Jurnal Terbaru: Mencintai Secara Sempurna, Memahami Kaitan Antara Yesus dan Ajaran Sufi Islam

Sufi Islam: What you need to know | Middle East| News and analysis ...

DW

Oleh Reza A.A Wattimena

Mungkinkah manusia mencintai dengan sempurna? Pengalaman seringkali berbicara berbeda. Orang mencintai dengan ego dan kelekatan. Orang mencintai dengan kepentingan diri tersembunyi.

Akibatnya, cinta menjadi cacat. Cinta menjadi transaksi. Ketika kegagalan terjadi, cinta berubah menjadi benci. Cerita lama yang tak kunjung berubah di dalam hidup manusia.

Ini terjadi, karena cinta tidak dipahami secara sempurna. Cinta masih mengandung kepentingan diri yang tersembunyi. Padahal, cinta adalah inti dari semua agama dunia. Cinta yang tidak hanya diarahkan pada manusia, tetapi juga kepada semua mahluk, dan kepada sang Pencipta.

Cinta yang sempurna adalah pengorbanan total. Orang melebur pada apa yang dicintainya. Tidak ada lagi ego dan kepentingan diri. Di dalam agama, cinta tertinggi adalah peleburan diri ke dalam Sang Pencipta.[1]

Inti semua agama adalah satu, yakni menjadi cinta yang melebur sepenuhnya dengan Tuhan. Sisi luar dari agama adalah identitas budaya. Itu pun tak lahir dari kekosongan, melainkan dari dialog antar budaya yang terjadi terus menerus.[2] Hal inilah yang kiranya terjadi antara Kristianitas dengan tradisi Sufi di dalam Islam.

Pemahaman ini amatlah penting untuk membangun dialog antar agama di abad 21. Tanpa dialog antar agama, tidak akan ada perdamaian antar agama. Dan tanpa perdamaian antar agama, tidak akan ada perdamaian dunia. Tulisan ini ingin terlibat di dalam membangun dialog antar agama Kristen dan Islam yang sehat dan bermutu tinggi.

Secara khusus, tulisan ini ingin memahami figur Yesus dari dua tradisi, yakni Sufi Islam dan Kristianitas. Di dalam kedua tradisi tersebut, Yesus dilihat sebagai teladan cinta dan welas asih. Ia adalah manusia yang sempurna dalam kesatuannya dengan Allah. Dalam arti ini, Yesus tidaklah hanya milik orang Kristen, tetapi juga milik dari peradaban manusia secara keseluruhan.

Untuk itu, tulisan ini dibagi ke dalam tiga bagian. Awalnya, tulisan ini menjabarkan inti pandangan kaum Sufi Islam tentang Yesus. Lalu, tulisan ini menjelaskan relevansi dari pandangan tersebut untuk perkembangan hidup beragama di abad 21. Tulisan diakhiri dengan kesimpulan. Kerangka dari tulisan ini berpijak pada penelitian Milani, dan penelitian-penelitian penulis sebelumnya.

 

Yesus dan Tradisi Sufi Islam  

Tulisan ini ingin melihat hubungan antara tradisi Sufi Islam dengan figur Yesus yang merupakan figur terpenting di dalam Kristianitas. Inti dari tulisan ini adalah tentang cinta yang merupakan tema utama dari tradisi Sufi Islam, terutama dalam tulisan-tulisan Rumi, maupun Kristianitas. Memang, tema ini tidak dibicarakan secara luas di dalam Qur’an, maupun teks-teks Islam lainnya. Namun, kata ini kiranya kerap disebut sebagai salah satu ciri Allah yang pengampun dan penuh welas asih (bismillahi r-rahmani r-rahim). Di dalam bahasa Arab, cinta dimaknai sebagai Habb, dan di dalam bahasa Persia sebagai Ishq.[3]

Tema cinta, atau welas asih, kata yang lebih tepat, adalah tema terpenting di dalam tradisi Sufi Islam. Yang menjadi obyek welas asih bukanlah manusia, melainkan Allah itu sendiri. Para tokoh Sufi Islam tidak puas hanya dengan mematuhi hukum dan ajaran Islam yang ada. Mereka rindu untuk memeluk dan menyatu dengan Allah. Mereka ingin mengalami kesatuan dengan Allah secara langsung. Inilah tujuan tertinggi di dalam Islam, yakni melebur menyatu dengan Allah.

