Kamu adalah Pengungsi…

hearbreaking-pictures-of-syrian-refugee-kids
zerobulletin.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Usiamu 29 tahun. Kamu punya seorang istri, dan dua orang anak kecil. Kamu punya pekerjaan yang bagus di kota tempat tinggalmu. Gajimu cukup. Kamu bisa menabung, dan hidup dengan nyaman. Kamu punya rumah kecil di pinggir kota.

Tiba-tiba, keadaan politik di negaramu berubah. Dalam waktu beberapa bulan, banyak tentara lalu lalang di depan rumahmu. Mereka memaksamu untuk ikut berperang bersama mereka. Jika kamu tidak mau, kamu akan ditembak. Salah seorang tetanggamu berani melawan mereka. Ia ditembak. Mati. Lanjutkan membaca Kamu adalah Pengungsi…

Adu Domba

a0f77f31f6881ca2b404deb2e1ac106d
pinterest.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Taktik adu bomba mungkin adalah taktik yang paling jitu untuk menjajah bangsa lain. Taktik ini tidak membutuhkan biaya banyak, namun amat efektif untuk melemahkan lawan. Ia menjadi taktik utama dari berbagai penguasa absolut di sepanjang sejarah manusia untuk menjajah dan menaklukan. Tingkat keberhasilannya pun nyaris sempurna.

Logika Adu Domba

Taktik adu domba menggunakan logika adu domba. Ada empat ciri utama dari logika ini. Yang pertama adalah penciptaan perpecahan di dalam masyarakat. Lanjutkan membaca Adu Domba

Buku Filsafat Terbaru: Bahagia, Kenapa Tidak?

cover1+4.cdr

Penulis: Reza A.A Wattimena

Ilustrator: Maria Wilis Sutanto

ISBN 978-602-08931-1-2 (pdf)

ISBN 978-602-08931-0-5 (cetak)

Buku ini ditujukan untuk para peminat filsafat yang berpendapat, bahwa filsafat harus berakar pada pengalaman nyata setiap orang. Lebih dari itu, filsafat juga bisa memberikan visi nyata untuk mengembangkan hidup pribadi maupun sosial manusia. Buku ini juga ditujukan untuk orang-orang yang ingin mencapai kebahagiaan di dalam hidupnya, juga termasuk orang-orang yang dengan kegiatan hidupnya sehari-hari berusaha membagikan kebahagiaan untuk semua orang. Buku ini juga menarik untuk para peneliti terkait dengan tema kebahagiaan, seperti para peneliti kesehatan mental dan praktisi psikoterapi.

Bisa dilihat di link berikut: Bahagia_Kenapa_Tidak-Reza_AA_Wattimena

Kita Sudah Lelah

pinterest.com
pinterest.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Unika Widya Mandala Surabaya, Sedang Belajar di Munich, Jerman

Pembakaran hutan di Indonesia adalah masalah lama. Ini sudah terjadi bertahun-tahun. Namun, masalah ini semakin besar belakangan ini, ketika asap mulai menutupi beragam tempat di Indonesia dan beberapa negara tetangga. Kerugian yang diciptakan oleh musibah ini menyentuh berbagai bidang kehidupan.

Hutan rusak. Keseimbangan ekosistem alam terancam. Ini tentu akan membawa beragam dampak lingkungan lainnya. Kita juga belum menghitung jumlah hewan dan tumbuhan yang mati, akibat pembakaran hutan tersebut. Lanjutkan membaca Kita Sudah Lelah

Kebohongan, Media dan Propaganda

inhalemag.com
inhalemag.com

Noam Chomsky dan Edward Herman tentang Propaganda

Oleh Reza A.A Wattimena

Noam Chomsky dan Edward Herman menulis buku berjudul Kesepakatan yang Diatur: Ekonomi Politik dari Media Massa pada 1988 lalu.1 Argumen utama dalam buku tersebut masih cocok untuk memahami beragam kekuatan ekonomi politik yang menentukan pemberitaan di berbagai media di seluruh dunia sekarang ini. Kita bisa menyebutnya sebagai filter yang menentukan isi media, baik cetak maupun elektronik.2

