Kerinduan untuk Dikuasai

beginningandend.com
beginningandend.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya

Mengapa setelah keluar dari Orde Baru jaman Suharto dulu yang penuh dengan teror dan ketakutan, Indonesia terjerumus kembali pada berbagai bentuk fundamentalisme, seperti fundamentalisme agama dan uang? Seolah kita sebagai bangsa keluar dari mulut singa, dan kemudian masuk ke mulut harimau. Seolah kita meninggalkan satu masalah untuk kemudian terjun bebas ke masalah berikutnya, tanpa sadar. Apa sebenarnya akar dari fenomena ini?

Fundamentalisme agama jelas menjadi gejala serius di Indonesia sekarang ini. Berbagai kelompok hendak memaksakan ajaran agama mereka untuk diterapkan di seluruh masyarakat. Dasar negara Indonesia yang bersifat pluralis, terbuka dan nasionalis kini sedang terancam. Gejala ini menciptakan keresahan sosial di berbagai kalangan, terutama mereka yang minoritas.

Budak, Minder dan Abdi

Di dalam gerakan fundamentalisme agama ini, kita bisa menyaksikan dengan jelas satu bentuk mentalitas, yakni mentalitas budak. Mentalitas budak berarti, orang malas atau tidak mau berpikir mandiri, dan menyerahkan keputusan hidupnya pada apa kata kelompok. Dalam hal ini, kelompok itu adalah agama. Orang semacam ini tidak lebih sebagai budak yang rindu untuk dikuasai dan ditaklukan, karena tidak mau berpikir mandiri.

Mental budak terwujud nyata di dalam sikap abdi. Sikap abdi berarti, orang lebih senang disuruh dan diperintah, daripada memutuskan sendiri, apa yang mesti ia lakukan. Orang lebih senang tunduk pada kata orang lain, daripada mempertimbangkan sendiri, apa yang baik dan buruk bagi dirinya. Sikap abdi yang meluas akan menciptakan bangsa budak yang bergantung dan tunduk pada bangsa asing, seperti yang dengan jelas kita lihat di Indonesia sekarang ini.

Di hadapan bangsa asing, kita merasa minder dan rendah diri. Kita merasa, apapun yang orang asing lakukan selalu lebih baik dari yang kita lakukan. Sikap minder, mental budak dan sikap abdi saling terkait satu sama lain. Hasilnya bangsa yang terjajah, walaupun tidak merasa diri terjajah. Bangsa yang rindu untuk dikuasai. Inilah bentuk Indonesia di awal abad 21 ini.

Ciri nyatanya serupa. Kita lebih senang barang buatan luar negeri, daripada barang buatan dalam negeri, walaupun mutunya sama. Ada rasa bangga dan gengsi, ketika kita menggunakan produk luar negeri yang mutunya tak lebih bagus dari mutu produk dalam negeri. Ini contoh kecil dan amat nyata dari mental budak, sikap abdi dan rasa minder yang menjadi ciri dari Indonesia sekarang ini. Ciri yang berakar pada kerinduan kita semua untuk dikuasai dan ditaklukan, karena takut dengan kebebasan dan kemandirian.

Hegemoni

Pada bentuknya yang paling ekstrem, kita lalu membenci bangsa kita sendiri. Akar dari kebencian ini adalah tiga sikap tadi (minder, abdi, dan budak) yang kesemuanya berpijak pada ketakutan akan kebebasan. Saya menyebutnya “tritunggal tidak suci” yang menjadi musuh dari kemajuan bangsa kita dewasa ini. Kita justru bangga dengan mencerca bangsa sendiri, dan dengan senang hati memuja bangsa lain, tanpa tolok ukur yang obyektif.

Lalu, kita pun menjadi budak yang bangga, yakni budak yang tidak merasa dirinya sebagai budak. Kita merasa bahagia, walaupun terjajah. Kita merasa lega dan gembira, walaupun menjadi abdi yang setia, yang takut berpikir sendiri dan rindu untuk dikuasai. Ada mekanisme halus yang menjadi latar belakang dari semua ini, yakni kekuatan hegemoni.

Hegemoni adalah sebentuk penjajahan. Ia begitu halus sekaligus kuat, sehingga orang yang terjajah tidak merasa dirinya dijajah. Ia merasa dirinya baik-baik saja, bahkan bahagia, walaupun hidup dalam ketergantungan total atas pihak lain yang lebih kuat dari dirinya. Hegemoni adalah cara menindas yang membuat budak pun menjadi tertawa bahagia.

