang yang tak peduli. Mereka tidak mau ada kaitan dengan apa yang telah terjadi di masa lalu.

Tegangan antara kelompok korban dan pelaku kekerasan di masa lalu bisa menimbulkan perpecahan di dalam masyarakat. Masa lalu pun selalu dilihat dan ditafsirkan sesuai dengan kepentingan serta kebutuhan yang ada di masa kini. Masalah semakin kental, ketika beragam kelompok masyarakat di masa kini memiliki beragam kepentingan dan kebutuhan yang berbeda-beda. Tegangan ini bisa memuncak menjadi konflik berdarah. Dari uraian ini dapatlah disimpulkan, bahwa sebuah masyarakat selalu terdiri dari tiga bagian, yakni penafsiran sejarah masa lalu, tegangan politik, kepentingan serta kebutuhan yang ada di masa kini, serta pemahaman tentang keadilan yang berkembang di masyarakat.

Tentang ini, Halbwachs menulis,

 

„Masyarakat seperti benang yang dibuat dari kumpulan fiber dari binatang ataupun tumbuhan yang saling terkait dalam waktu tertentu; atau, ia seperti pakaian yang dijahit dari beragam benang tersebut secara bersama. Bagian dari katun dan sutra berjalan searah dengan motif atau desain yang ada.“[17]

 

Masyarakat adalah sebuah jaringan percampuran beragam hal. Semua hal ini saling terhubung di dalam jangka waktu dan di tempat tertentu. Hubungan antar beragam hal ini menciptakan pola tertentu yang khas di suatu masyarakat. Dari hubungan-hubungan semacam inilah sebuah masyarakat bisa ada, dan kemudian berkembang.

Masyarakat, dari sudut pandang ini, juga terdiri dari empat bagian. Bagian-bagian itu adalah kehadiran sebuah tempat (1), interaksi antar manusia di waktu tertentu (2), percampuran beragam bentuk kehidupan (agama, budaya, ras) (3), dan tujuan yang sama (4). Keempat hal ini mengikat beragam orang yang memiliki latar belakang yang berbeda. Keempat hal ini juga selalu tertanam di dalam ingatan kolektif masyarakat tersebut.[18]

Esensi sebuah masyarakat adalah ingatan kolektifnya. Ingatan kolektif itu bersifat cair dan selalu berubah. Ia memiliki ciri yang berbeda, jika dibandingkan dengan sejarah. Sejarah sibuk dengan data tentang beragam peristiwa di masa lalu. Semua data ini menunjukkan adanya urutan yang sistematis dari sebuah peristiwa di masa lalu. Ingatan kolektif dan sejarah memainkan peranan amat penting di dalam penulisan sejarah sebuah masyarakat. Tafsiran atas masa lalu dan pemahaman masyarakat tentang tentang sejarah serta ingatan kolektif menciptakan identitas kolektif masyarakat tersebut. Identitas kolektif sebuah masyarakat juga menentukan masa depan masyarakat tersebut, terutama beragam kebijakan politis yang diambilnya di masa kini.

 

1.3.4 Konteks Indonesia

Sejarah dan ingatan kolektif memiliki kaitan erat. Sejarah menyediakan data obyektif tentang berbagai peristiwa yang terjadi di masa lalu. Analisis yang digunakan pun menggunakan cara berpikir ilmiah.[19] Ingatan kolektif juga berpijak pada beragam data di dalam ilmu sejarah ini. Setelah itu, ingatan kolektif juga melengkapi data-data sejarah dengan aspek-aspek lainnya, seperti tafsiran subyektif, persepsi, emosi, dan perasaan dari orang-orang yang mengalami peristiwa di masa lalu tersebut. Kerap kali, aspek-aspek ini tidak terlihat. Namun, pengaruhnya sangatlah besar.

Gerakan 30 September dan pembunuhan massal setelahnya adalah bagian dari sejarah Indonesia. Ada banyak penelitian soal apa yang sesungguhnya terjadi di dalam peristiwa ini, dan apa akibatnya untuk masyarakat Indonesia sebagai keseluruhan. Banyak data obyektif yang telah ditemukan dan dianalisis. Akan tetapi, penelitian ilmiah semacam ini tidaklah mencukupi sebagai dasar bagi politik rekonsiliasi di Indonesia.

Banyak data tentang peristiwa ini masih tetap tersembunyi dari mata masyarakat. Pemerintah juga tidak menunjukkan kehendak politik yang kuat untuk mendorong terjadinya proses rekonsiliasi. Diskusi publik terkait dengan peristiwa 65 masih dilakukan secara tersembunyi dan penuh ketakutan. Bahkan, beberapa diskusi langsung secara tegas dilarang oleh pihak pemerintah. Semua pembicaraan tentang peristiwa 65 dilihat sebagai upaya untuk menciptakan gejolak sosial dan politik masyarakat di masa kini.

Pengumpulan data terkait dengan peristiwa 65 amatlah penting untuk dilakukan. Akan tetapi, ini tidaklah cukup untuk mendorong terjadinya rekonsiliasi politik di Indonesia. Oleh sebab itu, kehadiran ingatan kolektif terkait dengan peristiwa ini jugalah dibutuhkan.

Pembedaan antara konsep sejarah dan ingatan kolektif juga penting di dalam memahami peristiwa 65 di Indonesia. Penelitian ilmiah ilmu sejarah tidak dapat menangkap ciri emosional dari peristiwa tersebut. Korban pembunuhan massal dan penangkapan, serta keluarga yang ditinggalkan, memiliki ingatan kolektif tersendiri terkait dengan peristiwa 65. Namun, masyarakat luas di Indonesia masih memilih untuk mengabaikan ingatan kolektif para korban tersebut.

Beberapa kelompok dalam masyarakat berkepentingan, supaya Indonesia melupakan segala yang terkait dengan peristiwa 65. Namun, ingatan kolektif akan sebuah peristiwa tidak mungkin bisa sepenuhnya dihapus. Tantangannya adalah masyarakat Indonesia masih belum melihat solidaritas pada penderitaan korban dari peristiwa 65 sebagai sebuah kebutuhan yang penting. Solidaritas inilah yang masih perlu terus dikembangkan, tidak hanya bagi korban peristiwa 65, tetapi juga bagi semua korban kekerasan kolektif lainnya.

 

1.4 Ciri Sosial dari Ingatan

Perubahan dan keberlangsungan suatu masyarakat terjadi di dalam konteks sebuah ingatan kolektif dan sejarah tertentu. Keduanya sangatlah dinamis dan cair. Masyarakat, dapat juga dikatakan, berada di dalam gerak gelombang ingatan kolektif yang sangat dinamis dan cair tersebut. Keberadaannya juga sangat tergantung dari aliran ingatan kolektif yang ia punya.

 

1.4.1 Ingatan, Masa Lalu dan Masa Kini

Masa lalu, sejalan dengan arti katanya, sudahlah berlalu. Akan tetapi, ia tetap hidup sebagai jejak-jejak peristiwa di dalam ingatan kita sebagai individu, maupun sebagai kelompok. Masa lalu bukanlah sebuah realitas material, melainkan sebuah simbol. Masa lalu, dengan demikian, ada di masa kini.[20] Ilmu sejarah, menurut Halbwachs, mengabaikan fakta ini. Mereka cenderung melihat masa lalu sebagai sebuah realitas yang obyektif. Dari sudut pandang ini, masa lalu adalah sesuatu yang murni berbeda dari masa kini.[21] Keduanya memiliki kaitan erat yang tak terpisahkan. Ingatan kolektif melihat masa lalu dari sudut pandang masa kini. Ia juga selalu tertanam di ingatan warga di suatu masyarakat.

Tentang ini, Halbwachs menulis,

 

„Ingatan dari masyarakat ada sejauh ingatan dari kelompok-kelompok yang menciptakannya. Sakit dan ketidakpedulian tidak akan dapat melupakan semua peristiwa dan orang-orang yang ada. Walaupun begitu, kelompok-kelompok yang menjaga ingatan ini akan pergi. Ketika usia manusia menjadi lipat dua atau tiga, ruang dari ingatan kolektif yang diukur dan ukuran waktu juga akan berkembang… pada semua kasus, karena ingatan kolektif tergantung pada anggota-anggota individual, terutama yang berusia tua, ingatan kolektif akan terus berubah sejalan dengan perubahan kelompok itu sendiri.“[22]

 

Ingatan kolektif juga tidak pernah mutlak dan menyeluruh. Ia juga selalu tertanam di dalam konteks sosial tertentu, yakni masyarakat itu sendiri. Masyarakat adalah pelestari sekaligus bentukan dari ingatan kolektif yang ia punya. Ingatan kolektif juga amat membutuhkan kehendak politik dari kelompok yang mengingatnya. Keberadaan ingatan kolektif tergantung dari keberadaan kehendak politik sebuah masyarakat untuk melestarikan dan mengembangkannya.

Aspek-aspek lainnya dari ingatan kolektif adalah ruang dan waktu. Ada kaitan yang bersifat timbal balik antara ruang, waktu dan ingatan kolektif. Di satu sisi, ingatan kolektif selalu tertanam dalam konteks ruang dan waktu tertentu. Di sisi lain, ingatan kolektif juga memberi makna pada ruang dan waktu yang ditempatinya. Kaitan antara manusia, ruang dan waktu menciptakan ingatan kolektif yang khas di suatu tempat tertentu.

