Spiritualitas Politik, Spiritualitas Ekonomi

Connie Rose

Oleh Reza A.A Wattimena

Politik adalah kata yang luhur. Ia adalah soal mengelola hidup bersama dengan berpijak pada tata nilai kehidupan yang ada. Ia memperjuangkan keadilan untuk semua warga, dan bukan hanya segelintir kelompok. Namun, sekarang ini, politik sudah berubah arti menjadi pertarungan untuk memperoleh kekuasaan dengan cara-cara yang jahat, licik dan kejam.

Hal yang sama kiranya terjadi di bidang ekonomi, sehingga ia terpelintir ke dalam kesesatan berpikir yang merusak. Sejatinya, ekonomi adalah soal mengelola beragam sumber daya, guna menciptakan kemakmuran bersama. Kemiskinan dan ketimpangan sosial antara si kaya dan si miskin adalah dosa besar tata kelola ekonomi. Asas dasar ekonomi adalah solidaritas antar manusia yang membawa pada kesejahteraan bersama. Lanjutkan membaca Spiritualitas Politik, Spiritualitas Ekonomi

Seluk Beluk Cuci Otak

IronMaiden720 – DeviantArt

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Bagaimana memaksa orang melakukan hal yang tak ia inginkan? Jalan pertama adalah dengan tekanan senjata. Namun, hal ini amat rapuh dan sementara, karena mereka akan melakukan dengan setengah hati dan terpaksa. Jalan lain yang lebih ampuh adalah dengan cuci otak. Orang saleh bisa berubah menjadi kaum radikal yang siap membawa bom bunuh diri, karena cuci otak.

Cuci otak adalah upaya terencana untuk membuat orang percaya pada paham tertentu melalui cara-cara yang manipulatif. Cuci otak membunuh sikap kritis, akal sehat dan hati nurani. Ia melahirkan kesetiaan buta terhadap seperangkat ajaran ataupun tokoh tertentu. Bisa dibilang, cuci otak adalah cara tercepat menghasilkan seorang teroris. Lanjutkan membaca Seluk Beluk Cuci Otak

Melampaui Terorisme: Pendekatan Komprehensif untuk Memahami dan Menangkal Terorisme

CagleCartoons.com

Oleh Reza A.A Wattimena dan Bustanul Arifin

Tulisan ini sudah diterbitkan di Jurnal MANDALA: Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Vol 1 no.1 Januari-Juni 2018 Prodi Ilmu Hubungan Internasional FISIP UPN”Veteran” Jakarta

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan langkah dan strategi yang harus dilakukan, guna menghadapi permasalahan terorisme yang semakin berkembang pesat di awal abad 21 ini. Riset ini akan menganalisa penyebab dan alasan mendasar lahirnya terorisme yang kemudian menjadi tantangan serius bagi masyarakat internasional, khususnya Indonesia. Adapun yang menjadi latar belakang penelitian ini adalah berkembangnya terorisme yang semakin pesat dan subur, serta mengancam kestabilan dan keutuhan sebuah negara.

Mengapa terorisme bisa berkembang semakin subur? Adakah yang salah dengan upaya dan strategi yang telah digunakan selama ini? Perlukah pendekatan dan cara baru untuk melawan terorisme ini?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi landasan bagi penulis untuk mengekplorasi lebih mendalam tentang dinamika terorisme ini dengan contoh negara seperti Indonesia. Pemikiran yang sempit dari individu dan kelompok, serta kurangnya pemikiran yang kritis terhadap informasi ataupun perkembangan kehidupan yang dilihat, telah mendorong terjadinya pemahaman radikal yang mendorong menjadi teroris. Maka, dalam penelitian ini, transendensi mampu menjadi sebuah cara mendasar dalam merubah akar permasalahan yang mendorong individu atau kelompok menjadi radikal. Transendensi tersebut harus diikuti dengan pendekatan komprehensif dari pemerintah, masyarakat dan perubahan keadaan sosial, khususnya ekonomi dan pendidikan.

