Manusia Lintas Agama

Pinzellades al món: James C. Christensen

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Kita hidup di abad 21. Setidaknya, ada empat ciri utama abad 21. Pertama, nalar memainkan peranan penting dalam kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun kehidupan bersama. Ini terbukti dari berkembangnya ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial dan teknologi.

Dua, abad 21 ini ditandai dengan semakin kencangnya badai globalisasi. Jaman ini ditandai dengan perubahan pemahaman manusia tentang ruang, waktu dan identitas, terutama akibat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang amat cepat. Tiga, semua ini menciptakan keterhubungan yang luar biasa besar antara berbagai negara di dunia. Tidak ada satu pun negara yang bisa menciptakan keadilan dan kemakmuran, tanpa kerja sama dengan negara-negara lainnya.

Empat, globalisasi juga mengubah banyak bentuk masyarakat. Masyarakat homogen, yang satu ras, suku ataupun agama, menjadi semakin sedikit, bahkan hilang sama sekali. Jalan menuju kemakmuran ekonomi hanya dapat ditempuh, jika kemajemukan masyarakat ini diakui dan dikelola dengan adil serta damai. Jika kita ingin hidup sehat dan makmur di abad 21, kita perlu menyingkapi keempat hal tersebut secara tepat.

Lalu, bagaimana wujud manusia abad 21 ini yang cocok dengan keempat keadaan di atas? Jawabannya satu, yakni manusia lintas agama. Manusia lintas agama berarti menjadi manusia lintas budaya, karena agama dan budaya memang tak terpisahkan. Pola hidup lintas agama ini ditandai dengan enam hal.

Pertama, manusia lintas agama tidak fanatik terhadap satu ajaran tertentu. Radikalisme yang salah arah dijauhi. Sikap tertutup dan diskriminatif terhadap orang-orang yang berasal dari agama lain juga dihindari.

Dua, manusia lintas agama belajar dari semua agama dan tradisi yang ada. Ia didorong rasa ingin tahu yang besar untuk memahami berbagai agama dan kebudayaan dunia yang beragam. Ia melihat, bahwa Tuhan memang satu, namun jalan untuk mengenal-Nya amatlah beragam. Ia melihat keindahan di dalam keberagaman jalan spiritual.

Tiga, setelah belajar dari semua tradisi, ia lalu menemukan kebijaksanaan yang bersifat lintas tradisi. Kebijaksanaan ini mewarnai kehidupan spiritual maupun sosialnya. Sikap tertutup dan kasar lenyap dalam terang kebijaksanaan lintas tradisi ini. Sikap lembut dan bersahaja dalam gaya hidup lalu menjadi gaya kesehariannya.

Empat, wawasan luas juga merupakan buah dari kemauan untuk menjadi manusia lintas agama. Wawasan itu sendiri menjadi kenikmatan berharga bagi orang yang memilikinya. Orang yang berwawasan luas memiliki banyak kemungkinan. Ia juga bisa membantu banyak orang dengan keluasan wawasannya tersebut.

Lima, bentuk nyata dan kebijaksanaan lintas tradisi dan wawasan yang luas adalah sikap toleran dan terbuka. Kunci dari toleransi adalah saling menghormati satu sama lain, tanpa pandang bulu. Kunci dari sikap keterbukaan adalah kemauan untuk belajar terus dari satu sama lain, demi perkembangan diri dan perkembangan hidup bersama.

Enam, manusia lintas agama sadar betul, bahwa agama harus dipisahkan dari politik. Politik adalah soal urusan bersama yang mencakup beragam orang dengan beragam agama. Sementara, agama itu urusan pribadi, sekaligus urusan beberapa orang yang memiliki agama serta keyakinan yang sama saja. Ketika agama dan politik dicampurkan, yang terjadi adalah penyelewengan ajaran-ajaran agama, sekaligus diskriminasi terhadap kelompok agama dan keyakinan minoritas.

