Di dalam sejarah Indonesia, kaum intelektual memiliki peranan yang amat besar. Mereka mendorong revolusi kemerdekaan. Mereka juga terlibat aktif dalam pembangunan setelah kemerdekaan. Mereka adalah kaum terpelajar yang telah mendapat pendidikan tinggi, lalu membagikan pengetahuan mereka untuk kebaikan bersama. Tokoh-tokoh besar, seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir, Pramoedya Ananta Toer, adalah kaum intelektual Indonesia.
Namun, kaum ini sering disusupi oleh kaum lainnya, yakni kaum in-“telek”-tual. Telek berasal dari bahasa Jawa, yang berarti kotoran atau “tai”. Mereka berpakaian dan bersikap seperti kaum intelektual. Namun, mereka justru meracuni masyarakat dengan ide-ide jahat, dan justru memecah belah serta menciptakan pertikaian. Pikiran dan isi tulisan maupun kata-kata mereka bagaikan kotoran bagi kehidupan bersama.
Kita seringkali sulit membedakan kaum intelektual dan kaum in-“telek”-tual. Apa ciri-ciri dari kaum in-“telek”-tual ini? Bagaimana kita membedakan mereka? Bagaimana supaya kita tidak tertipu oleh kaum in-“telek”-tual ini? Lanjutkan membaca Kaum Intelektual dan In-“telek”-tual
Musim gempita membandingkan dua calon presiden/wakil-presiden hampir usai. Negeri ini akan segera memasuki pucuk waktu. Kita hendak berdiri beberapa menit di bilik pemungutan suara untuk menerobos momen genting yang akan memberi nama hari esok Indonesia.
Apa yang berubah sesudah kedua kubu menjajakan rumusan visi dan misi, program, dan mematut-matut diri dalam debat di televisi? Tidak banyak, kecuali emosi politik yang terbelah ke dalam pertarungan abadi antara “memilih dari keputusasaan” dan “memilih bagi harapan”. Setelah berbagai timbangan nalar dikerahkan, yang tersisa adalah tindakan memilih yang digerakkan dua daya itu. Mungkin kita bahkan tidak menyadarinya.
Namun dengan itu dua kubu juga kian membatu. Masih tersisa beberapa hari bagi kita untuk menimbang pilihan dengan akal-sehat. Barangkali tiga pokok berikut dapat dipakai menambah aneka kriteria yang telah banyak diajukan. Lanjutkan membaca Paradoks Kepemimpinan dan Pemilu Kita di 2014
Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya, sedang penelitian di Jerman
Ketika Sukarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesian 1945 yang lalu, ada dua hal yang ada di dalam pikiran mereka, yakni kebebasan dan kemakmuran. Keduanya menjadi mimpi besar, tidak hanya untuk mereka berdua, tetapi juga untuk para bapak bangsa lainnya, seperti Sutan Sjahrir, Muhammad Yamin, dan sebagainya. Dengan kebebasan di tangan, bangsa Indonesia lalu mulai bisa membangun dirinya ke arah keadilan dan kemakmuran bagi semua warganya. Kebebasan dianggap sebagai jembatan emas menuju masyarakat yang paripurna. (Latif, 2011)
Sebagai pribadi, kita tentu juga ingin bebas. Kita ingin bisa menentukan hidup kita sesuai dengan keinginan kita. Kita juga ingin hidup aman, bebas dari rasa takut dan cemas atas hal-hal di luar diri kita. Keinginan untuk bebas tertanam secara alamiah di dalam jiwa manusia.
Penelitian yang dilakukan Institut für Gesellschaftspolitik di Jerman menunjukkan satu hal, bahwa kebebasan (Freiheit) merupakan nilai tertinggi di dalam masyarakat Jerman sekarang ini. (Reder, et.al, 2014) Hidup tak ada artinya, jika tidak ada kebebasan. Seluruh sistem politik dan ekonomi Jerman memang dirancang untuk bisa menampung cita-cita kebebasan semacam ini. Tentu, tidak ada sistem yang sempurna yang tidak lagi membutuhkan refleksi ulang. Lanjutkan membaca Mencapai Kebebasan Batin
Jika anda ingin menjadi politikus, maka ada satu buku yang wajib anda baca. Judulnya adalah Il Principe, atau Sang Pangeran yang ditulis oleh Niccolo Machiavelli (1469-1527). Buku ini bisa menuntun anda untuk menjadi penguasa politik yang sejati, dan bukan yang murahan. Bahkan, dapat dibilang, buku ini adalah salah satu buku yang paling banyak mengundang tafsir dan debat sampai sekarang di kalangan para ahli ilmu politik, filsuf politik dan politikus itu sendiri.
