Melampaui Formalisme Agama

Losing My Religion by Darwin Leon

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Formalisme agama mungkin adalah virus sosial yang paling mematikan di dunia sekarang ini. Dalam arti ini, formalisme agama adalah pemahaman beragama yang terjebak pada bentuk (form) semata, seperti ritual dan aturan-aturan yang sudah ketinggalan jaman. Orang lalu sibuk mengikuti aturan berdoa dan aturan moral yang dibuat ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu, tanpa paham isi dan tujuan sebenarnya. Ia lalu cenderung untuk tidak toleran terhadap perbedaan, bersikap fanatik dan radikal.

Akar Formalisme Agama

Formalisme agama berakar pada setidaknya lima hal. Pertama, ia berakar pada kesalahpahaman tentang makna iman dan agama. Semua ajaran agama selalu lahir dalam keadaan jaman tertentu. Jika ingin diterapkan di jaman yang berbeda, ia membutuhkan penafsiran lebih jauh yang berpijak pada pemahaman akal sehat, serta hati nurani yang bersih. Formalisme agama persis mengabaikan hal ini.

Dua, formalisme agama berakar juga pada kemalasan berpikir. Sudah seringkali terjadi di dalam sejarah manusia, bahwa agama digunakan sebagai pembenaran untuk kemalasan berpikir. Orang tidak mau berpikir kritis, rasional, logis dan sistematis. Mereka hanya mengikuti tradisi yang sudah ketinggalan jaman, tanpa berpikir sama sekali.

Tiga, formalisme agama juga sering digunakan sebagai pembenaran untuk mengumbar nafsu dan kerakusan. Orang mengutip aturan-aturan kuno beragama, guna membenarkan perselingkuhan dan korupsi. Seolah-olah maling dan tukang selingkuh menjadi orang suci, ketika mampu mengutip ayat-ayat suci tertentu. Pada titik ini, agama melepaskan keluhurannya, dan berubah menjadi alat bantu pengumbaran nafsu dan korupsi.

Empat, formalisme agama juga berakar pada keinginan untuk menindas orang lain. Ajaran-ajaran agama digunakan sebagai pembenaran untuk menindas hak-hak asasi orang lain. Kelompok minoritas, baik ras, ideologi, agama maupun orientasi seksual, kerap kali menjadi korban. Formalisme agama menciptakan perpecahan yang akhirnya berujung pada konflik berkepanjangan di dalam masyarakat.

Lima, orang mengikuti ajaran sebuah agama secara buta, seringkali karena kerinduan untuk masuk surga, serta menghindari neraka. Mereka berharap, jika semua aturan agama diikuti tanpa tanya, mereka akan mendapatkan hadiah surga, dan terhindar dari siksa neraka. Anggapan ini jelas merupakan kesalahpahaman mendasar tentang kehidupan. Yang disebut sebagai neraka dan surga itu bukanlah sebuah tempat setelah kematian, melainkan pola berpikir kita disini dan saat ini.

Jika kita hidup penuh kemarahan, kebencian dan iri hati, maka kita sudah hidup di dalam neraka. Penderitaan batin dan fisik yang dirasakan amatlah besar. Sebaliknya, jika kita hidup dalam kedamaian, welas asih serta pemahaman yang tepat tentang jati diri kita yang sebenarnya, maka kita sudah berada di surga. Tak perlu menunggu lama, setelah kematian tiba.

Melampaui Formalisme Agama

Formalisme agama amat mudah digunakan oleh kepentingan politik yang tidak jujur, guna menciptakan ketakutan dan perpecahan di masyarakat. Ini menjadi semakin terlihat di dalam masyarakat demokratis, dimana rakyat bisa memilih langsung para wakil dan pimpinannya di pemerintahan. Agama pun digunakan untuk mengumpulkan suarat rakyat demi mendukung calon tertentu, sekaligus membenci calon lainnya. Rakyat yang bodoh, yang masih terjebak pada formalisme agama, akan dengan mudah tertipu.