Jilat Atas, Injak Bawah

Hegemoni lalu melahirkan jenis manusia tertentu. Mereka suka menjilat penguasa, dan menindas yang lemah. Idiom untuk hal ini jelas, yakni jilat atas, injak bawah. Banyak orang tidak suka dengan prinsip ini, walaupun mereka secara nyata melakukannya. Inilah kekuatan hegemoni yang melahirkan tritunggal tidak suci (mental budak, abdi dan minder), yang membuat orang membenci bangsanya sendiri, dan terpesona dengan bangsa lain.

Sikap-sikap ini tidak lahir dari kekosongan, melainkan dari situasi budaya tertentu. Untuk Indonesia, kita bisa berbicara tentang penjajahan yang berlangsung selama ratusan tahun. Dampaknya masih terasa sekarang ini dalam bentuk sikap-sikap jelek yang telah saya jabarkan di atas. Maka, kita dapat mengatakan, bahwa korban penjajahan bukan hanya harta fisik dalam bentuk uang dan sumber daya alam, tetapi kehancuran budaya dan mentalitas.

Sewaktu Sukarno masih menjadi presiden Indonesia, ada usaha untuk menumpas mentalitas semacam ini. Berbagai organsisasi muncul untuk membangkitkan kesadaran akan harga diri bangsa. Organisasi ini bersifat progresif dan kiri. Namun, setelah Sukarno turun, dan Suharto berkuasa, organisasi-organisasi ini ditumpas, karena dituduh terkait dengan komunisme. Setelah itu, hancurlah kekuatan progresif bangsa Indonesia, yang hendak membebaskan bangsa ini dari mentalitas budak, rasa minder dan sikap abdi yang saya jabarkan sebelumnya.

Pendangkalan Nilai-nilai

Ketika ini terjadi, nilai-nilai hidup pun menjadi terbalik. Keluhuran hidup ditakar dengan uang dan kepatuhan pada tradisi. Ketika kelompok-kelompok berpikiran maju ditumpas, yang tersisa adalah kelompok-kelompok yang berpikiran terbelakang, yang rindu untuk dikuasai. Yang menguasai kemudian menggunakan uang dan agama untuk mengisi kekosongan sosial yang ada.

Nilai hidup pun terbalik. Kejujuran diganti dengan suap menyuap. Sikap displin diganti dengan sikap masa bodo dan apa saja boleh. Sikap hemat diganti dengan sikap membeli, tanpa batas. Sikap mampu menahan diri diganti dengan sikap mengumbar nafsu dan pencarian kenikmatan tanpa batas. Hidup pun terbalik.

Di balik semua itu, neoliberalisme sebagai paham maut mulai mencengkram kehidupan bersama kita. Neoliberalisme berarti paham yang melihat dunia sebagai satu kesatuan ekonomis, dimana segala sesuatu diukur dengan satu nilai, yakni nilai ekonomi. Keluhuran dipersempit menjadi keuntungan uang. Kedalaman hidup dipersempit menjadi kemampuan untuk mempesona pasar, guna memperoleh keuntungan lebih besar.

Kerinduan untuk Dikuasai

Akar dari semua itu adalah kerinduan untuk dikuasai. Akar dari kerinduan ini adalah ketakutan akan kebebasan. Bentuk kerinduan dan ketakutan ini mengakar begitu dalam di dalam jiwa bangsa Indonesia sekarang ini. Banyak orang tak menyadarinya, walaupun dampaknya begitu nyata di dalam kehidupan sehari-hari kita.

Penyebab dari lahirnya kerinduan dan ketakutan ini amat panjang. Kita bisa merunutnya kembali ke era kolonisasi Eropa yang mencengkram Asia Tenggara, terutama Indonesia. Pencurian sumber daya alam dibarengi dengan penghancuran budaya. Yang tercipta kemudian adalah mental budak, sikap abdi dan rasa minder yang sampai sekarang masih terasa dampaknya.

Masa Orde Baru di bawah Suharto juga memperbesar penyakit sosial ini. Penumpasan gerakan-gerakan pro rakyat pada 1965 meninggalkan luka dalam bagi bangsa kita. Orang menjadi trauma untuk bersikap kritis dan bersuara keras, demi kepentingan diri dan keluarganya. Yang tersisa adalah kelompok-kelompok religius terbelakang yang sekarang ini jamak kita saksikan di kehidupan bersama sehari-hari.