Ide dasarnya adalah, bahwa ada kekuatan ekonomi politik yang dimiliki sekelompok orang dan perusahaan raksasa yang menentukan dan menyaring segala bentuk pemberitaan kepada masyarakat luas, sehingga semua pemberitaan itu hanya mengabdi pada kepentingan sekelompok orang dan perusahaan raksasa tersebut, yakni kepentingan untuk memperoleh kekuasaan politik dan keuntungan ekonomi yang lebih besar lagi dengan mengorbankan banyak pihak lainnya.3 Lanjutkan membaca Kebohongan, Media dan Propaganda

Tiga Buku Filsafat Terbaru

Buku Filsafat Terbaru: Menelusuri Pragmatisme, Pengantar Pada Pemikiran Pragmatisme dari Peirce Hingga Habermas

Penulis: Anastasia Jessica Adinda S.

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

COVER Pragmatisme_aDalam kehidupan sehari-hari kata pragmatis sudah biasa kita dengar. Kata ‘Pragmatis’ sering dikaitkan dengan kepentingan praktis, keengganan berproses, atau orientasi yang semata-mata pada pencapaian hasil. Maka menjadi pertanyaan, apakah pengertian pragmatisme memang seperti yang banyak dipahami saat ini? Memang tak dapat disangkal bahwa prakmatisme banyak mewarnai kehidupan manusia abad ini. Ilmu pengetahuan, pendidikan, politik, ekonomi, hukum, kesenian, bahkan agama tak luput dari pengaruh pragmatisme. Karena kuatnya pengaruh pragmatisme, perhatian manusia terarah pada ‘gagasan yang dapat berfungsi dalam tindakan dan dapat menyelesaikan persoalan’. Prinsip-prinsip pragmatisme ini melandasi keputusan-keputusan yang dibuat oleh individu, kelompok masyarakat, bahkan negara. Buku ini menyajikan pengertian awal tentang pragmatisme, prinsip-prinsip dasar pragmatisme, sekaligus kritik atas pemikiran pragmatisme yang mengabsolutkan konsekuensi praktis dan daya guna.

Bisa dilihat di: Penerbit Kanisius

Lanjutkan membaca Tiga Buku Filsafat Terbaru

Penjajahan “Mainstream”

mcs.csueastbay.edu
mcs.csueastbay.edu

Oleh Reza A.A Wattimena

Sekelompok anak muda Indonesia berkumpul. Mereka saling berbagi cerita. Segala ketakutan dan harapan mereka diutarakan satu sama lain. Yang menarik, polanya sama.

Mereka takut hal yang sama: tidak punya uang. Mereka merindukan hal yang sama: mendapatkan uang yang banyak. Mereka benar-benar merasa, bahwa ketakutan dan harapan mereka mencerminkan kebenaran. Inilah pola hidup generasi anak muda Indonesia di awal abad 21 ini. Lanjutkan membaca Penjajahan “Mainstream”

Mengapa Indonesia “Miskin”?

balticasia.lt
balticasia.lt

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Unika Widya Mandala Surabaya

Mengapa Indonesia miskin? Padahal, jumlah rakyatnya banyak. Banyak yang berbakat, cerdas dan mau bekerja keras untuk mengembangkan diri dan bangsanya. Kekayaan alam pun berlimpah ruah.

Kita memiliki minyak, gas dan beragam logam sebagai sumber daya alam yang siap untuk diolah. Kita memiliki tanah yang subur yang siap ditanami beragam jenis tanaman. Kita memiliki hutan yang luas yang bisa memberikan udara segar tidak hanya untuk bangsa kita, tetapi untuk seluruh dunia. Akan tetapi, mengapa kita masih miskin, walaupun kita memiliki itu semua? Lanjutkan membaca Mengapa Indonesia “Miskin”?

