Aku Berpikir, Maka Aku… Menderita

mind_tripOleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Unika Widya Mandala Surabaya, Doktor Filsafat dari Universitas Filsafat Muenchen, Jerman

Sejak kecil, kita diajar untuk menjadi pintar. Kita diajar untuk melatih pikiran kita, sehingga menjadi pintar. Dengan kepintaran tersebut, kita dianggap bisa hidup dengan baik di kemudian hari. Kita juga bisa menolong orang lain dengan kepintaran yang kita punya.

Hal ini bukan tanpa alasan. Dengan pikiran, manusia menciptakan filsafat. Dari filsafat kemudian berkembanglah beragam cabang ilmu pengetahuan, seperti kita kenal sekarang ini. Dari situ lahirlah teknologi yang kita gunakan sehari-hari.

Akal Budi di Eropa

Di dalam sejarah Eropa, penggunaan akal budi manusia untuk berpikir menandakan lahirnya era baru di masa Yunani Kuno, sekitar 2300 tahun yang lalu. Cara berpikir mistik mitologis digantikan dengan cara berpikir logis rasional. Dunia tidak diatur oleh para dewa yang saling membenci, melainkan oleh hukum-hukum rasional yang bisa dipahami dengan akal budi. Dengan memahami hukum-hukum alam, manusia lalu bisa menguasai alam itu untuk kepentingannya.

Di era abad pertengahan, yakni sekitar tahun 1300-an di Eropa, penggunaan akal budi secara mandiri juga membuka era baru, yakni era renaisans yang kemudian mendorong era pencerahan (Aufklärung) Eropa. Orang lalu keluar dari fanatisme agama, dan mulai berani menata kehidupan pribadi maupun bersama dengan prinsip-prinsip yang masuk akal. Penggunaan akal budi secara mandiri dianggap sebagai jalan keluar dari segala bentuk kebodohan. Atmosfer optimisme terhadap perkembangan peradaban manusia terasa kuat di udara.

Di dalam filsafat dikenal argumen dari Rene Descartes, yakni aku berpikir, maka aku ada. Pikiran dianggap sebagai inti dari pribadi manusia. Pikiran juga dianggap sebagai satu-satunya hal yang tak terbantahkan keberadaannya, menurut Descartes. Sejak saat itu, penyelidikan mendalam terhadap struktur berpikir manusia pun dimulai.

Puncaknya, pada hemat saya, ada di dalam filsafat pengetahuan Immanuel Kant. Ia menegaskan, bahwa pikiran manusia bergerak dengan beragam kategori (Kategorien der Vernunft). Dengan beragam kategori ini, yakni ruang, waktu, substansi, esensi, dan sebagainya, manusia bisa memahami dunianya. Dengan kata lain, pikiran manusia “menciptakan” dunia, yakni dunia sebagaimana dihidupinya.

Masalahnya

Optimisme terhadap pikiran manusia itu pun runtuh, sejalan dengan berubahnya waktu. Penjajahan Eropa atas seluruh dunia, perbudakan, pembunuhan massal, genosida dan dua perang dunia yang menghancurkan banyak negara membuka sisi gelap dari pikiran manusia. Akal budi berubah menjadi semacam alat untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang justru tidak rasional, seperti perang dan perbudakan. Akal budi menciptakan cara pandang dualistik-antagonistik yang melahirkan perbedaan kawan-lawan.

Cara pandang dualistik yang memisahkan dan membuat tegangan antar manusia inilah akar dari segala konflik yang ada. Kita melihat orang lain sebagai sosok yang berbeda, bahkan musuh. Kita juga melihat alam sebagai sesuatu yang terpisah, yang bisa diperas untuk kepentingan kita. Pada tingkat pribadi, cara pandang dualistik antagonistik ini melahirkan kecemasan yang mendalam di dalam diri manusia, karena perasaan terpisah dengan alam dan manusia lain yang begitu kuat.

Adorno dan Horkheimer melihat semua gejala ini sebagai sebuah krisis. Mereka menyebutnya sebagai dialektika pencerahan (Dialektik der Aufklärung). Intinya adalah, bahwa akal budi telah berubah menjadi mitos baru. Ia adalah pembebas yang kini justru menjadi penjara baru bagi hidup manusia yang melahirkan banyak masalah.

Di dalam bukunya yang berjudul Teori Tindakan Komunikatif (Theorie des kommunikativen Handelns), Jürgen Habermas menawarkan jalan keluar dengan memahami akal budi sebagai akal budi komunikatif (kommunikative Vernunft). Sisi komunikatif ini sudah selalu ada di dalam bahasa dan di dalam pola pembicaraan antar manusia. Jika sisi ini dikembangkan, akal budi komunikatif bisa menjadi jalan keluar dari berbagai krisis di dalam kehidupan manusia. Akal budi komunikatif dianggap sebagai jalan keluar dari kebuntuan akal budi.

