Mari Mengejar Kenikmatan

Conspirators of Pleasure, Jan Svankmajer

Oleh Reza A.A Wattimena

Setiap jengkal kehidupan di alam semesta ini selalu mencari kebahagiaan, dan menghindari penderitaan. Begitulah fakta semesta yang tak bisa dibantah. Salah satu unsur pembentuk kebahagiaan adalah kenikmatan. Maka, ia tak bisa dilangkahi begitu saja.

Di dalam hidup, kita harus mencari kenikmatan. Makanan yang nikmat akan membuat kita merasa segar. Tidur yang nikmat akan mengisi tenaga kita kembali. Persahabatan dan percintaan yang nikmat akan mengisi hidup kita dengan warna warni keindahan.     Lanjutkan membaca Mari Mengejar Kenikmatan

Gosip Politik, Politik Gosip

Saatchi Art

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Ditemani kopi dan asap rokok, orang seringkali menikmati diskusi politik. Namun, yang seringkali terjadi bukanlah diskusi politik, melainkan membicarakan gosip politik. Diskusi berpijak pada nalar sehat, teori dan data yang terpercaya. Sementara, gosip tak terarah, dan lebih suka mencari sensasi, daripada pengetahuan.

Seperti kita semua tahu, di 2018 dan 2019 ini, Indonesia memasuki tahun politik. Beberapa daerah secara langsung melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah. Tahun 2019 nanti, Pemilihan Anggota Legislatif (DPR) dan Pemilihan Presiden baru akan dilangsungkan. Di dalam keadaan ini, gosip politik menyebar begitu cepat dan begitu dasyat. Lanjutkan membaca Gosip Politik, Politik Gosip

Misteri Diri

Manu Pombrol

Oleh Reza A.A Wattimena

Apakah anda sadar, bahwa anda sedang membaca tulisan ini? Apakah anda sedang minum atau makan sesuatu? Apakah anda menyadarinya? Apakah anda menyadari suara-suara di sekitar anda?

Lalu, siapakah “anda” yang menyadari semuanya itu? Yang jelas, anda bukanlah nama, agama, ras ataupun etnis anda. Itu semua tempelan sosial yang bisa diubah, seturut kehendak anda. Di titik ini, kita memasuki salah satu tema yang paling menarik di dalam ilmu pengetahuan dan filsafat, yakni pertanyaan tentang “diri”. Lanjutkan membaca Misteri Diri

Seminar: Mengenal Diri

Tempat: 

Wihara Ekayana Arama
Jalan Mangga II No. 8, Tanjung Duren Barat, RT.8/RW.8, Duri Kepa, Kebon Jeruk, RT.8/RW.8, Duri Kepa, Kb. Jeruk, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11510
(021) 5687921
https://goo.gl/maps/ht4BmExN1YR2
 

Masyarakat “Mata Keranjang”

Saatchi Art

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Kita hidup di masyarakat “mata keranjang”. Di dalam masyarakat semacam ini, segala hal dikaitkan dengan seksualitas, tepatnya dengan hubungan seks. Tubuh perempuan terbuka sedikit, pikiran banyak orang langsung ke arah seks. Tubuh pria kekar sedikit, pikiran mereka pun langsung tertarik secara seksual.

Tak heran, di masyarakat semacam ini, banyak mata keranjang dan hidung belang. Ini adalah julukan bagi orang-orang yang suka melihat orang lain secara seksual. Ia hanya ingin menggunakan orang lain untuk kenikmatan dirinya, tanpa peduli pada harkat dan martabat orang lain sebagai manusia. Tak heran pula, di masyarakat semacam ini, pemerkosaan dan pelecehan seksual menjadi salah satu tindak kriminal yang paling banyak terjadi. Lanjutkan membaca Masyarakat “Mata Keranjang”

Hakuna Matata

Igor Morski

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Setiap orang pasti ingin bahagia. Mereka ingin hidup mewah, ketika berusia muda, kaya raya, ketika berusia tua, dan masuk surga, ketika waktu kematian tiba. Paham tentang kebahagiaan pun beragam, mulai dari kebahagiaan material sampai dengan kebahagiaan spiritual. Agama dan budaya di berbagai tempat juga menawarkan beragam jalan menuju kebahagiaan, seturut dengan versinya masing-masing.