Agama, Alam dan Alat

cdn.visualnews.com
cdn.visualnews.com

Tentang Laudato si, Ensiklik Paus Fransiskus, 24 Mei 2015

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang kuliah di Munich, Jerman

Laudato si adalah salah satu teks paling indah, jujur, lugas, mendalam, ilmiah, filosofis dan teologis yang pernah saya baca di dalam hidup saya.1 Jujur saja, ketika membacanya, saya menangis terharu dan bangga. Laudato si (terjemahan: Terpujilah Engkau, Tuhan) adalah ensiklik2 terbaru dari Paus Fransiskus, pimpinan tertinggi Gereja Katolik Roma. Menurut Michael Schöpf, pimpinan Institut für Gesellschaftspolitik, Hochschule für Philosophie München, ensiklik ini bukanlah semata tulisan resmi Gereja Katolik Roma tentang lingkungan hidup.3 Ini adalah tulisan tentang kaitan antara krisis lingkungan hidup dan krisis sosial dalam bentuk ketidakadilan global. Keduanya memiliki kaitan yang amat erat sekaligus akar yang sama. Keduanya hanya bisa diatasi dengan kerja sama yang erat dari berbagai pihak, mulai dari politik, agama dan ekonomi.

Johannes Wallacher, pimpinan Hochschule für Philosophie München, melihat kritik tajam Paus Fransiskus terhadap orang-orang yang masih menyangkal adanya perubahan iklim di dunia sekarang ini. Para penyangkal ini adalah orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu di politik dan ekonomi, guna memperkaya dirinya sendiri dengan merugikan orang lain. Wallacher menegaskan, bahwa Paus Fransiskus amat menekankan keterhubungan antara segala sesuatu, terutama hubungan antar manusia, dan hubungan antara manusia dan alam. Tulisannya merumuskan fondasi yang menyeluruh dan mendalam untuk menjadi dasar bagi perkembangan peradaban manusia secara global. Dialog yang seimbang antara ilmu pengetahuan, politik dan agama adalah kuncinya. Lanjutkan membaca Agama, Alam dan Alat

Menyamaratakan

ivorymagazine.com
ivorymagazine.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat di Unika Widya Mandala Surabaya

“Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” Benarkah? Karena satu kesalahan, lalu semua hal baik juga ikut rusak? Karena kesalahan satu orang, lalu seluruh kelompoknya juga ikut bersalah?

Inilah salah satu pertanyaan terpenting yang perlu kita ajukan sekarang ini. Banyak orang hidup dengan prasangka. Pikirannya melihat sesuatu, lalu menyamaratakan kesalahan itu ke konteks yang lebih luas. Misalnya, ada satu orang Ambon yang menjadi preman. Lalu, kita dengan gampangnya menarik kesimpulan, “semua orang Ambon itu preman”.

Kesalahan satu orang lalu dianggap sebagai kesalahan kelompok. Ada orang asing berbuat kriminal, maka semua orang asing lalu dicurigai sebagai kriminal. Inilah yang sekarang ini berkembang di Jerman, dan di berbagai tempat lainnya. Saya menyebut gejala ini sebagai pola pikir “menyamaratakan”.

Kecenderungan ini lalu juga meluas. Kesalahan kelompok dianggap sebagai kesalahan ras. Kesalahan ras lalu dianggap sebagai kesalahan seluruh peradaban. Dunia lalu terpecah di antara berbagai kelompok yang saling membenci satu sama lain.

Prasangka

Pola pikir menyamaratakan adalah ibu kandung dari prasangka. Prasangka adalah pandangan kita akan sesuatu, sebelum sesuatu itu terjadi. Ia tidak nyata. Ia hanya khayalan di kepala kita yang berpijak pada ketakutan dan kesalahpahaman. Lanjutkan membaca Menyamaratakan

Sebelum Pertanyaan

designingsound.org
designingsound.org

Oleh Reza A.A Wattimena,

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang di Jerman

Kita sering bertanya dalam hati, darimana kita berasal? Apakah Tuhan yang menciptakan kita? Ataukah, sebelumnya kita tinggal di suatu tempat, lalu kemudian masuk ke rahim ibu kita, dan kemudian lahir di dunia ini? Setiap orang, minimal sekali dalam hidupnya, pasti pernah mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini.