Wacana tentang sikap welas asih berkembang pertama kali di dalam pemikiran Rabia al-Adawiyya. Ia hidup pada 717 sampai 801. Sejak karya-karyanya tersebar, wacana tentang sikap welas asih pun berkembang di dalam Islam, terutama di kalangan Sufi. Beberapa pemikir Persia lainnya mengikuti arah yang sama. Mereka adalah Fariduddin Attar (1145/6-c.1221), Jalaluddin Rumi (1207-1273) dan Muhyeddin ibn al-‟Arabi (1165-1240).[4]

Para Sufi memahami Yesus yang tertulis di dalam Qur’an. Di dalam Qur’an, nama Yesus disebut sebanyak kurang lebih 25 kali. Ia dianggap sebagai salah satu nabi terbesar, bahkan terbesar kedua setelah Muhammad di dalam tradisi Islam. Yesus disebut sebagai “Yesus anak Maria” (Isa ibn Maryam). Di dalam perjalanannya, Yesus dilahirkan dari seorang perawan, melakukan banyak mukjizat dan menghidupkan orang mati. Yesus juga merupakan tokoh penting di dalam menyebarkan Monoteisme, yakni paham, bahwa hanya ada satu Tuhan di alam semesta.

Namun, tradisi Islam memahami Yesus secara berbeda dengan tradisi Kristianitas. Di dalam Islam, Yesus adalah nabi yang besar. Tidak lebih dan tidak kurang. Ia bukanlah anak Tuhan, atau bagian dari Tritunggal Maha Kudus, sebagaimana dipahami dan dipercaya di dalam Kristianitas. Islam selalu berpijak teguh pada satu ajaran, yakni tawhid. Artinya, Tuhan itu satu, utuh dan tidak memiliki sisi plural sedikitpun.

Bagaimana kaitan antara Yesus dengan kelompok Sufi di dalam tradisi Islam? Bagaimana pemikir Sufi tersebut memahami Yesus? Jika dilihat isi pemikirannya, Yesus memiliki pandangan senada dengan kaum Sufi Islam. Bahkan, beberapa penafsir di dalam tradisi Islam melihat Yesus sebagai “Yesus-Sufi” yang merupakan bagian penting dari tradisi perkembangan Sufi di dalam Islam. Untuk itu kiranya perlu untuk membaca dan menafsir beberapa pemikiran tokoh Sufi di dalam Islam.

Di dalam tradisi Sufi Islam, Yesus adalah tokoh yang penting. Namun haruslah ditekankan, yang dibaca mereka bukanlah Yesus sebagaimana dipahami dalam Kristianitas, melainkan Yesus sebagaimana tertuang di dalam Qur’an. Di dalam tradisi ini, Yesus adalah salah seorang nabi yang penting. Para tokoh Sufi Islam kerap kali mengutip soal Yesus di dalam karya-karya mereka. Ibn al-‟Arabi bahkan menyebut Yesus sebagai “manusia yang sempurna” (insan al-kamil).

Tentu saja, ada kemiripan di dalam tafsiran dua tradisi tersebut. Baik di dalam Islam maupun Kristianitas, Yesus dilihat sebagai perwujudan nyata dari sikap welas asih yang sempurna. Maka, Yesus dilihat sebagai dari kesempurnaan dari kemanusiaan itu sendiri. Di dalam tradisi Sufi Islam, Yesus pun dianggap sebagai simbol dari kemurnian, kesempurnaan dan penyembuhan itu sendiri. Paham ini tersebar luas di dalam beragam tradisi Sufi Islam, mulai dari yang tradisional sampai dengan yang progresif.

Ada dua alasan, mengapa sosok Yesus memiliki pengaruh besar di dalam tradisi Sufi Islam. Pertama, Yesus merupakan salah satu tokoh penting di dalam Qur’an. Ia adalah salah satu nabi terpenting di dalam Islam itu sendiri. Dua, kaum Sufi memiliki niat besar untuk membangun jembatan perdamaian antara Islam dan Kristianitas. Dengan menyentuh figur Yesus, kaum Kristen akan terbuka untuk pembicaraan dengan Islam, guna menyelesaikan beragam masalah politik, mulai dari Perang Salib sampai dengan tata kelola Yerusalem di abad pertengahan.

