Paradoks Harapan

Mard Issa The Wasteland of Hope

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Manusia memang mahluk yang berharap. Hidupnya didorong oleh harapan. Orang bisa bangun tidur, dan kemudian siap beraktivitas, juga karena punya harapan akan hidup yang lebih baik. Ketika kesulitan menerpa, harapan pula yang mampu menyelamatkan manusia.

Namun, harapan juga memiliki paradoks. Ia tidak hanya daya dorong kehidupan, tetapi juga sumber kehancuran, terutama harapan yang tak terwujud. Ketika harapan besar terhempas oleh gejolak kehidupan, patah hati, kebencian dan konflik adalah buahnya. Ini terjadi di banyak tingkat, mulai dari tingkat pribadi sampai dengan hubungan antar bangsa.

Yang diperlukan disini adalah kejernihan di dalam memahami harapan. Darimana datangnya harapan? Apa inti dari harapan? Bagaimana mengelola harapan, supaya ia bisa menjadi daya dorong kehidupan, dan bukan sumber kekecewaan?

Harapan: Ciptaan Masyarakat

Sedari kecil, kita hidup di dalam lingkungan sosial. Kita menjalani pendidikan di dalam sekolah yang didirikan oleh masyarakat. Kita menelan, seringkali tanpa sikap kritis, apa yang diajarkan. Kita pun mempercayai dan menghidupi nilai-nilai yang ada di masyarakat kita.

Segala pola pikir dan pola perilaku yang kita punya adalah bentukan masyarakat kita. Perubahan tentu mungkin. Namun, itu seperti menambah program baru di program yang sudah ada sebelumnya. Yang terbentuk adalah semacam percampuran antara nilai-nilai lama dan nilai-nilai baru.

Harapan juga sama. Ia adalah bentukan lingkungan sosial kita. Orang yang lahir di keluarga pedagang cenderung berharap menjadi pedagang besar. Orang yang lahir di keluarga akademisi pun cenderung berharap menjadi seorang pemikir besar. Harapan, pendek kata, adalah hasil dari programming sosial.

Jika orang tak menyadari ini, dan mengira harapan yang ia punya adalah harapannya sendiri, maka ia akan terjebak dalam ilusi. Ia mengira dirinya bebas, padahal tetap terpenjara di dalam dunia sosial. Ia hidup seperti robot, tunduk pada pengakuan dan penolakan dari dunia sosial. Hidup seperti ini amat rentan pada kekecewaan, patah hati, stress, depresi dan konflik.

Mengelola Harapan

Jika harapan adalah “sampah” dari lingkungan sosial, maka pilihlah sampah yang baik. Ada empat hal yang kiranya bisa dilakukan. Pertama, dari semua harapan yang ada, pilihlah harapan yang bergerak melampaui kepentingan diri kita semata. Pilihlah dan hiduplah dengan harapan yang mampu membawa kebaikan tidak hanya untuk hidup manusia, tetapi untuk alam semesta.

Dua, kita juga mesti paham dengan keadaan. Jangan memiliki harapan yang terlalu tinggi, cukup bisa berguna untuk banyak orang, dan bisa diwujudkan dengan kerja sama. Tentu saja, kita juga perlu meningkatkan kemampuan, supaya harapan kita bisa menjangkau kebaikan yang lebih tinggi dan lebih luas. Itulah gunanya belajar untuk pengembangan diri, yakni supaya kemampuan kita untuk mewujudkan harapan bisa meningkat.

Tiga, harapan seringkali terhempas di tengah jalan, walaupun harapan itu baik dan cukup realistis. Disini diperlukan kesabaran. Dalam arti ini, kesabaran adalah kemampuan untuk bertahan mengejar harapan, walaupun beragam tantangan datang menghadang. Tanpa kesabaran, harapan apapun tak akan terwujud, walaupun didukung oleh kecerdasan dan modal yang besar.

Empat, walaupun begitu, kita tetap harus tahu, kapan harus berhenti berharap. Berhenti disini bukanlah tanda kekalahan, melainkan tanda kebijaksanaan. Apa yang punya awal haruslah memiliki akhir. Inilah hukum alam semesta yang tak tergoyahkan.

Paradoks harapan adalah ciri dari harapan itu sendiri. Ia bisa dihindari, asal orang bisa berharap dengan sadar, yakni sadar akan kenyataan dan keterbatasan, tanpa jatuh ke dalam sikap putus asa. Harapan lahir dari hubungan dengan lingkungan sosial yang ada. Ia bisa memenjara, tetapi juga bisa membebaskan, jika dikelola dengan tepat.

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.

10 tanggapan untuk “Paradoks Harapan”

  1. saya sepakat benar dgn tulisan diatas.
    hoffnung, vorstellung und träume sind 3 begriffe, die sich sehr ähneln jedoch so sehr unterschiedlich.
    sie sind wie schon oben beschrieben , durch die gesellschaft, umfeld, umgang, erziehung gebildet und sehr stark beeinflusst. es ist sehr ratsam für unsere geistige reife abstand nehmen zu den 3 o.g. begriffen und uns trotzdem von denen befreien.
    sie existieren nicht in uns sondern neben uns, und jederzeit können wir sie zu unseren zwecken gebrauch machen.
    die o.g. schrift macht mir einiges klar.
    danke für die gedanken-anregung.
    banyak salam !!

    Suka

  2. Di dunia ini apa yang tidak paradoks?
    Semua paradoks.
    Daripada terus kecewa oleh harapan (programming), saya pilih setia dengan proses.
    Nikmati rutinitasnya that’s all!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.