Menata Perubahan

Berita gembiranya, situasi ini tidak mutlak. Ia bisa diubah. Proses perubahan ini amat bergantung dari kekuatan kehendak kita sebagai bangsa, dan langkah-langkah jitu yang kita ambil. Langkah pertama sebenarnya amat jelas, bahwa kita harus menyadari jejak-jejak penjajahan yang masih berbekas di benak kita sebagai bangsa dalam wujud mentalitas “tritunggal yang tidak suci”, sebagaimana saya jabarkan sebelumnya. Kesadaran akan hal ini membuahkan keinginan untuk berubah, dan kehendak untuk mulai berproses dalam langkah-langkah panjang perubahan.

Langkah kedua adalah memetakan pola-pola kekuasaan yang membuat bangsa kita tak bebas secara politik maupun ekonomi. Peta pola kekuasaan ini melibatkan politik dalam maupun luar negeri, sekaligus sepak terjang perusahaan-perusahaan internasional maupun nasional di Indonesia. Peta pola kekuasaan ini amatlah penting, sehingga kita bisa tahu harus mulai dari mana di dalam melakukan perubahan. Cita-cita perubahan tanpa peta masalah yang jelas biasanya putus di tengah jalan, atau kehabisan nafas di awal perjalanan.

Langkah ketiga, kita, sebagai pribadi, harus mulai berani untuk berpikir mandiri. Kita tidak boleh tergantung pada hal-hal di luar kita, seperti tradisi ataupun agama. Kita perlu melihat ke dalam nurani kita sendiri sebagai manusia. Kita perlu menggunakan akal budi kita secara bebas dan mandiri untuk mempertimbangkan langkah-langkah hidup yang akan kita pilih.

Ini tentu saja sulit. Sedari kecil, kita sudah diajarkan untuk menyandarkan diri pada tradisi dan agama. Kita tidak dilatih untuk membuat keputusan berdasarkan kebebasan dan akal budi. Kita merasa lebih mudah melempar keputusan dan tanggung jawab ke luar diri kita, baik ke Tuhan maupun ke masyarakat.

Akhirnya, kita tetap menjadi anak kecil, walaupun usia kita sudah tua. Kita tetap tak berani berpikir mandiri. Kita tetap menjadi budak dan abdi dari tradisi. Kita menjadi budak yang bangga dan berbahagia.

Inilah mungkin sebabnya, kita merasa tak berdaya di Indonesia sekarang ini. Di hadapan timbunan kemacetan di ibu kota, kita merasa tak berdaya. Di hadapan korupsi yang menggurita di berbagai daerah, kita merasa tak berdaya. Di hadapan fakta, bahwa setiap detik kekayaan alam kita dikeruk oleh perusahaan asing, kita merasa tak berdaya. Di hadapan fundamentalisme agama, kita juga merasa tak berdaya.

Mau sampai kapan?

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.

20 tanggapan untuk “Kerinduan untuk Dikuasai”

  1. Bung, miris kita melihat apa yang terjadi saat ini dengan bangsa ini. Nilai-nilai dasar pandangan hidup bangsa ini (volkgeist) yang dideskripsikan dalam Pancasila seolah hanya menjadi kata-kata kiasan tanpa praktek nyata. Pancasila sebagai grundnorm, “perlakuannya” hanya pada tataran teorikal dan dianggap produk negatif rezim orde baru.

    Menurut saya, bangsa ini masih bisa berubah. Salah satunya membumikan lagi nilai-nilai luhur bangsa ini. Teman saya dalam status media sosialnya selalu mengatakan “Jangan Lelah Menyuarakan Kebenaran”. Inilah tantangan yang terus dan terus akan dihadapi di tengah kondisi sakit bangsa ini. Bagaimana caranya? Saya setuju dengan apa yang bung sampaikan. Jika bukan kita sendiri yang merubahnya, maka tidak akan pernah ada yang namanya perubahan. Biasakanlah kebenaran, dan jangan membenarkan kebiasaan. Apalagi kebiasaan korup, tidak disiplin, suap, mental tempe (kata Soekarno dulu…).