Namun, banyak kritik yang menyatakan, bahwa pemikiran Habermas ini terlalu ideal. Pengaruh kekuasaan dan kepentingan tidak pernah bisa dilepaskan di dalam hubungan antar manusia. Teori tindakan komunikatif menarik secara teoritis dan filosofis. Namun, di dalam kehidupan politik nyata, ia tetap tunduk pada cengkraman kekuasaan dan kepentingan yang lebih besar.

Di dalam bukunya Kritik der cynisischen Vernunft, Peter Sloterdijk menegaskan, bahwa akal budi tidak lagi dapat dijadikan sandaran bagi kehidupan manusia. Terlalu banyak kelemahan yang terkandung di dalamnya. Ia pun menyarankan, agar kita bersikap sinis terhadap akal budi kita sendiri. Tulisan-tulisan Sloterdijk lalu mengarah pada estetika sebagai jalan keluar dari segala kelemahan akal budi.

Tradisi Lain

Eropa bergulat dengan akar dari kebudayaannya sendiri, yakni penggunaan akal budi secara mandiri di dalam kehidupan manusia. Akal budi telah membawa banyak perkembangan bagi hidup manusia. Namun, harga yang harus dibayar pun tidak kecil. Perang raksasa sampai dengan penderitaan batin yang amat dalam adalah dua contoh yang paling nyata.

Ada tradisi lain yang mencoba memikirkan hakekat dari pikiran manusia. Tradisi ini adalah tradisi Zen yang berkembang di India, Cina, Korea dan Jepang. Di dalam tradisi Zen, pada hakekatnya, pikiran manusia adalah kosong. Ia tidak memiliki inti yang mandiri. Ia muncul dari beragam hal yang saling terkait, lalu kemudian terpisah di waktu berikutnya.

Pikiran adalah juga sumber dari penderitaan hidup manusia. Ketika orang mulai berpikir, segalanya lalu muncul, yakni ruang, waktu, masa lalu, masa depan, penderitaan, kenangan dan ambisi. Ketika manusia mengira, bahwa semua itu benar, maka ia jatuh ke dalam kelekatan dengan pikirannya sendiri. Ia pun jatuh ke dalam penderitaan hidup yang berat.

Jalan keluar dari ini adalah dengan kembali ke keadaan sebelum pikiran (before thinking). Keadaan sebelum pikiran ini disebut juga sebagai keadaan alamiah manusia. Keadaan ini tidak memiliki nama ataupun konsep. Ia jernih dan seperti ruang hampa luas.

Orang lalu diajarkan untuk hidup dari titik sebelum pikiran tersebut. Artinya, orang hidup sepenuhnya dari kejernihan. Ketika ia memutuskan, ia pun memutuskan dari kejernihan. Ketika ia bertindak, ia juga bertindak dari kejernihan.

Ada paradoks disini. Ketika orang hidup dari titik sebelum pikiran, ia melepaskan kelekatan dengan pikiran yang ia punya. Ketika kelekatan runtuh, orang lalu justru bisa menggunakan pikiran secara jernih dan tajam untuk menanggapi berbagai keadaan. Pikiran yang terbebaskan dari kelekatan adalah pikiran yang bisa membebaskan manusia dari segala bentuk masalah di dalam hidupnya.

Jika orang hidup dari titik sebelum pikiran, maka secara alami akan tumbuh cinta dan kebijaksanaan yang sejati di dalam dirinya. Moralitas tidak lagi dipahami sebagai penyesuaian terhadap aturan-aturan masyarakat yang sudah ada sebelumnya, melainkan sebagai gerak batin yang muncul secara alami dari saat ke saat. Hannah Arendt pernah menulis, bahwa bahaya terbesar peradaban manusia bukanlah sikap tidak patuh, melainkan kepatuhan buta pada aturan. Kepatuhan buta inilah yang melahirkan fanatisme terhadap beragam sistem yang melahirkan konflik dan penderitaan bagi begitu banyak orang.

Mencoba

Kita harus melepaskan kecanduan berpikir. Kita harus juga melepaskan kelekatan pada pikiran. Jalan keluar dari Zen menarik untuk dicoba, yakni kembali ke keadaan alamiah kita sebagai manusia sebelum segala pikiran muncul. Saya sudah mencobanya, dan saya merasakan kejernihan yang luar biasa di dalam berpikir dan bertindak.

Saya tidak hanya lepas dari segala bentuk penderitaan batin, tetapi juga bisa menolong orang lain yang membutuhkan, sesuai dengan kemampuan saya. Zen memang bukan sekedar teori, tetapi laku hidup nyata. Buahnya bukan hanya kecerdasan, tetapi kedamaian, kejernihan dan kebijaksanaan yang sejati. Anda tertarik mencoba?

 

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

25 thoughts on “Aku Berpikir, Maka Aku… Menderita”

  1. Tapi untuk melepaskan kelekatan pada pikiran memang membutuhkan proses. Sedari kecil kita sudah dibiasakan untuk menggunakan pikiran. Dari pembiasaan itu kita akhirnya melihat bahwa pikiran kita sama dengan diri kita. Memang mencoba untuk melepas kelekatan pikiran ada jatuh bangunnya, tapi nikmati saja prosesnya. Jalan terus !!!
    Oh ya pak, apakah bapak bisa mengulas aliran filsafat timur selain zen ? Karena saya lihat tradisi filsafat timur juga kaya akan ide-ide pencerahan & pembebasan
    Thx 🙂

    Suka

  2. Lagi-lagi zen, Bravo mas!
    Sejauh yang pernah saya pelajari tentang sufisme, ateisme dan panteisme, entah kenapa kosep zen ini yang paling pas bagi saya. sederhana, to the point, tapi sulit mejalaninya dalam gerak laku hidup sehari-hari, perlu latihan dan latihan.

