Bar..bar…

RT.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang dan Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Beberapa bulan belakangan, dunia dikepung berbagai serangan teroris. London, Kabul, Jakarta dan Marawi adalah beberapa tempat yang terus menjadi sasaran bom, maupun tindak kekerasan teroristik lainnya. Keadaan di Timur Tengah juga masih terus diliputi konflik dari berbagai pihak yang saling tumpang tindih. Di berbagai tempat, diskriminasi berdasarkan agama dan ras masih terus menjadi makanan sehari-hari.

Di dalam negeri, keadaan politik juga terus memanas. Vonis terhadap Ahok, salah satu Gubernur terbaik sepanjang sejarah Jakarta, mengoyak rasa ketidakadilan tidak hanya rakyat Indonesia, tetapi juga dunia internasional. Berbagai kecaman datang di hadapan ketidakadilan yang dipertontonkan di depan publik ini. Keadaan diperparah dengan muaknya masyarakat terhadap tindak korupsi para elit politik, mulai dari dugaan korupsi ketua umum partai politik besar, sampai dengan dugaan korupsi salah satu tokoh organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.

Bidang ekonomi pun juga tak bebas dari cengkraman masalah. Kesenjangan sosial masih menghantui banyak negara, terutama Indonesia. Orang kaya semakin kaya, bahkan memperoleh kekayaannya dengan menggelapkan pajak, serta menyuap pejabat pemerintah. Sementara, orang miskin terus hidup dalam kemiskinan yang seringkali menjadi ladang subur berkembangnya paham radikal dan gerakan terorisme global.

Sikap rakyat sipil pun dipenuhi masalah. Sikap antri masih menjadi budaya asing di Indonesia. Sikap pengendara di jalan yang ugal-ugalan juga dengan amat mudah ditemukan. Tidak ada perhatian pada kepentingan bersama serta keselamatan orang lain. Ketika ada masalah, main hakim sendiri kerap kali menjadi jalan keluar yang dipilih. Ini semua ditambah dengan berkembangnya paham radikal yang bersifat tertutup, arogan dan agresif terhadap perbedaan di kalangan masyarakat sipil di Indonesia.

Bagaimana kita memahami semua gejala ini? Apa yang sebenarnya terjadi, tidak hanya di Indonesia, tetapi di dunia sekarang ini?

Barbarisme: Intelektual, Politik dan Akademik

Dahulu kala, dunia dipecah ke dalam negara-negara yang saling berbeda bahasa. Ini membuat komunikasi antar bangsa menjadi sulit. Ketika orang dari bangsa yang berbeda berbicara, yang terdengar di telinga bangsa lain adalah kata ini: “Bar..” “Bar..” Jika komunikasi saja sudah sulit, maka segala bentuk kerja sama antar bangsa pun lalu terhambat.

Kesulitan pemahaman ala “Bar..Bar” inilah yang lalu menjadi akar kata dari barbarisme. (Klausen, 2017) Menurut Klausen, barbarisme dapat dipahami sebagai sikap kasar terhadap orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda, serta ketidakmampun seseorang ataupun suatu kelompok untuk terlibat di dalam peradaban bangsa-bangsa yang lebih luas. Klausen lalu membedakan tiga bentuk barbarisme, yakni barbarisme intelektual, barbarisme politik dan barbarisme epistemologis di dalam ranah akademik. Ketiganya saling terkait satu sama lain.

Barbarisme intelektual memiliki dua ciri dasar. Yang pertama adalah kecenderungan untuk memeluk erat sebuah pandangan secara dogmatis, walaupun semua bukti dan argumen sudah membantah pandangan tersebut. Sikap keras kepala semacam ini menjadi ciri utama dari barbarisme intelektual. Yang kedua adalah kegagalan untuk membuka dialog dengan orang lain.

Orang barbar melihat dunia sebagai tempat yang kejam dan penuh kompetisi. Ini membuat mereka bersikap kasar dan kejam terhadap orang lain yang berbeda dari mereka. Kawan dan lawan tidak lagi terbedakan, sehingga semuanya diperlakukan dengan kejam dan kasar. Orang barbar, sejatinya, adalah orang yang menderita di dalam hatinya.

Barbarisme politik, menurut Klausen, terlihat dari sikap arogan dan dangkal di dalam sudut pandang dan cara berbicara politisi. Mereka terlihat rapi dan cerdas. Walaupun, jika ditelaah lebih dalam secara kritis, cara berpikir dan cara berbicara mereka menunjukkan kedangkalan dan kebencian terhadap perbedaan. Di dalam barbarisme politik, penampilan dan kemampuan berbicara di depan publik dengan memikat lebih penting dari pada kedalaman berpikir serta ketulusan hati.

Barbarisme juga berkembang di dalam dunia akademik. Sekelompok ilmuwan dan dosen memeluk sebuah teori ataupun metodologi secara fanatik, sambil membenci orang-orang yang memeluk teori maupun metodologi yang berbeda dari mereka. Di dalam dunia akademik, diskusi dan perdebatan adalah hal biasa. Namun, fanatisme serta sikap dogmatik pada sebuah teori justru merusak perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri, dan menciptakan suasana permusuhan yang tidak perlu.