Niccolo Machiavelli menulis buku itu pada 1532.1 pada waktu itu, ia adalah diplomat sekaligus pegawai pemerintahan di Florence (sekarang bagian dari Italia). Dalam karir politiknya, ia banyak berhubungan dengan Raja Perancis dan Raja Jerman (waktu itu Kekaisaran Romawi Suci). Karena suatu masalah politik, ia akhirnya dikejar dan kemudian dibunuh.
Machiavelli menulis tentang banyak tema, mulai dari etika, sejarah filsafat, puisi, politik, bahkan komedi. Namun, banyak orang mengenal nama Machiavelli hanya dari karya politiknya, Il Principe. Juga berkat buku itu, dan tafsiran atasnya, nama Machiavelli memiliki reputasi yang jelek. Ia lalu dikaitkan dengan ajaran tentang berbagai penipuan dan tindakan-tindakan jelek lainnya di dalam politik, demi meraih dan mempertahankan kekuasaan. Namun, König, sumber yang saya acu, menolak tafsiran jelek semacam itu. Lanjutkan membaca Machiavelli dan Kecerdikan Politis
Ketika merayakan hari lahir, banyak orang mendoakan, supaya kita selalu sehat. Kita pun mendoakan hal yang sama, ketika orang lain merayakan hari lahirnya. Di titik ini, kita bisa melihat, bagaimana kesehatan menjadi nilai yang penting dalam hidup manusia. Hal ini bisa diamati di berbagai peradaban, tidak hanya di Indonesia.
Kesehatan lalu disamakan dengan kebahagiaan. Orang tidak bisa bahagia, jika ia tidak sehat. Untuk menjadi sehat, orang juga perlu untuk menata pikiran dan pola hidupnya dengan pikiran-pikiran yang baik, yakni dengan kebahagiaan. Ada kaitan yang bersifat timbal balik dan amat erat antara kesehatan dan kebahagiaan.
Dipersempit
Namun, kita juga hidup di dalam masyarakat yang mempersempit arti kesehatan. Sadar atau tidak, kita hanya melihat kesehatan dalam arti kesehatan fisik semata. Banyak orang sibuk berolah raga dan makan makanan yang bergizi, supaya sehat. Yang banyak terjadi kemudian adalah, orang bisa berpenampilan ganteng, bertubuh indah, dan kelihatan keren, walaupun hidupnya sedih dan merana. Ini sebenarnya sama sekali tidak sehat. Lanjutkan membaca Filsafat tentang Kesehatan
Salah satu tema yang menjadi perhatian banyak orang di dunia sekarang ini adalah kaitan antara iman dan nalar. Iman kerap kali dipandang sebagai kepercayaan buta. Sementara, nalar dianggap sebagai bagian dari diri manusia yang sama sekali tak terkait dengan iman. Pemisahan semacam ini tidak hanya salah dalam level pikiran dan pengetahuan, tetapi juga bisa membawa petaka besar, seperti konflik dan perang.
Ketika dua hal itu dipisahkan, lalu kita seolah mendapat dua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan manusiawi yang selalu muncul di kepala kita, seperti darimana asal kita, kemana kita akan pergi, setelah kita mati, dan sebagainya. Jawaban yang mana yang benar? Ini tentu menciptakan banyak kebingungan. Tentang ini, saya rasa, kita perlu belajar dari Thomas Aquinas, terutama di dalam bukunya yang berjudul Summa theologica, atau Kumpulan dari Teologi.