    Yang membuat saya bergetar-getar membacanya adalah
    “Moralitas tidak lagi dipahami sebagai penyesuaian terhadap aturan-aturan masyarakat yang sudah ada sebelumnya, melainkan sebagai gerak batin yang muncul secara alami dari saat ke saat.”

    Suka

  3. ketika benturan keilmiahan dan kealamiahan,idealis dan realis,terjadi melalui konsep dan bahasa seperti halnya 2 kekuatan besar yg sebanding berkontradiksi dan menghasilkan kekuatan baru,dan bahkan kita tdk bisa terhindar dari paradoks realitas,ketika panca indera itu merespon dan termuat dlm sensasi ke otak sulit tdk melibatkan otk secara sadar utk proses berpikir lalu bereaksi dengan motorik,proses ini tetap pd mekanisme runtut setiap organisme dan ini adlah proses alamiah yg dipelajari secara ilmiah. jika sy bahasakan kesadaran alamiah. yg sangat ingin sy tekankan adalah bahwa ada hal yg terjadi simultan ketika kita melakukan penginderaan terhadap objek.

    Suka

  4. Salam sejahtera untuk bapak. Saya sangat menyukai sebagian besar karya bapak. Saya ingin bertanya, bagaimana bisa kita terlepas dari pikiran sedangkan kita lahir bersamanya?. Ada paradoks di sini, apakah untuk mencapai keadaan “before thinking” kita harus memahami apa yang ada di dalam pikiran itu sendiri? Lalu barulah kita sampai pada istilah “kekosongan” ?.

    Kalau diizinkan, Bolehkah saya men-share beberapa karya bapak?.

    Salam.

    Suka

    1. Salam sejahtera. Before thinking berarti melepas semua konsep, dan kembali ke titik asali kita sebagai mahluk semesta. Caranya dengan melakukan sesuatu secara penuh, tanpa analisis apapun. Ini yang disebut hidup dengan kesadaran penuh, tanpa analisis apapun. Silahkan bagikan tulisan2 di blog ini kepada masyarakat luas.

      Suka

      1. Before thinking… Konsep yang sungguh absurd.
        Melepaskan diri dari konsep. Melakukan sesuatu tanpa analisis. bukankkah itu adalah kebodohan.
        Bukankah indera manusia menerima berbagai macam konsep dari alam. dan tersimpan dalam pikiran lalu dijadikan patokan dalam bersikap dan berperilaku pak…

        Suka

      2. ya.. dinilai dari pikiran, memang ini adalah absurd.. tapi disitu intinya! Melepaskan diri dari konsep bukan berarti anti konsep, tetapi bergerak ke sebelum konsep. Baru muncul kebebasan untuk secara jernih menggunakan konsep. Disini paradoksnya.

        Suka

  5. Salam mas Reza, saya telah membaca artikel-artikelnya yang sangat menarik dan membuat saya sepenuhnya pada kehidupan saat ini dengan kesadaran penuh dan kejernihan walaupun sulit untuk dilakukan bagi pemula yang mempelajari zen

    Suka

  6. kata zan jalan keluar untuk dicoba yakni kembali ke keadaan Alamiah sebelum segala pikiran muncul ..??
    1.pertanyaan saya gimana agar hubungan pikiran saat ini dan pikiran masa akan datang .. itu tidak bercampur aduk sehinga menimbulkan kegelisaan dan bagaimana kitika kedua pikiran itu bercampur aduk untuk mengembalikan keadaan alamiah .. maaf jika salah atau tdk berhubungan pak ..!! itulah tandanya
    2.saya terlalu banyak memikirkan masa depan dan ber experimen sehingga saya bimbang dan kekacauan pada diri saya .. berbicara.. menulis itu membuat sy berpikir dan sering megabaikan orang ketika berbicara tdk tau arah pikiran keman ??
    3.apa saya lakukan untuk merubah semuah itu pak jika filsafat membantu saya untuk perubahan apa yang saya harus lakukan

    Terima kasih Pak SALAM KENAL
    Insan yang ingin merubah pola pikir untuk cerdas

    Disukai oleh 1 orang

  7. Pak Zein yang saya hormati. Saya sudah sedikit belajar bagaimana menikmati masa sekarang sebagai sekarang. Namun ada satu hal yang mengganjal di kepala saya. Apakah maksud jangan berpikir ini, adalah kita tidak melekat sebagai pikiran itu sendiri. Walau pada kenyataannya kita masih berpikir untuk hal-hal yang memang seharusnya menggunakan pikiran kita? Namun kita bukan sebagai pikiran ketika berpikir?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s