Deradikalisasi, Keterbukaan dan Manusia Pembelajar

Oleh Reza A.A Wattimena

Morning Star: Surrealism, Marxism, Anarchism, Situationism, Utopia. by Michael Lowy

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Di seluruh dunia, kita menyaksikan gerakan radikalisasi. Orang-orang menjadi radikal di dalam beragama, sehingga kehilangan akal sehat, dan bersikap keras terhadap perbedaan. Orang justru semakin tertutup melekat pada identitas etnis, ras dan agama mereka di jaman globalisasi ini. Inilah salah satu ciri mendasar dari globalisasi, yakni paradoks antara keterbukaan di satu sisi, dan ketakutan untuk bersikap terbuka di sisi lain.

Radikalisasi adalah sebuah proses untuk menjadi radikal. Orang yang sebelumnya bersikap sehat terhadap identitasnya kini berubah menjadi amat keras, dan takut pada perbedaan. Lebih dari itu, mereka bahkan menjadi kasar dan keras terhadap orang lain yang berbeda dari mereka. Ciri khas radikalisasi adalah sikap yang menjadi semakin intoleran.

Akar kata dari radikalisasi adalah radix, yang berarti akar. Orang kembali ke akar identitasnya, baik itu etnis, ras maupun agama. Namun, karena kurangnya pengetahuan dan kebijaksanaan, ia terjebak pada kesalahpahaman, dan menjadi intoleran. Ada beberapa akar dari radikalisasi yang bisa kita ungkap.

Akar Radikalisasi

Pertama, di berbagai negara, gerakan radikalisasi datang sebagai dampak dari pengaruh asing. Beberapa negara mengirimkan misi radikalisasinya ke berbagai negara lainnya, guna memecah belah. Ketika sebuah negara sudah terpecah belah, maka ia akan mudah untuk ditekan dan dikuasai. Niat memecah belah ini terkait erat dengan kepentingan politik dan ekonomi, terutama penguasaan sumber daya alam.

Kedua, orang menjadi radikal, karena gampang termakan berita dan ajaran palsu. Propaganda asing ditelan begitu saja, tanpa diolah terlebih dahulu. Orang tak mampu membedakan antara berita palsu dan kebenaran. Orang juga tak mampu membedakan antara ajaran yang sejati, dan ajaran yang palsu.

Ketiga, orang yang gampang termakan berita dan ajaran palsu juga adalah orang yang lemah secara pribadi. Ia gampang terpengaruh oleh hal-hal baru. Karena gampang terombang-ambing, ia lalu mencari pegangan secara sembarangan. Ajaran-ajaran radikal amat memikat untuk orang-orang yang lemah secara kepribadian semacam ini.

Keempat, ajaran radikal juga tersebar, karena pembiaran dari negara. Pemerintah yang resmi tidak peka pada masuk dan menyebarnya ajaran radikal. Pun jika mereka tahu, mereka tidak berbuat apa-apa. Hal semacam ini membuat ajaran-ajaran radikal semakin cepat dan semakin dalam mempengaruhi orang-orang yang bingung dan lemah secara pribadi.

Kelima, kita hidup di jaman krisis nilai. Korupsi, kolusi dan nepotisme begitu luas dan dalam mencengkram sistem politik dan ekonomi dunia. Semua ini menciptakan ketidakpastian, ketakutan, ketidakadilan dan kemiskinan. Ketidakpastian semacam ini membuka ruang bagi tersebarnya ajaran-ajaran radikal di berbagai negara, yang seolah memberikan kepastian di tengah badai krisis nilai yang tengah terjadi.

Keenam, ajaran radikal bersifat tertutup dan intoleran. Ajaran ini tidak bisa dibantah, karena ia dianggap sebagai kebenaran mutlak. Orang-orang yang lemah secara kepribadian cenderung menggunakan ajaran-ajaran radikal ini sebagai pembenaran atas kemalasan berpikir mereka. Tak heran, orang-orang yang malas berpikir terlihat keren, ketika membalut kemalasan mereka dengan ajaran-ajaran radikal yang sempit dan intoleran.

Orang cerdas dan berpendidikan tinggi juga bisa menjadi radikal. Walaupun cerdas dan berpendidikan tinggi, namun mereka lemah secara pribadi, dan miskin pemikiran kritis. Akhirnya, mereka gampang termakan kebohongan dan ajaran-ajaran palsu. Gejala ini dengan mudah kita saksikan di berbagai institusi pendidikan di Indonesia.

Deradikalisasi

Proses radikalisasi harus dihadapi dengan cermat. Ini hanya bisa dilakukan, jika kita terlebih dahulu paham akar-akar radikalisasi, yang sudah saya jabarkan sebelumnya. Proses untuk menanggapi penyebaran ajaran-ajaran radikal ini disebut sebagai gerakan deradikalisasi. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan.

Pertama, negara harus memperkuat ketahanan nasionalnya. Pengaruh dari luar harus dibendung dengan cara-cara yang cepat dan cermat. Ajaran-ajaran radikal harus segera ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku. Tidak boleh ada pembiaran. Rakyat harus aktif memantau kerja negara dalam hal ini.