Walaupun begitu, kebahagiaan seringkali hanya merupakan sebentuk perasaan yang rapuh. Ia cepat datang, dan juga cepat pergi. Kebahagiaan lalu diselingi dengan saat-saat penderitaan. Hidup menjadi tidak seimbang dan melelahkan.

Banyak orang pun bertanya, bagaimana manusia bisa mencapai kebahagiaan yang stabil? Bagaimana menciptakan kebahagiaan yang tak rapuh ditelan oleh perubahan? Saya sudah mempelajari berbagai cara untuk menjawab pertanyaan ini. Namun, pada hemat saya, jalan ilmu pengetahuan modern adalah jalan yang paling cocok untuk menjawab pertanyaan tersebut. Lanjutkan membaca Hakuna Matata

Melampaui Formalisme Agama

Losing My Religion by Darwin Leon

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Formalisme agama mungkin adalah virus sosial yang paling mematikan di dunia sekarang ini. Dalam arti ini, formalisme agama adalah pemahaman beragama yang terjebak pada bentuk (form) semata, seperti ritual dan aturan-aturan yang sudah ketinggalan jaman. Orang lalu sibuk mengikuti aturan berdoa dan aturan moral yang dibuat ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu, tanpa paham isi dan tujuan sebenarnya. Ia lalu cenderung untuk tidak toleran terhadap perbedaan, bersikap fanatik dan radikal.

Akar Formalisme Agama

Formalisme agama berakar pada setidaknya lima hal. Pertama, ia berakar pada kesalahpahaman tentang makna iman dan agama. Semua ajaran agama selalu lahir dalam keadaan jaman tertentu. Jika ingin diterapkan di jaman yang berbeda, ia membutuhkan penafsiran lebih jauh yang berpijak pada pemahaman akal sehat, serta hati nurani yang bersih. Formalisme agama persis mengabaikan hal ini. Lanjutkan membaca Melampaui Formalisme Agama

Jangan Mengejar Bayangan

Craig Cree Stone

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Apakah anda tahu salah satu lagu dari Anggun C. Sasmi yang berjudul Bayang-bayang Ilusi? Begini bunyi liriknya, “Haruskah ku hidup dalam angan anggan. Meregu ribuan impian. Haruskah ku lari dan terus berlari. Kejar bayang-bayang ilusi. Bayangan ilusi. Hanya fantasi. Bayangan ilusi.”

Lagu ini pernah menjadi hits di Indonesia pada awal tahun 1990-an lalu. Saya tergoda untuk menanggapi pertanyaan di lagu tersebut. Haruskah kita hidup dalam angan-angan dan bayangan ilusi? Jawabannya jelas: tidak. Lanjutkan membaca Jangan Mengejar Bayangan

Informasi, Pengetahuan dan Kebijaksanaan di Masa Revolusi Industri Keempat

Pinterest | Bonito

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Kita hidup di abad informasi. Setiap detiknya, jutaan informasi baru timbul mengisi keseharian kita. Informasi begitu mudah didapat. Semua ini menjadi mungkin, karena perkembangan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi yang amat cepat.

Revolusi Industri Keempat

Kita juga hidup di jaman revolusi industri yang keempat. Sekedar informasi, revolusi industri pertama dipicu dengan penemuan mesin uap dan air untuk menggerakkan mesin produksi. Revolusi industri kedua dimulai dengan penggunaan energi listrik untuk mendorong mesin produksi. Revolusi industri ketiga didorong oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di dalam proses produksi. Lanjutkan membaca Informasi, Pengetahuan dan Kebijaksanaan di Masa Revolusi Industri Keempat

Bagaikan Tidur Sambil Berjalan

Jake Baddeley

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Saya sedang membaca buku. Tiba-tiba, saya teringat, bahwa saya belum membayar tagihan listrik. Saya pun mengambil telepon seluler untuk mentransfer uang. Ternyata, banyak pesan di media sosial yang saya punya. Akhirnya, saya hanyut di dalam media sosial tersebut.