Apa yang terjadi di dunia sekarang ini, mulai dari terorisme global sampai dengan sikap biadab di jalan raya maupun ruang kelas, dapat dipahami sebagai meluasnya kecenderungan barbarisme. Para pelaku kejahatan tersebut memiliki dua ciri dasar, yakni sikap permusuhan terhadap perbedaan, serta ketidakmampuan terlibat secara aktif di dalam perkembangan peradaban manusia yang lebih luas. Keduanya tentu saling terkait erat. Ini juga merupakan sebuah paradoks global. Ketika banyak orang semakin terbuka, karena perkembangan teknologi transportasi, informasi dan komunikasi dewasa ini, sekelompok orang justru hidup dalam ketakutan menanggapi ini, dan menjadi orang-orang barbar.

Melampaui Barbarisme

Ada beberapa akar barbarisme yang perlu dibongkar. Pertama, akar barbarisme adalah kesalahan pola asuh, baik dari keluarga maupun dari sistem pendidikan yang ada. Barbarisme berkembang dari ketakutan pada perbedaan. Ini lahir dari pola asuh keluarga maupun sistem pendidikan yang melulu mengajarkan pola pikir menghafal secara dogmatis, terutama dalam hal moral-agamis, dan ilmu pengetahuan. Pendidikan dilakukan tanpa disertai dengan nalar kritis serta kebebasan untuk menggali lebih dalam serta lebih jauh dari apa yang diajarkan, tanpa perlu merasa takut.

Barbarisme harus ditumpas sampai ke akarnya, jika dunia mau bergerak maju mencapai tingkat tata peradaban yang luhur, adil dan makmur. Ini harus dimulai dengan mengubah cara berpikir di dalam keluarga maupun sistem pendidikan di dalam mendidik anak. Pola hafalan dogmatis dalam soal moral-agamis serta ilmu pengetahuan harus diubah. Nalar kritis ditambah kebebasan untuk menggali lebih dalam serta lebih jauh dari apa yang diajarkan tanpa rasa takut haruslah dikembangkan.

Kedua, barbarisme lahir di masyarakat, karena kurangnya teladan dari para pimpinan masyarakat dalam hal keterbukaan dan sikap beradab menghadapi perbedaan. Ketika para penegak hukum justru menjadi mengoyak rasa keadilan rakyat, maka rasa hormat dan percaya rakyat kepada hukum pun menghilang. Ketika pemerintah diam saja melihat ketidakadilan, maka rakyat pun bisa kehilangan harapan untuk perbaikan. Ketika rasa percaya dan harapan hilang, sikap kasar dan jahat menghadapi masalah adalah yang tinggal tersisa.

Pemimpin masyarakat, termasuk pemimpin politik, agama dan bisnis, perlu memberikan teladan keterbukaan dan sikap beradab terhadap masyarakat luas. Di Indonesia, budaya pengikut masih amat kuat. Orang mengikuti para pemimpinnya, tanpa sikap kritis yang sehat. Oleh sebab itu, pengaruh figur tokoh amatlah kuat dan penting untuk diperhatikan.

Ketiga, hal penting yang mendorong terciptanya barbarisme di abad 21 ini adalah lemahnya penegakan hukum, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Ketika hukum tak bisa diandalkan, balas dendam adalah yang tersisa. Untuk mencari keadilan, dan didorong oleh keputusasaan, orang melakukan kekerasan terhadap orang yang lain yang berbeda darinya. Pada tingkat global, ini tentu memicu berbagai kekerasan global, mulai dari tindak terorisme, perang saudara sampai dengan perang antar negara.

Kelemahan banyak penegak hukum di dunia terletak di lemahnya koordinasi. Kerja sama dilangsungkan, namun koordinasi sehari-hari lemah, sehingga kinerja keseluruhan pun menurun. Banyak pelanggaran hukum lolos begitu saja, tanpa tindakan tegas. Ini membuat mudahnya radikalisme dan terorisme berkembang pesat di berbagai negara. Maka, koordinasi antara lembaga hukum di dalam negara maupun antar negara harus terus dipantau dan ditingkatkan.

Keempat, barbarisme lahir dari krisis keamanan ontologis. Dalam arti ini, menurut Kinnvall dan Mitzen, keamanan ontologis terkait dengan krisis identitas sebuah bangsa, terutama akibat perubahan jaman yang begitu cepat. (Kinnvall dan Mitzen, 2016) Krisis identitas terkait dengan keadaan, dimana identitas tradisional bangsa itu sudah mulai ditinggalkan, sementara identitas baru belum juga terbentuk. Keadaan kosong kepastian ini yang memicu ketakutan, dan akhirnya mendorong orang terperosok di dalam barbarisme.

Krisis identitas memang menjadi masalah global sekarang ini. Ini terjadi tidak hanya di tingkat pribadi, tetapi juga di tingkat bangsa, bahkan regional. Krisis identitas hanya bisa dilampaui dengan perumusan ulang terus menerus identitas tersebut di dalam segala perubahan yang terjadi. Ini tentu upaya yang menyangkut unsur pribadi, intelektual, spiritual sekaligus politis.

Barbarisme hadir sebagai gejala global bersama dengan radikalisme dan terorisme. Ketiganya memusuhi segala perbedaan. Ketiganya merupakan tanda kegagalan sekelompok orang untuk terlibat di dalam perkembangan peradaban manusia secara luas. Dalam segala bentuknya, barbarisme haruslah ditinggalkan, supaya peradaban manusia yang luhur dan mampu memberikan keadilan dan kemakmuran untuk semua, tanpa kecuali, bisa menjadi kenyataan.

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

One thought on “Bar..bar…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s