Kita juga sering bertanya, apa tujuan hidup ini? Apa makna dari segala apa yang saya alami dan lakukan setiap harinya? Adakah makna sesungguhnya? Di tengah kesibukan kita bekerja dan belajar setiap harinya, pertanyaan-pertanyaan ini merindu untuk dijawab di dalam batin kita.

Kita juga seringkali mengalami masalah dan tantangan di dalam hidup kita. Di dalam batin, kita ingin keluar dari masalah tersebut. Kita ingin hidup bahagia. Akan tetapi, bagaimana caranya? Mungkinkah kita mencapai kebahagiaan?

Masalah dan tantangan tersebut juga seringkali membuat kita cemas. Kita lalu berpikir, jika keadaan begini terus, lalu bagaimana dengan masa depan? Masalah dan tantangan juga sering membuat kita cemas atas masa depan orang-orang yang kita sayangi. Kecemasan tersebut lalu juga sering menghantui pikiran kita, sehingga kita merasa lelah, baik secara fisik maupun batin.

Kita juga banyak melihat orang-orang sekitar kita sakit. Kita pun mungkin juga sedang sakit saat ini. Ketika sakit itu semakin berat, wajar jika kita bertanya, apa yang terjadi ya, setelah kematian? Adakah surga, atau neraka, atau sesuatu, setelah kita mati?

Semua pertanyaan ini menggiring kita pada satu pertanyaan mendasar, adakah tuhan yang menjadi tuan atas hidup kita? Apakah semua ini sudah ada yang mengatur? Apakah kita berasal dan akan kembali kepada tuhan nantinya? Ataukah, seperti di dalam tradisi Hindu, ada banyak Dewa yang akan mempengaruhi kehidupan dan kematian kita? Apakah ada sesuatu yang lebih besar dari kita, yang menata semuanya? Lanjutkan membaca Sebelum Pertanyaan

Kekebalan Sosial dan Pribadi

organicfacts.net
organicfacts.net

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Mengapa kenaikan harga BBM selalu membuat cemas? Yang membuat cemas bukanlah kenaikan BBM itu sendiri, melainkan dampaknya, yakni kenaikan hampir semua harga barang. Ketidakpastian yang ditimbulkan kenaikan harga BBM mendorong beragam demonstrasi yang seringkali berakhir pada kekacauan. Harga susu untuk bayi sampai dengan harga celana dalam juga berubah naik, ketika harga BBM naik.

Segala hal di Indonesia mudah sekali berubah. Ceria kemenangan Jokowi-JK pada Pemilu 2014 lalu segera ditutup dengan terciptanya susunan kepemimpinan Dewan Perwakilan Rakyat yang jauh dari keinginan rakyat banyak. Segera pasar saham Jakarta bergolak bereaksi negatif atas perubahan ini. Bagaimana dengan harga barang kebutuhan sehari-hari? Anda sudah tahu jawabannya.

Kekebalan Sosial

Tugas utama dari berbagai institusi politik adalah menciptakan rasa aman bagi semua warga, tanpa kecuali. Ketika masyarakat hidup dalam rasa khawatir terus menerus, akibat dari berbagai ketidakpastian yang ada, ini satu tanda, bahwa kinerja sistem politik kita jauh dari harapan. Semua bidang kehidupan mudah sekali digoyang oleh satu peristiwa. Yang dibutuhkan sekarang ini adalah model politik yang mampu menciptakan kekebalan sosial. Lanjutkan membaca Kekebalan Sosial dan Pribadi

“Lemak-lemak” Kehidupan

huffpost.com
huffpost.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang Penelitian di München, Jerman

Hidup kita dipenuhi dengan “lemak-lemak”. Dalam arti ini, lemak adalah “sesuatu yang lebih”. Banyak orang mengejar dan menumpuknya, walaupun ia tidak membutuhkannya. Justru, “lemak-lemak kehidupan” inilah yang seringkali menghambat hidup kita.