Ketika melihat sebuah foto di media sosial, saya teringat sebuah kejadian di masa lalu. Di dalam kejadian itu, saya bersama mantan kekasih saya. Kini, kami sudah berpisah. Saya pun bertanya-tanya tentang kabarnya.

Tiba-tiba, terdengar suara tukang nasi goreng lewat. Perut tiba-tiba terasa lapar, padahal saya sudah makan. Konsep nasi goreng kini memenuhi pikiran saya. Tapi tunggu dulu, saya kan sedang diet?!

Apakah anda pernah mengalami hal tersebut? Pikiran melompat dari satu hal ke hal lainnya, tanpa jarak dan tanpa sadar. Satu hal belum selesai, hal lain sudah berdatangan. Tenang saja, anda tak sendiri. Saya, dan milyaran orang lainnya, juga sering mengalaminya. Lanjutkan membaca Bagaikan Tidur Sambil Berjalan

Stoa dan Zen untuk Hidup Kita

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Dua aliran berpikir kuno ini, yakni Zen dan Stoa, hendak menemukan akar dari segala penderitaan manusia, dan mencabutnya. Amat menarik bukan? Tidak hanya menarik, namun hal ini juga amatlah penting. Jutaan, bahkan milyaran orang, didera penderitaan, tanpa bisa menemukan jalan keluar, sehingga berulang kali berpikir untuk menghabisi nyawa sendiri.

“Tidaklah mungkin mendamaikan kebahagiaan di satu sisi, dan keinginan untuk mendapatkan apa yang tidak ada sekarang ini di sisi lain,” begitu kata Epictetus, pemikir Stoa yang hidup sekitar 2100 tahun yang lalu di Kekaisaran Romawi. Aliran Stoa berkembang dari kumpulan pemikir yang sering berdiskusi di pasar kota Athena, atau agora. Di sini, orang tidak hanya membeli dan berdagang, tetapi juga saling berdiskusi tentang beragam hal, mulai dari karya seni, politik sampai dengan filsafat. Para pemikir Stoa berkumpul di dekat pilar di Agora yang dikenal dengan nama pilar Stoa. Lanjutkan membaca Stoa dan Zen untuk Hidup Kita

“Banjir”

Saatchi Art

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Apapun yang berlebihan, pasti tak akan mampu diolah, dan menjadi dangkal. Itulah kiranya yang melanda jaman kita. Hal-hal yang dangkal bertambah banyak, dan banjir. Sementara, hal-hal yang mendalam dan sejati justru semakin jarang. Di Indonesia, kita tak hanya mengalami banjir fisik, ketika hujan tiba, tetapi juga banjir kedangkalan.

Banjir

Sampai 2018 ini, sudah 7 miliar manusia hidup di dunia. Gaya hidup mereka boros dan merusak alam. Tak ada upaya yang jelas untuk mengatur jumlah populasi, sehingga terciptalah “banjir manusia”. Jika diteruskan, bumi ini tak akan mampu menampung manusia dengan gaya hidupnya yang merusak. Lanjutkan membaca “Banjir”

Anti-Politik: Politik yang Tercabut

café babylon

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Mengapa kita begitu sering menyaksikan kebodohan di bidang politik? Seorang tokoh partai tertentu mengeluarkan pernyataan bodoh, tanpa pertimbangan terlebih dahulu. Seorang wakil rakyat mengeluarkan pernyataan yang jauh dari nalar sehat dan hati nurani yang jernih. Seorang calon gubernur bersikap kasar terhadap rakyat sipil, tanpa alasan yang bisa diterima dengan akal sehat.

Hal yang sama juga terjadi dalam soal pembuatan kebijakan. Seorang gubernur yang tunduk pada tekanan preman-preman berbaju agama yang dulu mendukungnya dalam pilkada. Seorang wakil gubernur yang terus saja mengeluarkan pernyataan-pernyataan bodoh, layaknya badut politik tanpa pendidikan. Ini semua seolah menjadi hiburan-hiburan yang tak mendidik, layaknya sinetron murahan di televisi swasta.