Ada pula maksud lainnya. Dengan menyentuh figur Yesus, kaum Sufi Islam ingin menyatakan, bahwa agama Islam adalah agama yang lebih baik dari pada Kristianitas. Kaum Sufi adalah kaum yang cukup terbuka pada perbedaan tafsiran. Mereka secara sadar menekuni ajaran lain untuk mencari kelemahannya, dan menariknya kembali ke dalam tafsiran Islam. Mereka juga ingin menyatakan, bahwa tafsiran Islam atas hidup Yesus jauh lebih masuk akal daripada keyakinan orang Kristen itu sendiri pada Yesus.[5]

Dengan bersikap terbuka seperti ini, mereka berharap, agar orang-orang Kristen berpindah ke Islam. Dasar berpikir dari kaum Sufi adalah Islam. Namun, mereka memperluasnya dengan unsur spiritual yang sangat dalam. Ini didapatkannya dari tradisi agama-agama lainnya yang sudah ada, termasuk Hindu, Buddha dan Kristianitas. Dengan cara ini, kaum Sufi berharap untuk menyempurnakan ajaran Islam, sehingga terbuka untuk semua kebudayaan.

Ada kemiripan besar antara inti pemikiran kaum Sufi Islam dengan figur Yesus di dalam tradisi Kristen. Rumi, salah satu tokoh terbesar di dalam tradisi Sufi Islam, tidak hanya banyak mengutip Yesus. Ia juga belajar dari figur Yosep di dalam Injil Kristen. Ini jelas menandakan keterbukaan kaum Sufi Islam terhadap tradisi spiritual yang lain. Ini juga menjadi tanda jelas, bahwa kesadaran mistik (mystical consciousness), yakni kesatuan manusia dengan Tuhannya, adalah pengalaman yang universal melintasi agama dan kebudayaan.

Kaum Sufi Islam juga kerap menyampaikan pikiran mereka melalui puisi. Figur Yesus pun kerap kali muncul di dalam beragam puisi Sufi. Di dalamnya, Yesus dilihat sebagai sosok tertinggi dari perkembangan spiritual manusia. Dalam arti ini, perkembangan spiritual mencapai puncaknya, ketika manusia melebur dengan Tuhan itu sendiri. Di dalam Islam, ini disebut juga sebagai fana wa baqa, atau penyerahan dan perlindungan sepenuhnya hanya kepada Allah.

Yesus dilihat sebagai figur paling penting dalam hal ini. Ia menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Allah, tanpa ada tawar menawar sedikit pun. Bahkan, ia rela disalib atas nama kepasrahannya tersebut. Inilah yang membuat kaum Sufi Islam menjadikan Yesus sebagai salah satu figur terpenting. Namun perlu terus diingat, kaum Sufi melihat Yesus dalam terang ajaran Islam yang berpijak pada Qur’an, dan bukan Yesus sebagai Tuhan, sebagaimana diyakini di dalam Kristianitas.

Di dalam Kristianitas, Yesus diyakini lahir dari seorang perawan bernama Maria. Ia adalah figur penyelamat tidak hanya bagi orang Yahudi, tetapi juga seluruh umat manusia. Yesus menyelamatkan manusia tidak dengan menghancurkan sesuatu, tetapi dengan mengorbankan dirinya. Tiga hal ini, yakni kelahiran dari seorang perawan, figur penyelamat dan pengorbanan, tidak hanya khas Kristianitas. Di dalam tradisi yang lebih tua, seperti Zoroastrianisme dan Mithraisme, hal yang sama juga ditemukan. Ketiga ide ini bisa juga disebut sebagai ide-ide universal keagamaan.

Di dalam Islam, Muhammad juga dilihat di dalam pandangan serupa. Ia adalah berkah tidak hanya untuk umat Islam, tetapi juga untuk semua manusia. Maka dari itu, Islam dilihat tidak sebagai agama yang sempit, tetapi sebagai agama yang terbuka untuk semua. Bisa juga dibilang, bahwa Muhammad menempati peran utama di dalam Islam, sama seperti Yesus di dalam Kristianitas. Keduanya dianggap sebagai manusia yang memiliki karunia khusus di hadapan Tuhannya.