Buku tersebut adalah salah satu buku terpenting di dalam Filsafat Abad Pertengahan Eropa yang ditulis sekitar tahun 1266-1273.1 Thomas Aquinas, penulisnya, hidup dari 1224 sampai dengan 1274. Masa ini dianggap sebagai masa keemasan dari Filsafat Skolastik Abad Pertengahan yang amat kuat mengakar di dalam tradisi Kristiani. Lanjutkan membaca Thomas Aquinas dan Summa Theologiae
Nelson Mandela, almarhum, adalah Presiden Pertama Afrika Selatan yang terpilih secara demokratis. Sebelumnya, ia adalah tahanan politik selama 27 tahun, karena menentang sistem yang bersifat diskriminatif di Afrika Selatan, yang banyak juga dikenal sebagai Apartheid. Setelah menjadi presiden, ia tidak pernah terdorong untuk membalas dendam, namun justru mendorong proses perdamaian dan pengampunan, guna membangun masyarakat Afrika Selatan yang baru. Mengapa ia bisa melakukan itu?
Yesus, tokoh terpenting di dalam Agama Kristiani (bahkan mereka meyakininya sebagai Tuhan), dihukum mati dengan penyaliban. Ini adalah hukuman yang amat sadis dan menghina. Sebelum kematiannya, konon ia berkata, “Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu, apa yang mereka lakukan.” Bagaimana mungkin? Mengapa ia mau mengampuni para pembunuhnya?
Ada semacam kekuatan batin yang mendorong mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak mungkin. Pengampunan setelah pengalaman ketidakadilan adalah tindakan yang luar biasa mulia, namun amat sulit untuk dilakukan. Orang harus memiliki kekuatan batin dan kedamaian hati yang mendalam, supaya bisa melakukan itu. Untuk menerangkan ini, saya rasa, kita perlu untuk belajar dari Boethius, filsuf Eropa yang hidup pada masa kekaisaran Romawi. Lanjutkan membaca Boethius: Antara Kebahagiaan, Kedamaian dan Kebebasan
Ada lebih dari 6 milyar manusia di atas muka bumi sekarang ini. Akan tetapi, banyak orang masih hidup dalam kesepian yang menggerogoti jiwa. Inilah salah satu keanehan terbesar masyarakat manusia di awal abad 21 ini. Seperti lantunan lagu yang dinyanyikan Once dari Band Dewa, “di dalam keramaian, aku masih merasa sepi..”
Beragam penelitian dari berbagai bidang ilmu sampai pada satu kesimpulan, bahwa kesepian itu berbahaya. Ia mendorong orang untuk berpikir salah. Akibatnya, ia merasa kesal, dan bahkan mengalami depresi. Dari keadaan yang jelek ini, banyak orang lalu memutuskan untuk melakukan bunuh diri. (Solomon, 2002) Apakah kesepian selalu menggiring manusia ke arah kegelapan semacam ini?
Akar-akar Kesepian
Saya melihat, ada dua akar mendasar dari kesepian. Pertama adalah akar sistemik. Kita hidup di dalam masyarakat pembunuh. Ada dua ciri mendasar dari masyarakat pembunuh, yakni ketakutan pada segala bentuk perbedaan (cara berpikir yang berbeda, cara hidup yang berbeda, bahkan warna kulit yang berbeda) dan kecenderungan untuk melihat sistem, aturan serta kebijakan lebih penting dari hidup manusia. Lanjutkan membaca Filsafat Tentang Kesepian
Banyak orang merasa sedih dan sakit kepala, ketika membaca koran harian. Banyak berita buruk. Akhirnya, ia semakin sedih, karena merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Koran sebagai sumber informasi justru malah membuat kita merasa tak berdaya, ketika membacanya.
Ketika mendengar berita tentang bencana, kita juga merasa sedih sekaligus bersyukur, karena kita dan keluarga kita bukanlah korbannya. Namun, jauh di dalam lubuk hati, kita tetap takut, bila bencana itu menghampiri kita dan orang-orang yang kita kasihi. Kita takut, terutama jika kita mati, siapa yang akan menjaga dan merawat keluarga kita?