Jelaslah, bahwa menjadi manusia di abad 21 berarti menjadi manusia lintas agama. Jika ini tidak dilakukan, orang terjebak pada sikap fanatik dan radikal salah arah. Konflik dan diskriminasi adalah buahnya. Akibatnya, ketika banyak bangsa sudah berpikir maju tentang rekayasa genetika, eksplorasi dasar laut, serta mengirim orang ke Mars, bangsa kita masih ribut sendiri soal bolehkah memberi selamat kepada penganut agama lain yang merayakan hari raya.

Cape deeh…

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

18 thoughts on “Manusia Lintas Agama”

  1. saya sepakat banget dengan inti tsb diatas. sayang nya dalam kehidupan se hari2 walau banya hal2 sudah canggih, kita mengalami sesama manusia bahkan dari kaum intellekt, dengan cara berpikir “seperti katak dalam tempurung”.
    mungkin ada baiknya “ikatan dan belenggu” dalam benak di lepaskan dengan jalan spiriual dulu, baru inti karya diatas mungkinlah untuk di jalankan.
    atau pak wattimena ada jalan lain ???
    salam hangat !!

    Suka

    1. menurut pandangan saya, hal2 dalam hidup tidak bisa di tegas kan, kita harus menjalan i sendiri2, dan dari pengalaman hidup kita menemukan diri sejati kita. ke nurani an yang tidak berhubungan dengan intellekt, gelar dan apapun.
      kita hidup seperti yg” diciptakan”.

      Suka

  2. Kalau menurut saya mas, tidak perlu manjadi “muslim” lintas agama untuk mewujudkan cita2 mulia, menjadi manusia abad 21 yg ideal.
    Karena; Islam secara komprehensif telah melatakkan aturan, tata cara dan etika untuk menjadi manusia yang santun, kritis, toleran dan cerdas.
    Jika ada pendapat yang mengharuskan memisahkan antara beragama dan berpolitik, karena ada perbedaan diantara keduanya, yang pertama itu prihal sosial dan yang kedua soal hubungan vertikal dengan Sang Pencipta, berarti definisi beragama harus diluruskan lagi. Karena beragama sejatinya prihal hubungan mukallaf dengan Sang Maha Pemurah dan hubungan sesama makhluk, ibarat sisi mata uang yang saling melengkapi. Jika menganggap agama hanya punya satu sisi, maka ini pemahaman yang sengat keliru.
    Kemudian, jika ungkapan “karena agama dan budaya memang tak terpisahkan” bermakna budaya punya hegemoni terhadap tumbuh dan berkembangnya sebuah agama, lagi2 ini pemahaman yang keliru. Sebagai seorang muslim, seharusnya kita memposisikan agama Islam sebagai wahyu yang bersifat obsolut, tidak ada campur tangan manusia maupun budaya. Ungkapan tadi hanya berlaku untuk agama lainnya seperti kristen dan yahudi. Maka harus dibedakan antara substansi ajaran Islam dengan atribut luar, inti ajaran murni kehendak Yang Maha Kuasa sedangkan kulit luar bisa berbagai bentuk.
    Maka juga tidak perlu rasanya kita belajar dari agama lain (dalam artian mencontoh velue ajaran agama lain maupun meniru tradisi lalu mencampurnya dengan Islam. Bukan kah Islam itu penutup seluruh agama yang sempurna. Semua nilai ajaran agama terdahulu telah terkandung didalamnya.
    Terakhir jika memang ada penganut Islam yang keluar jalur, saya yakin bukan karena Islam yang tidak relevan, tapi karena pesan2 Islam sebagaimana yang diajarkan baginda Nabi saja yang belum kita aplikasikan dalam setiap hembusan nafas kita.
    و الله اعلم

    Suka

  3. Karena agama adalah urusan pribadi masing2 dengan Tuhan. Sementara hubungan antar manusia dan makhluk ciptaannya haruslah didasari rasa kecintaan, kasih sayang dan kemanusiaan. Pikiran fanatik dan superior yg menganggap bahwa ajarannya lbh unggul dr yg lain hanya akan membuat manusia itu egois dan menghilangkan rasa kemanusiaan dan keadilan dalam dirinya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s