Tradisi berkorban juga kental di dalam Sufi Islam. Orang mengorbankan dirinya demi satu misi keagamaan tertentu, yakni demi imannya. Yesus jelas merupakan contoh nyata soal ini. Di dalam Islam, Hussein dan Imams Ali juga merupakan contoh yang jelas. Kematian mereka dianggap sebagai kematian suci yang kemudian dihormati juga sebagai peristiwa suci, sama seperti kematian Yesus diperingati sebagai peristiwa suci di dalam Kristianitas.

Kaum Sufi Islam memang tidak memberikan penekanan pada hukum-hukum moral semata. Mereka ingin menyentuh unsur terdalam dari Islam, yakni peleburan diri seutuhnya dengan Allah. Inilah yang juga disebut sebagai unsur mistik di dalam Islam. Kaum Sufi Islam yakin, bahwa pewahyuan Islam tidak terbatas pada hukum moral dan ritual keagamaan semata, tetapi berlanjut terus untuk menerangi hidup manusia yang semakin kompleks. Hukum-hukum moral pun harus terus ditafsir ulang dengan mengacu pada kehidupan manusia yang semakin kompleks tersebut.

Cara berpikir kaum Sufi juga mengalami tantangan dari kaum konservatif Islam di jamannya. Mereka ingin menjaga “keaslian” ajaran Islam, sehingga tidak tercampur dengan ajaran-ajaran lainnya. Sementara, kaum Sufi merasa, bahwa ajaran Islam harus terus berkembang untuk mewujudkan tujuannya, yakni melebur dengan Allah. Beberapa tokoh di dalam tradisi Sufi Islam, seperti Hallaj, Rumi dan Ibnu Arabi, menjadikan figur Yesus sebagai teladan di dalam peleburan dengan Allah tersebut. Rumi bahkan bergerak lebih jauh dengan menjadikan Yesus sebagai figur roh yang mengantarkan manusia pada kesempurnaan dan kesatuan dengan Allah.

Pendek kata, di mata kaum Sufi Islam, Yesus adalah seorang Sufi teladan. Di dalam tafsiran Islam tradisional, Yesus hanyalah manusia biasa. Sementara, di dalam Kristianitas, Yesus adalah Tuhan yang mengambil rupa manusia. Ia datang untuk menyelamatkan manusia. Kaum Sufi mengambil titik tengah dari dua pandangan tersebut.

Yesus, dari kaca mata kaum Sufi, adalah contoh hidup orang yang telah melampaui nafsu-nafsu bawahnya, yakni nafsu buta untuk mendapatkan kenikmatan. “Nafas Yesus”, demikian tulis salah satu tokoh Sufi Islam, “menciptakan fajar, sehingga dunia bangun dari tidurnya.”[6] Yesus dianggap sebagai wujud dari kemurnian dan kesempurnaan manusia. Ia menempati peran penting di dalam perkembangan Islam itu sendiri. Tentu saja, ini mengundang perdebatan di kalangan Islam, terutama kelompok di luar Sufi.

Qur’an menyatakan dengan tegas, bahwa Yesus memang dilahirkan dari seorang perawan. Ia adalah anak dari Maryam, atau Maria. Namun, Qur’an tidak menyatakan apapun tentang sisi Ilahi dari Yesus. Artinya, Yesus tidak dikenali sebagai anak Tuhan, sebagaimana dinyatakan oleh Kristianitas. Ia tidak melepaskan keyakinan umat Islam, bahwa Yesus merupakan manusia yang istimewa, karena ia merupakan figur nyata dari cinta dan kemurnian seorang manusia.

Di dalam tradisi Sufi Islam, kisah hidup Yesus adalah bentuk nyata dari cinta dan welas asih itu sendiri. Ia menjadi figur teladan tentang apa artinya menjadi cinta, dan bukan hanya mencintai seseorang, atau sesuatu. Dengan perjalanan hidupnya, juga dinyatakan di dalam Qur’an, Yesus lalu diangkat ke Surga. Ia menjadi mulia, karena hidupnya penuh teladan cinta dan pengorbanan, sehingga lalu mendapat sentuhan langsung dari Allah untuk menuju surga.