Kata Kunci: Terorisme, Transendensi, Radikalisme, Penanggulangan Teroris, Indonesia, dan Demokrasi Lanjutkan membaca Melampaui Terorisme: Pendekatan Komprehensif untuk Memahami dan Menangkal Terorisme

Mengelola Penolakan

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Setiap orang yang pernah hidup pasti pernah mengalami penolakan. Bentuknya beragam, mulai dari ditolak cinta sampai dengan ditolak lamaran kerja. Ada penolakan yang berakhir bahagia, yakni ketika orang menemukan jalan untuk membuka peluang baru. Namun, tak sedikit orang yang jatuh ke dalam depresi, kecanduan narkoba bahkan bunuh diri, karena tak mampu mengelola penolakan.

Di dunia politik Indonesia, kita melihat penolakan yang membuat seorang pemikir nasionalis, sekaligus mantan menteri, menjadi gubernur radikal yang dipertanyakan integritas pribadinya. Ia dipecat dari jabatan sebelumnya, karena tak mampu bekerja dengan baik. Akhirnya, ia mengingkari hati nuraninya, serta menjadi bagian dari kelompok radikal dan koruptor. Penolakan bisa mengubah ideologi hidup seseorang. Lanjutkan membaca Mengelola Penolakan

Hukum, Politik dan Pemerintahan Jokowi

catur-jokowi-mega-di-tempo-Foto-via-sociapolitica-Nusantaranews
Nusantara News

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

            Hukuman yang menimpa Ahok (dipenjara dua tahun karena penistaan agama) sungguh menganggu rasa keadilan kita. Tidak hanya Indonesia, berbagai bangsa dan komunitas internasional mengutuk keputusan pengadilan terhadapnya. Pemerintahan Jokowi bersikeras, bahwa hukum tidak boleh dicampur dengan politik. Terkesan ini alasan untuk tidak berbuat apa-apa, walaupun ketidakadilan telah terjadi.

            Hal ini membuat kita berpikir ulang soal hubungan antara hukum dan politik. Pemerintahan Jokowi berpegang pada pandangan, bahwa hukum adalah seperangkat prosedur yang bebas dari campur tangan politik. Bahkan, ketika keputusan hukum sungguh mencerminkan ketidakadilan, tidak ada yang boleh mencampuri urusan hukum. Pendek kata, hukum hanya soal para ahli hukum dan para penegak hukum semata. Lanjutkan membaca Hukum, Politik dan Pemerintahan Jokowi

Cosmopolitanism in International Relations

Manajer/Filsuf

Promo Manajer:Filsuf

Zen Itu “Telanjang”

Surreal Composite Photos by Luisa Azevedo

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Zen itu memang “telanjang”. Sebagai salah satu aliran di dalam filsafat Timur, Zen memang sangat unik. Ia “telanjang” (bebas) dari berbagai kata, konsep, ritual dan aturan, yang banyak sekali ditemukan, tidak hanya di aliran lain dalam filsafat Timur, tetapi juga di dalam agama dan tradisi yang lain. Zen adalah pengalaman langsung dengan kenyataan sebagaimana adanya, sebelum segala konsep, kata, aturan dan ritual tercipta.

Pengalaman Zen menunjuk langsung ke inti pikiran kita sebagai manusia. Inti pikiran ini sejatinya kosong. Ia seperti ruang hampa luas yang bisa menampung segalanya, tanpa kecuali. Penderitaan pun bisa ditampung, tanpa halangan. Lanjutkan membaca Zen Itu “Telanjang”

Yang di BANDUNG, Mari Merapat

Pencerahan Final di dalam Zen

Creators – Vice

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Salah satu tujuan orang belajar filsafat dan Zen adalah mendapatkan pencerahan. Di dalam filsafat Eropa, pencerahan dipahami sebagai bangunnya manusia dari ketidakdewasaan yang diciptakannya sendiri. Pemahaman ini diperoleh dari filsafat Immanuel Kant. Artinya, manusia berani untuk mulai berpikir mandiri, lepas dari segala bentuk tradisi yang selama ini memenjarakannya.