Yang lebih mendasar lagi, kita takut akan masa depan. Kita takut ada “apa-apa” di masa depan kita, apapun itu artinya. Kita lalu membuat rencana untuk menata masa depan, seperti bikin asuransi, menabung, dan sebagainya. Namun, kegelisahan dan ketakutan tetap ada, bahkan mungkin semakin besar. Lanjutkan membaca Epikuros dan Kenikmatan Hidup
Mungkin terdengar aneh, jika kita bertanya, mengapa ada politik? Jika membaca koran, sosial media, atau berita TV setiap harinya, kita selalu dikepung oleh berita-berita seputar politik. Namun, kita tidak pernah sungguh tahu, mengapa semua itu ada. Apakah kita sungguh membutuhkan politik, termasuk kehadiran negara dan pemerintah? Jika ya, mengapa?
Jika politik, termasuk kehadiran negara dan pemerintah harus ada, maka semua itu harus ditata, supaya bisa memberikan kesejahteraan bersama untuk semua orang, tanpa kecuali. Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana menata politik secara tepat? Apa saja bentuk-bentuk yang mungkin ada? Tema ini dibahas panjang lebar oleh Aristoteles di dalam bukunya yang berjudul Politika.
Buku Politika adalah karya Aristoteles yang ditulis sekitar tahun 340 sebelum Masehi.1 Buku ini, yang terdiri dari kurang lebih 300 halaman, dapat dianggap sebagai lanjutan dari buku Ethika Nicomacheia (lebih berfokus pada filsafat moral). Buku Politika, terlihat dari judulnya, berisi uraian Aristoteles tentang filsafat politik. Lanjutkan membaca Aristoteles dan Bentuk-bentuk Politik
Di tengah pengaruh iklan dan media yang menawarkan kenikmatan hidup, sulit bagi kita untuk melihat apa yang sungguh penting dalam hidup ini. Kita pikir, kita perlu cantik, cerdas dan kaya dalam hidup. Lalu, kita pun melihat tiga hal itu sebagai tujuan utama yang harus diraih dalam hidup. Jika gagal, lalu kita merasa tak berguna.
Apakah kecerdasan, kecantikan dan kekayaan adalah tujuan tertinggi hidup manusia? Inilah pertanyaan penting yang harus kita pikirkan bersama. Ada yang bilang, Tuhan-lah yang menjadi tujuan hidup manusia. Bagi banyak orang, pendapat itu terdengar terlalu abstrak, dan tidak banyak membantu di dalam kehidupan sehari-hari.
Aristoteles di dalam bukunya yang berjudul Ethika Nikomacheia, atau Etika Nikomacheia, mencoba menjawab pertanyaan ini. Buku tersebut ditulis sekitar tahun 340 sebelum Masehi.1 Kemungkinan, Nikomacheia adalah anak dari Aristoteles. Buku ini terdiri dari 300 halaman dan dianggap sebagai salah satu karya paling penting di dalam sejarah filsafat, terutama dalam bidang etika. Argumen pertama Aristoteles adalah, bahwa setiap tindakan selalu mengarah pada tujuan tertentu, yakni yang baik itu sendiri di dalam bidang itu. Lanjutkan membaca Aristoteles dan Hidup yang Bermutu
Sedang Penelitian Filsafat Politik di München, Jerman
Sulit menghindar dari pertanyaan-pertanyaan, ketika kita memiliki anak atau kerabat yang masih berumur 2 sampai 6 tahun. Mereka ingin tahu segala sesuatu, mulai dari hal kecil, seperti upil di hidung, sampai dengan matahari di atas sana. Ketika kita bertambah usia, sulit rasanya mengingat, bahwa kita pernah memiliki rasa penasaran sebesar itu.
Di dalam filsafat, pertanyaan tentang susunan serta hakekat dari segala yang ada adalah salah satu pertanyaan terpenting. Pertanyaan ini menjadi dasar dari seluruh filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi modern, sebagaimana kita kenal sekarang ini. Salah satu filsuf yang mencoba menjawab pertanyaan ini secara sistematik adalah Aristoteles.