Baru-baru ini, kita juga menerima kabar, bahwa ada persekongkolan pengacara, dokter dan wakil rakyat untuk menipu rakyat dalam soal korupsi. Racun kebodohan politik kini juga menyebar ke profesi-profesi luhur yang seharusnya melayani kepentingan masyarakat luas. Jika tak ada upaya perbaikan, racun politik ini akan terus menyebar ke beragam unsur kehidupan bersama. Apa yang sebenarnya terjadi? Lanjutkan membaca Anti-Politik: Politik yang Tercabut

Kesehatan: Sebuah Pemahaman Menyeluruh

Marco Santos

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Semua orang ingin sehat. Mereka berdoa dan berharap, supaya Tuhan memberikan mereka kesehatan. Orang-orang yang tidak percaya Tuhan pun juga ingin sehat. Beragam cara dilakukan, supaya kesehatan bisa terjaga, sampai kematian datang menjemput.

Namun, apa itu kesehatan? Kesehatan adalah keseimbangan. Manusia yang sehat adalah manusia yang seimbang. Jika semua unsur di dalam diri seimbang, mulai dari fisik, mental sampai dengan spiritual, maka kesehatan akan secara alami tercipta. Lanjutkan membaca Kesehatan: Sebuah Pemahaman Menyeluruh

Kebebasan dan Empati

Abed Alem

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita ingin menjadi manusia bebas. Kita ingin bisa membuat keputusan kita sendiri terkait dengan hidup yang kita jalani. Kita ingin bisa berpikir bebas. Kita ingin bisa bertindak bebas, seturut dengan pilihan yang kita buat.

Kita ingin bisa memilih hobi yang ingin kita tekuni. Kita ingin bisa memilih orang yang kita cintai. Kita juga ingin bisa memilih agama yang kita anut. Namun, kebebasan juga memiliki banyak tantangan. Lanjutkan membaca Kebebasan dan Empati

“Perhatian” di 2018

Oleh Reza A.A Wattimena

Perhatian sudah menjadi barang langka sekarang ini. Begitu banyak gangguan menghantam pikiran kita setiap detiknya.

Serial film di televisi yang kita nantikan. Musik baru yang sedang hits. Gosip artis terbaru. Ini semua ditambah dengan beragamnya tawaran hiburan yang ditawarkan internet dan sosial media yang ada.

Itu semua dari luar. Ada juga gangguan dari dalam diri kita sendiri. Mereka adalah emosi, ketakutan, kecemasan, amarah, dendam, ambisi buta, kerakusan, iri hati dan sebagainya. Pikiran kita pun seringkali menipu kita dengan beragam cerita yang tak sesuai kenyataan. Lanjutkan membaca “Perhatian” di 2018

Membina Hubungan di Era Sosial Media

Key of Love, Vladimir Kush

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Mempunyai hubungan dengan orang lain adalah dorongan alami setiap manusia. Bagaimana pun, kita adalah mahluk sosial. Kita butuh orang lain tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga kebutuhan batin kita akan afeksi. Kerinduan untuk merasa dekat dengan orang lain merupakan salah satu dorongan paling alami sekaligus paling kuat di dalam diri manusia.

Pernikahan merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Di dalam sejarah, pernikahan dilihat sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan keadaan ekonomi sebuah keluarga. Pernikahan juga bisa dilihat sebagai upaya untuk naik status di mata masyarakat, terutama pernikahan dengan keluarga bangsawan atau kaya raya. Pola pikir semacam ini masih banyak tersebar di masyarakat kita. Lanjutkan membaca Membina Hubungan di Era Sosial Media

Artikel Jurnal Ilmiah Terbaru: Critical Analysis on Barry Buzan’s Interpretation of the English School

Critical Analysis on Barry Buzan’s Interpretation of the English School: Perspective of Cosmopolitanism Theory in International Relations

by
Reza A.A Wattimena
Independent Researcher

Diterbitkan di  VOL 11, NO 2 (2017): JURNAL GLOBAL & STRATEGIS, Universitas Airlangga Surabaya

Abstract
English School provides various concepts and methods to understand the contemporary international relations between international entities. The three basic concepts are international system, international society and world society. In his book, Barry Buzan offers his interpretation of the epistemological framework of English School, especially the concept of international society. This writing describes shortly his interpretation and offers critical remarks from the perspective of cosmopolitanism theory, namely the view to see human not just as a member of a certain community, but also as the member of the universe. There are two basic critical remarks on Buzan’s interpretation. The first is anthropocentrism, namely the view that puts human as the (self-appointed) most important creature in the universe. The second is epistemological misunderstanding of classical European philosophy, especially Thomas Hobbes and Niccolo Machiavelli, on the concept of natural condition of human that will inspire the basic notion of classical realism in international system. The basic purpose of this writing is to enrich methodological debate in International Relations as multidisciplinary science.