Setiap kelompok memiliki tempat tertentu untuk identitasnya. Mereka melihat tempat atau ruang ini sebagai sesuatu yang suci, misalnya orang-orang Yahudi dengan Yerusalem, atau orang-orang Muslim dengan Mekkah. Setiap tempat ini memiliki arti yang mendalam dan khas untuk masing-masing kelompok. Ada ingatan kolektif tertentu yang terhubung dengan tempat-tempat ini.[23] Penghancuran tempat-tempat ini juga adalah sebuah ancaman bagi identitas kolektif kelompok tersebut. Tentang ini, Frieß menafsirkan pemikiran Halbwachs,

 

„Halbwachs juga tidak membatasi pada kerangka kelompok-kelompok personal, seperti keluarga sebagai tempat bagi sosialisasi utama, tetapi juga tempat-tempat material, sesuatu seperti perempatan kota, dimana seseorang menghabiskan masa kecilnya.“[24]

 

 

1.4.2 Ingatan sebagai Jaringan

Ingatan kolektif terdiri dari beragam tafsiran atas peristiwa di masa lalu dari berbagai orang. Seluruh warga di suatu masyarakat mengingat secara bersama-sama. Ingatan pribadi setiap orang terkait erat dengan ingatan pribadi orang-orang lainnya. Bisa juga dikatakan, bahwa ingatan orang lain menjadi titik tolak dari ingatan pribadiku. Dalam arti ini, manusia adalah sebuah jaringan yang tak terpisahkan satu sama lain. Pikiran dan ingatanku mengandaikan kehadiran pikiran dan ingatan orang lain.

Ingatan orang lain juga menjadikan ingatanku sebagai titik pijak. Satu orang bisa melupakan sebuah peristiwa di masa lalu. Namun, pasti ada orang lain yang mengingat peristiwa tersebut. Bisa dikatakan, mereka mengingat untukku. Dengan begitu, tidak ada satupun peristiwa yang terlupakan dari ingatan masyarakat. Setiap ingatan tidak hanya tertanam di dalam ingatan pribadi warga, tetapi juga di dalam ingatan kolektif masyarakat tersebut. Setiap peristiwa pasti selalu meninggalkan jejak-jejak yang tak pernah sungguh dapat dilupakan.

 

1.4.3 Konteks Indonesia

Ada beragam versi ingatan kolektif yang tersebar di masyarakat. Begitu pula ingatan kolektif yang terkait dengan peristiwa 65 di Indonesia. Para korban dari peristiwa ini memiliki ingatan kolektif yang berbeda dengan versi resmi yang disebarkan oleh pemerintah. Hal ini juga terjadi sampai sekarang.

Presiden Indonesia, Joko Widodo, sampai sekarang masih mengabaikan nasib para korban ini. Ingatan kolektif para korban masih dianggap tabu, sehingga tidak menjadi bagian dari wacana resmi dari pemerintah.[25] Walaupun begitu, ingatan kolektif korban tidak akan pernah lenyap. Ia tetap hidup dalam beragam media, mulai dari ingatan para korban dan keluarganya, sampai dengan tempat-tempat fisik, dimana kekerasan terhadap mereka terjadi. Halbwachs juga menegaskan, bahwa ingatan memiliki dimensi fisik. Ia hidup di dalam kota dan tempat, dimana peradaban manusia berkembang.

Ingatan kolektif para korban pembunuhan massal setelah peristiwa 30 September 1965 di Indonesia juga tertanam di beberapa tempat, seperti di berbagai penjara, kuburan massal dan sungai-sungai di Indonesia. Begitu banyak anggota Partai Komunis Indonesia dan organisasi-organisasi yang terkait dengan partai tersebut dibunuh secara biadab di tempat-tempat tersebut. Mayoritas dari korban adalah masyarakat sipil yang tidak ada kaitan sama sekali dengan peristiwa 30 September dalam bentuk penculikan tujuh anggota Angkatan Darat di Jakarta pada 1 Oktober 1965. Tanpa adanya rekonsiliasi yang tepat, ketakutan, kebencian dan trauma akibat peristiwa ini akan menetap di masyarakat Indonesia. Rekonsiliasi dalam konteks ini adalah satu-satunya jalan untuk menuju perdamaian yang sejati di masa kini maupun masa depan di Indonesia.

 

  1. Ingatan Kolektif Menurut Jan dan Aleida Assmann

2.1 Jan dan Aleida Assmann, Hidup dan Karya

2.1.1 Jan Assmann

Jan dan Aleida Assmann adalah sepasang suami istri yang telah banyak mengembangkan teori tentang ingatan kolektif dan kultur ingatan (Erinnerungskultur) di Jerman.[26] Jan Assmann adalah seorang peneliti terkait budaya Mesir.[27] Ia menggunakan metode lintas ilmu untuk memahami budaya Mesir. Dari 1976 sampai 2003, ia adalah Professor untuk Egiptologi di Heidelberg, Jerman. Pengaruh pemikirannya tidak hanya terasa di Jerman, tetapi juga di berbagai penelitian tentang Mesir di seluruh dunia.

Ia mendirikan proyek penelitian dengan nama Kulturelle Grundlagen von Integration, atau dasar kultural untuk dari integrasi. Tujuan dari proyek ini adalah menunjukkan, bahwa pemahaman tentang kebudayaan Mesir kuno juga bisa membantu kita menyelesaikan masalah-masalah rumit jaman ini.[28] Dengan dasar ini, ia menegaskan, bahwa penelitian lebih dalam tentang budaya Mesir kuno perlu dilakukan secara lebih sering dan lebih mendalam.

Jan banyak bekerja sama dengan istrinya, Aleida Assmann, untuk mengembangkan penelitian ilmu budaya dalam konteks Mesir pada 1968. Jan sendiri telah mendalami Ilmu Bahasa Inggris dan amat dipengaruhi oleh teori strukturalisme. Kombinasi antara teori strukturalisme, ilmu bahasa Inggris dan arkeologi Mesir ini melahirkan suatu sudut pandang tersendiri yang unik. Tentang ini, Schraten menulis, „Hasilnya adalah pendirian lingkar kerja Arkeologi Komunikasi Literatif pada 1979, yang tidak memiliki batas dan kesimpulan yang tegas, dan berfokus semata untuk menyebarkan pemahaman ke masyarakat luas melalui berbagai publikasi.“[29]

Berbagai penghargaan pun telah ia peroleh. Pada 1996, ia memperoleh penghargaan Max Plankc. Pada 1998, penghargaan dari Universitas Sejarah juga ia peroleh. Beragam penghargaan Doktor Penghormatan juga diberikan kepadanya dari berbagai universitas di berbagai negara. Diantaranya dari Universitas Münster, Universitas Yale, dan Universitas Yerusalem. Pada 2006, ia memperoleh penghargaan dari pemerintah Jerman sekaligus dari yayasan Alfred Krupp. Di tahun berikutnya, ia memperoleh penghargaan di tingkat Eropa, yakni penghargaan Charles Veillon. Dengan ini sebenarnya mau dinyatakan, bahwa penelitian-penelitian Jan Assmann telah diakui di tingkat internasional.[30]

 

2.1.2 Aleida Assmann

Aleida Assmann menulis buku dengan judul Erinnerungsräume, Formen und Wandlungen des kulturellen Gedächtnisses. Di Jerman, ia banyak dikenal sebagai teoritikus ingatan.[31] Fokusnya terutama adalah ingatan kolektif bangsa Jerman setelah perang dunia kedua.

Aleida Assmann lahir pada 1947 di Bethel, dekat dengan kota Bielefeld, Jerman. Ia belajar Ilmu Kajian Mesir dan Bahasa Inggris di Tübingen dan Heidelberg. Dari 1968 sampai 1975, ia bekerja di Mesir sebagai peneliti makam kuno. Pada 1977, ia menyelesaikan studi doktoral di bidang bahasa Inggris dan Kajian Mesir. Ia menulis habilitasi di Heidelberg pada 1992. Setelah itu, ia bekerja sebagai Professor di bidang Bahasa Inggris dan Kajian Sastra Umum di Universitas Konstanz. Selain itu, ia juga mengajar sebagai dosen tamu di beberapa universitas di Amerika Serikat dan di Austria.

Fokus penelitiannya adalah ingatan bangsa Jerman terkait dengan Holocaust dan perang dunia kedua. Trauma kolektif terkait dengan peristiwa ini mengakar amat dalam di bangsa Jerman. Diskusi-diskusi terkait dengan tema ini, menurut Assmann, seringkali dibebani oleh kepentingan-kepentingan tertentu yang tidak sejalan dengan cita-cita perdamaian dan rekonsiliasi. Hal inilah yang patut ditanggapi secara kritis.

 

2.2 Ingatan Kolektif Menurut Jan Assmann

2.2.1 Latar Belakang Konseptual

Konsep ingatan kolektif, atau ingatan kultural (kulturelles Gedächtnis), amat dalam tertanam di dalam sejarah filsafat Barat. Awalnya, konsep ingatan dirumuskan untuk menjelaskan teknik mengingat yang berkembang di masa Yunani kuno. Seni mengingat ini adalah metode untuk membantu orang mengingat kata-kata maupun kalimat yang rumit. Seni mengingat ini disebut juga sebagai Mnemotechnik.[32]

Kemampuan ini menunjang orang di dalam debat publik, terutama untuk para pelajar dan politikus. Seni mengingat ini nantinya juga tersebar di dalam diskusi-diskusi politik pada umumnya. Maurice Halbwachs menyinggung tema ini di dalam bukunya. Pemikiran Assmann tentang tema ini juga mendapatkan pengaruh dari Halbwachs. Argumen dasar dari teori mereka berdua adalah, bahwa ingatan selalu memiliki aspek sosial.