Di dalam tradisi Zen, yang berkembang dari India, Jepang, Cina dan Korea, pencerahan memiliki isi yang berbeda. Pencerahan adalah pengalaman kesatuan, dimana diri melebur dengan segala yang ada, dan menjadi satu dengannya. Tidak ada lagi subyek dan obyek, atau diri yang merasa terpisah dari lingkungannya. Tidak ada lagi penderitaan dan kesalahan berpikir yang selama ini menghantui. Lanjutkan membaca Pencerahan Final di dalam Zen

Dalam Cengkraman Kemiskinan

Art Ranked Discovery Engine

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Kereta arah Bandara Soekarno Hatta Jakarta dari Sudirman memang sangat canggih dan nyaman. Ini prestasi besar bagi bangsa Indonesia, walaupun sudah seharusnya dari dulu diciptakan. Namun, karena politik yang lamban dan korup, ia akhirnya baru tercipta sekarang. Kereta ini merupakan jalan keluar efektif untuk kemacetan dan kekacauan perjalanan dari dan ke arah Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.

Tempat duduknya sangat nyaman. Peraturan juga ditegakkan dengan baik. Suasana juga amat bersih dan aman. Dalam banyak hal, kereta ini bahkan lebih nyaman, daripada kereta yang biasa saya tumpangi di negara-negara dengan tingkat ekonomi maju. Lanjutkan membaca Dalam Cengkraman Kemiskinan

Aku Membingungkan, Maka Aku Seksi

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Inilah suasana di sebuah konferensi ilmiah. Seorang pembicara menyampaikan hasil penelitiannya. Gelarnya tinggi, dari universitas ternama di dunia. Berbagai kata dan konsep rumit disampaikan. Peserta mendengarkan dengan seksama.

Setelah itu, tanya jawab pun dimulai. Sama seperti presentasi sebelumnya, pertanyaan pun diikuti dengan konsep dan kata yang rumit pula. Hal yang sama berulang sampai tiga kali. Pembicara berikutnya maju ke depan, dan pola yang sama berulang kembali. Lanjutkan membaca Aku Membingungkan, Maka Aku Seksi

Peluncuran Buku: Zen

Undangan Diskusi: Jantung Hati Filsafat dan Teori Sosial Jerman

Mari Merapat

Terbitan Buku Terbaru: Dengarkanlah, Zen, Pandangan Hidup Timur dan Jalan Pembebasan

Oleh Reza A.A Wattimena 

Pemesanan bisa di 
Penerbit Karaniya
JL.Mangga I Blok F 15
Duri Kepa, Kebon Jeruk
Jakarta Barat 11510
Telepon: +6221 568 7957
WhatsApp: +62 813 1531 5699

Atau di Toko Buku Terdekat

Buku ini lahir dari penderitaan yang saya alami. Selama bertahun-tahun, saya hidup dalam depresi. Secara singkat, depresi dapat dipahami sebagai kesedihan yang berkelanjutan, kerap kali tanpa alasan yang jelas, dan membuat orang tidak bisa menjalani kesehariannya dengan damai dan bahagia. Depresi ini mempengaruhi banyak unsur dalam hidup saya, mulai dari soal hubungan pribadi, sampai dengan hubungan profesional.

Saya kerap kali bertanya, apakah hidup memang seperti ini? Ketika keadaan tidak sesuai keinginan, penderitaan dan kekecewaan muncul. Saya juga menyaksikan, begitu banyak keluarga dan teman-teman saya terjebak pada soal yang sama. Mereka mencoba menemukan jalan keluar melalui agama ataupun konsultasi dengan profesional. Namun, jawaban atas permasalahan mereka tak kunjung tiba. Lanjutkan membaca Terbitan Buku Terbaru: Dengarkanlah, Zen, Pandangan Hidup Timur dan Jalan Pembebasan

Buku Terbaru: To Infinity and Beyond, Cosmopolitanism in International Relations

Penulis

Reza A.A Wattimena

Anak Agung Banyu Perwita

Penerbit: Ary Suta Center

Bisa didapatkan di

Ary Suta Center
Contact person:
Priska (081370170585)
Nurul (085362026629)
Email: arysutacenter@arysutacenter.com