Aristoteles adalah murid Plato. Ia menulis buku dengan judul Ta meta ta physika, atau Metafisika, pada 340 sebelum Masehi. Buku ini bukanlah sebuah karya utuh, melainkan kumpulan tulisan pendek dari Aristoteles. Ia menamai kumpulan tulisan tersebut sebagai “filsafat pertama”.1Lanjutkan membaca Tentang Susunan dari Kenyataan yang Ada
Sedang Penelitian Filsafat Politik di München, Jerman
All we need is love, kata The Beatles, band Inggris di dekade 1960-an. Suara John Lennon yang khas dengan indah melantunkan lagu tersebut. Petikan bas dari Paul McCartney dan ketukan drum dari Ringo Star yang unik menjadi dasar dari lagu tersebut. Namun, apakah isi lirik tersebut benar, bahwa all we need is love: yang kita butuhkan hanya cinta?
Jika cinta disamakan dengan emosi sesaat atau dorongan seks belaka, maka jawabannya pasti “tidak”. Namun, saya merasa, kata “cinta” mesti diberikan makna baru yang lebih mendalam disini. Belajar dari Plato, terutama dalam bukunya yang berjudul Politeia, cinta haruslah ditafsirkan sebagai keadilan dan kebenaran. Perpaduan dua hal itu lalu akan menghasilkan kebahagiaan.
Adalah penting bagi kita di Indonesia untuk memikirkan hal ini secara mendalam, terutama menyambut pemilu 2014 yang akan menghasilkan tata politik baru di Indonesia. Pemahaman tentang keadilan, kebenaran dan kebahagiaan adalah kunci dari politik yang bersih, yang bisa memberikan kesejahteraan untuk seluruh rakyat. Ia juga adalah kunci untuk mencapai hidup yang bahagia dan bermutu. Tentang hal ini, kita bisa belajar banyak dari buku Politeia. Lanjutkan membaca Menuju Keadilan dan Kebahagiaan
Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman
Jantung hati dari ekonomi kesejahteraan publik, sebagaimana dirumuskan oleh Felber, adalah kerja sama antar warga, guna mewujudkan tata politik dan ekonomi yang memberikan kesejahteraan bagi semua, tanpa kecuali. Pandangan ini berakar dalam sekali di pemahaman filosofis tentang ekonomi, sebagaimana dirumuskan oleh Aristoteles. Kerja sama mengandaikan adanya dorongan hati dari rakyat untuk ikut ambil bagian di dalam semua bentuk proses sosial-masyarakat, walaupun kerap kali keadaan sulit, dan kebijakan yang ada tidak sesuai dengan kepentingan dan kehendaknya. Namun, mentalitas semacam ini, yakni kerja sama dan ikut ambil bagian, bukanlah hal asing bagi Indonesia, karena sudah selalu tertanam di dalam bentuk kerja sama yang sudah ada, yakni gotong royong.
Di dalam pemahaman tentang gotong royong, kesejahteraan bersama menjadi tujuan utama, dan bukan kesejahteraan sebagian orang, walaupun mereka adalah mayoritas. Kepentingan individu diperbolehkan, sejauh itu bisa ambil bagian di dalam kesejahteraan bersama suatu masyarakat. Sekali lagi perlu ditegaskan, “bersama” bukan berarti mayoritas, melainkan sungguh-sungguh semua orang yang ada. Di dalam terpaan neoliberalisme (uang dan keuntungan menjadi tolok ukur semua bagian kehidupan masyarakat) dan fundamentalisme agama (menjadikan satu tafsiran agama tertentu sebagai cara untuk mengatur hidup semua orang), budaya gotong royong di Indonesia terkikis, nyaris hilang. Namun, kemungkinan untuk menghidupkannya kembali selalu ada, dan kini, belajar dari Felber, budaya itu digabungkan dengan tata ekonomi kesejahteraan publik yang berpijak lebih kuat pada demokrasi dan martabat manusia, yang dijaga keberlangsungannya oleh sistem hukum dan perjanjian yang bersifat mengikat, namun terbuka.