Setiap orang adalah bagian dari suatu komunitas. Identitasnya tertanam di dalam komunitasnya tersebut. Konsep kebebasan juga harus selalu dipahami dalam kaitan dengan keberadaan komunitas. Setiap komunitas selalu memiliki nilai-nilai yang berakar pada tradisi yang telah berkembang lintas generasi. Nilai-nilai ini juga menjadi bagian dari ingatan kolektif. Ini juga nantinya diwariskan ke generasi berikutnya melalui berbagai media, seperti misalnya melalui pendidikan.[33]

Dalam konteks ini, Assmann memahami ingatan kolektif sebagai ingatan sehari-hari (Alltagsgedächtnis). Setiap manusia memiliki dan mengalami ingatan ini sebagai bagian dari keseharian hidupnya. Pengaruhnya juga besar pada cara berpikir dan cara berperilaku seseorang. Dalam arti ini, ingatan kolektif dapat dipahami sebagai citra diri kolektif sebuah masyarakat. Assmann menjelaskan enam aspek dari ingatan kolektif ini, yakni rekonstruktivitas (Rekonstruktivität), pengukuhan identitas (Identitätskonkretheit), pembentukan (Geformtheit), pengaturan (Organisiertheit), pengikatan (Verbindlichkeit) dan refleksivitas (Reflexivität).[34]

 

2.2.2 Aspek-aspek Ingatan Kolektif

2.2.2.1 Pengukuhan Identitas

Asmann menyebut aspek ini sebagai aspek pengukuhan identitas, atau konsep keterkaitan diri dengan kelompoknya (Gruppenbezogenheit). Ingatan kolektif mengukuhkan kesatuan sebuah komunitas. Ia mengikat beragam orang dengan beragam latar belakang ke dalam satu komunitas. Ingatan kolektif tidak hanya melestarikan identitas kolektif suatu masyarakat, tetapi juga mengembangkannya.

Ingatan kolektif menegaskan identitas sebuah masyarakat dengan sebuah pernyataan, bahwa „kita adalah ini, dan itu adalah lawan kita.“[35] Pernyataan ini hanya mungkin, karena ada identitas yang dimungkinkan oleh ingatan kolektif itu sendiri. Ingatan kolektif ini, dengan demikian, bisa dianggap sebagai akar dari keberadaan sebuah masyarakat. Ia juga dapat disebut sebagai pembangun horison (Horizontbildung). Ia memainkan peranan penting di dalam pembentukan, pengembangan dan perubahan sebuah masyarakat.

Di sisi lain, ingatan kolektif bisa juga dimengerti sebagai sumber pengetahuan (Wissensvorrat). Ia adalah sumber pengetahuan untuk melestarikan identitas dan tradisi sebuah masyarakat. Ingatan kolektif menyatukan orang ke dalam sebuah kelompok, sekaligus memisahkan mereka dengan kelompok lainnya. Ingatan kolektif melayani salah satu kebutuhan dasar manusia, yakni kebutuhan akan identitas yang melekat pada kelompok tertentu.

 

2.2.2.2 Rekonstruktivitas

Aspek kedua dari ingatan kolektif, menurut Jan Assmann, adalah rekonstruktivitas. Dalam konteks ini, ingatan kolektif berfungsi sebagai alat untuk mencapai pemahaman tentang masa lalu dari sudut pandang masa kini. Masa lalu bukanlah semata pemaparan murni tentang suatu peristiwa yang telah terjadi. Masa lalu selalu merupakan tafsiran dari masa kini dengan segala kebutuhan dan kepentingannya.

Dapatlah dikatakan, bahwa masa lalu bukanlah sesuatu yang mutlak. Ia adalah konstruksi sosial dari sudut pandang masa kini. Ia selalu dapat diubah. Ada dua aspek yang mempengaruhi pemahaman tentang masa lalu. Yang pertama adalah kebutuhan nyata yang ada di masa kini. Yang kedua adalah hubungan antar manusia yang ada di dalam komunitas. Ingatan kolektif sebuah masyarakat berpijak pada dua hal ini.

Assmann menafsirkan ingatan kolektif sebagai suatu bentuk ingatan kultural. Ingatan kolektif selalu memiliki dimensi kultural di dalamnya. Ia menulis,

 

„Ingatan kultural ada dalam dua bentuk: yang pertama adalah bentuk potensialitas dari pendataaan, sebagai horison keseluruhan dari teks yang terkumpul, pendidikan, pola tindakan, dan kedua dalam bentuk aktualitas, seperti dari masa kini dari titik yang aktual dan perspektif atas makna yang obyektif.“[36]

 

Sebagai sebentuk gudang data dan potensi, ingatan kolektif adalah sumber informasi sekaligus dasar bagi paradigma yang berkembang di masyarakat. Keduanya memainkan peranan penting di dalam membentuk serta mengembangkan identitas sosial sebuah komunitas.

 

2.2.2.3 Pembentukan

Aspek ketiga dari ingatan kolektif adalah pembentukan. Masyarakat selalu merupakan perwujudan konkret dari ingatan kolektif. Ia terbentuk dari proses komunikasi yang berkelanjutan antar manusia. Dalam arti ini, ingatan kolektif berfungsi sekaligus sebagai konteks sosial, sejarah sekaligus kultural dari hidup bersama di masyarakat. Fungsi-fungsi ini nantinya akan dilanjutkan ke generasi berikutnya juga sebagai pembentuk identitas.

Konsep penting lainnya adalah kristalisasi makna melalui proses komunikasi antar manusia. Komunikasi yang berkelanjutan antar manusia akan melahirkan komunitas. Dari proses komunikasi ini jugalah sebuah masyarakat bisa berubah. Ia membentuk sekaligus mengubah identitas sosial suatu masyarakat. Proses komunikasi ini juga hanya mungkin, karena adanya ingatan kolektif. Ia lalu menciptakan peradaban yang tertuang secara konkret dalam bentuk cara hidup, hasil karya seni, ritual dan lukisan-lukisan yang mengisahkan identitas masyarakat tersebut.

Semua karya peradaban ini membentuk pula suatu masyarakat baru yang juga memiliki cara hidup yang berbeda. „Pembentukan bukanlah hal dari sebuah media, misalnya tulisan. Gambar-gambar dan ritual-ritual berfungsi dengan cara ini.“[37] Pendek kata, ingatan kolektif membentuk sebuah komunitas melalui berbagai cara, dari tulisan sampai dengan ritual.

 

2.2.2.4 Pengaturan

Aspek keempat adalah pengaturan. Dalam hal ini, masyarakat dapat dimengerti sebagai sebuah organisasi. Untuk itu, masyarakat membutuhkan seperangkat aturan untuk menata hidup bersama. Aturan-aturan ini menata hidup sehari-hari orang-orang yang ada di masyarakat tersebut.

Keterlibatan dari warga amat penting dalam hal ini. Untuk bisa terlibat, setiap warga harus bisa hidup dan berkembang sebagai manusia secara layak. Artinya, ia juga memiliki hidup yang layak secara ekonomi dan sosial. Baru setelah itu, ia bisa terlibat aktif untuk meningkatkan mutu kehidupan bersama. Masyarakat yang bermartabat hanya bisa diisi oleh orang-orang yang hidupnya juga memiliki martabat. Ini, menurut Assmann, adalah hal-hal yang memungkinkan (Bedingungen der Möglichkeit) lahirnya masyarakat.

 

2.2.2.5 Pengikatan

Aspek kelima dari ingatan kolektif adalah pengikatan. Setiap kelompok masyarakat pasti memiliki citra diri kolektif, yakni pandangan mereka tentang dirinya sendiri yang bersifat kolektif. Citra diri kolektif (kollektives Selbstbild) ini terdiri dari kumpulan nilai dan pengetahuan. Assmann menyebut juga aspek ini sebagai perspektif nilai (Wertperspektive). Ia menjadi struktur dari sebuah masyarakat.

Tentang ini, ia menulis, „ada simbol-simbol yang penting dan tidak penting, yang pusat dan pinggiran, lokal dan interlokal, sesuai dengan fungsinya, yang semuanya berperan dalam penciptaan, representasi dan penciptaan ulang dari citra diri ini.“[38] Ada banyak simbol yang membentuk dan mengubah suatu komunitas. Simbol-simbol ini juga dapat dilihat sebagai dasar dari citra diri kolektif (kollektives Selbstbild) yang membentuk suatu masyarakat.

Masyarakat adalah suatu jaringan simbol. Di dalam simbol-simbol tersebut terdapat pengetahuan yang menyusun identitas masyarakat tersebut. Simbol dan pengetahuan tersebut, dengan kata lain, memiliki fungsi formatif, yakni fungsi untuk membentuk (Formativität). Simbol-simbol penampung pengetahuan ini juga menjadi dasar bagi pendidikan generasi-generasi berikutnya di dalam masyarakat. Dalam arti ini, pendidikan tidak dapat hanya dipahami sebagai pemindahan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tetapi juga proses pemberadaban manusia sesuai dengan nilai-nilai tertentu yang dianut komunitasnya. Nilai-nilai tersebut lalu menjadi panduan hidup dari orang-orang yang hidup di dalam masyarakat itu.

 

2.2.2.6 Refleksivitas

Aspek keenam dari ingatan kolektif adalah refleksivitas. Ingatan kolektif memiliki aspek reflektif di tiga tingkat, yakni tingkat praksis, tingkat diri dan tingkat citra diri. Ketiga tingkat ini memiliki satu tujuan yang sama, yakni mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis pada beragam hal yang telah ada dan berkembang di dalam masyarakat, misalnya aturan hidup sehari-hari, gaya berbicara, ritual dan beragam kebiasaan lainnya.