Di dalam tradisi Sufi Islam, hidup, penderitaan, pengorbanan dan kebangkitan Yesus memiliki tempat istimewa. Semuanya dilihat sebagai contoh dari apa artinya menjadi cinta dan welas asih yang murni itu sendiri. Disini, kaum Sufi tidak secara harafiah membaca Qur’an yang melihat, bahwa penderitaan dan kebangkitan Yesus tidak pernah terjadi. Kaum Sufi Islam melihat, bahwa derita dan kebangkitan Yesus adalah simbol dari fakta, bahwa jiwa manusia yang diciptakan Tuhan tidak akan pernah bisa dihancurkan dengan kekerasan. Tubuh bisa rusak. Namun, jiwa itu abadi.

Para pemikir di dalam tradisi Sufi Islam adalah orang-orang terpelajar. Kebanyakan dari mereka adalah ahli Teologi dan Hukum Islam. Ini membuat mereka terbuka terhadap dialog dengan agama dan peradaban lain, terutama Kristianitas. Mereka juga berusaha menerjemahkan Teologi dan Hukum Islam kepada masyarakat luas dalam bentuk ajaran-ajaran praktis. Mereka juga pandai menarik kaitan dan relevansi ajaran Islam di dalam jaman yang terus berubah.

Seperti sudah sedikit disinggung, kaum Sufi Islam mengembangkan ide tentang manusia yang sempurna di hadapan Allah. Ini adalah manusia yang menjadi teladan kesatuan dan peleburan yang sempurna dengan Allah. Yesus dianggap sebagai contoh hidup dari manusia sempurna semacam ini. Ini merupakan upaya kaum Sufi Islam untuk menyesuaikan diri dengan salah satu ajaran utama di dalam Kristianitas, bahwa Yesus merupakan Anak Allah. Ide ini juga amat penting, guna membangun dialog perdamaian yang amat dibutuhkan di abad pertengahan.

Rumi juga mengembangkan ide ini di dalam karya-karyanya. Bagi Rumi, figur manusia sempurna, seperti Yesus, tidak terjebak pada hukum dan tradisi. Ia berada di tingkat mistik yang tak terjangkau oleh semata rumusan teologi maupun hukum agama. Di ranah inilah Rumi mengekspresikan imannya. Lebih jauh, Rumi mengembangkan ide tentang kesempurnaan dari kemanusiaan (perfection of humanity). Manusia semacam ini, Yesus termasuk di dalamnya, merupakan ekspresi yang paling sempurna dari kemuliaan Allah. Ia memiliki unsur kesadaran dan kecerdasan Ilahi di dalam dirinya.

Perlu ditekankan, konsep manusia sempurna (Arabi) dan kesempurnaan kemanusiaan (Rumi) tidaklah hanya dimiliki oleh Yesus. Banyak figur di dalam sejarah manusia yang sudah mencapai tingkat yang sama. Ini adalah kondisi batin yang bersifat universal, yang bisa dicapai oleh semua manusia, asal ia melakukan hal-hal yang perlu dilakukan. Ia melepaskan semua egonya, supaya bisa melebur sepenuhnya dengan Allah. Ini kiranya perbedaan mendasar pandangan kaum Sufi Islam dan Kristianitas tentang Yesus.

Pada masanya, Rumi juga memahami ajaran-ajaran dasar Kristianitas. Timur Tengah merupakan tempat yang amat majemuk pada masa itu. Berbagai agama hidup berdampingan secara damai. Akibat dari latar belakangnya yang amat majemuk, Rumi lalu melihat Islam sebagai agama universal yang menaungi semuanya. Sebagai agama, Islam menampung tradisi Yahudi dan Kristianitas, sekaligus melampaui keduanya.

Namun, ia juga tak pernah menyembunyikan kekagumannya pada sosok Yesus. Rumi melihat Yesus sebagai seorang penyembuh. Ia menyembuhkan orang dengan kekuatannya yang muncul dari kedekatannya kepada Allah. Yesus adalah manusia yang sepenuhnya bergantung pada kehendak Allah. Ia tidak punya tempat tinggal yang tetap, melainkan bergerak seturut dengan kehendak Allah itu sendiri.