Tolok Ukur Baru
Ekonomi kesejahteraan publik tidak melihat pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan utama. Uang, keuntungan, dan pertumbuhan ekonomi hanya dilihat berguna, sejauh ia mengembangkan kesejahteraan bersama seluruh warga. Jika uang, keuntungan dan pertumbuhan hanya menghasilkan kesenjangan yang besar antara yang kaya dan yang miskin, maka ia harus diatur lebih ketat, misalnya dengan kebijakan pajak, ataupun bentuk-bentuk lainnya. Tata ekonomi semacam ini, menurut saya, amat sangat cocok untuk konteks Indonesia. Lanjutkan membaca Ekonomi Kesejahteraan Publik untuk Indonesia
Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya
Ketika semua orang di sekitar kita mencuri, apakah kita akan ikut mencuri? Beranikah kita berkata “tidak” di dalam keadaan seperti itu? Atau, kita takut pada tekanan kelompok; takut dikucilkan? Ketika semua orang berkata “ya”, beranikah kita berkata “tidak”, jika itu adalah kata nurani kita?
Banyak orang takut pada tekanan kelompok. Mereka lalu menjadi konformis, yakni mengikut tekanan kelompok secara buta, tanpa pertimbangan lebih jauh. Dampaknya beragam, mulai dari korupsi berjamaah di berbagai instansi pemerintah di Indonesia, sampai dengan kerusuhan massal setelah menontong sepak bola. Apa yang harus kita lakukan, ketika kelompok atau masyarakat menekan kita untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan nurani kita?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu belajar dari Plato dan Sokrates. Plato menjabarkan soal semacam ini di dalam bukunya Apologia Sokratus. Para ahli masih berdebat, apakah isi buku itu merupakan pendapat Plato, atau Sokrates. Namun, saya rasa, yang penting bukanlah siapa yang menulis, tetapi apa isi tulisannya. Lanjutkan membaca Plato: Apologia Sokratus, atau Pembelaan dari Sokrates
Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman
Kita hidup di era informasi. Begitu banyak informasi kita terima setiap harinya. Televisi, koran, internet bahkan tembok WC umum menawarkan informasi kepada kita. Apa yang terjadi di ujung dunia sebelah selatan bisa langsung kita ketahui melalui telepon selular yang kita gunakan setiap harinya.
Namun, tidak semua informasi itu benar dan layak disimak. Banyak yang hanya merupakan gosip. Banyak juga yang merupakan fitnah untuk memenuhi kepentingan politis tertentu, terutama pada waktu pemilihan umum politik, seperti Indonesia di 2014. Sebagian lainnya hanya informasi tak penting yang tak perlu disimak, seperti kisah hidup para artis.
Seringkali, kita bingung, karena banjir informasi semacam ini. Yang mana yang benar, dan yang mana yang salah? Apa yang harus dilakukan dengan semua informasi ini? Banyak juga informasi yang justru menyulut konflik, karena seringkali berpijak pada fitnah, atau fakta yang salah. Lanjutkan membaca Parmenides: Peri physeos, atau Tentang Alam (über die Natur)
Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di München, Jerman.
Kita hidup di dunia yang terus berubah. Cuaca berganti. Hari berganti. Segalanya bergerak, seringkali tanpa kita sadari.
Namun, bukan hanya dunia yang berubah. Kita pun berubah di dalam dunia yang terus berubah. Hubungan kita dengan dunia adalah hubungan timbal balik. Artinya, dunia mengubah kita, dan, pada saat yang sama, kita pun mengambil bagian di dalam proses untuk mengubah dunia.
Perubahan adalah kenyataan yang tak dapat dibantah. Hari ini kita hidup. Besok mungkin kita sudah meninggal, atau orang yang kita sayangi telah meninggal. Tidak ada yang tahu. Pertanyaan penting disini adalah, bagaimana kita memaknai hidup yang terus berubah? Lanjutkan membaca Herakleitos: Peri Physeos, atau tentang Alam (Über die Natur)
Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang belajar di München, Jerman
Sejarah Filsafat tertuang dalam beragam buku yang tersebar sepanjang lebih dari 2000 tahun di Eropa. Dalam arti ini, filsafat berarti tindakan berpikir manusia secara kritis dan rasional dengan akal budinya untuk memahami dunia di sekitarnya, termasuk alam, manusia, masyarakat dan juga Tuhan. Filsafat dalam arti ini tentu berbeda dengan kata “filsafat”, sebagaimana dipahami di Indonesia. Filsafat juga berbeda dengan agama, tradisi dan mistik, sebagaimana banyak dipahami orang di Indonesia.