Lemak di dalam tubuh fisik, sejatinya, memang memiliki fungsi ganda. Di satu sisi, manusia membutuhkannya untuk berbagai tujuan, seperti daya tahan tubuh, melawan dingin, dan sebagainya. Namun, tumpukan lemak dalam tubuh pula yang menciptakan berbagai penyakit, seperti jantung, kolesterol, dan sebagainya. Sebagai manusia, kita membutuhkan lemak dalam jumlah yang tepat, tidak lebih dan tidak kurang.

“Lemak-lemak” Pribadi

“Lemak-lemak kehidupan” tidak hanya ada di dalam tubuh, tetapi juga di semua bidang kehidupan. Hidup pribadi maupun hidup bersama kita sebagai masyarakat di Indonesia juga dipenuhi dengan lemak. Kehadiran lemak ini menutupi apa yang sungguh penting. Kita pun lalu sibuk dan membuang tenaga untuk hal-hal yang tidak penting. Lanjutkan membaca “Lemak-lemak” Kehidupan

Machiavelli dan Kecerdikan Politis

deviantart.net
deviantart.net

Oleh Reza A.A Wattimena

Jika anda ingin menjadi politikus, maka ada satu buku yang wajib anda baca. Judulnya adalah Il Principe, atau Sang Pangeran yang ditulis oleh Niccolo Machiavelli (1469-1527). Buku ini bisa menuntun anda untuk menjadi penguasa politik yang sejati, dan bukan yang murahan. Bahkan, dapat dibilang, buku ini adalah salah satu buku yang paling banyak mengundang tafsir dan debat sampai sekarang di kalangan para ahli ilmu politik, filsuf politik dan politikus itu sendiri.

Niccolo Machiavelli menulis buku itu pada 1532.1 pada waktu itu, ia adalah diplomat sekaligus pegawai pemerintahan di Florence (sekarang bagian dari Italia). Dalam karir politiknya, ia banyak berhubungan dengan Raja Perancis dan Raja Jerman (waktu itu Kekaisaran Romawi Suci). Karena suatu masalah politik, ia akhirnya dikejar dan kemudian dibunuh.

Machiavelli menulis tentang banyak tema, mulai dari etika, sejarah filsafat, puisi, politik, bahkan komedi. Namun, banyak orang mengenal nama Machiavelli hanya dari karya politiknya, Il Principe. Juga berkat buku itu, dan tafsiran atasnya, nama Machiavelli memiliki reputasi yang jelek. Ia lalu dikaitkan dengan ajaran tentang berbagai penipuan dan tindakan-tindakan jelek lainnya di dalam politik, demi meraih dan mempertahankan kekuasaan. Namun, König, sumber yang saya acu, menolak tafsiran jelek semacam itu. Lanjutkan membaca Machiavelli dan Kecerdikan Politis

Menuju Keadilan dan Kebahagiaan​

wikimedia.org
wikimedia.org

Filsafat Politik Plato di dalam buku Politeia

Oleh Reza A.A Wattimena

Sedang Penelitian Filsafat Politik di München, Jerman

All we need is love, kata The Beatles, band Inggris di dekade 1960-an. Suara John Lennon yang khas dengan indah melantunkan lagu tersebut. Petikan bas dari Paul McCartney dan ketukan drum dari Ringo Star yang unik menjadi dasar dari lagu tersebut. Namun, apakah isi lirik tersebut benar, bahwa all we need is love: yang kita butuhkan hanya cinta?

