Seks dan Zen

Ilustrasi Karya Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

Lebih dari 13 tahun, saya mengajar filsafat di berbagai perguruan tinggi. Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu secara kritis, sampai ke akarnya. Tema seks pun kerap kali muncul, terutama dalam kuliah terkait manusia. Lucunya, setiap kali berbicara soal seks, banyak mahasiswa malu tersipu-sipu, atau merasa cemas.

Mengapa? Karena di masyarakat kita, seks adalah barang tabu untuk dibicarakan. Hampir semua agama berbicara soal melarang atau membatasi seks. Hukumannya pun kejam, yakni api neraka bagi yang melanggar. Karena mutu pendidikan kita yang rendah, sehingga pikiran kritis dan rasional itu dianggap berbahaya, maka orang pun patuh buta pada ajaran terbelakang semacam itu. Baca lebih lanjut

Masyarakat “Mata Keranjang”

Saatchi Art

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Kita hidup di masyarakat “mata keranjang”. Di dalam masyarakat semacam ini, segala hal dikaitkan dengan seksualitas, tepatnya dengan hubungan seks. Tubuh perempuan terbuka sedikit, pikiran banyak orang langsung ke arah seks. Tubuh pria kekar sedikit, pikiran mereka pun langsung tertarik secara seksual.

Tak heran, di masyarakat semacam ini, banyak mata keranjang dan hidung belang. Ini adalah julukan bagi orang-orang yang suka melihat orang lain secara seksual. Ia hanya ingin menggunakan orang lain untuk kenikmatan dirinya, tanpa peduli pada harkat dan martabat orang lain sebagai manusia. Tak heran pula, di masyarakat semacam ini, pemerkosaan dan pelecehan seksual menjadi salah satu tindak kriminal yang paling banyak terjadi. Baca lebih lanjut