Cinta yang Menindas

Repressed Anger: The Systemic Destroyer | Surrealism photography ...

rebellesociety.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Sudah tak terhitung teman dan keluarga yang bercerita, betapa sulitnya membangun hubungan cinta di abad 21 ini. Banyak yang kandas di tengah jalan, karena tekanan keluarga.

Di Indonesia, jodoh tak ada di tangan pribadi. Keluarga amat sangat menentukan.

Soal agama dan ras menjadi unsur penting. Cinta dan komitmen urusan belakangan.

Perbedaan agama menghancurkan cinta dan komitmen banyak pasangan. Perbedaan ras menyusul di belakangnya.

Tak hanya itu, harta pun menjadi salah satu patokan utama. Jika agama, ras dan harta tak sesuai, orang tua siap menekan dan menindas.

Yang dipermainkan adalah rasa bersalah dan konsep dosa yang primitif. Anak yang berani menentang orang tua akan dituduh durhaka, bahkan masuk neraka yang sesungguhnya tak pernah ada.

Karena cintanya pada orang tua, dan lemahnya daya akal sehat, banyak anak tunduk tak berdaya. Mereka hidup dalam kepalsuan demi menghindari tuduhan durhaka, ataupun ancaman neraka yang hanya mimpi kosong belaka.

Dampaknya

Ada empat hal yang perlu diperhatikan. Pertama, dengan pola hubungan semacam ini, derita yang dihasilkan begitu besar. Banyak hubungan hasil paksaan orang tua berakhir dalam nestapa.

Perselingkuhan terjadi. Kekerasan dalam rumah tangga menghantui keluarga, dan menyerang buah hati yang ada.

Kesehatan mental anggota keluarga terganggu. Stress, depresi dan bahkan bunuh diri menjadi hal biasa yang ditutupi dari mata masyarakat luas.

Tak heran, secara global, perceraian menyentuh angka 50 persen lebih. Pernikahan lalu menjadi lembaga sia-sia yang hanya menghasilkan derita.

Dua, pada tingkat yang lebih luas, pola menikah berdasarkan ras, agama dan harta ini memecah belah bangsa. Indonesia dan Pancasila menjadi slogan belaka, tanpa makna.

Masyarakat terpecah di antara kelompok-kelompok kecil yang saling curiga satu sama lain. Semangat pluralitas dan multikulturalitas, yang menjadi ciri terpenting Indonesia, pun terancam lenyap.

Tiga, pola hubungan semacam ini adalah sebentuk rasisme. Ras, agama dan tingkat ekonomi tertentu dianggap lebih luhur dari yang lainnya.

Rasisme adalah kutukan peradaban modern yang lahir dari Eropa, dan kemudian menyebar ke seluruh dunia. Di Indonesia, karena lemahnya pendidikan berpikir kritis, rasisme tersebar begitu dalam dan luas.

Bangsa rasis adalah bangsa yang terpecah. Konflik dan bahkan pembunuhan massal dengan amat mudah terjadi, jika ini terus diabaikan dalam sunyi.

Empat, pola hubungan dangkal semacam ini adalah sebuah proses dehumanisasi. Kemanusiaan orang diukur semata dari ras, agama maupun tingkat ekonominya.

Ini adalah pandangan sesat yang telah banyak menghasilkan derita dan perang di masa lalu. Di abad 21, pandangan sesat semacam ini sudah layaknya dibuang jauh-jauh.

Mengapa?

Ada dua hal yang menjadi penyebab. Pertama, ketakutan adalah akar dari kesempitan berpikir. Hubungan keduanya bersifat timbal balik.

Pluralitas mengerikan, karena ia penuh ketidakpastian. Kesamaan, baik agama, ras maupun kelas ekonomi, menyediakan ilusi keamanan semu.

Banyak orang tua jatuh dalam kesempitan berpikir dan ketakutan dangkal semacam itu. Mereka menekan dan menindas anaknya untuk hidup sesuai dengan keinginannya. Inilah cinta palsu yang menindas.

Dua, semua ini berakar lebih pada lemahnya sistem politik, ekonomi dan pendidikan kita di Indonesia. Negara tak menghadirkan rasa aman, dan tak mencerdaskan rakyatnya.

Sebaliknya, negara justru kerap menjadi penghalang kemakmuran dan kecerdasan warganya. Elit politik tercabut jauh dari kepentingan rakyat yang sesungguhnya, sehingga membuat kebijakan-kebijakan yang merusak.

Alhasil, orang berharap penuh pada keluarga. Agama, ras dan harta lalu seolah menjadi yang utama untuk menjaga keutuhgan serta keamanan keluarga.

Berani menentang keluar berarti berani berkhianat. Orang lalu dilepas ke rimba masyarakat luas, tanpa perlindungan lagi dari keluarga.

Padahal, jika diperhatikan lebih jeli, keluarga kerap kali menjadi sumber derita dan masalah besar dalam hidup banyak orang. Hanya ketakutan dan kesempitan berpikir yang seringkali mengikat banyak keluarga di Indonesia.

Lalu Bagaimana?

Pada tingkat yang lebih luas, jika sistem politik, ekonomi dan pendidikan kokoh, maka rakyat akan merasa aman, cerdas dan makmur. Banyak derita dan masalah sosial akan terhindarkan secara alami.

Orang tak perlu bersandar buta pada keluarga yang menindas. Negara siap merawat semua warganya, tanpa syarat dan tanpa kecuali.

Jadi, sistem politik, pendidikan, ekonomi dan pola mencintai manusia tetap tak terpisahkan. Negara yang bermutu akan melahirkan keluarga yang bermutu, yang tak akan menindas atas nama kepalsuan cinta, apalagi menindas atas nama kesempitan berpikir beragama.

Cinta lalu mengambil bentuknya yang sejati. Ia berakar pada kesadaran, dan memanusiakan manusia.

 

 

 

4 thoughts on “Cinta yang Menindas

  1. sehr überzeugend erklärt, leicht formuliert und einfach zu verstehen.
    ich hoffe nur, dass viele menschen dieses thema lesen, verstehen und sich kritisch auseinander setzen.
    danke für die gedanken und anregungen.
    bleibe gesund . wir alle brauchen dich für die “erleuchtung”.
    gruss aus der ferne !!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.