Jika cinta disamakan dengan emosi sesaat atau dorongan seks belaka, maka jawabannya pasti “tidak”. Namun, saya merasa, kata “cinta” mesti diberikan makna baru yang lebih mendalam disini. Belajar dari Plato, terutama dalam bukunya yang berjudul Politeia, cinta haruslah ditafsirkan sebagai keadilan dan kebenaran. Perpaduan dua hal itu lalu akan menghasilkan kebahagiaan.

Adalah penting bagi kita di Indonesia untuk memikirkan hal ini secara mendalam, terutama menyambut pemilu 2014 yang akan menghasilkan tata politik baru di Indonesia. Pemahaman tentang keadilan, kebenaran dan kebahagiaan adalah kunci dari politik yang bersih, yang bisa memberikan kesejahteraan untuk seluruh rakyat. Ia juga adalah kunci untuk mencapai hidup yang bahagia dan bermutu. Tentang hal ini, kita bisa belajar banyak dari buku Politeia. Lanjutkan membaca Menuju Keadilan dan Kebahagiaan​

Revolusi Doa dan Revolusi Mental

sesawi.net
sesawi.net

oleh Sindhunata (Pemimpin Redaksi Majalah Basis, Yogyakarta) dan Joko Widodo (Gubernur DKI Jakarta, Calon Presiden PDI Perjuangan 2014)

KITA memerlukan pemimpin yang taat beragama, yang bisa membawa perbaikan moral bangsa. Begitu dikatakan mantan Wakil Presiden Hamzah Haz baru-baru ini. Hamzah Haz juga menyarankan perlunya dibangun lebih banyak tempat ibadah, agar semakin banyak orang berdoa sehingga semakin banyak pula orang yang memiliki moral yang baik.

Hamzah Haz tidak keliru jika ia menghubungkan doa dan moral yang baik. Hanya masalahnya, doa manakah yang bisa membuahkan moral yang baik? Pertanyaan ini kebetulan juga sedang digeluti sejumlah sarjana antropologi dan teologi Islam maupun Kristen. Pergulatan mereka dikumpulkan di bawah tema ”Prayer, Power, and Politics” dalam jurnal Interpretation, Januari 2014.

Para antropolog kultural memahami doa sebagai aktivitas ritual. Dari sudut kultural, ritus adalah kesempatan, di mana orang menjalin hubungan baik dengan kelompoknya, maupun realitas sosialnya, termasuk kekuasaan. Sementara karena pada hakikatnya kekuasaan selalu relasional, kekuasaan mau tak mau juga memengaruhi ritus dan dirasakan secara riil oleh mereka yang menjalankan aktivitas ritual itu. Di situlah terletak hubungan antara doa dan kekuasaan. Dengan pendekatan di atas, Rodney A Werline, profesor studi agama-agama di Barton College, North Carolina, meneliti bagaimana doa-doa dihidupi tokoh-tokoh Kitab Suci Perjanjian Lama, seperti Hannah, Ruth, Salomo, dan Daniel. Dari penelitiannya terlihat doa terjadi dalam cakupan relasi sosial dan historis yang amat luas.

biografi.blogspot.de
biografi.blogspot.de

Doa bisa berfungsi sebagai dinamika keluarga, sebagai ekspresi cinta di antara sahabat, sebagai ratapan orang jujur yang tidak bersalah tetapi menjadi korban, sebagai teguran pemuka agama terhadap umatnya dan sebagai upaya bagaimana mengobati luka sosial umatnya, sebagai jalan bagi para pemimpin untuk menjalankan kepemimpinannya, juga sebagai jalan menentang kekuasaan represif. Lanjutkan membaca Revolusi Doa dan Revolusi Mental