Ia tidak punya kepentingan diri maupun kesombongan pribadi. Ini kiranya sejalan dengan nilai-nilai dasar Islam, yakni kemanusiaan dan kerendahan hati (ihsan). Ini semua menjadi mungkin, karena Yesus memiliki roh Allah itu sendiri. Roh Allah inilah yang memungkinkannya melakukan banyak keajaiban, termasuk menyembuhkan banyak orang dari sakitnya. Bagi Rumi, dan juga banyak kaum Sufi Islam pada umumnya, kisah tentang Yesus bukanlah metafor semata, melainkan sungguh terjadi di dalam kenyataan.

Ibnu al-Arabi juga berpendapat serupa. Sebagai anak dari Maria (Maryam), Yesus adalah sepenuhnya manusia yang lahir dan hidup di dunia. Namun, sebagai orang yang mampu menyembuhkan, bahkan membangkitkan orang mati, Yesus adalah figur dari Roh Allah itu sendiri. Al-Arabi bahkan lebih jauh menyatakan, bahwa Yesus adalah nafas Allah itu sendiri. Kaum Sufi Islam memang melihat Yesus lebih dari sekedar figur di dalam Al-Qur’an, seperti kaum Ortodoks Islam. Yesus adalah sosok manusia yang mampu mengubah manusia lainnya ke jalan Allah.

Jelas sekali, bahwa kaum Sufi Islam melihat Yesus sebagai sosok yang amat mulia dan luhur. Namun, itu bukan karena Yesus adalah Tuhan, seperti yang diyakini Kristianitas. Orang biasa bisa mencapai tingkat keluhuran Yesus, asal mereka bersedia menekuni jalan hidup penuh cinta dan pengorbanan. Rumi juga kerap menyebut Yusuf sebagai salah satu tokoh yang patut dihormati. Mereka dianggap sebagai contoh hidup bagi kaum Sufi, walaupun berada di luar tradisi Islam.

Kaum Sufi Islam juga melihat, bahwa proses kematian dan kebangkitan Yesus sebagai sesuatu yang patut untuk dipelajari. Ide ini sebenarnya tidak khas Kristianitas, melainkan sudah tertanam di dalam banyak tradisi Asia, seperti Vedanta dan Buddhisme. Kaum Sufi Islam menafsir ide kematian dan kebangkitan Yesus sebagai kematian dan kebangkitan diri manusia itu sendiri. Yang mati adalah diri penuh nafsu dan kebencian. Yang bangkit adalah diri yang penuh cinta, yang sepenuhnya berserah pada Allah.

Ide ini berkembang di dalam pandangan fana wa baqa, yakni keberserahan sempurna manusia pada kehendak Allah. Tidak ada diri pribadi dengan segala nafsu dan kepentingannya. Orang lalu melebur seutuhnya dengan Allah. Di dalam tradisi Islam, ini disebut juga sebagai tawhid, yakni kesatuan utuh dengan Allah. Kepribadian melebur sepenuhnya ke dalam Allah, sehingga kemanusiaan lalu menjadi satu dengan ke-Ilahian.

Ini berpijak pada salah satu ajaran dasar Islam, bahwa ada keterpisahan antara Allah dengan ciptaan-Nya. Ajaran ini mengakar erat tidak hanya di dalam Islam, tetapi juga di dalam Kristianitas dan ajaran Yahudi. Pelanggaran atas ajaran ini bisa mengakibatkan hukuman mati. Yesus mengalami hal ini, ketika ia berkata, bahwa dialah jalan kebenaran dan kehidupan. Hanya Tuhan yang memiliki unsur Ilahi. Manusia tidak.

Al-Hallaj juga mengalami kejadian serupa. Ia menyatakan ana’l haqq. Artinya, aku adalah kebenaran yang absolut. Oleh karena itu, ia kemudian mengalami penghukuman. Memang, secara umum, kaum Sufi Islam ingin melampaui pembedaan antara Allah dan manusia. Ini merupakan tujuan tertinggi di dalam tradisi Sufi Islam.