Refleksivitas ini memungkinkan terjadinya perubahan di dalam masyarakat. Di dalam tingkat refleksi diri, ingatan kolektif berfungsi juga untuk memberikan tanggapan kritis terhadap segala perubahan yang terjadi. Selalu ada kemungkinan bagi masyarakat untuk menafsirkan ulang segala hal yang ada di dalam ingatan kolektif tersebut, terutama jika ada perspektif baru atau kepentingan yang berkembang di masyarakat.

Tingkat ketiga adalah tingkat reflektif atas citra diri kolektif masyarakat. Tentang ini, Assmann menulis, „refleksi citra diri merefleksikan citra diri kolektif dari kelompok dalam arti dari tematisasi dari sistem-sistem masyarakat.“[39] Setiap komunitas selalu memiliki citra diri kolektif tertentu. Citra diri ini adalah dasar dari identitas sosial sekaligus orientasi arah hidup masyarakat tersebut. Citra diri ini haruslah pas dengan keadaan nyata masyarakat sekarang ini.

 

2.3 Ingatan Kolektif sebagai Sistem

Simbol-simbol di dalam masyarakat, seperti teks, gambar dan ritual, memiliki arti penting bagi masyarakat tersebut. Assmann mencoba untuk menganalisis beragam simbol ini. Di balik simbol-simbol ini terdapat citra diri sekaligus identitas kolektif sebuah masyarakat. Ia juga berperan untuk melestarikan serta menjaga stabilitas identitas kolektif yang telah ada. Ingatan kolektif, yang juga lestari di dalam simbol-simbol tersebut, juga terdiri dari kumpulan pengetahuan tentang masa lalu masyarakat tersebut. Semua ini memberikan pengaruh pada keadaan masyarakat di masa sekarang.[40]

Ingatan kolektif juga memberikan ciri unik bagi suatu masyarakat. Setiap masyarakat memiliki bentuk ingatan kolektif yang berbeda satu sama lain. Tentang ini, Assmann menulis, „Pengetahuan ini tidak hanya dari kultur ke kultur, tetapi juga dari masa ke masa berbeda. Juga bentuk-bentuk organisasinya, media dan institusinya, sangat amat berbeda.“[41]

Tafsiran atas ingatan kolektif suatu masyarakat amatlah beragam tidak hanya dalam konteks perbedaan kultur, tetapi juga dalam konteks perbedaan waktu. Tingkat ikatan sekaligus refleksivitas dari ingatan kolektif beragam masyarakat pun berbeda-beda. Keadaan masa kini dan tingkat keterlibatan warga amat berperan di dalam menentukan isi tafsiran ini. Setiap masyarakat sejatinya amatlah unik dalam hal ini. Di Indonesia, faktor agama amat memainkan peranan di dalam menentukan isi dari ingatan kolektif yang menentukan identitas bersamanya. Masyarakat lain memiliki faktor lain yang menentukan isi ingatan kolektifnya.

Selain mempengaruhi ingatan kolektif, beragam tafsiran ini juga menentukan, bagaimana suatu masyarakat memahami sejarahnya. Keduanya memainkan peranan amat penting di dalam penentuan identitas kolektif sebuah masyarakat. Pemahaman atas masa lalu juga amat tergantung dari beragam tafsiran yang ada di masyarakat tersebut.

Ingatan akan masa lalu memiliki fungsi utama sebagai proses belajar. Artinya, masyarakat belajar dari masa lalu mereka, supaya mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa kini dan masa depan. Dibalik ini, sebenarnya ada rasa takut yang bercokol. Jadi, rasa takut, dalam arti ini, juga memiliki peran positif. Akan tetapi, rasa takut juga bisa menjadi penghalang bagi proses rekonsiliasi. Rasa takut bisa bermuara pada penyangkalan sejarah. Akhirnya, masyarakat tidak bisa belajar dari masa lalu mereka. Jika seperti itu, maka kesalahan yang sama bisa terulang lagi.

Assmann, dengan berbagai karyanya, hendak mencegah hal tersebut. Masa lalu, segelap apapun, haruslah menjadi bagian dari sejarah sekaligus ingatan kolektif masyarakat terkait. Ia lalu mengutip pepatah lama, bahwa orang yang tidak bisa mengingat masa lalunya akan terus dikutuk untuk menghidupinya terus menerus.[42] Tentu saja, ada banyak kemungkinan tafsiran, ketika orang berbicara tentang masa lalu. Masa lalu, walaupun coba ditekan, tidak akan pernah bisa sepenuhnya terlupakan. Jejak-jejak peristiwa masa lalu tidak akan pernah bisa lenyap. Ia tertanam di arsitektur sebuah kota. Ia juga bisa dilihat di dalam perilaku sehari-hari warga masyarakat di masa kini. Tata kelola sebuah kota mencerminkan ingatan kolektif warganya. Ia juga merupakan cerminan dari identitas kolektif masyarakat tersebut.

Ingatan kolektif juga tidak pernah dapat dipisahkan dari media. Dalam arti ini, media tidak hanya berarti media massa, tetapi juga berbagai bentuk media yang menyediakan informasi dan ingatan tentang masa lalu. Beragam media ini digunakan untuk memahami, menafsirkan dan mengingat masa lalu. Contoh konkretnya adalah beragam prasasti di kota dan museum. Semua media tersebut melestarikan masa lalu sebagai bagian dari ingatan kolektif masyarakat di masa sekarang.

Kaitan antara media dan ingatan ini juga menjadi bagian dari analisis Assmann. Untuk itu, ia mendirikan sebuah kelompok diskusi dengan nama Arkeologi Komunikasi Literer.[43] Tentang ini, Jürgen Schraten menulis,

 

„Kelompok diskusi ini memahami dirinya sendiri sebagai jawaban kultural sekaligus ilmiah atas pertanyaan strukturalis dan konstruktivis: Jawaban ini harus memiliki materi yang bisa dipahami secara inderawi dan bukan hanya selalu teori abstrak.“[44]

 

2.3.1 Antara Masa Lalu dan Masa Kini

Dasar dari teori ingatan kolektif Jan Assmann adalah ilmu budaya (Kulturwissenschaft). Uraian yang ia buat memberikan banyak sumbangan bagi berbagai analisis tentang ingatan kolektif di berbagai konteks masyarakat. Refleksi atas ingatan kolektif juga tidak boleh melulu bersandar pada spekulasi, tetapi juga harus memiliki dasar pada data empiris. Data empiris adalah dasar dari semua penelitian ilmu sosial.

Assmann juga menjelaskan kaitan erat antara tafsiran atas masa lalu dan keadaan sekarang ini. Ia menulis,

 

„Sehingga hal-hal dasar yang banal, bahwa persepsi yang sadar dari manusia selalu dapat diikuti, dan masa lalu serta masa kini dengan demikian ada sebagai proyeksi dari pengalaman-pengalaman seperti harapan-harapan, dengan argumen yang kompleks dan logis semua ini terhubung: ketika semua operasi hanya dapat terjadi saat ini, maka aktor yang beroperasi dapat meringankan keputusan-keputusan, bahwa dia di masa lalu memegang semua keputusan yang dibuat tetap tersedia pada saat ini.“[45]

 

Artinya, masa lalu hanya dapat dipahami melalui sudut pandang dan pengharapan yang ada pada masa kini. Tidak ada ingatan kolektif atas masa lalu yang bersifat sepenuhnya obyektif. Memang, harus disadari, bahwa obyektivitas hasil penelitian bukanlah tujuan dari berbagai penelitian tentang ingatan kolektif. Tujuan sesungguhnya adalah memahami apa yang terjadi di masa lalu dari sudut pandang sekaligus kebutuhan yang ada pada masa kini. Percampuran antara masa lalu dan masa kini itulah yang menjadi inti dari ingatan kolektif. Ia tidak pernah obyektif sepenuhnya.

 

2.3.2 Komunikasi dan Diferensiasi

Ingatan kolektif, seperti sudah disinggung sebelumnya, dapat dilihat sebagai sebentuk sistem. Sebagai sebentuk sistem, ingatan kolektif memiliki ciri rekursif. Artinya, ia berputar dan mengulang di dalam dirinya sendiri. Isi dari putaran dan perulangan ini adalah informasi dan komunikasi. Dalam konteks ini, dapat dikatakan, bahwa hakekat ingatan kolektif adalah pengulangan sekaligus perputaran dari beragam informasi dan proses komunikasi tentang masa lalu.

Di titik ini, ingatan kolektif mengembangkan logikanya sendiri. Ia menciptakan dirinya sendiri melalui proses pengulangan dan komunikasi yang berjalan berkelanjutan. Waktu dan persepsi dari warga masyarakat atas masa lalunya juga mempengaruhi isi dari ingatan kolektif. Maka dapatlah ditegaskan, bahwa ingatan kolektif adalah sebentuk sistem yang bersifat dinamis.[46]

Perubahan ingatan kolektif juga berarti perubahan identitas kolektif. Di dalam ingatan kolektif terdapat tidak hanya proses komunikasi antar warga tentang masa lalunya, tetapi juga proses diferensiasi yang berkelanjutan. Di titik ini, ingatan kolektif adalah sistem yang menciptakan dan mengembangkan dirinya sendiri, sejalan dengan logikanya sendiri, melalui proses komunikasi dan diferensiasi.

