Negara hukum. Inilah salah satu temuan terpenting filsafat politik di dalam sejarah manusia. Kekuasaan tidak lagi bergantung pada satu orang tertentu. Tidak ada Tuhan ataupun langit sebagai dasar kekuasaan.
Kekuasaan melekat pada hukum yang disepakati bersama. Inilah ide dasar dari supremasi hukum. Hukum pun tidak mutlak. Ia bisa diubah, seturut dengan perubahan yang terjadi di dalam masyarakat, asal tidak melanggar prinsip-prinsip dasarnya.
Pikiran memang ajaib. Di tengah keindahan, ia bisa menghadirkan derita neraka, misalnya melalui kenangan masa lalu yang kelam. Di tengah pedihnya nestapa, ia bisa menghadirkan kegembiraan, misalnya dengan harapan ke depan yang lebih cerah. Segalanya, kiranya, dibentuk dari pikiran.
Dari hal kecil, pikiran bisa menghadirkan hal-hal besar yang tak sungguh ada. Dari hal besar, pikiran bisa mengerdilkannya. Satu cacat seolah bisa mengakhiri segalanya, karena pikiran yang bergerak berlebih. Hidup bisa berakhir, karena pikiran yang terus menyiksa batin. Lanjutkan membaca Tulisan ini,.. Mungkin Akan Menyelamatkan Hidup Anda
Jalan Sistematik untuk Kembali Kepada Sang Pencipta
Oleh Reza A.A Wattimena
Yesus adalah salah satu tokoh yang paling berpengaruh di dalam sejarah manusia. Di dalam tradisi Kristen, Yesus adalah Tuhan yang turun menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia. Di dalam tradisi Hindu dan Buddha, Yesus adalah salah satu master yang menawarkan jalan pembebasan dari penderitaan. Di dalam tradisi Islam, Yesus adalah nabi yang membimbing manusia keluar dari kegelapan. Yesus adalah tokoh lintas agama dan lintas peradaban.
Di dalam tradisi India, Yesus juga dikenal sebagai salah satu master Yoga. Dalam arti ini, Yoga adalah sekumpulan metode untuk membebaskan manusia dari egonya. Ego adalah sumber penderitaan yang menyiksa batin manusia. Yoga membawa manusia kembali ke keadaan alamiahnya, yakni satu dan sama dengan seluruh alam semesta. Setelah ribuan tahun, dan setelah mengalami berbagai macam campur tangan kepentingan politik, ajaran Yesus sebagai seorang master Yoga pun terlupakan. Lanjutkan membaca Artikel Ilmiah Terbaru: Yesus dan Yoga
Masalah terbesar di dunia kita sekarang ini bukanlah pandemik. Juga bukan korupsi, atau kesenjangan sosial global, ataupun kerusakan lingkungan. Yang menjadi akar dari semua masalah tersebut adalah kesempitan berpikir. Semua masalah lainnya berakar ke satu masalah tersebut.
Pandemik tercipta dan menyebar, karena kesempitan berpikir sekelompok orang di Cina. Korupsi dan kesenjangan sosial global terjadi, karena kesempitan berpikir sekelompok orang yang rakus dan tak beradab. Diskriminasi, radikalisme dan terorisme terjadi, juga karena kesempitan berpikir. Hal yang sama terjadi dalam soal kerusakan lingkungan. Lanjutkan membaca Wabah Kesempitan Berpikir
Satu lagi sahabat saya bercerai. Kata-kata kasar diungkapkan oleh dua orang yang dulunya saling mencinta. Dendam masa lalu diangkat keluar, terurai dalam pukulan dan air mata. Anak, yang sama sekali tak bersalah, harus menjadi saksi, dan mendekap luka di hati.
Setiap ada undangan pernikahan, saya selalu kagum. Di jaman seperti ini, orang masih berani menikah? Saya sudah mencobanya, dan lolos darinya. Saya bercerai, tanpa anak.
Buku ini menawarkan analisis atas konflik di berbagai belahan dunia yang disebabkan oleh keberadaan sumber daya, mulai dari konflik sumber daya di Papua, Timur Tengah sampai dengan Kutub Selatan.
Ini adalah buku pertama di Indonesia yang menawarkan analisis semacam ini secara mendalam. Semoga pembaca bisa memahami keadaan dunia yang mempengaruhi hidup kita di Indonesia sekarang ini. Selamat membaca.
Pemesanan
Rumi, salah satu tokoh di dalam tradisi Sufi Islam, tak habis-habisnya memberikan inspirasi pada saya. Ia pernah menulis: “Larilah dari apa yang nyaman. Lupakan kenyamanan. Hiduplah di tempat kamu takut untuk hidup. Hancurkan reputasimu. Jadilah pribadi yang kontroversial. Saya telah mencoba hidup dengan perencanaan yang bijak. Mulai sekarang, saya akan menjadi gila.”
Suara Rumi bergema keras di jaman kita. Jaman dimana orang hidup mencari kenyamanan di segala hal, bahkan sampai kenyamanan di kehidupan setelah kematian. Jaman dimana orang menjilat kiri kanan untuk menjaga dan meningkatkan reputasinya. Jaman dimana orang cari aman, hidup sebagai pengecut dan tunduk pada penindasan akal sehat. Lanjutkan membaca Kebijaksanaan dari “Kegilaan”, Belajar dari Rumi
Tulisan ini lahir dari rasa prihatin. Psikologi dan Psikiatri telah menipu begitu banyak orang. Di Indonesia, budaya berpikir kritis sangat tidak berkembang, sehingga kita begitu mudah ditipu oleh sesuatu. Kebodohan kita di Indonesia ini dimanfaatkan oleh ilmu psikologi dan psikiatri untuk mengeruk uang dari penderitaan yang kita alami.
