Spiritualitas Politik, Spiritualitas Ekonomi

Connie Rose

Oleh Reza A.A Wattimena

Politik adalah kata yang luhur. Ia adalah soal mengelola hidup bersama dengan berpijak pada tata nilai kehidupan yang ada. Ia memperjuangkan keadilan untuk semua warga, dan bukan hanya segelintir kelompok. Namun, sekarang ini, politik sudah berubah arti menjadi pertarungan untuk memperoleh kekuasaan dengan cara-cara yang jahat, licik dan kejam.

Hal yang sama kiranya terjadi di bidang ekonomi, sehingga ia terpelintir ke dalam kesesatan berpikir yang merusak. Sejatinya, ekonomi adalah soal mengelola beragam sumber daya, guna menciptakan kemakmuran bersama. Kemiskinan dan ketimpangan sosial antara si kaya dan si miskin adalah dosa besar tata kelola ekonomi. Asas dasar ekonomi adalah solidaritas antar manusia yang membawa pada kesejahteraan bersama.

Mengapa keduanya terpelintir ke arah kesesatan? Mengapa ciri licik, rakus dan kejam kini justru ditempel pada dua kata yang luhur tersebut? Ada banyak kemungkinan jawaban. Namun, jawaban yang paling mendasar adalah, karena politik dan ekonomi sudah tercabut dari spiritualitas.

Tercabut

Ekonomi tanpa spiritualitas hanya berubah menjadi pertukaran barang dan jasa yang dibalut oleh kerakusan. Politik tanpa spiritualitas hanya menjadi pencipta ketakutan dan perpecahan di dalam masyarakat. Pun jika ada niat baik, tanpa spiritualitas, politik dan ekonomi hanya berubah menjadi pembuatan kebijakan belaka yang minim dampak nyata.

Sebaik apapun sistemnya, tanpa ada spiritualitas yang berakar dalam di dalam diri para pelaku politik, korupsi dan politik pemangsa (predatory politics) akan terus ada. Sesempurna apapun sistemnya, tanpa spiritualitas, ketimpangan sosial, kemiskinan dan kerakusan akan terus mewarnai dunia ekonomi. Spiritualitas ini tertanam di dalam budaya sebuah masyarakat, asal ia terus digali dan ditafsirkan secara segar di kehidupan yang terus berubah.

Spiritualitas

Spiritualitas bukanlah sesuatu yang seram. Ia tidak ada hubungan dengan klenik. Bahkan, ia tak ada hubungan dengan agama.

Spiritualitas adalah cara pandang terhadap kehidupan yang berpijak pada kesadaran mendasar, bahwa kita saling terkait satu sama lain. Kata “kita” tidak hanya mengacu pada manusia, tetapi pada semua mahluk hidup yang ada. Pendek kata, seluruh kehidupan di jagat semesta ini berawal dari hal yang sama, dan akan kembali menjadi hal yang sama, yakni energi semesta itu sendiri.

Jika dihubungkan dengan spiritualitas, politik dan ekonomi akan secara alami kembali ke hakekatnya. Bahkan, politik dan ekonomi tidak membutuhkan sistem dan aturan yang begitu rumit, seperti sekarang ini. Semakin rumit aturan dan sistem yang ada di sebuah masyarakat, semakin dalamlah krisis spiritualitas yang dialami masyarakat tersebut.

Jika orang sadar, bahwa ia adalah satu dan sama dengan semua mahluk hidup yang ada, maka solidaritas universal akan muncul secara alami di dalam dirinya. Ini juga akan secara otomatis mengusir semua penderitaan batin yang ia punya. Spiritualitas tidak hanya membalut hidup bersama dengan keadilan dan kesejahteraan, tetapi juga melepaskan diri pribadi dari beragam penderitaan yang sia-sia.

Maka, pendidikan spiritualitas harus menjadi bagian utama sistem pendidikan nasional. Spiritualitas harus dilepaskan dari tradisi agama tertentu. Pengembangan spiritualitas juga akan secara langsung memotong akar-akar radikalisme dan terorisme sampai ke akarnya. Ia bisa mengembangkan daya tahan bangsa dari jaringan radikalisme dan terorisme global yang terkait erat dengan beragam kebijakan geopolitik di Timur Tengah maupun negara-negara Barat.

Inilah hal terpenting yang bisa kita lakukan sekarang ini.

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.

8 tanggapan untuk “Spiritualitas Politik, Spiritualitas Ekonomi”

  1. hal, ketidak mampuan untuk mendengar dengan fokus / oberflächigkeit) mencekik kemampuan spiritualitas dalam diri.
    juga kesalah pahaman dgn kata “spiritual”, sering di anggap kearah”guna2″, selama masyarakat belum mengerti “spiritual”, sulit untuk menerap kan idee diatas.
    jalan spiritual tidak mungkin di terapkan dengan crash kurs dan jalan tsb sangat berduri , berliku2, di balik semak2.
    teringat : die ochsen bilder.
    fazit : problem manusia dewasa ini sudah di perbincangkan lebih dari 1000 tahun.
    banya salam !!

    Suka

  2. “…pendidikan spiritualitas harus menjadi bagian utama sistem pendidikan nasional. Spiritualitas harus dilepaskan dari tradisi agama tertentu.”
    Kalau mau menerapkan ini di Indonesia, kata “spiritualitas” akan membuat repot. Karena pasti langsung dikaitkan dengan agama-agama tertentu. Bakal rame! Mungkin harus dipakai istilah lain yang netral dan universal: etika. Etika ekonomi, etika politik. Etika itu kan lahir dari spiritualitas (atau mereka sinonim?)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.