Keywords: English School, International Relations, International Society, Cosmopolitanism, International System, World Society

Abstrak
English School menyediakan berbagai konsep dan metode untuk memahami hubungan internasional kontemporer di antara berbagai entitas internasional. Tiga konsep dasarnya adalah sistem internasional, masyarakat internasional dan masyarakat dunia. Dalam bukunya, Barry Buzan menawarkan interpretasinya tentang kerangka epistemologis English School , terutama konsep masyarakat internasional. Tulisan ini menjelaskan penafsiran Buzan dan menawarkan pemikiran kritisnya dari perspektif teori kosmopolitanisme, yaitu pandangan yang melihat manusia tidak hanya sebagai anggota komunitas tertentu, tetapi juga sebagai anggota semesta. Terdapat dua dasar pandangan kritis tentang penafsiran Buzan. Pertama adalah antroposentrisme, yaitu pandangan yang menempatkan manusia sebagai makhluk yang paling penting di alam semesta. Yang kedua adalah kesalahpahaman epistemologis filsafat klasik Eropa, terutama Thomas Hobbes dan Niccolo Machiavelli, mengenai konsep kondisi alami manusia yang akan mengilhami gagasan dasar realisme klasik dalam sistem internasional. Tujuan dasar penulisan ini adalah untuk memperkaya debat metodologis dalam Hubungan Internasional sebagai sains multidisiplin.

Kata-kata kunci: English School, Hubungan Internasional, Masyarakat Internasional, Kosmopolitanisme, Sistem Internasional, Masyarakat Dunia

Naskah lengkap bisa diunduh di link berikut:

https://e-journal.unair.ac.id/JGS/article/view/6066/4221

Agama: Antara Warisan dan Pencarian

good hope by gyurka (Lohmuller Gyuri )

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Dari beragam warisan yang diberikan orang tua kita, agama merupakan salah satunya. Jika anda lahir di Arab Saudi, maka kemungkinan besar, orang tua anda akan mewariskan Islam sebagai agama anda. Jika anda lahir di Jerman, maka anda akan mewarisi agama Kristen ataupun Katolik dari orang tua anda. Jika anda lahir di Thailand, Nepal atau Tibet, maka Buddha akan menjadi agama warisan anda.

Sebagai warisan, seperti sudah kita lihat sebelumnya, agama amat terkait dengan letak geografis kelahiran seseorang. Di negara-negara komunis ataupun sekuler, ada juga kemungkinan, anda tidak akan mewarisi agama apapun. Anda menerima ajaran tentang nilai-nilai kemanusiaan universal dari orang tua anda. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan disini. Lanjutkan membaca Agama: Antara Warisan dan Pencarian

Menuju Masyarakat Bebas Hoax

Remedios Varo – Encuentro

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Bangsa kita memang sedang dihujam oleh HOAX. Akibatnya, kita tidak bisa membedakan lagi antara kebenaran dan kepalsuan, terutama dalam soal politik dan ekonomi. Keputusan yang kita buat pun, misalnya dalam soal Pilkada, tidak lagi jernih. Perpecahan di dalam hidup bersama menciptakan keresahan di dalam hidup sehari-hari.

Apa itu hoax? Hoax adalah penipuan yang bersifat menghina, berlebihan dan penuh dengan fitnah yang kemudian menjadi perhatian masyarakat secara luas. Hoax memuat orang bingung. Orang tak bisa lagi membedakan antara kenyataan dan penipuan. Pada tingkat yang paling parah, Hoax tidak hanya bisa menghancurkan nama baik seseorang, tetapi juga hidupnya. Lanjutkan membaca Menuju Masyarakat Bebas Hoax