Psikologi dan Psikiatri adalah pseudosains. Semakin lama, saya semakin yakin atas pandangan ini. Pseudosains adalah ilmu palsu. Ia mengaku diri sebagai ilmu pengetahuan. Padahal, aslinya, ia hanya sebentuk penipuan belaka. Lanjutkan membaca Psikologi dan Psikiatri sebagai Pseudosains
Setiap orang pasti ingin bahagia. Tak hanya itu, setiap mahluk hidup pasti terdorong secara alami untuk menghindari penderitaan, dan mencari kebahagiaan. Inilah salah satu hukum alam yang ada. Tak ada yang luput darinya.
Namun, banyak orang mengalami kesalahan berpikir. Mereka mencari kebahagiaan di luar diri. Padahal, di luar diri, segala hal terus berubah. Apa yang sebelumnya membawa kebahagiaan bisa membawa kecewa di kemudian hari. Lanjutkan membaca Bahagia Dari Dalam, Tanpa Syarat
Kekuasaan memang menjadi ujian dari kepribadian. Orang saleh bisa menjadi kejam, ketika memegang kekuasaan. Orang jujur berubah menjadi koruptor kelas kakap, ketika meraih kekuasaan. Moral, agama dan hukum tampak tak cukup untuk mencegah hal ini untuk terus terjadi.
Di Indonesia, pola serupa dengan mudah ditemukan di depan mata. Para wakil rakyat yang tidak mewakili rakyat. Mereka menjadi raja-raja kecil yang korup dan gila hormat. Penguasa yang dipilih rakyat pun kerap kali bertindak memperkaya diri, sambil terus menyengsarakan rakyat. Lanjutkan membaca Bangsa yang Mendengar Nuraninya
Tiga pertanyaan ini kerap diajukan kepada saya oleh kenalan baru. Biasanya, ketiga pertanyaan ini diajukan di awal perjumpaan, sebelum diskusi tentang hal-hal yang lebih mendalam terjadi. Di banyak negara, soal agama adalah soal pribadi. Menanyakannya adalah sesuatu yang melanggar privasi. Namun, karena terobsesi dengan agama, orang Indonesia gemar mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam ini.
Tentang Agama
Saya lahir, lalu dibaptis Katolik oleh keluarga saya. Saya juga dididik di dalam lingkungan Katolik. Saya paham Katolik dari mulai sejarah, ajaran politis sampai dengan spiritualitasnya. Kebetulan, para pengajar agama saya adalah orang-orang brilian yang terbuka dan amat sangat cerdas. Lanjutkan membaca Apa Agamanya? Apakah Masih Berdoa? Apakah Masih Percaya Tuhan?
Tampaknya, seluruh dunia sedang terpeleset ke dalam kesesatan berpikir. Orang tidak lagi mampu melihat secara jernih, yang mana alat dan yang mana tujuan. Akibatnya, hidup bersama menjadi kacau. Hampir semua institusi mengalami cacat kinerja.
Antara Alat dan Tujuan
Politik menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Memasuki politik, orang bercita-cita menjadi raja yang disembah dan kaya raya. Peluang korupsi dan mencuri menjulang tinggi. Politik menjadi sistem tak berguna yang hanya menghabiskan sumber daya. Lanjutkan membaca Sesat Alat dan Tujuan
Alam semesta bukanlah sesuatu yang tanpa pola. Ia ada dan bergerak dengan pola-pola tertentu. Akal budi manusia bisa digunakan untuk memahaminya. Inilah tujuan utama dari semua ilmu pengetahuan, yakni memahami hukum-hukum yang mengatur alam semesta.
Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Kekuasaan
Namun, alam semesta tak sungguh ada sebagai sesuatu yang tetap dan utuh. Ia amat terkait dengan kesadaran manusia yang mengamatinya. Penelitian-penelitian terbaru neurosains sudah menunjukkan dengan jelas, bahwa alam adalah bentukan dari kesadaran manusia. Kita adalah alam semesta, dan alam semesta adalah kita. Lanjutkan membaca Bukan Fisika Biasa
Mungkinkah manusia mencintai dengan sempurna? Pengalaman seringkali berbicara berbeda. Orang mencintai dengan ego dan kelekatan. Orang mencintai dengan kepentingan diri tersembunyi.
Kajian Strategis atas Konflik Sumber Daya di Timur Tengah
Oleh Reza A.A Wattimena
Abstrak
Tulisan ini merupakan upaya untuk mengurai konflik di Timur Tengah. Yang menjadi sorotan adalah konsep kutukan sumber daya. Akibat kekayaan alam yang melimpah, namun tidak dibarengi tata kelola sosial politik yang memadai, konflik berkepanjangan justru tercipta. Ini ditambah dengan konflik identitas agama yang banyak terjadi di Timur Tengah. Benang kusut konflik bisa diurai dengan menggunakan pendekatan multidimensional, mulai dari pengembangan tafsiran rasional atas agama, sampai dengan kerja sama teknologi pengelolaan air di tingkat internasional. Lanjutkan membaca Jurnal Terbaru: Kapankah Perdamaian Muncul di Tanah Para Nabi?
Sudah tak terhitung teman dan keluarga yang bercerita, betapa sulitnya membangun hubungan cinta di abad 21 ini. Banyak yang kandas di tengah jalan, karena tekanan keluarga.
Di Indonesia, jodoh tak ada di tangan pribadi. Keluarga amat sangat menentukan.
Soal agama dan ras menjadi unsur penting. Cinta dan komitmen urusan belakangan.