Apa peran manusia di dalam peran ini? Manusia dilihat sebagai individu sekaligus aktor di dalam proses ini. Tentang ini, Schraten menulis,

 

„Disini individu dilihat sebagai bagian psikis dari sistem-sistem sosial seperti ekonomi, politik dan agama di satu sisi sebagai sesuatu yang khas dibedakan, dan pada saat yang sama dalam fungsinya di dalam operasi: individu berfungsi sebagai keseluruhan sebagai dasar yang lain sebagai masyarakat, kebersamaannya terletak di dalam, secara tetap memiliki dan menciptakan ulang keputusan-keputusan biner, juga pembedaan-pembedaan.“[47]

 

Ekonomi, politik dan budaya dari sebuah masyarakat selalu diciptakan dan ditopang oleh individu-individu. Mereka adalah bagian fisik dari sistem-sistem tersebut. Masing-masing dari mereka memiliki peran yang berbeda di dalam menciptakan dan mempertahankan keberadaan sistem. Walaupun begitu, semuanya saling terhubung satu sama lain secara erat.

Setiap masyarakat tercipta dan berkembang melalui proses komunikasi dan diferensiasi. Dalam arti ini, peran manusia adalah sebagai aktor fisik sekaligus psikologis dari kedua proses tersebut. Peran tersebut nantinya akan semakin berkembang dan beragam. Kesemuanya, baik secara langsung ataupun tidak, bekerja sama untuk melestarikan keberadaan beragam sistem yang ada di masyarakat, seperti sistem ekonomi dan sistem politik.

Ingatan kolektif pun adalah sebuah sistem. Ia juga hidup dan berkembang di dalam masyarakat dengan proses komunikasi dan diferensiasi. Di dalamnya juga terdapat manusia-manusia dengan latar belakang, sudut pandang serta kepentingan tertentu. Mereka adalah subyek dari sistem ingatan kolektif yang ada. Keterlibatan manusia-manusia di dalam proses komunikasi dan diferensiasi akhirnya menciptakan beragam sistem yang ada dan terus berkembang semakin kompleks di dalam masyarakat.

 

2.3.3 Individu dan Kolektivitas

Setiap masyarakat adalah suatu bentuk kolektivitas. Semuanya terdiri dari manusia-manusia. Dasar dari kolektivitas ini adalah ingatan kolektif. Akan tetapi, manusia tidaklah sama persis dengan ingatan kolektif yang menjadi dasar dari identitasnya. Tentang ini, Schraten menulis,

 

„Jika diamati secara ontologis, individu dan masyarakat tidak memiliki hubungan apapun. Setiap orang terdiri dari satu tubuh, dan masyarakat adalah hasil dari komunikasi-komunikasi, juga merupakan hasil penyesuaian dari keadaan sistem yang berbeda di antara sistem-sistem.“[48]

 

Manusia adalah materi dari sistem. Tubuhnya adalah materi yang membentuk sistem. Ini adalah dimensi material dari masyarakat.

Setiap orang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat yang membentuk dan membesarkannya. Ia juga tidak bisa dipisahkan dari ingatan kolektif yang membentuk masyarakatnya. Akan tetapi, tindak mengingat tidaklah pernah dilakukan oleh masyarakat. Mengingat adalah tindakan manusia. Ingatan para wargalah yang menjadi jangkar kuat bagi ingatan kolektif sebuah masyarakat. Ingatan kolektif tersebut tidak berkembang di dalam ruang kosong, melainkan di dalam konteks sosial tertentu.

Ingatan kolektif adalah semacam jembatan yang menghubungkan individu dengan masyarakat.[49] Keduanya adalah komponen dasar yang membentuk ingatan kolektif. Ingatan kolektif sendiri terletak di kepala manusia-manusia sekaligus di dalam konteks sosial sebuah masyarakat. Tentang ini, Schraten menulis,

 

„Bukan manusia atau masyarakat yang memiliki ingatan, melainkan semua sistem dapat ikut serta dalam menciptakan ulang ingatan. Pertanyaan, apakah ingatan kolektif sungguh dapat memberikan, langsung diterima, bahwa masyarakat berfungsi sebagai sistem.“[50]

 

Ingatan kolektif terus mencipta ulang dirinya sendiri sebagai sebuah sistem yang terus berubah. Proses ini terus terhubung dengan individu dan masyarakat yang menjadi latar belakangnya. Kesemuanya berperan bersama sebagai sebuah kesatuan. Keterhubungan ini terdiri dari dua hal sekaligus, yakni aspek biologis sekaligus aspek sosial.

 

2.4 Ruang-ruang Ingatan menurut Aleida Assmann

Ingatan kolektif membutuhkan media untuk menyimpannya (Speichermittel).[51] Beragam media ini dapat disebut juga sebagai ruang-ruang ingatan (Erinnerungsräume).[52] Semuanya adalah alat-alat untuk menyimpan ingatan. Dengan alat-alat ini, sebuah masyarakat bisa memahami masa lalunya. Ada empat tujuan dari keberadaan ruang-ruang ingatan ini. Yang pertama adalah penciptaan kenyataan di masa kini. Yang kedua adalah penciptaan identitas kolektif masyarakat. Yang ketiga adalah sebagai arah bagi kehidupan bersama. Dan yang keempat adalah sebagai alasan bagi tindakan masyarakat.

 

2.4.1 Ingatan dan Lupa

Ingatan, menurut Aleida Assmann, membutuhkan sebentuk penglupaan. Mengingat berarti berfokus pada satu aspek dari peristiwa di masa lalu. Pada saat yang sama, ia mengabaikan beragam hal yang dianggapnya tidak penting. Ruang-ruang ingatan juga memiliki ciri yang sama. Ia bersifat selektif. Ada dua hal yang kiranya perlu diperhatikan disini.[53]

Yang pertama adalah pembedaan antara masa lalu dan masa depan. Tentu saja, keduanya berbeda. Namun, hubungan keduanya amat dekat. Di titik ini, masa lalu dilihat sebagai sesuatu yang bersifat mandiri. Inilah kiranya yang menjadi titik dasar dari beragam penelitian di dalam ilmu sejarah. Yang kedua adalah perbedaan antara apa yang dialami dan apa yang diharapkan terjadi. Masa lalu merupakan sesuatu yang telah dialami. Sementara, masa depan adalah sesuatu yang masih diharapkan akan terjadi. Keduanya jelas terhubung melalui hubungan sebab akibat, namun keduanya juga memiliki inti yang berbeda.

Peran ingatan kolektif amat penting disini, yakni ingatan kolektif yang tertanam di dalam berbagai bentuk media penyimpanan. Perkembangan teknologi percetakan dan beragam bentuk media meningkatkan kemampuan penyimpanan ingatan kolektif ini. Ia juga meningkatkan jurang perbedaan antara tulisan dan tutur di dalam konteks pelestarian ingatan kolektif yang ada. Tulisan dan tutur memiliki tugas untuk menggambarkan beragam peristiwa yang terjadi di masa lalu. Fungsi yang sama dimiliki oleh ingatan manusia. Namun, dengan perkembangan teknologi sekarang ini, beragam media yang ada memiliki daya tampung yang jauh lebih besar dan lebih kuat daripada ingatan manusia. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah, bahwa beragam media ini tidaklah bebas dari pengaruh politik. Beragam kepentingan politis maupun ekonomi yang ada di masyarakat mempengaruhi kerja-kerja media tersebut.[54]

 

2.4.2 Perkembangan Ruang-ruang Ingatan

Suatu tafsiran atas kejadian masa lalu dalam bentuk ingatan kerap digunakan sebagai pembenaran adalah keberadaan kekuatan politik tertentu di masa sekarang. Seorang penguasa totaliter bisa menggunakan ingatan tertentu tentang masa lalu untuk membenarkan tindakan-tindakannya di masa sekarang. Dengan kata lain, ingatan kolektif tidak bisa dipisahkan dari hubungan-hubungan kekuasaan politis yang berkembang di masa kini. Sebaliknya, sebuah tafsiran ulang atas ingatan kolektf yang telah ada juga bisa menjadi fungsi kritis terhadap kekuasaan politik yang sudah ada sekarang.[55]

Aleida Assmann juga menegaskan, bahwa ada beragam bentuk media tempat melestarikan ingatan kolektif. Untuk waktu yang lama, buku dan tulisan adalah media terbaik untuk tujuan tersebut. Ia melestarikan ingatan akan beragam peristiwa di masa lalu yang nantinya menjadi bagian penting dari identitas kolektif sebuah masyarakat.

Gambar pun telah lama menjadi alat untuk menyimpan dan melestarikan ingatan kolektif. Dari segi bentuk, gambar bisa menampung banyak informasi hanya dengan beberapa goresan. Ia tidak membutuhkan ruang yang besar. Di sisi lain, gambar bisa menciptakan begitu banyak tafsiran yang saling berbeda satu sama lain. Kemungkinan banyak tafsir ini kerap menciptakan kebingungan.

Namun, gambar tetap merupakan alat penyimpanan ingatan kolektif yang cukup baik. Ruang untuk menggambar pun kini bermacam-macam, mulai dari kertas, tubuh manusia, sampai dengan ruang-ruang umum di jalan raya. Kesemua ini tidak hanya dilihat sebagai tempat untuk melestarikan ingatan kolektif, tetapi juga sebagai seni. Tubuh, ruang-ruang umum, gambar, tulisan, seni dan ingatan kolektif sebuah masyarakat saling terhubung satu sama lain.