    Suka

  2. Maksud tulisan anda adalah bentuk rasa khawatir akan “Islam” yang hendak kembali menjadi dasar negara. Islam pantas menjadi dasar negara Indonesia, seperti yang dulu diperjuangkan oleh M.Natsir, sayang orang-orang nasionalis-sekuler-komunis waktu itu mencoba menghadang. Dan sekarang masyarakat Indonesia sadar bahwa Islam memang landasan yang pantas bagi kebhinekaan Indonesia …

    Suka

  3. Dalam beberapa kasus, menjual kekayaan alam demi membayar hutang bisa jadi hal yang baik, misalnya saja ketika Indonesia berhutang pada IMF pada akhir tahun 1990, dimana akibat hutang itu IMF banyak ikut campur urusan pemerintah, contoh paling nyata dari intervensi IMF adalah lahirnya undang-undang privatisasi. Ketika zaman orde baru berakhir, kita sadar bahwa IMF ini adalah bahaya laten yang harus segera disingkirkan, karena itu membayar hutang2nya dianggap sebagai prioritas agar Indonesia bisa lebih mandiri dan bebas menentukan kebijakan.

    Masalah di pemerintahan itu tidak sesimpel yang anda bayangkan, pun ketika anda berada dalam level akademis tinggi belum tentu anda bisa menyelesaikan masalah dengan mudah, karena masalah negara itu bukan hanya terkait ketidakidealan tapi juga dengan berbagai kepentingan politis.

    Suka

  4. gundulmu peang achzan
    emangnya ini negara berdasarkan nilai-nilai islami. Orang kayak anda ini layak dibinasakan dari Indonesia, kalo bisa sekeluarga biar ga ada penerus otak busukmu.

    Suka

  5. Salah satu kegagalan agama adalah menanamkan ilusi bahwa manusia adalah hamba Tuhan; Tuhan adalah raja yang patut disembah dan ditakuti. Aspek transendensi begitu diagungkan, sementara imanensinya diabaikan. Konsep yang salah tentang dosa juga menjadi penjara bagi kebebasan berpikir dan berkehendak. Di belahan dunia tertentu, sekedar berpikir di luar cara berpikir mainstream kelompok agama, sudah dianggap salah, sesat, dan halal untuk ditumpahkan darahnya. Nietszche memaklumkan “kematian” Tuhan justru karena merasa manusia sudah terlalu jauh terjebak dalam ilusi agama.

    Suka

  6. “Di hadapan bangsa asing, kita merasa minder dan rendah diri. Kita merasa, apapun yang orang asing lakukan selalu lebih baik dari yang kita lakukan,” mengungkapkan kekurangan bangsa kita yang selalu memandang diri sendiri lebih buruk dari bangsa yang lainnya. Lebih lanjut Bapak katakan “Pada bentuknya yang paling ekstrem, kita lalu membenci bangsa kita sendiri.”
    Yang menjadi menarik untuk membaca gagasan Bapak kemudian adalah, bahwa kritik yang disampaikan terhadap bangsa kita (yang merasa lebih buruk atau rendah diri) dengan nada ‘memburukkannya’ (atau dalam bahasa yang lebih ekspresif: dengan mencela bangsa sendiri). Ini yang akan membuat orang terjebak dengan anggapan bahwa kritik (seperti gagasan Bapak ini) adalah juga salah satu wujud dari “tritunggal tidak suci” itu sendiri. Untuk tidak terjebak seperti itu, harus disadari bahwa kritik ini berada pada posisi melampaui substansi yang dikritiknya. Kritik ini sebagai refleksi yang mengajak kita sesekali memandang dari perspektif yang lebih jernih, terlepas dari hiruk pikuk keseharian seperti sifat “tritunggal tidak suci” yang dimiliki bangsa kita.
    Dari hasil refleksi itu, diajukan 3 langkah praktis yang dapat memandu secara rasional untuk mencapai perubahan ke arah yang lebih baik.
    Yang menarik berikutnya adalah nada pada hentakan terakhir tulisan ini, minimal bagi saya sendiri, bahwa harus mempertanyakan kembali (dan tentunya menegaskan sikap) inisiatif apa yang seharusnya saya ambil, supaya saya tidak terus-menerus menjadi orang yang tidak berdaya (oleh rintangan apapun)?
    Hanya saja, yang masih menganjal bagi saya pak, bagaimana ketiga unsur “tritunggal tidak suci” seperti yang bapak sebutkan, didefinisikan secara jelas sehingga ketiganya benar-benar merupakan konsep yang utuh meskipun saling bertautan diantaranya. Karena yang mampu saya tangkap, ketiganya itu masih tumpang tindih dan mirip-mirip. Mohon penjelasannya, terimakasih.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.