Ekonomi Kesejahteraan Publik untuk Indonesia

ltkcdn.net
ltkcdn.net

Beberapa Butir Pemikiran

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Jantung hati dari ekonomi kesejahteraan publik, sebagaimana dirumuskan oleh Felber, adalah kerja sama antar warga, guna mewujudkan tata politik dan ekonomi yang memberikan kesejahteraan bagi semua, tanpa kecuali. Pandangan ini berakar dalam sekali di pemahaman filosofis tentang ekonomi, sebagaimana dirumuskan oleh Aristoteles. Kerja sama mengandaikan adanya dorongan hati dari rakyat untuk ikut ambil bagian di dalam semua bentuk proses sosial-masyarakat, walaupun kerap kali keadaan sulit, dan kebijakan yang ada tidak sesuai dengan kepentingan dan kehendaknya. Namun, mentalitas semacam ini, yakni kerja sama dan ikut ambil bagian, bukanlah hal asing bagi Indonesia, karena sudah selalu tertanam di dalam bentuk kerja sama yang sudah ada, yakni gotong royong.

Di dalam pemahaman tentang gotong royong, kesejahteraan bersama menjadi tujuan utama, dan bukan kesejahteraan sebagian orang, walaupun mereka adalah mayoritas. Kepentingan individu diperbolehkan, sejauh itu bisa ambil bagian di dalam kesejahteraan bersama suatu masyarakat. Sekali lagi perlu ditegaskan, “bersama” bukan berarti mayoritas, melainkan sungguh-sungguh semua orang yang ada. Di dalam terpaan neoliberalisme (uang dan keuntungan menjadi tolok ukur semua bagian kehidupan masyarakat) dan fundamentalisme agama (menjadikan satu tafsiran agama tertentu sebagai cara untuk mengatur hidup semua orang), budaya gotong royong di Indonesia terkikis, nyaris hilang. Namun, kemungkinan untuk menghidupkannya kembali selalu ada, dan kini, belajar dari Felber, budaya itu digabungkan dengan tata ekonomi kesejahteraan publik yang berpijak lebih kuat pada demokrasi dan martabat manusia, yang dijaga keberlangsungannya oleh sistem hukum dan perjanjian yang bersifat mengikat, namun terbuka.

Tolok Ukur Baru

Ekonomi kesejahteraan publik tidak melihat pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan utama. Uang, keuntungan, dan pertumbuhan ekonomi hanya dilihat berguna, sejauh ia mengembangkan kesejahteraan bersama seluruh warga. Jika uang, keuntungan dan pertumbuhan hanya menghasilkan kesenjangan yang besar antara yang kaya dan yang miskin, maka ia harus diatur lebih ketat, misalnya dengan kebijakan pajak, ataupun bentuk-bentuk lainnya. Tata ekonomi semacam ini, menurut saya, amat sangat cocok untuk konteks Indonesia. Lanjutkan membaca Ekonomi Kesejahteraan Publik untuk Indonesia

Bahasa dan Dunia yang Terbalik

techedon.com
techedon.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Mengapa rakyat yang hidup di dalam masyarakat demokratis membiarkan pemerintahnya melanggar hak-hak asasi manusia warganya sendiri, maupun negara lainnya? Di Indonesia, dua hal kiranya muncul di depan mata. Pertama, rakyat yang membiarkan pemerintahnya menarik pajak dan beragam uang illegal lainnya (coba saja bikin surat di kelurahan), sementara korupsi dari level pusat sampai daerah terus meningkat. Kedua, serangan militer Indonesia kepada Timor Leste yang sampai sekarang belum diberi pertanggungjawaban yang memadai oleh pemerintah Indonesia.

Di depan peristiwa-peristiwa itu, rakyat seolah diam. Hanya beberapa orang yang peduli, dan kemudian membangun gerakan untuk melawannya. Sisanya tenggelam dalam kesibukan menumpuk uang, dan menikmati hidup dengan berbelanja. Dua alasan muncul di mulut mereka, ketika berdiskusi soal ini.