Beberapa media lainnya juga berkembang sebagai media penyimpan ingatan kolektif, seperti fotografi dan video. Dengan perkembangan ini, beragam upaya untuk menafsirkan ulang serta memahami ingatan kolektif justru semakin sulit. Ada begitu banyak kemungkinan tafsir yang tidak hanya menciptakan kebingungan, tetapi juga perasaan tidak aman. Walaupun begitu, di sisi lain, manajemen data terkait dengan beragam hal, juga tentang masa lalu, justru semakin efisien. Efisiensi semacam ini, sayangnya, tidak menjamin, bahwa refleksi atas beragam informasi itu juga semakin mendalam.

Perkembangan teknologi justru mengancam kedalaman refleksi atas beragam informasi yang ada. Pengaruh perkembangan teknologi komputer amat besar disini. Ia menyimpan dan mengatur beragam informasi yang ada. Bahkan, ia juga bisa menafsirkan makna dari beragam informasi yang ada. Peran manusia semakin lama semakin kecil di dalam konteks ini. Konsep mengingat dan melupakan, yang amat penting di dalam penciptaan serta pelestarian identitas, justru kerap terlupakan, akibat perkembangan teknologi ini. Inilah yang disebut sebagai mekanisasi dan otomatisasi ingatan melalui teknologi.[56] Ini membuat hubungan antara manusia dengan ingatannya menjadi semakin jauh dan sulit.

 

2.4.3 Krisis dari Ingatan

Ketika teknologi menguasai ingatan, inilah yang disebut Aleida Assmann sebagai penguasaan teknis atas ingatan (technische Beherrschung des Gedächtnisses). Di titik ini, ingatan kolektif hanya dianggap sebagai barang teknis belaka. Tidak ada sentuhan manusia di dalamnya. Inilah paradoks perkembangan teknologi dalam kaitannya dengan ingatan kolektif, bahwa semakin cepat dan pesat perkembangan teknologi, maka semakin ingatan kolektif kehilangan makna serta kedalamannya.

Tentang ini, Assmann menulis, „dengan munculnya masa digital, yang terjadi tidak hanya berakhirnya masa percetakan buku, tetapi juga era seluruh penulisan secara keseluruhan.“[57] Tentu saja, banyak buku masih diterbitkan setiap tahunnya. Tradisi semacam tetap ada. Namun, makna dan kedalamannya sudah jauh berkurang. Semua itu hanya dilihat sebagai data kering semata. Bahkan, kerap kali, ia tidak menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Dengan kata lain, tulisan kini memiliki pengaruh yang lebih kecil terhadap kehidupan masyarakat dan individu pada umumnya.

Di satu sisi, ada begitu banyak buku yang beredar di masyarakat. Di sisi lain, buku-buku tersebut sulit untuk menjadi bagian dari identitas sosial maupun personal dari warga masyarakat. Beragam media untuk menyimpan ingatan kolektif ada dan terus berkembang. Namun, isi dari beragam media ini tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang berharga. Manusia tidak lagi mendalami beragam informasi yang ada di dalam media ini sebagai bagian dari identitas pribadi maupun sosialnya. Keadaan ini disebut juga oleh Aleida Assmann sebagai reifikasi informasi, atau reifikasi ingatan (Gedächtnisverdinglichung).

„Yang sebelumnya bersifat transhistoris“, demikian tulis Aleida, „kini sudah menurun menjadi transitoris.“[58] Ingatan kolektif kini menjadi semakin kering dan mekanis. Ia menulis kemudian,

 

„berbagai ide dan gambar dibawah semua kondisi elektronik tersebut tidak lagi dapat dipertahankan. Yang berkuasa adalah yang permukaan, yang dibelakangnya tidak ada lagi yang selain hal-hal yang dapat dihitung.. dalam kode 1 dan 0.“[59]

 

Ini berarti, ingatan kolektif hanya dilihat data murni yang kering dan mekanis belaka. Keduanya menjadi semakin lemah dan dangkal. Penyempitan makna ini juga mempengaruhi identitas kolektif yang ada. Ingatan kolektif memiliki pengaruh besar bagi identitas kolektif sebuah masyarakat.

Berbagai peristiwa di masa lalu hanya dilihat sebagai informasi belaka. Ia hampir tidak lagi memiliki makna bagi kehidupan di masa kini. Jika ini terjadi, maka masyarakat tidak memiliki kesempatan untuk belajar dari masa lalunya. Artinya, ia cenderung mengulangi kesalahan yang sama di masa lalu, seperti terjadinya konflik, pembunuhan massal, dan diskriminasi dalam berbagai macam bentuknya.[60] Keadaan ini, menurut Aleida, dapat dilihat sebagai krisis dari ingatan kolektif itu sendiri. Ada paradoks disini. Perkembangan teknologi untuk mendukung penyimpanan berbagai informasi justru mengancam keberadaan ingatan kolektif di dalam masyarakat.

 

2.4.4 Paradoks Ingatan

Di titik ini, ada paradoks lainnya yang terkandung di dalam ingatan kolektif, yakni paradoks antara melupakan dan mengingat. Kata „melupakan“, dalam konteks ini, haruslah dipahami sebagai penerimaan. Melupakan berarti melepas masa lalu sebagai masa lalu yang sudah berlalu. Melupakan juga berarti melepaskan segala obsesi untuk membalas dendam. Melupakan, dalam konteks ini, adalah pintu untuk memaafkan. Baru dengan begitu, masyarakat bisa sungguh mengingat apa yang terjadi secara sehat dan masuk akal. Paradoks ini adalah bagian penting dari ingatan kolektif.

Paradoks kemajuan teknologi dan kemunduran kedalaman ingatan jelas juga memiliki dampak bagi kualitas ingatan kolektif di dalam masyarakat. Ia menjadi semakin dangkal. Masalah ini tentu saja menambah kedalaman krisis ingatan yang telah terjadi pada jaman ini. Dan karena tindak melupakan/menerima adalah bagian penting dari ingatan, maka krisis ingatan kolektif berarti juga krisis dari melupakan itu sendiri, atau ketidakmampuan untuk menerima masa lalu sebagai sesuatu yang sudah berlalu.

Tentang ini, Aleida menulis,

 

„Karena penglupaan yang semakin hilang dan tak bisa digunakan, para seniman telah membuat cara baru, dimana masyarakat dapat mengingat dasar trauma mereka yang sebelumnya tertekan dan dimana proses mengingat serta melupakan dari masyarakat dapat memegang cermin seninya.“[61]

 

Mengingat tidak bisa dilepaskan dari melupakan. Bahkan, dapat dikatakan, bahwa melupakan justru membuat orang mampu mengingat secara sehat. Kedua tindakan ini memainkan peranan penting di dalam menentukan isi ingatan kolektif sekaligus identitas kolektif sebuah masyarakat. Sekali lagi perlu ditekankan, bahwa penglupaan, dalam arti ini, adalah tanda penerimaan. Penglupaan yang semata melupakan, tanpa dimensi penerimaan, hanya akan bermuara pada pemendaman kebencian. Ini tentu menjadi kemungkinan konflik di masa depan.

Pemendaman kebencian berakar pada ingatan yang dipaksa untuk dilupakan. Ini nantinya bisa berkembang menjadi sebentuk trauma kolektif. Bentuk-bentuk ingatan yang ditekan ini bisa dilestarikan salah satunya dengan jalur seni. Melalui karya-karya mereka, seniman menyampaikan penghayatan mereka tentang ingatan-ingatan kolektif yang terpendam dan dipaksa untuk dilupakan. Ingatan-ingatan semacam ini terlalu menyakitkan untuk diingat. Angela Kühner adalah salah satu peneliti masalah trauma kolektif semacam ini.[62]

Pada titik ini, cara berpikirnya tetap, bahwa sebuah peristiwa, seberapapun menyakitkannya, tidak boleh ditekan dan dipendam untuk dilupakan. Penglupaan dan penekanan ingatan bertentangan dengan semua teori tentang ingatan kolektif. Penglupaan harus berada sejalan dengan penerimaan, dan sama sekali bukan penglupaan total. Inilah yang harus terus diingat.

Akar penyebab dari krisis ingatan adalah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang tidak dibarengi dengan perkembangan kedalaman refleksi manusia. Krisis ini menciptakan kelupaan akan masa lalu yang terlepas dari penerimaan.[63] Jika ini terjadi, maka ingatan kolektif masyarakat pun akan terancam. Perkembangan teknologi media informasi justru menciptakan kelupaan kolektif. Dunia mengalami apa yang disebut banjir informasi. Ada terlalu banyak informasi. Namun, tidak ada energi dan kehendak untuk mendalami beragam informasi tersebut.

 

2.4.5 Konteks Indonesia

Gerakan 30 September dan pembunuhan massal setelahnya di Indonesia berpengaruh besar bagi sejarah Indonesia. Kedua peristiwa ini juga membentuk ingatan kolektif sekaligus identitas kolektif bangsa Indonesia. Keduanya mempengaruhi tata politik, ekonomi, sosial maupun budaya Indonesia, baik di masa kini maupun di masa depan.

Sampai saat ini, masyarakat Indonesia masih memiliki rasa takut yang besar terhadap masa lalunya, terutama terkait dengan peristiwa 65.[64] Setiap pembicaraan terkait dengan tema ini dianggap sebagai ancaman terhadap kesatuan politis negara Indonesia. Akan tetapi, sebenarnya, rasa takut ini tidak memiliki dasar. Jan Assmann menegaskan, bahwa setiap bangsa haruslah menghadapi masa lalunya dengan lapang dada. Dengan proses ini, bangsa tersebut bisa memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang identitasnya.

