Politik, Bisnis dan Spiritualitas

Mystic Sea – The Sea Empress, Daniel Arrhakis

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Ketiga kata ini, yakni politik, bisnis dan spiritualitas, hampir tak pernah dihubungkan. Ketiganya menempati dunia yang berbeda. Politik dan bisnis memang cukup sering disandingkan. Namun, kata spiritualitas amatlah asing bagi kedua dunia tersebut.

Politik dan Bisnis

Politik kerap dipahami sebagai perebutan kekuasaan. Politik disempitkan ke dalam pengertian yang dirumuskan oleh Thomas Hobbes di dalam bukunya Leviathan, yakni perang semua melawan semua (bellum omnia contra omnes). Di dalam politik, manusia adalah serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Kepentingan dan bahkan nyawa orang lain dikorbankan, demi mempertahankan dan memperbesar kekuasaan politik.

Tak heran, jika politik dipahami dengan cara seperti ini, krisis politik pun terus terjadi. Kebencian dan prasangka menjadi udara yang dihirup bersama. Fitnah dan kedangkalan berpikir menjadi warna kehidupan sehari-hari. Buahnya adalah sistem politik yang dipenuhi dengan korupsi, kolusi dan nepotisme, seperti kita lihat di banyak negara sekarang ini.

Bisnis pun juga dianggap sebagai sesuatu yang jauh dari spiritualitas. Bisnis dipahami secara sempit sebagai upaya untuk menghasilkan keuntungan sebesar mungkin dengan pengeluaran sekecil mungkin. Berbagai cara ditempuh untuk mencapai hal ini, bahkan dengan merugikan orang lain dan melanggar hukum yang berlaku. Di dalam upaya memperkaya diri secara tidak sehat, para pelaku bisnis seringkali bekerja sama dengan politisi dan militer.

Bisnis semacam ini juga akan terus terjatuh ke dalam krisis. Kesenjangan sosial antara si pemilik modal dan si pekerja juga akan semakin besar. Beragam masalah pun muncul, sebagai akibat dari kesenjangan sosial tersebut, mulai dari kriminalitas sampai dengan konflik berdarah. Tidak hanya itu, banyak juga lingkungan alami, seperti hutan tropis, yang rusak, akibat sepak terjang para pebisnis rakus.

Salah Paham Spiritualitas

Berbicara tentang spiritualitas pun tak lepas dari salah paham. Orang mengira, spiritualitas adalah soal agama. Mereka mengira, dengan melakukan ritual dan melaksanakan aturan agama secara buta, mereka menjadi manusia spiritual. Anggapan ini salah.

Agama adalah institusi sosial yang diciptakan manusia. Di dalamnya, ada hubungan kekuasaan yang menentukan isi sekaligus kebijakan agama tersebut. Di abad 21 ini, banyak agama terjatuh ke dalam formalisme. Ia hanya mementingkan tampilan luar, seperti melaksanakan ritual dan aturan, namun melupakan pesan luhur utama dari agama tersebut.

Ketika agama terjebak ke dalam formalisme, ia dengan mudah digunakan sebagai alat politik. Ia juga dengan mudah digunakan sebagai pembenaran untuk kebodohan, kebencian dan kemalasan berpikir. Jika ini terjadi, agama justru kehilangan keluhurannya. Ia justru menjadi sumber intoleransi dan kekerasan yang menghambat kemajuan masyarakat.

Memahami Spiritualitas

Semua ini bisa dihindari, jika politik, bisnis dan agama dihubungkan kembali dengan spiritualitas. Semua upaya politik, seperti pembuatan kebijakan dan pendidikan politik masyarakat, akan percuma, jika tidak ada spiritualitas di dalamnya. Ini seperti membangun gedung tinggi dengan fondasi yang amat lemah. Ia akan runtuh, ketika goncangan terjadi.

Namun, apa itu spiritualitas? Spiritualitas adalah sebuah sudut pandang yang melahirkan cara hidup tertentu, dimana kebutuhan tubuh dilihat hanya sebagai satu bagian dari keseluruhan hidup itu sendiri. Pendek kata, hidup itu lebih luas dari sekedar makan, pergi jalan-jalan, tampil sok religius di depan umum, membeli pakaian bagus, rumah bagus dan kendaraan mewah. Jika ini tak dipahami, orang akan terjebak pada hidup yang sia-sia dan penuh derita.

Spiritualitas juga menyibak fakta dengan jati diri asali manusia. Tubuh akan tumbuh, sakit, menua dan kemudian mati. Namun, ada sesuatu yang abadi di dalam diri manusia. Ia tak pernah diciptakan, dan tak akan pernah hancur. Sesuatu itu adalah energi semesta, atau energi kehidupan, yang melahirkan segala sesuatu. Dalam arti ini, manusia adalah satu dan sama dengan seluruh alam semesta.

Hidup dengan spiritualitas berarti menyadari betul hal ini. Hidup pun lalu dilihat dari sudut pandang kesatuan dengan semesta ini. Tidak ada yang disebut “orang lain” atau “mahluk lain”, karena pada tingkat paling dalam, kita semua adalah sama. Tidak ada pula yang disebut sebagai “diri” dengan segala ambisi, ketakutan dan kerumitan emosionalnya. Dari sudut pandang ini, hidup adalah keutuhan, kedamaian dan kejernihan dari saat ke saat.