Rumi dan Bayazid mengembangkan pandangan serupa. Allah dan manusia itu bagaikan laut dan tetesan air. Keduanya berbeda, namun dengan mudah melebur menjadi satu. Ketika tetesan air menyatu dengan laut, tak ada jejak lagi. Bayazid menceritakan pengalamannya sendiri.

Ketika ia mengalami trans, dirinya lenyap tanpa jejak. Bahkan, ketika beberapa temannya datang, ia tak lagi dapat dikenali. Ia telah melenyapkan semua identitas pribadinya. Ia adalah tetesan air yang telah hanyut ke dalam laut. Ia adalah manusia yang telah hanyut sepenuhnya ke dalam pelukan yang Ilahi.

Pengalaman melebur ini bisa juga disebut sebagai pengalaman mistik.[7] Yesus adalah figur nyata tentang hal ini di dalam Kristianitas. Di dalam tradisi Sufi Islam, al-Hallaj mengambil jalan serupa. Namun, keduanya mengalami penghukuman dari kaum yang lebih tradisional. Keduanya adalah korban dari politik busuk yang berkembang di jaman mereka masing-masing.

Jelaslah, bahwa kaum Sufi Islam melihat Yesus sebagai figur penting mereka. Ini berlaku untuk dua tradisi, yakni Islam dan Kristianitas. Di dalam Islam, Yesus sekaligus dilihat sebagai nabi yang penting, dan juga sebagai penyelamat. Di dalam Kristianitas, Yesus dilihat sebagai Kristus sekaligus putra Tuhan. Dengan berpijak pada tradisi Islam, kaum Sufi Islam melihat Yesus sebagai contoh nyata dari manusia yang telah melebur seutuhnya dengan Allah.

Ide yang amat penting di dalam seluruh wacana ini adalah soal cinta dan welas asih. Dalam hal ini, keduanya adalah sebuah proses kreatif. Ia mencipta dan merawat. Ia terwujud nyata di dalam manusia yang sempurna. Manusia sempurna melebur ke dalam cinta dan welas asih, yang berarti juga melebur dengan Allah itu sendiri.

Dalam arti ini, Yesus adalah bagian dari kaum Sufi Islam itu sendiri. Ia juga disebut sebagai Sufi-Yesus. Ia hidup diselimuti cinta, dan mati juga karena cintanya. Cinta, dalam arti ini, adalah pengorbanan sepenuhnya. Tak ada pamrih. Tak ada kepentingan tersembunyi.

 

Beberapa Relevansi

Ada beberapa hal yang kiranya penting untuk diperhatikan. Pertama, Yesus dan Kaum Sufi Islam mengajarkan tentang pentingnya mencintai secara sempurna. Cinta semacam ini diarahkan kepada Tuhan secara utuh dan penuh. Diri lalu melebur sepenuhnya menjadi cinta kepada Tuhan. Keadaan batin semacam ini adalah puncak tertinggi dari spiritualitas Kristen maupun Islam.

Dua, dari pemaparan di atas dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa agama-agama Abrahamik, terutama Kristen dan Islam, memiliki akar yang sama. Keduanya, bersama dengan agama Yahudi, memiliki ajaran dan pola yang serupa. Cinta dalam bentuk peleburan kepada Tuhanlah yang menjadi ajaran tertinggi. Konflik dan perang atas nama agama, sesungguhnya, sama sekali tidak punya dasar. Ini hanya merupakan taktik penguasa busuk untuk mencari pembenaran agamis bagi tindakan kotornya.[8]

Tiga, pola yang sama tidak hanya terjadi di dalam agama-agama Abrahamik. Agama-agama Dharma, yakni Hindu, Buddha dan Taoisme, ternyata juga memiliki pola serupa. Sikap batin melebur ke dalam Cinta dan Tuhan adalah ciri universal dari tingkat tertinggi agama-agama. Orang melepaskan ego dan semua kepentingan diri, sehingga bisa kembali menyatu dengan semesta, dan juga dengan Tuhannya. Dalam arti ini, semua hukum dan ritual keagamaan tidaklah dilihat sebagai tujuan utama, melainkan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan penyatuan kembali tersebut.