Ada empat yang kiranya bisa dilakukan. Pertama, ketika beragama, kita mesti belajar sampai ke inti dari agama tersebut. Kita tidak bisa hanya sekedar mengikuti apa kata guru agama. Kita juga tidak bisa secara buta mengikuti aturan-aturan maupun ritual yang ada, tanpa paham akan makna sejarah serta metafisisnya. Jika itu dilakukan, kita justru akan jatuh pada kesesatan, dan merugikan diri kita sendiri serta orang lain.

Dua, agama harus menjadi sebuah pengalaman iman, yakni persentuhan langsung dengan Sang Pencipta. Di Indonesia, dan juga di banyak negara lainnya, agama kerap kali hanya menjadi bagian dari mental kerumunan. Artinya, orang beragama hanya sekedar mengikuti tradisi dan kecenderungan masyarakat, demi menemukan rasa aman semu. Pola semacam ini akan dengan mudah terjatuh ke dalam formalisme agama yang membawa banyak kesesatan dan kerugian di dalam hidup bersama.

Tiga, kehidupan beragama harus juga menjadi sebentuk pencarian. Agama tidak boleh menjadi sekedar warisan orang tua yang diikuti secara buta. Agama sebagai pencarian akan membawa orang pada spiritualitas hidup yang mendamaikan dan membahagiakan. Sebaliknya, ketika agama hanya dilihat sebagai warisan dari orang tua dan masyarakat, orang akan dengan mudah jatuh ke dalam kesesatan berpikir yang membawa banyak petaka.

Empat, gerakan sosial melawan segala bentuk formalisme agama haruslah dilakukan. Kerja sama dengan berbagai pihak, baik pemerintah, dunia pendidikan maupun bisnis, haruslah dikembangkan. Tanpa kerja sama yang nyata semacam ini, kehidupan beragama di Indonesia akan terjebak pada keterbelakangan, kebodohan, kedangkalan dan kekerasan, sebagaimana banyak kita lihat sekarang ini. Setelah bertahun-tahun meyaksikan kekerasan dan kebodohan yang mengatasnamakan agama, kita tentu sudah belajar banyak, bukan?

Melampaui formalisme agama berarti mengangkat agama ke tempat yang seharusnya, yakni sebagai spiritualitas hidup. Aturan-aturan dan ritual beragama digunakan seperlunya, guna menciptakan hidup bersama yang penuh welas asih dan kedamaian. Selebihnya, orang bergerak ke ranah kesadaran yang menjadi inti dari spiritualitas. Hidup dengan kesadaran dari saat ke saat, serta tidak terbawa arus pikiran dan emosi yang datang sesaat, adalah inti terdalam dari spiritualitas.

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

22 tanggapan untuk “Melampaui Formalisme Agama”

  1. Saya sependapat dengan Pak Reza….mestinya semua penganut agama atau kepercayaan berpikir dan berpijak seperti itu..menciptakan iklim dan atmosfir “welas asih tanpa pilih kasih ” serta mengedepankan sikap kritis yang rasional dan hati nurani yang luhur dan mendalam dalam mempraktikkan agaam dan kepercayaannya masing-masing.

    Suka

  2. Salam bahagia mas Reza.Saya ingin bertanya apakah bapak tidak takut diejek atau ‘dimarah’ karena postingan yang sensitif misalnya; ‘Agama’.Saya sependapat dengan tulisan bapak.Seringkali Agama hanya sekedar formalitas, atau yang lebih parah sebagai pembenaran atas kekerasan yang mereka lakukan.Saya sendiri pernah mengalami persekusi karena kritik terhadap salah satu ajaran Agama yang menurut saya sudah tidak sesuai Zaman.
    Semoga dengan adanya Postingan ini semoga orang-orang lebih kritis terhadap Agama dan mengurangi Fanatisme dan Radikalisme.
    Salam bahagia……

    Suka

    1. membaca komentar sdr anonim diatas, saya yakin mas reza tahan ejekan/marah/ kritik/ ironi dsb dsb….”teflon reza”.
      mas reza ” membantu” kita dengan “jalan tertentu” yang hanya bisa di mengerti / ditangkap dengan “nalar sehat dan hati nurani “.
      intellekt dan ratio harap di “inaktif” kan.
      salam hangat !!