Masa lalu, demikian lanjut Jan Assmann, adalah dasar dari ingatan kolektif. Keduanya menunjang kehidupan sosial sebuah masyarakat. Ingatan kolektif juga memiliki fungsi lainnya, yakni keterhubungan, refleksivitas dan pembentukan dari masyarakat. Argumen ini juga tepat diterapkan, guna memahami keadaan Indonesia. Ingatan kolektif tentang peristiwa 65 secara langsung mempengaruhi keterhubungan, refleksivitas dan pembentukan masyarakat Indonesia.

Ingatan kolektif akan peristiwa ini lalu terekam di dalam berbagai media. Dewasa ini, beragam penelitian tentang peristiwa 65 telah dilakukan di Indonesia. Namun, perkembangan ini juga harus dilihat secara kritis. Banyaknya informasi yang tersedia tidak boleh menciptakan banjir informasi, yang akhirnya memperlemah daya refleksi atas beragam informasi terkait peristiwa 65 tersebut. Sebaliknya, beragam informasi yang ada dibaca secara kritis, lalu digunakan sebagai dasar pembentukan ingatan kolektif terkait dengan peristiwa 65 di dalam sejarah Indonesia.

 

  1. Kesimpulan

Belajar dari Maurice Halbwachs di dalam bukunya yang berjudul On Collective Memory, ingatan tidak pernah melulu merupakan hal pribadi. Sebaliknya, ingatan selalu merupakan sebentuk ingatan sosial, karena ia selalu menggunakan simbol-simbol yang diciptakan secara sosial, seperti bahasa, gambar, tulisan dan beragam media penyimpan ingatan lainnya. Ingatan, dengan demikian, selalu merupakan bentukan dari konteks sosial yang ada di sekitarnya. Namun, ingatan juga berperan aktif di dalam menuntun tindakan manusia, yang nantinya juga membentuk dan mengubah konteks sosial yang ada. Halbwachs memberikan contoh dengan menegaskan, bagaimana masa lalu selalu dipahami dalam sudut pandang maupun kepentingan yang ada di masa kini. Peran ingatan kolektif di dalam kehidupan bermasyarakat ini juga ditekankan oleh Jan Assmann di dalam tulisannya Kultur und Gedächtnis. Ingatan kolektif mempunyai peran membentuk dan mengatur kehidupan bermasyarakat. Ia juga bisa berperan kritis, guna mempertanyakan hal-hal yang dianggap sudah biasa di dalam kehidupan bermasyarakat. Pada dirinya sendiri, demikian kata Jan Assmann, ingatan adalah sebuah sistem yang membentuk dirinya sendiri secara dinamis melalui proses komunikasi dan diferensiasi yang terus terjadi di dalamnya. Ini semua terjadi tidak di dalam ruang hampa, melainkan, menurut Aleida Assmann, terjadi di dalam ruang-ruang ingatan yang merupakan tempat penyimpanan ingatan kolektif itu sendiri. Ia menjabarkan argumen tersebut di dalam bukunya yang berjudul Erinnerungsräume, Formen und Wandlungen des kulturellen Gedächtnisses. Berkat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat, ruang-ruang ingatan ini juga berkembang pesat. Beragam informasi tentang masa lalu disimpan secara rutin dan masif. Sayangnya, menurut Aleida Asssmann, perkembangan teknologi ini justru memperkecil kesempatan bagi masyarakat untuk melakukan refleksi mendalam terhadap beragam informasi yang ada. Akibatnya, ingatan kolektif pun mengalami krisis. Banyak data dan informasi, namun miskin refleksi untuk sampai pada kebijaksanaan.

Dengan berpijak pada dasar berpikir yang dikembangkan tiga pemikir ini, peristiwa 65 di Indonesia jelas perlu menjadi ingatan kolektif resmi Indonesia sebagai bangsa. Beragam tafsir atas peristiwa ini perlu mendapat ruang, supaya bisa dipahami dan direfleksikan lebih dalam. Ini semua menjadi dasar bagi pembelajaran atas masa lalu, sehingga bangsa Indonesia tidak mengulangi kesalahan serupa di masa kini maupun masa depan. Kemungkinan untuk mencapai rekonsiliasi dan perdamaian sudah selalu terkandung di dalam budaya bangsa Indonesia itu sendiri.[65] Hanya dengan proses belajar dari masa lalu yang digabungkan dengan budaya perdamaian yang sudah selalu ada di masyarakat kita, perdamaian yang sesungguhnya bisa terwujud di masyarakat Indonesia.    

 

Daftar Acuan

 

Assmann, Jan: „Kollektives Gedächtnis und kulturelle Identität,“ dalam: Kultur und Gedächtnis, Jan Assmann, et. al,, Frankfurt, 1988, Suhrkamp, 9-19.

 

Assmann, Aleida: Erinnerungsräume, Formen und Wandlungen des kulturellen Gedächtnisses, München, 1999, C.H Beck,

 

Assmann, Aleida: „Funktionsgedächtnis und Speichergedächtnis. Zwei Modi der Erinnerung“, in: Generation und Gedächtnis. Erinnerungen und kollektive Identitäten, Platt, Kristin, und Dabag, Mihran (Hrsg.), Opladen, 1995, Leske + Budrich, hal. 147-168.

 

Berek, Mathias: Kollektives Gedächtnis und die gesellschaftliche Konstruktion der Wirklichkeit, Wiesbaden, 2009, Harrosowitz.

 

Coser, Lewis. A. (Editor dan Penerjemah), dalam: Halbwachs, Maurice, On Collective Memory, Chicago, 1992, The University of Chicago Press,  hal. 1-34.

 

Esposito, Elena: Soziales Vergessen: Formen und Medien des Gedächtnisses der Gesellschaft, Frankfurt, 2002, Suhrkamp

 

Erll, Astrid, Kollektives Gedächtnis und Erinnerungskulturen, Verlag J.B. Melzer, Stuttgart, 2005.

 

Frieß, Nina. A.:Nichts ist vergessen, niemand ist vergessen? Erinnerungskultur und kollektives Gedächtnis im heutigen Russland, Potsdam, 2010, Universitätsverlag Potsdam Bab 2: Erinnerungskultur in Diskussion: Maurice Halbwachs. hal. 23-25.

 

Giroux, Henry, The Violence of Organized Forgetting: Thinking Beyond America’s Disimagination Machine, City Lights, 2014.

 

Hagen, Steve: Why The World Doesn’t See to Make Sense. An Inquiry into Science, Philosophy and Perception, Colorado, 2012, First Sentient Publications.

 

Halbwachs, Maurice: „The Collective Memory“, in: The Collective Memory Reader, Olick, Jeffrey, et.al., Oxford, 2011, Oxford University Press, 139-149. Teks asli: Halbwachs, Maurice: The Collective Memory, Terjemahan oleh Francis J. Ditter Jr. dan Vida Yazdi Ditter, New York, 1980, Harper & Row, 45-49, 80-87, 4-7.

 

Hayner, Priscilla, Unspeakable Truths. Transitional Justice and the Challenge of Truth Commissions, London, 2011, Routledge.

 

Kühner, Angela, Trauma und Kollektives Gedächtnis, Gießen, 2008, Psychosozial-Verlag.

 

———————-, Kollektive Traumata. Eine Bestandsaufnahme, Annahmen, Argumente,

Konzepte nach dem 11. September, Berlin, 2002, Berghof Report Nr. 9.

 

Margalit, Avishai: The Ethics of Memory, Cambridge Massachusetts, 2002, Harvard University Press.

 

Schraten, Jürgen: Zur Aktualität von Jan Assmann, Wiesbaden, 2011, VS Verlag, .

 

Sondergeld, Birgit: Spanische Erinnerungskultur, Die Assman’sche Theorie des kulturellen Gedächtnisses und der Bürgerkrieg 1936-1939, Wiesbaden, 2010, VS Research, hal. 21-66.

 

Tönnies, Ferdinand: Studien zu Gemeinschaft und Gesellschaft, Klaus Lichtblau (Hrsg.), Wiesbaden, 2012, Springer.

 

Wattimena, Reza A.A., Zwischen kollektivem Gedächtnis, Anerkennung und Versöhnung, München, Hochschule für Philosophie, 2016. Eksemplar wajib untuk publikasi.

 

——————————–: „Ingatan Sosial, Trauma dan Maaf: Sebuah Refleksi untuk Indonesia,“ in: Etika Komunikasi Politik, Nugroho, Alois Agus (Editor), Jakarta, 2011, Atma Jaya.

 

 

Internet:

 

Encke, Nadja, Die Erinnerungsexpertin: Aleida Assmann –Literatur- und Kulturwissenschaftlerin, http://www.goethe.de/ins/gb/lp/prj/mtg/men/tie/kul/de2873780.htm, Dezember 2007, 31. Mai 2014

 

http://d-a-s-h.org Dossier #11: Erinnerungskultur und Gedächtnispolitik Zugang http://d-a-sh.org/dossier/11/  4 Maret 2015

 

http://nasional.kompas.com/read/2014/11/14/1640184/Jokowi.Didesak.Segera.Selesaikan.Kasus.Pelanggaran.HAM.Berat.Masa.Lalu  30. November 2014 .