Empat, semua ini bisa menjadi pijakan kokoh untuk dialog antar agama. Jika kesamaan jauh lebih banyak dan dalam, daripada perbedaan, lalu mengapa konflik terjadi? Agama-agama dunia hanya perlu bersikap lebih kritis pada politisi busuk yang mencoba menghancurkan perdamaian dengan menggunakan agama. Ini juga dibarengi dengan membangun sistem kehidupan sosial yang adil dan makmur untuk semua. Langkah-langkah ini bisa amat memperkecil peluang terjadinya konflik antar agama, radikalisme maupun terorisme.

Lima, kiranya, semua bentuk pendidikan agama harus kembali berfokus pada yang terpenting. Melebur menjadi satu dengan Cinta dan Tuhan harus menjadi inti dari pendidikan semua agama di Indonesia. Hukum dan ritual keagamaan juga ditempatkan tidak sebagai yang utama secara mutlak. Keduanya perlu dilihat sebagai jalan untuk mencapai tujuan utama tersebut. Pendidikan agama pun tidak lagi terjebak pada formalisme dangkal, melainkan mengajarkan inti yang terpenting.

 

Kesimpulan

Yesus memang bukan hanya milik orang Kristen. Ia adalah milik dari peradaban manusia. Kaum Sufi Islam melihat Yesus sebagai teladan yang sempurna. Yesus adalah sosok yang melebur ke dalam cinta dan welas asih. Ia melebur sempurna ke dalam Tuhan itu sendiri. Pandangan ini bukan hanya milik Kristianitas dan Islam, melainkan milik agama-agama besar dunia. Ia harus menjadi pijakan utama pendidikan dan hidup beragama. Pandangan ini juga harus menjadi dasar utama bagi dialog antar agama. Hanya dengan dialog antar agama yang bermutu, perdamaian antar agama bisa terwujud. Inilah kunci penting untuk perdamaian dunia di abad 21 ini.[9]

Daftar Acuan

Cragg, Kenneth. 1985. Jesus and the Muslim: An Exploration. London: Allen & Unwin.

Milani, Milad. 2011. “Representations of Jesus in Islamic Mysticism: Defining the „Sufi Jesus‟.” Literature & Aesthetics 21 (2) December 2011.

Nurbakhsh, Javad. 1992. Jesus in the Eyes of the Sufis. London.

Reza A.A Wattimena, Anak Agung Banyu Perwita. 2019. Memahami Hubungan Internasional Kontemporer. Jakarta: Salemba Humanika.

Wattimena, Reza A.A. 2018. Dengarkanlah: Pandangan Hidup Timur, Zen dan Jalan Pembebasan. Jakarta: Karaniya.

—. 2018. Mencari Ke Dalam: Zen dan Hidup yang Meditatif. Jakarta: Karaniya.

Wattimena, Reza A.A. 2020. “Tentang Welas Asih yang Melampaui Keadilan: Hubungan antara Gautama Buddha dan Yesus.” Rumah Filsafat.

—. 2020. Untuk Mereka yang Beragama: Agama dalam Pelukan Filsafat, Politik dan Spiritualitas. Kanisius.

 

 

 

 

 

 

 

[1] Lihat (Wattimena, Untuk Mereka yang Beragama: Agama dalam Pelukan Filsafat, Politik dan Spiritualitas 2020)

[2] (Wattimena, Tentang Welas Asih yang Melampaui Keadilan: Hubungan antara Gautama Buddha dan Yesus 2020)

[3] Saya mengacu pada kerangka yang dibuat oleh (Milani 2011)

[4] Ibid.

[5] Lihat (Cragg 1985)

[6] (Nurbakhsh 1992)

[7] Lihat (Wattimena, Dengarkanlah: Pandangan Hidup Timur, Zen dan Jalan Pembebasan 2018) dan (Wattimena, Mencari Ke Dalam: Zen dan Hidup yang Meditatif 2018)

[8] Lihat (Wattimena, Untuk Mereka yang Beragama: Agama dalam Pelukan Filsafat, Politik dan Spiritualitas 2020)

[9] Lihat (Reza A.A Wattimena 2019)

Versi PDF bisa dilihat disini Jurnal Reza, Yesus dan Tradisi Sufi dalam Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.