Pertama, mereka sudah muak dengan segala berita buruk terkait dengan politik. Rasa muak itu berlangsung begitu lama, bahkan diwariskan ke generasi berikutnya. Rasa muak lalu melahirkan sikap tidak peduli, atau apati politik. Mereka pun menarik diri dari kehidupan politik, dan menjadi warga negara yang pasif. Akar dari sikap mundur ini sebenarnya adalah rasa sakit, hati kecewa dan rasa muak. Lanjutkan membaca Bahasa dan Dunia yang Terbalik

Kerinduan untuk Dikuasai

beginningandend.com
beginningandend.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya

Mengapa setelah keluar dari Orde Baru jaman Suharto dulu yang penuh dengan teror dan ketakutan, Indonesia terjerumus kembali pada berbagai bentuk fundamentalisme, seperti fundamentalisme agama dan uang? Seolah kita sebagai bangsa keluar dari mulut singa, dan kemudian masuk ke mulut harimau. Seolah kita meninggalkan satu masalah untuk kemudian terjun bebas ke masalah berikutnya, tanpa sadar. Apa sebenarnya akar dari fenomena ini?

Fundamentalisme agama jelas menjadi gejala serius di Indonesia sekarang ini. Berbagai kelompok hendak memaksakan ajaran agama mereka untuk diterapkan di seluruh masyarakat. Dasar negara Indonesia yang bersifat pluralis, terbuka dan nasionalis kini sedang terancam. Gejala ini menciptakan keresahan sosial di berbagai kalangan, terutama mereka yang minoritas.

Budak, Minder dan Abdi

Di dalam gerakan fundamentalisme agama ini, kita bisa menyaksikan dengan jelas satu bentuk mentalitas, yakni mentalitas budak. Mentalitas budak berarti, orang malas atau tidak mau berpikir mandiri, dan menyerahkan keputusan hidupnya pada apa kata kelompok. Dalam hal ini, kelompok itu adalah agama. Orang semacam ini tidak lebih sebagai budak yang rindu untuk dikuasai dan ditaklukan, karena tidak mau berpikir mandiri. Lanjutkan membaca Kerinduan untuk Dikuasai

Pembangunan = Proyek + Rente

elsam.or.id
elsam.or.id

Oleh B. Herry Priyono

Dosen pada Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta

Harian Kompas 6 Maret 2014

TULISAN kecil ini ditujukan kepada calon presiden dan wakil presiden, calon gubernur dan bupati, calon anggota legislatif di tingkat pusat, daerah tingkat I, dan II; semua yang ingin memimpin dan menjadi wakil rakyat melalui Pemilu 2014. Karena penentuan siapa yang memenangi mandat juga berasal dari pemilih, tulisan ini juga ditujukan kepada 186.569.233 pemilih terdaftar. Pemilu memang bukan keseluruhan demokrasi, melainkan pemilu adalah metode kunci bagi demokrasi.

Maksudnya, demokrasi akan mulai terhubung dengan pemberantasan korupsi, pengurangan kemiskinan, perbaikan lingkungan, atau perbaikan hak asasi jika, dan hanya jika, pemilih sanggup memilih para eksekutif dan legislator yang punya rekam jejak dan berdarah daging memberantas korupsi, dihantui oleh luasnya kemiskinan, marah pada penghancuran lingkungan, dan terbukti sebagai pejuang hak asasi. Istilah “jika, dan hanya jika” di atas begitu sentral. Sinisme terhadap demokrasi akan terbukti mengada-ada jika, dan hanya jika, pemilih sanggup memilih sosok-sosok seperti itu.

Urusan tata cara memilih sudah sering dibedah dan kriteria pemimpin yang baik juga telah banyak diurai. Tulisan kecil dan sederhana ini hanya akan membuat lugas apa yang sudah terang benderang dalam bingkai yang sedikit lebih besar. Jika tujuan bernegara-berbangsa adalah ‘kebaikan bersama’ (the common good), dan demokrasi adalah metodenya, maka pemilu sebagai metode kunci demokrasi perlu menghasilkan para legislator-eksekutor yang siang-malam melibati teknologi mencapai kebaikan bersama. Teknologi itu disebut ‘pembangunan’ (development). Lanjutkan membaca Pembangunan = Proyek + Rente