 

Giroux, Henry, Data Storms and the Tyranny of Manufactured Forgetting, http://truth-out.org/news/item/24550-data-storms-and-the-tyranny-of-manufactured-forgetting?tmpl=component&print=1 25. Juni 2014

 

Catatan Akhir: 

[1] Peneliti, Penulis dan Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Bisa dihubungi di reza.antonius@gmail.com

[2] Tulisan ini merupakan salah satu bagian dari Disertasi saya yang diringkas dan ditafsirkan ulang sesuai dengan perkembangan keadaan terbaru: Wattimena, Reza A.A., Zwischen kollektivem Gedächtnis, Anerkennung und Versöhnung, München, Hochschule für Philosophie, 2016. Eksemplar wajib untuk publikasi.

[3] Mengacu Coser, Lewis. A. (Editor dan Penerjemah), dalam: Halbwachs, Maurice, On Collective Memory, Chicago, 1992, The University of Chicago Press,  hal. 1-34.

[4] Ibid, hal. 2

[5] Bdk, Ibid, hal. 34.

[6] Saya mengacu: Halbwachs, Maurice: „The Collective Memory“, in: The Collective Memory Reader, Olick, Jeffrey, et.al., Oxford, 2011, Oxford University Press, 139-149. Teks asli: Halbwachs, Maurice: The Collective Memory, Terjemahan oleh Francis J. Ditter Jr. dan Vida Yazdi Ditter, New York, 1980, Harper & Row, 45-49, 80-87, 4-7.

[7] Ibid, hal. 141.

[8] Ingatan kolektif adalah dasar bagi identitas sosial sebuah masyarakat. Lihat Erll, Astrid, Kollektives Gedächtnis und Erinnerungskulturen, Verlag J.B. Melzer, Stuttgart, 2005, hal. 5. Buku ini mengupas beragam pendekatan tentang ingatan kolektif dari beragam sudut pandang.

[9] Halbwachs, 2011, hal. 141.

[10] Ibid.

[11] Ibid, hal. 142.

[12] Bdk, http://d-a-s-h.org Dossier #11: Erinnerungskultur und Gedächtnispolitik Zugang http://d-a-sh.org/dossier/11/  4 Maret 2015

[13] Halbwachs dalam Olick, 2011, hal. 142.

[14] Bdk, Margalit, Avishai: The Ethics of Memory, Cambridge Massachusetts, 2002, Harvard University Press, 60-61.

[15] Halbwachs dalam Olick, 2011, hal. 144.

[16] Lihat, Ibid, hal. 143.

[17] Ibid.

[18] Ibid, hal. 144.

[19] Ilmu sejarah merupakan analisis sistematik atas sebuah peristiwa di masa lalu. Dasarnya adalah metode ilmiah. Ia diawali dengan adanya hipotesis yang kemudian diuji dengan beragam data yang ada. Gaya semacam ini mengabaikan banyak hal, seperti tafsiran subyektif dan emosi dari orang-orang yang mengalami langsung peristiwa tertentu di masa lalu. Ini adalah kesalahan besar.

[20] Masa lalu adalah konsep ciptaan kita di masa kini. Lihat, Hagen, Steve: Why The World Doesn’t See to Make Sense. An Inquiry into Science, Philosophy and Perception, Colorado, 2012, First Sentient Publications, Teil: The Primacy of Mind.

[21] Lihat, Halbwachs dalam Olick, et.al, 2011, 144.

[22] Ibid

[23] Tafsiran dari  Frieß, Nina. A.:Nichts ist vergessen, niemand ist vergessen? Erinnerungskultur und kollektives Gedächtnis im heutigen Russland, Potsdam, 2010, Universitätsverlag Potsdam Bab 2: Erinnerungskultur in Diskussion: Maurice Halbwachs. hal. 23-25.

[24] Ibid, hal. 25.

[25] Lihat, http://nasional.kompas.com/read/2014/11/14/1640184/Jokowi.Didesak.Segera.Selesaikan.Kasus.Pelanggaran.HAM.Berat.Masa.Lalu Zugang 30. November 2014 .

[26] Bdk, Sondergeld, Birgit: Spanische Erinnerungskultur, Die Assman’sche Theorie des kulturellen Gedächtnisses und der Bürgerkrieg 1936-1939, Wiesbaden, 2010, VS Research, hal. 21-66. Teori ingatan kolekti yang dirumuskan Jan dan Aleida Assmann digunakan untuk memahami perang saudara di Spanyol dari 1936-1939.

[27] Saya mengacu: Schraten, Jürgen: Zur Aktualität von Jan Assmann, Einleitung in sein Werk, Heidelberg, 2011, VS Verlag, Bab 1 (Soziale Dimension des Werks: Kognitive Dimension des Werks; Das Kulturelle Gedächtnis) hal. 11-13.

[28] Lihat, ibid, hal. 7.

[29] Ibid, hal. 11.

[30] Lihat, ibid, hal. 12.

[31] Bdk, Encke, Nadja, Die Erinnerungsexpertin: Aleida Assmann –Literatur- und Kulturwissenschaftlerin, http://www.goethe.de/ins/gb/lp/prj/mtg/men/tie/kul/de2873780.htm, Dezember 2007, 31. Mai 2014 11.27 Uhr.

[32] Saya mengacu pada Jan: „Kollektives Gedächtnis und kulturelle Identität,“ dalam: Kultur und Gedächtnis, Jan Assmann, et. al,, Frankfurt, 1988, Suhrkamp, 9-19.

[33] Lihat, ibid, hal. 9.

[34] Lihat, ibid, hal. 13-16.

[35] Ibid, hal. 13.

[36] Ibid.

[37] Ibid, hal. 14.

[38] Ibid.

[39] Ibid, hal 15.

[40] Ingatan kolektif, beserta simbol-simbol yang membentuknya, bisa juga dilihat sebagai sistem. Lihat Esposito, Elena: Soziales Vergessen: Formen und Medien des Gedächtnisses der Gesellschaft, Frankfurt, 2002, Suhrkamp dan Berek, Mathias: Kollektives Gedächtnis und die gesellschaftliche Konstruktion der Wirklichkeit, Wiesbaden, 2009, Harrosowitz.

[41] Assmann, 1988, hal. 15.

[42] Lihat, ibid, hal. 16.

[43] Berikutnya, saya mengacu Schraten, Jürgen: Zur Aktualität von Jan Assmann, Wiesbaden, 2011, VS Verlag, . 164-165.

[44] Ibid, hal. 164.

[45] Ibid.

[46] Bdk, Schraten, 2011, hal. 164.

[47] Ibid, hal. 165.

[48] Ibid.

[49] Bdk, Vgl. Tönnies, Ferdinand: Studien zu Gemeinschaft und Gesellschaft, Klaus Lichtblau (Hrsg.), Wiesbaden, 2012, Springer.

[50] Schraten, 2011, hal. 165.

[51] Bdk, Assmann, Aleida: „Funktionsgedächtnis und Speichergedächtnis. Zwei Modi der Erinnerung“, in: Generation und Gedächtnis. Erinnerungen und kollektive Identitäten, Platt, Kristin, und Dabag, Mihran (Hrsg.), Opladen, 1995, Leske + Budrich, hal. 147-168.

[52] Saya mengacu Assmann, Aleida: Erinnerungsräume, Formen und Wandlungen des kulturellen Gedächtnisses, München, 1999, C.H Beck, Kapitel: Krise des kulturellen Gedächtnisses, hal. 408-415.

[53] Lihat, ibid, hal. 408.

[54] LIhat, ibid, hal. 409.

[55] Bdk, ibid.

[56] Bdk, Giroux, Henry, Data Storms and the Tyranny of Manufactured Forgetting, http://truth-out.org/news/item/24550-data-storms-and-the-tyranny-of-manufactured-forgetting?tmpl=component&print=1 25. Juni 2014

[57] Assmann, Aleida, 1999, hal. 411.

[58] Ibid.

[59] Ibid.

[60] Ini adalah argumen yang mendasari seluruh wacana terkait dengan keadilan di masa transisi, atau trasitional justice. Salah satu buku utama untuk mendalami tema ini adalah Hayner, Priscilla, Unspeakable Truths. Transitional Justice and the Challenge of Truth Commissions, London, 2011, Routledge.

[61] Assmann, Aleida, 1999, hal. 411.

[62] Lihat, Kühner, Angela, Trauma und Kollektives Gedächtnis, Gießen, 2008, Psychosozial-Verlag. Lihat juga: Kühner, Angela, Kollektive Traumata. Eine Bestandsaufnahme, Annahmen, Argumente, Konzepte nach dem 11. September, Berlin, 2002, Berghof Report Nr. 9.

[63] Bdk, Giroux, 2014. Juga lihat: Giroux, Henry, The Violence of Organized Forgetting: Thinking Beyond America’s Disimagination Machine, City Lights, 2014.

[64] Lihat, Wattimena, Reza A.A.: „Ingatan Sosial, Trauma dan Maaf: Sebuah Refleksi untuk Indonesia,“ in: Etika Komunikasi Politik, Nugroho, Alois Agus (Editor), Jakarta, 2011, Atma Jaya.

[65] Bdk, Wattimena, Reza A.A., 2016.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

6 tanggapan untuk “Mengurai Ingatan Kolektif”

  1. Terimakasih. Referensi ini sangat membantu Tugas akhir saya. Saya Menulis mengenai Tacit Knowledge Suku Dani (Balim) di Papua. Orang Balim pada dasarnya tidak mengenal tulisan tetapi semua pengetahuan itu di buat dalam berbagai arsitektur bangunan dan mitos. Seperti yang sudah disinggung di atas. Teori-nya sangat membantu. Tulisan ini salah satu rujukan yang saya gunakan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s