      Suka

      1. hehehe.. Kritiken und Hassen sind normal in demokratischer Gesellschaft, obwohl es auch Grenze gibt… Naja.. wir sollen unsere Vernunft und Verstand in einem korrekten Zusammenhang benutzen.. mehr oder weniger ist schon gefährlich..

        Suka

  3. benar, apa yang saya rasakan tertulis sangat jelas diatas.
    agama = kepercayaan, ini saja sudah hindaran terbesar dalam hidup. walau lewat agama kita dapat menemukan/menyadari/menjalan i spiritualitas kita kembali.
    agama bahkan bisa di pandang
    sebagai “tekanan psycho untuk
    massa”.
    kalau definisi agama = “pengalaman hidup”. dimana kita manusia semua adalah “gott ähnliche anwesenheit”, “gott braucht uns um lebendig zu sein”( meister eckhart ).
    fazit : definisi agama bisa berbeda2, demikian juga dengan definisi “sang pencipta”.
    ada 3 kata yang “tidak dapat di definisi konkret”: gott, liebe, geist.
    apa kah 3 kata tsb hanya untuk 1 maksud ??? siapa tahu ?
    salam hangat !

    massa”( bisa di interpretasi di sela2
    kalimat diatas ).
    untuk kata”sang pencipta”ada beberapa interpretasi. apa itu “sang pencipta”? suatu hari kita “mengerti” apa yang dimaksud
    dengan kata tersebut.
    mungkin lebih mudah tercakup kalau agama = “pengalaman hidup”.
    kita manusia adalah “gott ähnliche anwesenheit”, “gott braucht uns um lebendig und anwesen zu sein” ( mei
    zaman kini, juga tersebar sebagai virus penyakit segitu banya kata2 mutiara, renungan dsb dsb , seperti malapetaka saja.

    Suka

      1. zazen , zazen, zazen noch mal zazen, alles und alles inklusive vorstellung aufgeben .nur hier ist der weg. ich bin über die karnevalstage bei einem sesshin gewesen. es wurden rezitiert: bendowa, das gelübde der menschheit, dayo kokushi, die ochsenbilder natürlich auch der abendruf, das gelübde der bodhisatwa……
        gasho !!

        Suka

  4. Menurut mas Reza apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi fanatisme beragama, dan apa juga hal-hal yang dapat dilakukan oleh masyarakat Indonesia khusunya para pendidik guna mencegah Formalisme Agama.
    Semoga suatu saat, masyarakat Indonesia dapat menjadi masyarakat “lintas Agama” yang mampu mensejahterakan semua mahkluk.

    Suka

  5. Menurut mas Reza apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi fanatisme beragama, dan apa juga hal-hal yang dapat dilakukan oleh masyarakat Indonesia khusunya para pendidik guna mencegah Formalisme Agama.
    Semoga suatu saat, masyarakat Indonesia dapat menjadi masyarakat “lintas Agama” yang mampu membawa kesejahteraan bagi semua umat beragama.

    Suka

  6. mengenai tanzmeditation apa yang di maksud derwischtanz (kaum sufi)?
    setahu saya dikaum sufi hanya kaum lelaki yang menari.
    pernah saya mencoba “tanzmeditation” di kalangan willigis jäger, sangat baik. hanya saya tidak mempraktekkan. cukup dengan zazen dan sesshin.
    salam hangat !!

    Suka

  7. Sangat sepakat dengan tulisan ini…..banyak orang beragama termasuk saya dulu begitu kering, melakukan segala ritual keagamaan tanpa mengalami “makna”…Salah satunya karena masih berfokus karena pamrih “ingin masuk surga” dan menghindari neraka..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s