Di dalam proyek ini, saya mencoba untuk memperkenalkan buku-buku penting di dalam sejarah Filsafat. Sebagai panduan, saya mengikuti uraian yang telah dibuat oleh Siegfried König di dalam bukunya yang berjudul Hauptwerke der Philosophie: Von der Antike bis 20. Jahrhundert yang terbit pada 2013 lalu. Uraian yang saya buat ini juga muncul setiap minggunya melalui website rumahfilsafat.com yang dapat langsung dilihat di Internet. Namun, saya tidak akan mengikuti begitu saja uraian König, tetapi juga memberikan tafsiran, bagaimana pemikiran-pemikiran filosofis ini bisa diterapkan untuk keadaan Indonesia.
Tujuan saya sederhana, supaya pembaca di Indonesia memiliki wawasan menyeluruh atas karya-karya kunci di dalam sejarah filsafat, sehingga kita di Indonesia memiliki arah tidak hanya atas masa depan kita, tetapi juga atas identitas kita sebagai manusia, dan sebagai bangsa. Wawasan semacam ini bisa diperoleh, jika kita memahami inti gagasan para filsuf besar yang tertuang di dalam buku-buku mereka yang merentang lebih dari 2000 tahun. Pemahaman ini tidak datang dari penerimaan mentah-mentah gagasan mereka, namun justru dari pertimbangan kritis atasnya. Pertimbangan kritis bisa mengambil dua bentuk, yakni mempertanyakan kesahihan ide-ide mereka (1), dan mencoba melihat sumbangan sekaligus keterbatasan ide-ide itu di Indonesia (2). Lanjutkan membaca Proyek Penelitian: Sejarah Filsafat untuk Indonesia
Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman
Dunia memang tak seperti tampaknya. Banyak hal tersembunyi di baliknya. Yang sering tampil ke depan justru kebohongan dan penipuan. Kebenaran, yang seringkali menyakitkan, justru mengendap di balik apa yang tampak.
Itulah kenyataan hidup kita sehari-hari. Wajah cantik menyimpan kebusukan. Wajah tampan dan rapi menyimpan kerakusan. Kita bagaikan menghirup udara penipuan setiap harinya.
Namun, penipuan itu tidak bisa dibiarkan. Ia harus dipertanyakan dan dilawan, supaya kita bisa melihat apa yang tersembunyi di baliknya. Mungkin, kita tak akan pernah sampai pada kebenaran. Namun, usaha untuk mempertanyakan penipuan juga dapat dilihat sebagai “kebenaran” itu sendiri, yakni kebenaran yang terus berubah dan berkelanjutan. Lanjutkan membaca Penipuan-penipuan di Sekitar Kita
Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman
Dunia tampaknya memang jatuh cinta terhadap sepak bola. Beragam orang dari beragam suku dan agama di berbagai belahan dunia memainkannya dengan antusias. Bagi beberapa orang, terutama di Amerika Selatan, tidak ada hari, tanpa sepak bola. Ketika mereka mulai berhenti bermain, di hari itu juga, mereka mati.
Ungkapan ini sama sekali tidak berlebihan. Di kota-kota di Meksiko, Brazil, Kolombia dan negara-negara lainnya, seperti Ghana, Ethiopia dan Jerman, sepak bola sudah menjadi bagian penting dari hidup masyarakat. Sepak bola menjadi pusat dari hidup mereka. Ada beberapa Fans yang melihat sepak bola sebagai agama yang lebih masuk akal dan menyenangkan, dibandingkan dengan agama-agama yang sudah ada sebelumnya.
Kultur dan Masyarakat
Nils Havemann di dalam kuliahnya dengan judul die gesellschaftliche Bedeutung des Fußballs in Deutschland menegaskan, bahwa sepak bola adalah sebuah kultur. Dalam arti ini, kultur berarti cara hidup. Sepak bola sudah begitu berkembang dan berurat akar sebagai bagian dari cara hidup banyak orang di awal abad 21 ini. Ia bagaikan udara yang dihirup banyak orang; tak terasa, namun memiliki arti yang amat penting. Lanjutkan membaca Sepak Bola dan Hidup Kita