Forewords 

Ary Suta Center stands for three things, namely building competencies, value creation and increasing competitiveness in Indonesia. Central to these things is the cooperation in scientific researchs and programs with so called people with fair minds and executive intelligence. From this cooperation, the higher level of competitiveness and value creation can be created in order to enhance the innovative capabilities of Indonesian based on good leadership, strategy and critical thinking in various areas of life, namely social-cultural, politics, economics, human relations and education. Lanjutkan membaca Buku Terbaru: To Infinity and Beyond, Cosmopolitanism in International Relations

Tentang Ego yang Tak (Pernah) Ada

Peter Gric, “Dissolution of Ego IV”

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Ada dua misteri semesta yang masih menjadi pergulatan para ilmuwan. Yang pertama adalah hakekat dari alam semesta, termasuk seberapa besar dan unsur-unsur apa saja yang menyusunnya. Yang kedua adalah hakekat dari diri, atau ego, termasuk eksistensi dan unsur-unsur pembentuknya. Yang kedua ini lebih menarik untuk diperhatikan.

Sejarah “Ego”

Penyelidikan tentang ego sudah lama berlangsung di dalam sejarah pemikiran manusia. Pemikiran Jawa kuno, misalnya, membedakan antara ego kecil dan ego besar. Ego kecil adalah bentukan sosial, yakni hasil dari hubungan dengan keluarga dan masyarakat secara luas. Ego besar adalah energi semesta yang sudah selalu ada, dan menjadi sumber dari kebijaksanaan hidup yang tertinggi. Lanjutkan membaca Tentang Ego yang Tak (Pernah) Ada

Politik, Bisnis dan Spiritualitas

Mystic Sea – The Sea Empress, Daniel Arrhakis

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Ketiga kata ini, yakni politik, bisnis dan spiritualitas, hampir tak pernah dihubungkan. Ketiganya menempati dunia yang berbeda. Politik dan bisnis memang cukup sering disandingkan. Namun, kata spiritualitas amatlah asing bagi kedua dunia tersebut.

Politik dan Bisnis

Politik kerap dipahami sebagai perebutan kekuasaan. Politik disempitkan ke dalam pengertian yang dirumuskan oleh Thomas Hobbes di dalam bukunya Leviathan, yakni perang semua melawan semua (bellum omnia contra omnes). Di dalam politik, manusia adalah serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Kepentingan dan bahkan nyawa orang lain dikorbankan, demi mempertahankan dan memperbesar kekuasaan politik. Lanjutkan membaca Politik, Bisnis dan Spiritualitas

Heidegger, “Ada” dan Utopia

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Ilmu pengetahuan modern lahir dari rahim filsafat. Filsafat sendiri dapat dilihat sebagai upaya manusia untuk memahami segala yang ada secara kritis, rasional dan sistematik. Buah dari filsafat adalah pengetahuan tentang kehidupan. Walaupun begitu, menurut Martin Heidegger, filsafat haruslah bergerak lebih dalam dengan mempertanyakan dasar dari keberadaan segala sesuatu itu sendiri, atau yang disebutnya sebagai “Ada” (Sein).

Filsafat berkembang melalui pertanyaan tentang alam. Inilah yang disebut sebagai kosmosentrisme. Alam menjadi obyek utama berbagai diskusi dan refleksi filosofis. Inilah akar dari ilmu fisika modern, sebagaimana dipahami sekarang ini. Walaupun begitu, alam adalah bagian dari Ada, dan bukan merupakan Ada itu sendiri. Lanjutkan membaca Heidegger, “Ada” dan Utopia

Peduli

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Rasa peduli rupanya menjadi barang langka di dunia sekarang ini. Orang hanya hidup untuk kepuasaan dirinya semata. Kepentingan orang lain dikorbankan, tanpa rasa salah. Alam pun rusak, karena manusia memeras alam, demi kepuasan dirinya semata.

Rasa Peduli

Padahal, seperti dikatakan oleh Martin Heidegger, filsuf Jerman, di dalam bukunya yang berjudul Sein und Zeit, rasa peduli (Sorge) adalah hubungan dasariah antara manusia dengan dunianya. Manusia hidup di dalam dunia yang tak ia pilih. Ia “terlempar”, begitu kata Heidegger. Mutu hidup manusia ditentukan dari sejauh mana ia mampu mengembangkan rasa peduli ini di dalam hubungannya dengan dunia. Lanjutkan membaca Peduli