Hidup tanpa spiritualitas adalah hidup yang penuh dengan ketakutan. Orang melihat dirinya sendiri sebagai sesuatu yang kecil dan rapuh. Namun, ini semua kesalahpahaman yang lahir dari pola didik dan pola pikir yang salah. Ketika spiritualitas sungguh didalami dan menjadi bagian dari kehidupan, ketakutan akan sirna dalam sekejap mata.

Politik, Bisnis dan Spiritualitas

Lalu bagaimana dengan karir? Bagaimana dengan uang? Bagaimana dengan nama baik? Bagaimana dengan kesuksesan?

Hidup yang spiritual jauh dari kerakusan. Semua hal di atas dicari dan digunakan seperlunya saja. Ketika orang memasuki pintu spiritualitas, ketertarikannya pada kekuasaan dan kenikmatan hidup pun akan secara alami menurun. Mereka sadar, bahwa semua itu sementara, dan akan menciptakan banyak masalah, jika dikejar secara buta. Orang pun akan memilih jalan hidup yang bisa memberikan nilai kedamaian dan kebijaksanaan tertinggi bagi dirinya dan orang lain.

Politisi yang spiritual akan mencari kekuasaan seperlunya, guna menciptakan kebaikan bersama. Pelaku bisnis yang spiritual akan mencari keuntungan seperlunya, guna membangun organisasi yang baik dengan pekerja yang hidup sejahtera dan bermartabat. Agama yang spiritual akan membawa kedamaian, baik di dalam diri maupun dalam hubungan dengan orang lain. Jelaslah, bahwa spiritualitas harus kembali ditanamkan di dalam bisnis, politik dan agama.

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.

12 tanggapan untuk “Politik, Bisnis dan Spiritualitas”

  1. Bicara politik,bisnis dan spiritual jadi teringat bukunya Dr. Timothy Leary The Politics of Ecstasy and Neuropolitics yang berbicara banyak hal mengenai ketiga kata tersebut.
    Pada hemat saya ketiga kata itu bisa jadi ektasi yang memabukan dalam prosesnya menuju kesadaran diri menuju ruang hening

    Suka

  2. pemikiran politik, bisnis dan spiritualisme dijalankan bersamaan adalah sangat bijaksana .
    menurut pandangan saya, seperti yg di maksud diatas , dalam kehidupan sehari2 kita mengalami justru politik dan bisnis begitu menindas spiritualisme. mungkin lebih baik , spiritualisme diterap kan dahulu, barulah berkembang politik dan bisnis dengan” nalar sehat dan hati nurani”. hanya jalan ini benar2 satu utopie / impian.
    ada sedikit harapan untuk majunya jalan pertama ( 3 hal bersamaan), kalau yang “bersangkutan”( seluruh masyarakat yang beragam) sadar bahwa “agama dengan segala dogma dan formalisme” hanyalah / umumnya halangan besar untuk mencapai sedikit”nalar sehat dan hati nurani”.
    begitu banyak halangan untuk mengarahkan jurusan yang baik, antaranya : cara berpikir bebas dan kritis dalam segala hal hidup. ikut aktip sebagai bagian dari alam semesta.
    pengetahuan umum dan kesadaran yang dibimbing dengan baik.
    dewasa ini yg berlarut2 dan begitu menyolok hanya “sok”nya dan “show down”, saya jadi ingat peribahasa “tong kosong nyaring bunyinya”.
    achirnya kita bertanya : mau jadi apa nanti nya, jalan hidup secara ini ??

    salam hangat !

    Suka

  3. ich klammere nicht an die obige meinung. es war einfach nur eine spontane äusserung, wie immer.
    ich würde mich riesig freuen, wenn unter den teilnehmern auch die themen rege und kritisch diskutiert werden. hier sehe ich, alles ist relative und vergänglich.
    lieben gruss

    Suka

  4. Spontane Äusserung ist natürlich am besten. Ich erinnere mich an Zen Koan. Ja, die Ebene der Diskussionen in Indonesien ist noch nicht hoch genug für kritisches Denken. Aber es gibt schon viele Entwicklung in diesem Bereich.

    Suka

  5. ich spüre hier durch die diskussionen, dass in indonesien das interesse an ein besseres leben vorhanden ist, auch wenn es noch sehr klein ist. wir haben eine hoffnung. es ist gut so !!
    gruss aus der ferne !

    Suka

  6. Yang saya maksudkan secara psikologis, politik , agama, bisnis dan spiritual memang dapat berfungsi seperti candu,memabukan dan kemelekatan seperti kata Marx. Apa yang ada dalam agama, politik , bisnis dan spiritual dapat membawa seseorang sejenak melupakan permasalahan hidupnya melihat indahnya janji-janji sorga yang dibawa dengan penuh kemasan.
    kadang membuat lupa pada saat ini , atau bahasa E Tolle lupa pada POWER OF NOW

    Suka

  7. Dalam kehidupan apalagi yang berhubungan dengan keseharian seseorang, bisnis pasti berkaitan dengan politik dan spritual. Bisnis tanpa pilitik dan spiritual nggak akan ada artinya. Begitu juga dalam politik ada bisnis, dalam spiritual pasti ada juga bisnis dan politik

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.