Kedua, sistem pendidikan di Indonesia harus dirombak total. Hal-hal yang bersifat dogmatis harus dibongkar. Keterbukaan dan sikap kritis harus menjadi roh dari sistem pendidikan Indonesia, baik pendidikan dasar maupun pendidikan tinggi. Segala bentuk intoleransi di dalam sistem pendidikan Indonesia harus ditumpas, demi keutuhan jati diri Bangsa Indonesia.

Ketiga, para pimpinan politik di Indonesia harus memberi keteladanan sikap terbuka. Mereka harus bersikap tegas menumpas segala bentuk ajaran radikal yang ada di Indonesia. Mereka juga harus menjadi teladan keterbukaan dan sikap profesional di dalam kerja-kerja mereka sehari-hari. Sekali lagi, keterlibatan rakyat dalam memantau hal ini amatlah dibutuhkan.

Keempat, kita harus belajar membedakan antara ruang publik dan ruang pribadi. Di dalam ruang pribadi, kita bisa menerapkan ajaran apapun yang kita anggap benar, tentu sejalan dengan hukum yang sah. Di dalam ruang publik, kita harus menggunakan bahasa-bahasa publik. Bahasa-bahasa agama yang bersifat privat harus diubah menjadi bahasa-bahasa yang dimengerti oleh masyarakat luas. Percampuran antara ruang publik dan ruang privat akan menghasilkan kekacauan hidup bersama.

Lima, kita juga harus membangun diri kita menjadi manusia pembelajar. Manusia pembelajar bersikap terbuka terhadap apapun dan siapapun. Mereka belajar terus menerus, tanpa pernah berhenti. Mereka mempertanyakan tidak hanya apa yang mereka lihat dan dengar, tetapi juga paham-paham yang mereka yakini. Kita tidak akan pernah terjebak di dalam radikalisme, jika kita menjadi manusia pembelajar.

Enam, ini mungkin yang terpenting. Kita perlu belajar untuk santai. Hidup ini pendek. Jika anda sehat, anda mungkin hidup sampai 80 tahun. Jika gaya hidup anda kacau, maka di usia 60, anda mungkin sudah akan meninggal. Ini belum menghitung kemungkinan kecelakaan yang tak terduga. Bukankah lebih enak, jika hidup yang sebentar ini diiisi dengan hal-hal yang penuh cinta dan keindahan dengan orang lain?

Di dalam hidup, kita perlu menjadi manusia yang terbuka. Manusia yang terbuka berarti manusia yang siap untuk belajar, tanpa henti. Hanya satu yang tidak bisa kita berikan toleransi, yakni sikap intoleran yang melibas perbedaan dengan kekerasan. Intoleransi, yang menumpas perbedaan dan melanggar tata keberadaban bersama, dalam segala bentuknya, harus dilawan, demi menyelamatkan keutuhan hidup bersama.

Tidak ada jalan lain…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

10 tanggapan untuk “Deradikalisasi, Keterbukaan dan Manusia Pembelajar”

  1. Menurut saya, radikalisme adalah ‘alter ego PKI. Kenapa? Karena, baik radikalisme dan PKI sama-sama bertujuan menggulingkan pemerintah yang sah dan yang sedang berkuasa dan ingin mengganti ideologi negara dengan ideologi anutan mereka.
    Radikalisme merupakan bahaya yang mengancam keindonesiaan kita pada khususnya. Ketika radikalisme menang, bangsa akan porak-poranda, menyusul kehancuran seperti yang di Suriah, dll.
    Maka, segenap anak bangsa harus bersatu dan berjuang menumpas radikalisme, sehingga keindonesiaan kita dan atau keutuhan NKRI akan tetap menjadi sebuah keniscayaan.

    Suka

  2. Selalu terinspirasi ketika membaca tulisan2 Anda. Terima kasih pak, berkat tulisan2 Anda saya banyak belajar. Sekarang saya sudah semakin mengerti tentang zen moment, maaf ya pak kemarin2 saya banyak email (kesannya kayak, gak ngudeng2 gitu hehe). Benar kata bapak, zen butuh proses. God bless you :’)
    Kalau tidak keberatan bolehlah follow back blog saya: mariainta.blogspot.com

    Suka

  3. “Tidak ada jln lain” terimakasih bung sdh mengingatkan untuk belajar..Ya sptinya”sy sbgai slh satu rakyat ind” ni harus belajar lg etika moral, tiga dsr etika Kant : universalitas,humanitas,otonomi.
    Berbuat baik ats kesadarn sendiri sesuai otonomi kehndak yg dimiliki untk mncapai morl yg luhr( virtue), tujuan lain kebahagiaan bersama Dan Tuhan adl postulat tertinggi.
    Belajar lg ttg bgaimna mncintai Tuhan Nya msng2, mncintai Tuhan tnpa alasan mengapa, tdk ada alasan lain kecuali Tuhan itu sendiri bkn krn mnginginkan surga/ pertolongan/ berkat/ kesuksesan bahkan mencintai Tuhan melampaui doktrin2 agama dan hanya krn Tuhan sendiri. Hidp dan mencintai sama spt Tuhan hidup dan mencintai umat manusia.maaf…komennya jd ngelantur yah…

    Suka

  4. Sungguh banyak pembelajaran yang dapat saya petik dengan membaca beberapa tulisannya pak, sehingga kiranya menambah subtansi dialektis saya disertai dengan bertambahnya pengatahuan itus sendiri. sungguh malam yg sangat cerah-

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s